YURISTGAMEINIGAMEID101

ESTETIKA SASTRA SUFI

oleh Abdul Hadi W.M.




Menurut Comaraswamy, pokok paparan seni murni berkenaan dengan pengalaman transendental dan masalah-masalah ketuhanan. Jadi wilayah garapannya adalah tatanan realitas atau kehidupan yang tidak dapat dicerap secara inderawi atau pemahaman logika rasional. Karena tidak tercerna oleh logika dan persepsi inderawi, maka pengalaman semacam itu harus disampaikan melalui ungkapan-ungkapan tertentu yang memberi peluang bagi sarana keruhanian lain untuk dapat menangkapnya. Sarana keruhanian itu ialah akal intuitif dan imaginasi kreatif, yang dapat membimbing pikiran rasional dan persepsi indera memahami bahwa ada kebenaran di seberang kebenaran yang tidak dapat dicerap secara inderawi dan rasional.

Ungkapan-ungkapan tertentu yang dimaksud bersifat simbolik. Hanya melalui simbol-simbol tertentu dan bahasa figuratif puisi, akal intuitif dan imaginasi kreatif dapat bekerja dan menyampaikan pengalaman trasendental yang dialami seorang pengarang. Seni murni, karena itu, selalu hadir dalam sejarah peradaban manusia dalam bentuk ragam tutur simbolik yang dihasilkan melalui proses perenungan yang dalam. Di dalam karya sastra yang tergolong seni murni, simbol atau mitsal berperan sebagai penghubung alam indera dengan alam keruhanian. Simbol, yang biasanya berupa imaji atau ungkapan imaginatif, merupakan wakil alam indera. Yang disimbolkan atau dimisalkan oleh sebuah simbol merupakan adalah pengalaman keruhanian tertentu pengarang. Yang pertama bersifat inderawi, dan yang kedua bersifat trasendental dan merupakan wakil dari dunia makna-makna. Fungsi simbol dengan demikian merupakan tangga naik menuju pengalaman transendental atau pesan keruhanian yang disugestikan dalam sebuah karya.

Dalam karangan-karangan sufi misalnya, teks yang biasa disebut surah merupakan ungkapan-ungkapan lahir dari sesuatu yang lebih dalam dan tidak dapat dicerna secara inderawi, Ia adalah perantara atau penghubung (barzakh) antara sesuatu yang bersifat empiris dan yang bersifat batin. Ibarat manusia, karya sufi hendaknya tidak dilihat semata-mata sebagai sebuah sosok lahir seseorang, tetapi sebagai badan halusnya, yaitu pesan moral dan keruhaniannya yang mengatasi kategori-kategori pemahaman rasional dan pengalaman empiris.Ungkapan estetik atau lahir yang disebut surah (bangunan luar) hanyalah representasi simbolik dari makna (ma`na) yang merupakan bangunan batin sebuah karya.

Semua seni yang dicipta berdasar falsafah perennial, kata Comarasway, tertuju kepada Kebenaran Tertinggi. Ia disajikan melalui ungkapan estetik tertentu dalam upaya seniman menyingkap Kehadiran-Nya yang diliputi rahasia di dunia keberadaan dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan. Dalam al-Qur’an, Allah berfirman antara lain, ”Ayat-ayat Tuhan terbentang di alam semesta dan dalam diri manusia”. Juga ”Kemana pun Kau memandang akan tampak wajah-Nya”. Melalui karyanya yang bersorak simbolik atau berbentuk kias seperti alegori, si seniman ingin pula mengajak jiwa dan batin orang lain ikut merasakan dan merenungkan makna dari kehadiran-Nya, yang walaupun dirasakan dalam kalbu, namun penting sebagai jalan menuju keyakinan mendalam tentang keberadaan dan ada-Nya, yang dengan itu seseorang bisa memperoleh pencerahan dan pembebasan. Dalam peradaban Islam, seni seperti itu dijumpai dalam wujud seni khat atau kaligrafi, lukisan geometri dan hias tetumbuhan (arabesque), aneka puisi religius dan alegori-alegori mistikal.

Sastra sufi termasuk dalam klasifikasi seni yang demikian, sebab ia dicipta dalam rangka mengekspresikan pengalaman unio-mystika dan perasaan-perasan yang dialami seorang pesuluk (salik) di jalan tasawuf. Sebagaimana tasawuf yang menjadi sumbernya, sastra sufi menggambarkan upaya seorang pesuluk mencapai Yang Haqq, yang dengan demikian ia dapat merealisasikan dirinya dalam persatuan batin dengan-Nya. Dalam upayanya itu seorang pesuluk harus melalui tahapan-tahapan sebelum akhirnya mencapai tujuannya. Pada tahapan terakhir ia akan tahu bahwa Wujud Hakiki atau Kebenaran Tertinggi hanya dapat disaksikan secara kalbiah, yang hasilnya berupa keyakinan mendalam akan keberadaan-Nya.

