YURISTGAMEINIGAMEID101

JAGAT SASTRA SUFI

oleh Abdul Hadi W.M.

Dalam sejarah kesusastraan Melayu, benih sastra sufi telah muncul pada awal abad ke-15 M. Ini tampak misalnya pada hadirnya sajak penyair sufi Persia Sa’di di batu nisan seorang bangsawan Pasai bertarikh 1416 M, Husamuddin al-Naini. Sebuah naskah berasal dari awal abad ke-16 M berisi terjemahan sajak-sajak penyair sufi Persia seperti Umar al-Khayyami, Jalaluddin Rumi, Sa`di, dan lain-lain juga sudah ditemukan (Iskandar 1995). Ini membuktikan bahwa kegiatan penulisan sastra sufi telah bermula sejak zaman kesultanan Samudra Pasai (1270-1500 M) dan Malaka (1400-1511 M). Namun puncak perkembangannya tampak dengan munculnya sufi besar Melayu Hamzah Fansuri pada zaman kesultanan Aceh Darussalam (1516-1700 M). Kemunculan Hamzah Fansuri dan syair-syair tasawufnya sekaligus menandai puncak perkembangan sastra Melayu atau datangnya fase baru yang oleh Braginsky disebut ’periode kesadaran diri’.

Setelah hadirnya Hamzah Fansuri, dan murid-muridnya di Barus dan Aceh, penulis sufi melebarkan sayapnya. Mereka tidak hanya melahirkan apa yang disebut sebagai syair-syair tasawuf atau makrifat, dan juga tidak hanya melahirkan risalah tasawuf yang termasuk ke dalam kategori sastra kitab. Mereka juga melahirkan karya yang termasuk ke dalam genre-genre lain. Secara keseluruhan, karya-karya yang digolongkan sebagai bercorak tasawuf itu setidak-tidaknya dapat diklasifikan ke dalam enam kelompok, seperti berikut:

1. Syair Tauhid dan Makrifat. Biasanya campuran lirik dan didaktis, dancenderung naratif. Yang terkenal ialah Ikat-ikatan syair Hamzah Fansuri (abad ke-16 M) dan murid-muridnya dari Barus dan Aceh seperti Abdul Jamal, Hasan Fansuri, dan lain-lain. Dalam rangkaian itu juga terdapat syair-syair anonim seperti “Syair Dagang”, “Syair Perahu” (ada tiga versi berbeda gaya bahasa dan penulis), “Ikat-ikatan Bahr al-Nisa’”, “Syair Unggas Bersoal Jawab”, “Syair Takrif al-Huruf”, “Syair Perihal Kiamat”, “Syair Alif Ba Ta”, “Syair Perkataan Alif, “Syair Makrifat”, dan masih banyak lagi. Syair-syair serupa juga terdapat banyak kesusastraan Nusantara seperti Bugis, Aceh, Makassar, Sunda, Jawa dan Madura.

Dalam sastra Jawa, khususnya yang ditulis bentuk puisi atau tembang macapat, disebut suluk. Penulis suluk terkenal pada abad ke-16 di antaranya ialah Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, Sunan Kalijaga, Sunan Panggung, Syeh Siti Jenar, Ki Ageng Sela, dan lain-lain. Penulis suluk terkenal abad ke-18 dan 19 di antaranya ialah Yasadipura I, Yasadipura II, Ranggawarsita, dan lain-lain. Di antara yang terkenal ialah Suluk Walisanga, Mustika Rancang, Suluk Wujil, Suluk Bentuir, Suluk Malang Sumirang, Suluk Sukarsa, Suluk Aceh, Suluk Daka, Suluk Syamsi Tabriz, Suluk Jati Rasa, dan lain-lain. Suluk juga ditemui dalam kesusastraan Madura, yang terkenal misalnya ialah Suluk Ontal Enom, Pancadriya, Morbing Rama, Suluk Johar Mongkin, dan lain sebagainya. Dalam kesusastraan Sunda yang paling terkenal ialah Wiwitan Hasan Mustafa.

