YURISTGAMEINIGAMEID101

PUISI-PUISI IRAWAN SANDHYA WIRAATMAJA

Nubuat Kerinduan 

“Kau tulis aku di dedaunan sebagai
embun waktu yang bening bercahaya
Menetes di urat syaraf reranting
merasakan kesenyapan napas musim”

#
Pertemuan kita adalah antara cahaya dan gelap

Dalam cahaya ada lorong
yang mengalirkan air mata

Dalam gelap ada ruang
yang tak pernah berakhir dalam arah

Mencari jejak yang tak berbagi langkah
di gelisah tubuh senyap

Kita ada di kedalaman diam, menggigil
tapi nafas terus berzikir memanggil

#
Kita tak menghitung jarak, seberapa jauh denyut dan jantung
seberapa dekat nafas dan embus

Kita membaca kata, seberapa dalam makna yang tertulis
antara kalimat dan suara-suara yang mengiris

Kita tak berbagi jarak: Satu antara tiada dan cahaya.

Jakarta, 27 Agustus 2017


Takdir Daun

mengapa daun-daun harus luruh? Dan kau masih setia menunggu
waktu mencatat gugurannya di musim yang telah dirindu

seseorang yang memetik waktu sebelum cuaca jadi senyap
dan basah di dinding kota di antara taman dan jalan cahaya

selembar daun yang koyak, urat syarafnya terbuka
kaukah yang membawa suara? Menjadi gaung di denyut tubuh

: siapa yang meluruhkan daun-daun sebelum kau terkesiap
dan gemetar menatap bayang-bayang memintas gelap.

Desember 2017


Taman Cahaya

Seperti semerbak bunga ingin aku masuk ke dalam harum cahaya-Mu
Mencium musim diam-diam ketika waktu bersemi di taman.

Tubuh yang lusuh, berat dalam jejak tertinggal dalam masa silam

Masihkah ada angin yang menghilir di kedalaman napas yang terus
Mengalir dalam rindu yang berdiam di antara rumah-rumah kenangan Bapak

Bertahun lama air mata membasah, disekap luka dan nyeri berbilang.

Oktober 2017


Tafakur Waktu

“yang harum kembalilah, kembali pada putik bunga
Biarkan tumbuh cahaya di dalam waktu-Nya
Sebagai ruang yang hening da kekal...”

Ialah kau yang meminta, burung-burung akan terbang mencari
Warna dan bentuk dari keluasan langit, awan-awan yang kelabu
Membayang bumi yang tengadah, menggapai kefanaan musim
Di  mana kita terus menggali dan melukai hutan-hutan yang meranggas

Kesenyapan sarang, rumah di mana berbaring tubuh mencari pintu
Untuk kembali menulis kitab diri yang rindu
Ada napas kesadaran yang muncul  di antara bayang-bayang
Yang bergerak  diam-diam: kelalaian dalam waktu yang lupa bersujud

Kita hanyalah yang tersisa dari uraian debu yang kotor dan lusuh
Terus menerus berair mata, seperti gerimis, di balik tubuh senja temaram.

“Yang terbang kembalilah, kembali pada kelepak burung-burung
Biarkan sampai cahaya di garis batas laut mata-Nya
Sebagai ombak yang gemuruh dan hanyut”

Ialah kau yang gelisah dalam hari-hari yang berjarak, antara masa silam
Dan jejak-jejak langkah, antara denyut jantung dan debar suara memanggil
Memandang wajah  dalam kaca yang retak dan belah, menggigil
Di mana kita terus diam berzikir membilang hitungan jemari malam

“yang diam kembalilah, kembali menjadi zarah yang tak berdaya”

Kita pun menjadi partikel-partikel kecil di dalam lorong tubuh, mengalir
Di antara jalan-jalan darah, urat syaraf dan nadi melepaskan diri
Dan kenyenyakan yang panjang sebagai sebuah perjalanan yang sunyi
Menghikmati waktu di dalam garis lurus kerinduan, jarak-Mu menghampir.

Januari 2018

Irawan Sandhya Wiraatmaja, lahir di Jakarta, 21 Juni. Bagi pembaca usia muda, nama Irawan akan terdengar sebagai nama baru dalam perpuisian Indonesia. Namun bagi pembaca sastra tahun 1970-an, Irawan bukanlah nama yang asing. Kapan puisi Irawan pertama kali dimuat media? Tahun 1976 di Merdeka Minggu. Selanjutnya di Horison dengan judul “Sajak Seekor Semut” sebagaimana catatan Ernst Ulrich Krazt dalam Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah: Drama, Prosa, Puisi. Catatan yang dilakukan Krazt menegaskan, bahwa kiprah Irawan dalam kepenyairan kita seangkatan dengan Korrie Layun Rampan, Fakhrunnas MA Jabbar, kakak-beradik M Massardi, Gus tf, Kurniawan Junaedhie, Mira Sato (Seno Gumira Ajidarma), Sutan Iwan Soekri Munaf, Heryus Saputro, dan deretan nama lain generasi 1980-an.

Selepas itu, sejumlah puisi Irawan tersebar di majalah Zaman, Basis, Pandji Masjarakat, dan sejumlah koran ibu kota, seperti Kompas, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, dan beberapa surat kabar yang sudah almarhum. Dia menulis puisi sejak duduk di bangku SMA. Pamusuk Eneste (1990, 2001), Korrie Layun Rampan (2000), dan Ahmadun Y. Herfanda, dkk (2003) memasukkan namanya dalam leksikon sastra mereka. Bahkan, Korrie Layun Rampan, meski tidak jelas argumentasi yang mendasarinya, memasukkan namanya sebagai sastrawan Angkatan 2000. Nama Irawan juga tercatat dalam Apa & Siapa Penyair Indonesia (YHP, 2017).

ADMIN

BACA JUGA