YURISTGAMEINIGAMEID101

SULUK DI JAWA

oleh Abdul Hadi W.M.

Di Jawa wacana sastra sufi atau suluk diperkenalkan pada abad ke-15 dan 16 M oleh para wali yang sebagian besar berdakwah dengan menggunakan media tasawuf dan budaya lokal. Kegiatan mereka dilakukan mula-mula di pesisir, tempat munculnya pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan Muslim awal di pulau Jawa. Karena mereka melakukan kegiatan di kota-kota pelabuhan sepanjang pesisir pulau Jawa dan Madura, maka karya-karya yang mereka hasilkan disebut sebagai Sastra Pesisir. Tuban, Demak, Kudus, Cirebon, dan Banten, merupakan pusat-pusat awal kegiatan sastra pesisir.

Pada umumnya wali-wali sufi itu menguasai bahasa Arab dan Persia, selain bahasa Jawa dan Melayu. Tetapi berbeda dengan penulis-penulis Melayu Islam yang sezaman, yang menggunakan huruf Jawi (Arab Melayu) dalam penulisan mereka dan memadukan puitika Arab Parsi dengan puitika Melayu dalam penciptaan karya mereka. Para wali di Jawa menggunakan huruf Jawa dan tetap meneruskan bentuk persajakan lama (tembang macapat) dalam menghasilkan suluk. Di antara wali sufi yang paling produktif melahirkan suluk ialah Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Mereka hidup antara pertengahan abad ke-15 hingga awal abad ke-16 M, masing-masing di Tuban dan Cirebon.

Karya Sunan Bonang yang terkenal di antaranya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Jebeng, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, dan lain sebagainya. Dalam Suluk Wujil Sunan Bonang menuturkan ajaran tasawuf yang disampaikan kepada muridnya, bekas abdi dalem Majapahit yang bernama Wujil. Dalam Suluk Khalifah dituturkan pengalaman keruhanian para wali di Jawa ketika menuntut ilmu suluk, dan pengalaman mereka mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Hindu yang ingin memeluk agama Islam.

Pada awal abad ke-17 M dengan pindahnya pusat kekuasaan Jawa ke pedalaman, kegiatan penulisan suluk berkembang pula di pedalaman, terutama di pesantren dan pusat-pusat kekuasaan. Di istana-istana raja Jawa, kegiatan penulisan sastra suluk mula-mula digalakkan oleh Panembahan Seda Krapyak pada permulaan abad ke-17 M. Perkembangan sastra suluk semakin pesat pada masa pemerintahan Panembahan Senapati di Mataram. Pada masa ini sejumlah besar suluk-suluk pesisir disalin dan disadur kembali ke dalam bahasa Jawa Baru. Di antaranya Suluk Wujil karya Sunan Bonang, dan Suluk Malang Sumirang karya Sunan Panggung (Poerbatjaraka 1938). Pada masa ini juga karya Jalaluddin Rumi yang masyhur Diwan-i Shamsi Tabriz disadur ke dalam bahasa Jawa di bawah judul Suluk Syamsi Tabriz. Sementara karya-karya Imam al-Ghazali, Abdul Karim al-Jili (al-Insan al-Kamil), Ibn `Arabi, dan karya sufi Arab dan Persia lain mulai dipelajari secara meluas di berbagai pesantren.

Puncak perkembangan sastra suluk mengambil waktu pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), raja Mataram terbesar sepanjang sejarah. Di bawah pemerintahannya sebagian besar pulau Jawa, kecuali Banten dan Pasundan, berhasil diintegrasikan kembali di bawah pemerintahannya. Pada masa ini sinthesa tasawuf Islam dan mistisisme Jawa mulai dilakukan secara intensif. Sultan Agung sendiri menulis karya sinthetis Sastra Gendhing yang masyhur. Dalam suluknya itu ajaran tasawuf disampaikan melalui metafora, simbol dan istilah-istilah lokal. Pada zaman pemerintahannya suluk-suluk besar banyak ditulis, antara lain Suluk Dhudha, Suluk Dalang, Prawan Mbathik, Suluk Makrifatullah, dan lain sebagainya (de Graff 1985:276).

