YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA SUFI DI NUSANTARA

oleh Abdul Hadi W.M.

Dalam sejarah Islam, ahli-ahli tasawuf atau sufi telah sejak awal memainkan peranan penting dalam penyebaran agama ini di kepulauan Nusantara. Peranan mereka semakin menonjol pada abad ke-14 – 18 M, tak lama setelah jatuhnya kekhalifatan Baghdad ke tangan penguasa Mongol pada tahun 1256 M yang disusul dengan terjadinya gelombang pengungsian kaum Muslimin secara besar-besaran di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dalam rentang masa yang cukup panjang itu para sufi – baik yang disebut faqir, wali, guru sufi, pemimpin tariqat, ahli makrifat, ahli suluk, dan lain-lain – telah berhasil memberi corak perkembangan Islam yang unik di Nusantara. Dalam menyebarkan dan mengajar agama, serta dalam menulis karangan keilmuan dan sastra, mereka menggunakan bahasa Melayu selain bahasa Arab. Mereka juga giat menyadur karya-karya Arab dan Persia, seperti epos, hikayat nabi-nabi, dan roman. Ini menjadikan kian meluasnya pemakaian bahasa Melayu di berbagai pelosok kepulauan Nusantara. Dengan itu bahasa ini lantas naik peran dan martabatnya dari lingua franca (bahasa gaul) di bidang perdagangan, menjadi bahasa pergaulan utama antar-etnik di kepulauan Nusantara di bidang lain seperti keilmuan, keagamaan, dan sastra.

Pengaruh tasawuf dalam kebudayaan masyarakat Nusantara yang memeluk agama Islam tidak perlu diperdebatkan lagi. Ia dapat dilihat dalam adat-istiadat, upacara-upacara keagamaan, kesenian, tradisi intelektual dan kesusastraan Nusantara, tidak hanya dalam kesusastraan Melayu. Sejak awal semua perwujudan budaya ini oleh para ahli tasawuf telah dijadikan media penyebaran dan penanaman pandangan hidup, sistem nilai dan gambaran dunia (Weltanschauung) Islam. Yang perlu ditelusuri ialah bagaimana fase-fase abad ke-13 – 17 M telah memdorong para sufi atau ahli tasawuf, yang lazim disebut faqir, bisa memainkan peranan penting dalam berbagai bidang kehidupan, yang melalui cara demikian Islam dimungkinkan berkembang pesat dan tradisi intelektualnya terbentuk sedemikian kokohmya.

Abad ke-13 – 17 M Asia Tenggara memasuki fase-fase akhir dari era globalisasi gelombang pertama yang telah berlangsung sejak abad ke-5 M, dan itu identik dengan era penyebaran agama-agama besar di seluruh dunia. Pada fase ini Islam muncul sebagai pemeran utama yang menonjol setelah surutnya kegiatan penyebaran agama Hindu dan Buddha disebabkan kemunduran hegemoni politik mereka, sedangkan agama Kristen dating terlambat justru ketika agama Islam tengah berkembang pesat pada abad ke-16. Pada periode ini pula tasawuf menjadi cabang ilmu Islam yang menonjol dan dalam ajaran para penganjurnya ilmu-ilmu Islam lain yang penting telah dirangkum dan diserap, termasuk falsafah. Di antara mereka tidak sedikit pula muncul para cendekiawan yang tampil sebagai pelopor penulisan kitab dan sastra dalam bahasa-bahasa setempat termasuk Melayu dan Jawa.

Dapat dikatakan bahwa pada periode ini, dari segi keagamaan dan intelektual, para sufi memainkan peranan penting dalam proses islamisasi Nusantara dan kebudayaan-kebudayaan masyarakatnya. Dalam proses islamisasi ini, kesusastraan – tutur dan tulis – tidak kecil peranannya, terutama sebagai pembentuk pandangan hidup (way of life) dan gambaran dunia (Weltanschauung), pencipta dan penyebar symbol-simbol budaya Islam, peletak dasar adat istiadat dan upacara keagamaan, pembangun tradisi baru kreativitas dan intelektual. Melalui karya-karya yang mereka tulis, dan mereka tuturkan dalam ceramah dan pengajian-pengajian, mereka sebarkan nilai-nilai Islam, cara pandang Islam merespon alam dan kehidupan.

Dalam sebuah bukunya al-Attas (1969) lebih kurang mengatakan bahwa, setelah terjadinya pemelukan Islam secara formal di kalangan penduduk Melayu – masyarakat Nusantara pertama yang beramai-ramai memeluk Islam – pada abad ke-12 – 14 M, berlanjutlah tahapan berikutnya yang sangat menentukan pada abad ke-15 – 17 M, yaitu pemelukan Islam secara lebih mendalam dan menyeluruh. Pada tahapan ini, pemelukan Islam telah menyentuh inti keruhanian ajaran Islam, unsur-unsur rasional dan intelektualnya. Penafsiran terhadap ajaran Islam yang semula terpaku pada masalah yang berkenaan dengan peribadatan dan aturan formal agama, dilanjutkan dengan penafsiran di bidang metafisika falsafah (tassawuf) dan teologi rasional (ilmu kalam). Pada masa berlangsungnya tahapan ini, tasawuf dan tulisan-tulisan para sufi dan ahli kalam memainkan peranan menonjol. Gagasan-gagasan fundamental yang diperkenalkan sesuai dengan Weltanschauung atau worldview Islam, kadang-kadang dijelaskan melalui ungkapan budaya lokal agar mudah dimengerti. Pada berlangsunya tahapan ini sastra Melayu bercorak Islam mulai mencapai puncak perkembangannya. Pada abad ke-18 M, karya-karya Melayu Islam ini dijadikan cermin dan model bagi perkembangan sastra Islam di wilayah lain di Nusantara seperti di Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Minangkabau, Palembang, Banjar, Sasak, Bugis, Makassar, Bima, dan lain-lain.

Karena menonjolnya peranan sufi dalam kegiatan penulisan sastra, maka tidak mengherankan apabila kita menyaksikan betapa khazanah sastra di Islam – terutama yang ditulis dalam bahasa Melayu dan Jawa – dipenuhi karya yang sebagian besar memperoleh corak dan bentuknya dari gagasan, pemikiran, dan estetika yang hidup di kalangan ahli-ahli tasawuf. Namun patut disayangkan, jejak tasawuf dalam sejarah kesusastraan Nusantara sering dikaburkan dan dianggap tidak penting. Dalam banyak buku kesusastraan Melayu, karya sufi yang sebenarnya tidak terbatas hanya pada risalah-risalah tasawuf dan syair-syair makrifat, diberi ruang sempit sebagai ”karangan-karangan bercorak tasawuf” dengan contoh yang begitu sedikit, sehingga timbul kesan bahwa sumbangan sufi dan pemikiran mereka sedikit saja pengaruhnya bagi perkembangan kesusastraan Melayu.

Bersambung ke: JAGAT SASTRA SUFI

About Author

Related Post