YURISTGAMEINIGAMEID101

KASIDAH BURDAH SYEIKH AL-BUSYAIRI

oleh Abdul Hadi W. M.

Di antara puisi paling popular di Negara-negara Islam di seluruh dunia  ialah Kasidah Burdah {al-Qasidah al-Burdah). Buku ini berisi sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang biasa dibacakan pada setiap perayaan  Maulid Nabi.  Pengarangnya Syekh al-Busyairi atau Syekh al-Busiri (1212-1309 M) adalah seorang sastrawan sufi terkenal dari Mesir. Kasidah-kasidahnya itu telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastun, Melayu, Sindi dan lain-lain. Di Barat ia telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa-bahasa seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.

Orang-orang Islam tradisional banyak yang hafal di luar kepala. Karena pentingnya kasidah ini beberapa bagian daripadanya ada yang dipahatkan pada bangunan-bangunan umum. Judul buku ini se-benarnya bukan asli. Pengarangnya pada mulanya memberi judul karangannya al-Qasidah al-Mimiyah, karena baris-baris sajaknya berakhir dengan bunyi mim.

Nama Burdah muncul setelah pengarangnya mengemukakan latar belakang penulisan kasidahnya. Ketika al-Busyairi mendapat serangan jantung sehingga separuh tubuhnya lumpuh, dia berdoa tak henti-hentinya hingga mencucurkan air mata, mengharapkan kesembuhan dari Tuhan, dan kemudian dia membacakan beberapa sajak pujian {qasidah). Suatu saat dia tak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur, dan dalam mimpinya berjumpa Nabi Muhammad. Setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah suf {burdah) kepada al-Busyairi. "Kemudian aku terbangun dan kulihat diriku telah mampu berdiri," ujar Syekh al-Busyairi.

Al-Busyairi, nama lengkapnya Syarafuddin Abu Abdullah Muhammad ibn Sa'id al-Busyairi, lahir pada tahun 608 Hijriah (1212 M) di Dalas, Maroko, ia dibesarkan di Busir, Mesir, darimana namanya kemudian dikenal. Dia mempelajari sejumlah ilmu-ilmu Islam di Kairo, khususnya bahasa dan kesusastraan Arab. Dalam fiqih dia menganut mazhab Syafi'i. Sebagai Sufi dia anggota Tarekat Syaziliyah. Para perawi menyatakan bahwa dia mula-mula bekerja sebagai penyalm naskah-naskah, dan karya-karya kaligrafinya terkenal indah. Dia banyak menulis syair-syair dengan tema-tema pujian, sindiran, jawaban terhadap orang-orang Kristen dan Yahudi, dan sajak-sajak humor. Kasidah Burdah, bersama al-Qasidah al-Ha-midiyyah, adaiah di antara karya-karyanya yang dipandang paling cemerlang.

Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusastraan Arab dima-sukkan ke dalam genre al-mada'ih al-nabawiyah, sedang dalam kesusastraan Persia dan Urdu dikenal sebagai kesusastraan na'tiyah (kata jamak dari na % yang berarti pujian). Karya al-Busyairi menarik oleh karena gayanya lembut dan elegan, berisi panduan ringkas mengenai kehidupan Nabi Muhammad saw. Disusun dengan gaya prosa berirama (saj), Kasidah Burdah selain berakar pada tradisi sastra Arab lama, juga dekat dengan gaya al-Qur'an. Gaya serupa telah muncul pada abad ke-9 dan biasa dipakai sebagai selingan khutbah-khutbah, dan terus berkembang sampai abad ke-10. Sastrawan paling piawai menggunakan gaya ini di antaranya ialah Ibn Nubata (w. 984 M) dan Ibrahim ibn Hilal al-Sabi (w. 994). Namun di tangan Busiri gaya ini mencapai bentuknya yang matang dan sempurna.

Dalam tradisi sastra Arab al-mada'ih atau na'tiyah mula-mula ditulis Hasan ibn Sabit, Ka'b bin Malik dan Abdullah ibn Rawahah. Yang paling terkenal ialah Ka'b ibn Zuhair. Pada abad ke-11 muncul seorang penyair al-mada'ih terkemuka Sa'labi, yang juga seorang kritikus sastra. Namun dengan munculnya karya al-Busyairi, sebagaimana munculnya karya Majduddin Sana'i dalam bahasa Persia, al-mada'ih atau puisi na'tiyah mencapai babakan baru, yaitu babakan sufistik, karena mendapatkan nafas tasawuf. Lahirnya karya kedua penyair inilah yang membuat puisi al-mada'ih berkembang pesat dalam kesusastraan Islam. Khusus karya al-Busyairi, selain sangat populer, ia besar pengaruhnya terhadap munculnya berbagai bentuk kesenian rakyat Islam. Karya al-Busyairi juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam metode dakwah Islam, pendidikan dan ilmu retorika {'ilm al-badi).