Nasr (1980:22) menyatakan bahwa yang dibicarakan dalam tasawuf adalah tiga perkara pokok. Yaitu hakikat Tuhan, kodrat manusia dan kebajikan-kebajikan spiritual yang melaluinya seseorang dapat merealisasikan hubungannya dengan Tuhan, alam dan sesamanya. Serangkaian kebajikan spiritual yang ditempuh disebut maqamat (peringkat atau tahapan ruhani), sedangkan keadaan-keadaan yang ditimbulkan dari tercapainya masing-masing tahapan ruhani itu disebut ahwal (kata tunggalnya hal, artinya keadaan jiwa). Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sastra sufi merupakan karangan bercorak simbolik dan puitik mengenai peringkat-peringkat ruhani dan keadaan-keadaan jiwa yang dicapai atau dialami penulisnya di jalan tasawuf.

Dengan takrif yang tidak begitu berbeda, Braginsky (1994:3) mengemukakan bahwa sastra sufi adalah karagan-karangan mengenai perjalanan seorang ahli suluk dalam mencapai kesempurnaan ruhani. Tujuannya ialah musyahadah, penyaksian bahwa Allah itu esa. Di tempat lain Nasr (1980:8) mengatakan, “Sastra sufi tidak lain adalah karangan ahli-ahli tasawuf berkenaan dengan peringkat-peringkat (maqamat) dan keadaan-keadaan ruhani (ahwal) yang mereka capai.” Setiap pengarang sufi memberi gambaran dan tanggapan berbeda tentang kedua hal yang mereka alami. Salah satu contoh terbaik karya penyair sufi yang dapat menjelaskan apa hakikat sastra sufi itu, serta bagaimana pengarangnya mengolah bahan verbal karyanya menjadi penuturan simbolik sastra, ialah Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karya Fariduddin al-`Attar.

Dalam alegorinya itu `Attar memaparkan maqam-maqam dan ahwal yang dialami ahli suluk dalam menempuh jalan tasawuf. Segala jenis burung dari seluruh dunia berkumpul. Mereka bingung karena kerajaan mereka kehilangan pemimpin. Burung Hudhud, yang merupakan lambang guru keruhanian, tampil ke depan dan mengabarkan bahwa raja mereka Simurgh berada di puncak gunung Qaf. Kawanan burung itu mencari dan menjumpai sang maharaja. Perjalanan yang harus mereka tempuh demikian berat dan sukar. Mereka melalui tujuh wadi atau lembah, yang masing-masing melambangkan tahapan dan keadaan ruhani yang harus ditempuh dan dialami di jalan tasawuf.

Setiap lembah yang dilalui burung-burung itu dijelaskan melalui kisah-kisah menarik. Tujuh lembah itu ialah talab (pencarian), `ishq (cinta), ma`rifa (makrifat), istighna (kepuasan hati), tawhid (kesaksian kalbu tentang keesaan Allah), hayrat (pesona, ketakjuban), faqr (kefakiran), fana’ dan baqa ’ (kefanaan dan kebakaan). Lembah di sini adalah lambang dari tahapan-tahapan keruhanian yang harus dilalui para penempuh suluk. Sedangkan burung-burung yang ribuan itu melambangkan jiwa para salik. Dalam penerbangannya menemui Simurgh, yang sampai di tujuan hanya tiga puluh ekor burung. Dalam bahasa Persia, Si-murgh berarti tiga puluh. Mereka yang mencapai lembah terakhir itu heran, karena yang mereka jumpai adalah hakikat diri mereka sendiri. Dalam Hikayat Burung Pingai, versi Melayu dari alegori ini, cerita diakhiri dengan kutipan hadis, “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhan (yang merupakan asal-usul kejadiannya).”

Melalui Mantiq al-Tayr kita dapat memahami bahwa wawasan estetika sufi bertitik tolak dari keyakinan bahwa suatu karya yang simbolik dan sarat dengan renungan keruhanian, dapat membawa jiwa pembaca melalukan kenaikan spiritual hingga akhirnya memperoleh pencerahan dalam Kebenaran Tertinggi. Untuk sekadar memberi gambaran bagaimana estetika sufi itu sebenarnya, cukuplah saya petik bagian-bagian dari Syair Perahu berikut ini:

Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Di sanalah i`tqad diperbuli sudah

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiada berapa lama hidupmu

Ke akhirat jua kekal diammu
Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perauhumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan



La ilaha illa Allah tempat mengintai
Medan yang qadim tempat berdamai
Wujud Allah terlalu bitai
Siang malam jangan bercerai

(Doorenbos 1933:35)

Dari syair ini kita dapat memetik pandangan seperti berikut: (1) Puisi merupakan sarana transendensi atau tempat berpindah ke alam keabadian; (2) karangan yang indah ditulis setelah kalbu pengarang tersucikan, yaitu setelah membentulkan aqidah dan iktikadnya; (3) Karya seni atau puisi yang baik merupakan proyeksi zikir; (4) Keindahan Tuhan dan hakikat Tauhid hanya dapat disaksikan di ‘medan yang qadim’, yaitu di alam keabadian, yang hanya bisa disaksikan melalui perenungan yang dalam (musyahadah); (5) Penyair mengharap pembaca menjadikan puisi sebagai tangga naik menuju hakikat dirinya yang sejati

Kata penulis Syair Perahu, “Wahai muda kenali dirimu/Ialah perahu tamsil tubuhmu”. Tubuh kita, bersama peralatan mental dan keruhaniannya, adalah perahu yang sedang berlayar menuju Bandar Tauhid. Selama pelayaran itu berlangsung, banyak sekali godaan dan bahaya mengancam.

Bersambung  ke: SASTRA SUFI DI NUSANTARA

About Author

Related Post