YURISTGAMEINIGAMEID101

LAGU SERULING - JALALUDDIN RUMI


Jalaluddin Rumi salah satu sufi penyair yang lahir di Balkh (Afganistan), 30 September 1207 dengan nama Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Di kota Nishapur di mana dia mengungsi bersama keluarganya, Attar pernah meramalnya -saat itu Rumi baru berusia 5 tahun- bahwa dia  kelak akan masyhur sebagai penyala api gairah Ilahi. Murid kesayangan Syekh Syamsuddin Tabriz ini wafat pada 5 Jumadil Akhir 672 H dan dimakamkan di Konya (Turki). Pada nisannya tertilis:  "Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia." 


JALALUDDIN RUMI
LAGU SERULING

Dengar lagu seruling bambu yang menyampaikan kisah pilu perpisahan:
Sejak aku berpisah dengan asal-usulku, pokok bambu yang rimbun,
ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.

Aku ingin sebuah dada koyak sebab terpisah dari orang yang dicintai, 
agar dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.

Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya 
akan merindukan saat-saat ketika dia masih berkumpul dengan sanak keluarganya.

Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap majelis pertemuan,
aku duduk bersama mereka yang riang dan sedih.

Rahasia laguku tidak jauh dari asal-usul ratapku, 
namun apakah ada telinga yang mendengar dan mata yang melihat?

Tubuh tak terdinding dari roh, pun roh tak terdinding dari tubuh,
namun tak seorang diperbolehkan melihat roh.

Bunyi suling yang riuh ialah kobaran api, bukan desir angin yang berhembus: 
mereka yang tak mempunyai api akan sia-sia hidupnya.

Inilah api Cinta yang tersembunyi dalam suling bambu, 
inilah bara semangat Cinta yang dikandung anggur.

Suling ialah sahabat mereka yang terpisah dari sahabat karibnya: 
lagunya menyayat kalbu.

Siapa pernah melihat racun dan obat penawarnya sekaligus seperti suling? 
Siapa pernah menyaksikan orang berkabung dan pencinta menuturkan rindu dendamnya seperti suling?

Suling menyanyikan kisah jalan tergenang darah 
dan menyingkap lagi rindu dendam Majnun.

Hanya untuk mereka yang tidak mengerti pemahaman dan kepahaman disampaikan: 
lidah tak mempunyai pelanggan selain telinga.

Dalam pilu hari-hari hayat kami berlalu tak kenal waktu: 
hari-hari kami berjalan bersama kepiluan membara.

Kalau hari-hari kami mesti pergi, biarlah ia pergi! 
Kami tidak peduli. Kekallah Kau, sebab tiada sekudus Kau.

Mereka yang tidak puas pada air-Nya bukanlah ikan: mereka yang tidak punya roti 
untuk makanan sehari-hari akan merasa betapa lamanya detik-detik waktu berjalan. 

Tidak ada barang mentah yang mengerti makna kemasakan; 
karena itu kini akan kuringkas kata-kataku! Selamat tinggal!

Anakku, patahkan belenggu yang mengikatmu dan bebaskan dirimu! 
Berapa lama kau akan terikat pada perak dan emas?

Apabila air laut kautuang ke dalam kendi, berapa teguk yang dapat ditampung? 
Paling-paling hanya cukup untuk minuman sehari..

Kendi itu, mata yang tak pernah kenyang itu, tak akan pernah penuh: 
ingatlah, kerang tidak akan berisi mutiara sebelum dirinya penuh.

Dia yang meminjamkan jubahnya dengan rasa cinta 
akan bersih dari ketamakan dan kekurangan.

Selamat datang, o Cinta yang memberi keberuntungan indah
Kaulah tabib segala sakit, pemulih keangkuhan dan kesombongan, Filosof dan Dokter kami!

Dengan Cinta tubuh tanah liat ini dapat terbang ke angkasa raya, 
mikraj: gunung menari dan tangkas geraknya

Cinta menurunkan ilham kepada gunung Sinai, 
o Pencinta, karena itu gunung Sinai mabuk dan "Musa jatuh pingsan"

Apabila aku mengikuti bibir yang sehaluan denganku, 
aku akan seperti suling, menazamkan semua yang dapat kunazamkan.

Tetapi dia yang dipisahkan darinya akan membisu, 
walaupun tahu ratusan syair dan gurindam.

Apabila mawar pergi dan taman lenyap, kisah burung bulbul tak akan terdengar lagi olehmu.
Kekasih ialah segala-galanya, dan pencinta ialah tabirnya;

Kekasih ialah hidup dan pencinta itu benda mati. 
Kalau Cinta tak mempedulikannya, jadilah dia burung tanpa sayap.

Bagaimana kesadaran ada di depan dan samping, 
jika Cahaya Kekasihku tidak ada di depan dan sampingku?

Cinta ingin dunia ini dijelmakan: 
jika cermin tak memantulkan bayangan, apa sebabnya?

Tahukah kau mengapa cermin jiwa tak memantulkan satu pun bayangan? 
Kerana karatnya tidak dibersihkan.

O Sahabat, dengar kisah ini: hanya dalam Kebenaran sumsum keperiadaan roh kami terkandung.

(Penerjemah: Abdul Hadi W. M.)

About Author

Related Post