Wilayah "al-Mada'ih" atau Kasidah

Penulis Mesir terkenal Zaki Mubarak telah menulis buku dengan uraian yang panjang lebar mengenai al-mada'ih al-nabawiyah. Menurutnya puisi semacam itu dikembangkan oleh para Sufi sebagai cara untuk mengungkapkan perasaan religius yang Islami. Genre ini lahir karena adanya kepercayaan bahwa Nabi Muhammad   s.a.w secara rohani hidup kekal, khususnya dalam hati umat Islam dan kehidupan beliau senantiasa menyertai al-Qur'an dan hadis. Penyair-penyair yang beriman akan selalu memanjatkan syafaat untuk beliau.

Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitik, al-Busyairi bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada Nabi mereka, akan tetapi juga mengajarkan sastra dan sejarah Islam serta  nilai-nilai moral kepada kaum Muslimin. Sebab itu tidak mengherankan jika Kasidah Burdah diajarkan pada tiap hari Kamis dan Jumat di Universitas al-Azhar, Kairo.

Burdah dimulai dengan nasib, yaitu ungkapan rasa pilu atas duka-cita yang dialami penyair dan orang yang dekat dengannya, yaitu tetangganya di Dhu Salam. Sudah lazim bagi penyair Arab dalam mengawali karyanya selalu merujuk pada tempat ketika ia memperoleh kenangan mendalam dalam hidupnya, khususnya kampung halamannya, dan melalui puisinya itu diungkapkan kerinduannya. Akan tetapi Busyairi menggunakan nama-nama tempat di mana Nabi pernah hidup sebagai gambaran pribadi yang mampu membangkitkan perasaan rindu.


Sesudah itu penyair berpaling kepada Nabi, satu-satunya pribadi di dunia ini yang mampu memberikan pertolongan rohani melalui kitab suci dan teladan hidupnya (al-Qur'an dan sunnah). Seraya menyeru agar pembaca ingat kepada Rasulullah, penyair meng-utarakan pentingnya pengendalian hawa nafsu dalam hidup ini, sebab perang terbesar atau jihad besar yang sesungguhnya adalah melawan kecenderungan diri yang buruk disebabkan oleh godaan hawa nafsu. Jihad akbar inilah jalan kcselamatan terbaik untuk hidup di dunia ini. Inilah nasib yang diutarakan al-Busyairi:

           Tidakkah kauingat tetanggamu di Dhu Salam.
            Yang air matanya tercurah bercampur darah?

Kemudian dilanjutkan dengan menggambarkan visi yang bertalian dengan tema perjalanan. Dalam perjalanan dia melihat cahaya, di-susul tiupan angin. Dalam baris sajak yang lain dia menggambarkan kedatangan Nabi sebagai berikut:

            Ya, kulihat dia yang kucinta
             Berjalan di malam hari
             Mataku tak bisa terpejam dibuatnya
             Cinta menukar rasa riang jadi duka

Kasidah Burdah terdiri atas 160 sajak dan ditulis setelah al-Busyairi menunaikan ibadah haji di Mekah. Dalam karyanya itu ia mema-sukkan unsur baru ke dalam sastra Arab, yaitu unsur-unsur Qur'ani. Misalnya unsur kisah yang diambil dari al-Qur an. Unsur tersebut dijadikan tamsil atau dijadikan citraan simbolik dalam sajak. Dalam bagian awal nasib-nya., al-Busyairi mengungkapkan penyesalannya yang mendalam karena sebelum menulis karyanya itu dia tidak pernah mematuhi ajaran Islam dengan sepenuhnya. Pada bagian tersebut kita menyaksikan betapa hebat pertarungan batin yang di-alami penyair, yaitu pertarungan antara keimanan dan keraguan. Gambaran pertarungan batinnya yang hebat itu tersirat dalam lukisan perjumpaan penyair dengan Nabi, yang diumpamakan dengan perjumpaan dirinya dengan kilatan cahaya di malam gelap:

          Angin bertiup dari Kazimah
          Dalam gelap malam di Idam kilat bercahaya

Angin melambangkan kekuatan cinta, dan kilat melambangkan tempat beradanya kekasih, yakni Nabi.


