YURISTGAMEINIGAMEID101

JAGAT DAN ESTETIKA SASTRA SUFI NUSANTARA

oleh Abdul Hadi W.M.

Melalui teori perenial atau tradisionalnya Comaraswamy membagi seni, termasuk sastra, ke dalam tiga kategori. Yang pertama, seni murni/tulen, yang dicipta sebagai simbol (misal) atas pengalaman dan penglihatan batin. Yang kedua, seni dinamik, karya-karya yang memaparkan pergulatan manusia menghadapi persoalan-persoalan dunia. Yang ketiga, seni apatetik, yang bersifat ketukangan dan tidak memberi inspirasi (Livingston 1962:56). Seni murni dihasilkan melalui proses perenungan mendalam. Sarana ruhani yang digunakan si seniman ialah intuisi intelektual, yaitu kecerdasan melihat sesuatu dengan mata kalbu (prasyati buddhi), yang dicapai melalui kontemplasi dan meditasi.

Berdasar teori yang mungkin serupa, Braginsky (1993, 1998) membagi karya-karya Melayu klasik ke dalam tiga kategori pula. Yang pertama, karya-karya yang memaparkan sfera kamal atau penyempurnaan batin. Sastra sufi termasuk ke dalam kategori ini. Yang kedua, karya-karya yang memaparkan sfera faedah. Karya-karya adab dan kemasyarakatan termasuk ke dalam kategori ini. Yang ketiga, karya-karya yang memaparkan sfera keindahan atau kenikmatan lahir. Kisah-kisah pelipur lara termasuk ke dalam kategori ini.

Penggolongan yang dikemukakan Comaraswamy dan Braginsky sangat tepat, karena tiga kategori sastra itu masing-masing diciptakan berdasar estetika atau teori seni yang berbeda. Masing-masing dicipta untuk tujuan yang berbeda dan memenuhi fungsi yang berbeda pula. Akan tetapi, dalam sejarah peradaban Islam, berbagai bentuk dan corak estetika yang kelihatannya berbeda itu, dan melahirkan tiga bentuk seni atau sastra dengan hakikat dan fungsi yang berbeda-beda itu, tidak selamanya berdiri sendiri. Tidak jarang masing-masing saling melengkapi dan mempengaruhi. Ahli-ahli tasawuf tidak jarang menggunakan peralatan estetika adab dan pelipur lara dalam menulis karya mereka yang tergolong seni murni. Sebaliknya penulis karya adab dan pelipur lara tidak jarang pula menggunakan peralatan estetika sufi dalam menulis bagian-bagian tertentu dari karya mereka.

Wawasan estetika penulis sufi pada umumnya dibangun berdasark pemikiran ahli-ahli tasawuf seperti Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi, Fariduddin al-`Attar, dan Jalaluddin Rumi. Dalam pelaksanaannya ia diperkuat pula dengan teori Alam Misal (`alam al-mithal) Suhrawardi al-Maqtul yang sejalan dengan teori Ibn `Arabi. Adapun dasar-dasar estetika yang digunakan penulis adab ialah teori penciptaan dari filosof mashha`iyah (peripatetic) seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan Abdul Qahir al-Jurjani. Yang pertama mengatakan bahwa sastra atau puisi adalah misal (simbolisasi) dari ide-ide, penglihatan dan pengalaman keruhanian. Sedangkan yang kedua bertolak dari anggapan bahwa sastra adalah karya imaginatif (mutakhayyil) di mana bercampur unsur peniruan (mimesis) dan penciptaan (creatio). Dalam proses penciptaan karya sastra, imaginasi dikendalikan oleh apa yang disebut sebagai akal rasional. Berdasarkan ini maka kita akan dapat memahami perbedaan hakikat antara sastra sufi dan adab.

Bersambung ke: ESTETIKA SASTRA SUFI

ADMIN

BACA JUGA