Setelah wafatnya Sultan Agung, pusat kekuasaan Jawa mengalami berbagai kegoncangan disebabkan pembrontakan internal, perang suksesi dan campur tangan kolonial Belanda (VOC). Pusat kekuasaan dipindahkan dari ibukota Mataram ke Kartasura, sekarang kota kecil dekat Solo. Di tengah chaos, kebudayaan Jawa mengalami krisis. Peluang untuk memulihkan krisis itu baru bisa dilakukan pada awal abad ke-18 M setelah situasi politik relatif tenang, dan VOC benar-benar berkuasa di Jawa. Yaitu pada masa pemerintahan Pakubuwana II (1726-1749 M)dan Pakubuwana III (1749-1788 M). Pada masa pemerintahan kedua raja inilah renaissance kesusastraan Jawa berlangsung.

Penggerak utama renaissance itu ialah seorang pujangga istana bernama Raden Mas Ngabehi Yasadipura I, penasehat utama Pakubuwana II dan Pakubuwana III. Inti utama dari renaissance kesusastraan Jawa ada dua: pertama, penyaduran karya-karya penulis Jawa Kuna secara besar-besaran ke dalam bahasa Jawa Baru; kedua, penyaduran karya-karya Melayu Islam ke dalam bahasa Jawa baru dengan memberinya ciri kejawaan. Kegiatan penyaduran karya Jawa Kuna dan Melayu Islam kemudian berlanjut pula pada abad ke-19 M di pusat-pusat kekuasaan lain di Jawa Barat dan Jawa Timur. Di Jawa Barat karya-karya Jawa Kuna dan Melayu disadur ke dalam bahasa Sunda, di Jawa Timur khususnya di Sumenep dan Bangkalan, karya-karya Jawa Kuna dan Melayu itu disadur ke dalam bahasa Madura.

Dari berbagai genre yang digemari ialah wiracarita (epos) dan karya-karya mistikal (suluk). Dari sastra Jawa Kuna muncul saduran-saduran kisah yang bersumber dari epos Mahabharata dan Ramayana. Epos Melayu yang digemari ialah Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Hikayat pahlawan Islam ini dalam sastra Jawa, Sunda, dan Madura disebut Serat Menak. Yang paling masyhur di antaranya ialah karya Yasadipura I. Peranan epos seperti ini penting dalam upaya memelihara semangat kepahlawanan. Tokoh-tokoh Jawa yang menjadi penentang kolonialisme pada abad ke-19 M, seperti Pangeran Diponegoro, adalah pengemar epos dan suluk.

Selain melahirkan berbagai epos, Yasadipura I juga melahirkan karya-karya suluk. Yang terkenal di antaranya ialah Serat Dewa Ruci dan Serat Cebolek. Melalui penelitian mendalam atas karya-karyanya kita dapat menelusuri bagaimana corak keterjalinan antara kesusastraam Jawa dan Melayu, serta aspek-aspek apa saja yang membuat karya-karya penulis Jawa itu berbeda dari karya-karya Melayu, padahal sumber dan model karangan-karangan keislaman dalam kesusastraan Jawa adalah teks-teks Melayu.

Penulis suluk Jawa lain yang terkenal selepas Yasadipra II adalah putranya Yasadipura II dan Ranggawarsita. Keduanya merupakan penulis suluk yang prolifik. Sampai awal abad ke-20 M karya-karya suluk masih banyak ditulis dalam kesusastraan Jawa, Sunda, dan Madura. Seperti halnya dalam kesusastraan Melayu di masa lalu, tidak sedikit alegori-alegori mistikal yang tergolong ke dalam sastra suluk ditulis berdasarkan bahan-bahan verbal yang diambil dari hikayat petualangan dan pecintaan seperti Hikayat Johar Manik, Hikayat Syekh Mardan, Hikayat Angling Darma, dan lain sebagainya. Tidak sedikit pula suluk-suluk klasik digubah kembali menggunakan bahasa Jawa Baru.

Dalam konteks ini tidaklah boleh diabaikan suluk-suluk yang dikarang oleh K. H. Hasan Mustafa, seorang sufi dari tanah Sunda atau Periangan. Suluk-suluknya dihimpun dalam kitab yang diberi judul Wiwitan Haji Hasan Mustafa. Dua pengarang Madura yang hidup antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yaitu Umar Sastradiwirya dan Raden Danukusuma, telah berhasil mengubah sejumlah roman Jawa dan Melayu menjadi alegori mistikal. Raden Danukusuma juga menyadur kembali hikayat nabi-nabi (Serat `Anbiya) dalam bentuk tembang macapat dalam bahasa Madura tinggi yang indah. Nafas sufistik sangat kuat dalam Kitab Anbiya’ Madura itu.

About Author

Related Post