2. Syair Pujian Kepada Nabi Muhamad s.a.w.. Walaupun tema tentang Nur Muhammad dan pujian kepada beliau terdapat dalam syair-syair makrifat, terdapat syair pujian khusus kepada beliau. Dalam kesusastraan Arab disebut al-mada`ih al-nabawiyah dan di Persia disebut na`tiya, dari perkataan na`at yang berarti pujian. Syair jenis ini dalam kesusastraan Melayu terutama diilhami oleh Qasida al-Burdah, Syaraf al-Anam dan Qasida al-Barzanji. Di antaranya ialah Syair Rampai Maulid, Syair Maulid Jawi, Nazam Dua Puluh Lima Rasul, yang didahului dengan puji-pujian kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad s. a.w. Dimasukkan ke dalam kategori karya bercorak tasawuf, karena penulisnya biasa adalah sufi atau guru tariqat, dan dalam ungkapan-ungkapannya terdapat simbol-simbol yang berlaku dalam sastra sufi. Misalnya perumpamaan terhadap Nabi Muhammad s.a.w. sebagai matahari yang menerangi dunia, bulan purnama, kekasih Tuhan, teladan bagi sekalian ahli makrifat, dan lain sebagainya.

3. Ratib atau Agiografi Sufi. Ada yang ditulis dalam bentuk prosa berirama dan ada yang ditulis dalam bentuk prosa. Dalam bentuk prosa dinamai hikayat. Dalam bentuk prosa berirama, yang terkenal di antaranya ialah Ratib Syekh Saman, Ratib Syekh Abdul Qadir Jailani, Ratib Syekh Hamzah Fansuri, Ratib Syekh Naqsabandi, dan lain-lain. Sedangkan yang dalam bentuk prosa ialah Hikayat Luqman al-Hakim, Hikayat Rabi`ah al-Adawiyah, Hikayat Abu Yazid al-Bhistami, Hikayat Shamsi Tabriz, Hikayat Mansur al-Hallaj, Hikaya Syekh Abdul Kadir al-Jailani, Hikayat Sultan Ibrahim bin Adham, Hikayat Jumjunah, Hikayat Abu Syamah, dan lain-lain.

4. Alegori sufi atau kisah perumpamaan sufi. Para penulis sufi sering menggubah cerita-cerita yang tergolong dalam roman atau pelipur lara menjadi alegori sufi, terutama untuk melukiskan tahapan-tahapan naik perjalanan ruhani mereka secara simbolik. Model serupa dilakukan oleh penulis-penulis Arab dan Persia. Nizami al-Ganjawi, penulis Persia, menggubah hikayat Iskandar Zulkarnain (dalam Iskandar-nama) dan Layla Majenun menjadi alegori sufi. Demikian juga Jami, penulis Persia abad ke-1`5 M, yang menggubah Salaman dan Absal, Yusuf dan Zulaikha dan lain-lain. Dalam sastra Melayu hikayat yang digubah menjadi alegori sufi antara lain ialah Hikayat Inderaputra, Hikayat Syah Mardan, Hikayat Isma Yatim, Hikayat Badr al-`Asyiq, Taj al-Muluk dan lain-lain.

Dalam sastra Jawa di antaranya ialah Serat Seh Malaya, Semaun lan Mariya, Masirullah, Serat Dewa Ruci, Wujud Tunggal, Suksma Winasa, Dewi Malika, dan lain-lain.

5. Risalah Tasawuf yang biasa dimasukkan ke dalam kelompok Sastra Kitab. Beberapa sufi yang sangat masyhur sebagai penulis risalah ialah Hamzah Fansuri (Syarab al-`Asyiqin, Asrar al`Arifin dan al-Muntahi); Syamsudin Pasai (Mir`at al-Mu`minin, Mir`at al-Iman, Zikarat al-Dairati Qaba Qawsaini aw `Adna, Mir`at al-Muhaqqiqin dan lain-lain); Nuruddin al-Raniri (Ma` al-Hayat, Hill al-Zill, Tybian fi Ma`rifa al-adyan, Sifat al-Qulub, Hujjat al-Siddiq, Jawhar al-`Ulum dan lain-lain); Abdul Rauf al-Singkili (Daqa`iq al-Huruf, Umdat al-Muhtajin ila al-Suluk Maslak al-Mufridin dan lain-lain); Yusuf al-Makassari (al-Naftahu al-Sailaniya, Zubdah al-Asrar, Qurat al-`Ayn, Syurut al-`Arifin al-Muhaqqiq, dan lain-lain).

6. Karangan prosa berisi aneka corak pandangan atau ilmu sufi tentang berbagai persoalan seperti metafisika, penciptaan alam semesta, sejarah, adab, eskatologi, hermeneutika, psikologi, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya ialah Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Kitab Seribu Masalah, Syarah Ruba`i Hamzah Fansuri (Syamsuddin al-Sumatrani), Taj al-Salatin (Bukhari al-Jauhari), Bustan al-Salatin (Nuruddin al-Raniri), Risalah Turunnya Imam Mahdi (Arsyad al-Banjari), dan lain-lain.

Bersambung ke: SULUK DI JAWA

About Author

Related Post