Gambaran Nabi

Sebagaimana telah dinyatakan dalam Kasidah Burdah kita jumpai banyak kisah al-Qur'an yang ditransformasikan menjadi tamsil atau citraan simbolik. Hal tersebut kemudlan menjadi ciri puisi-puisi Islam. Dalam menggambarkan keagungan Nabi, al-Busyairi meng-umpamakan Nabi sebagai raja atau tentara:

          Jika kau melihatnya di tengah tentara dan hamba-hambanya
           Lihat, kebesaran pribadinya tidak ada tolok bandingnya

Nabi diutus ke dunia untuk menjadi lampu yang menerangi kehidupan jahiliyah. Kemunculannya di dunia ialah bagaikan awan yang mencurahkan air hujan ke bumi yang kering kerontang, yaitu jiwa-jiwa yang sudah gersang dan memerlukan air hayat tauhid. Perumpamaan Iain untuk Nabi ialah permata yang tak ternilai, suatu citraan yang dikaitkan dengan pribadi yang tergosok oleh pengalaman kerohanian yang tinggi. Inilah antara lain pelukisan Busyairi tentang Nabi:

           Muhammad ialah raja dua alam, manusia dan fin.
           Pemimpin dua kaum, Arab dan bukan Arab
           Nabi kitalah dia, yang menganjurkan dan melarang,
           Tidak ada duanya dia, terpercaya dalam berkata Ya dan Tidak,
           Kekasih bagi merekayang mengharapkan uluran tangan
           Di tengah kezaliman dan ancaman kekejaman
           Diserunya kita kembali kepada Tuhan
           Yang berpegang teguh memperoleh tali pegangan yang kuat
           Sifat-sifatnya mengungguli nabi-nabi lain,

Kecuali dalam sifat dan kualitas pribadi, Nabi Muhammad saw dalam pandangan al-Busyairi melebihi nabi-nabi yang lain dalam pengetahuan dan kesempurnaan makrifat. Dengan munculnyaNabi Muhammad pintu pengetahuan makrifat melalui metode lain di luar Islam telah ditutup bagi penganut agama Islam. Mukjizat terbesar yang diterima oleh beliau ialah al-Qur an. Hikmah dan kandungan al-Qur'an memiliki relevansi yang abadi sepanjang zaman dan selalu memiliki konteks yang luas dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat temporal. Kitab al-Qur'an selamanya hidup dalam ingatan dan jiwa umat Islam. Maka tutur al-Busyairi:

            Selamanya dia hidup dan ada bersama kita 
            Mukjizatnya mengungguli mukjizat nabi-nabi sebelumnya
            Nabi-nabi sebelumnya tidak kekalseperti dia

Al-Qur'an adalah kitab yang tidak mengandung keraguan, pun tidak lapuk oleh perubahan zaman, apalagi jika ditafsirkan dan dipahami secara arif berbekal pengetahuan dan makrifat. Kitab ini selalu memberi petunjuk jalan kepada mereka yang ditakdirkan mendapat petunjuk. Petunjuk terbaik ialah jalan kembali kepada kebenaran setelah seseorang itu bertobat dari kesesatan. Syekh al-Busyairi mengumpamakan kitab suci al-Qur'an sebagai kolam yang airnya mampu membersihkan wajah keingkaran.

           Tidak seorang bisa berbuat lurus dan adil
           Tanpa mempergunakan pertimbangan ayat-ayatnya


Tentang Islam al-Busyairi menulis dalam kasidahnya yang masy-hur itu melalui sebuah perumpamaan yang menarik:

            Umpama pendatang baruyang sedang duduk
            Dipimpin Sahabat yang tangkas bertempur
            Agama ini datang bersama Sahabat , yaitu Nabi
            Kemurahan yang tercerai berai dipadukan kembali olehnya
            Apabila agama yang haq telah menerangi dunia
            Semua upacara palsu surut perlahan
            Tuhan Maha Tahu, apa nasib bintang-bintang
            Ketika matahari tampil ke hadapan

Nabi Muhammad saw dan risalah agama yang disampaikan oleh beliau digambarkan sebagai matahari dan agama lain ialah bintang-bintang.***

About Author

Related Post