YURISTGAMEINIGAMEID101

TULIP DARI SINAI - MUHAMMAD IQBAL

Muhammad Iqbal salah satu sufi penyair yang lahir di Sialkot, 9 November 1877 dengan nama Muhammad Iqbal bin Muhammad Nur bin Muhammad Rafiq. Paling tidak ada dua karya Iqbal yang fenomenal, yakni Asrar-i Khudi (1915), DAN  Javid Namma (1932). Iqbal wafat di Lahore, 21 April 1938. Sampai hari ini, untuk mengenang dirinya, tiap tanggal kelahirannya diperingati sebagai Iqbal Day di Pakistan.


MUHAMMAD IQBAL
TULIP DARI SINAI

Di bawah kuasa-Nya dunia  bergantung
Segenap makhluk dicipta untuk menaati perintah-Nya
Matahari sendiri tak lebih hanya tanda
Dari sujud alam yang lama di kening hari


Hatiku berkobar oleh nyala api dalam kalbu
Kepada bangkai semesta, air mata darah meminjamkan penglihatanya
Ia yang tahu asyik nama lain dari Cinta
Bisakah sesat dari rahasia kehidupan?

Dunia hanya debu dan hati adalah buahnya
Hanya darah setetes yang membuatnya bingung
Jika kami tak memiliki penglihatan lahir dan batin
Tentu dunia akan terasa asing bagi kami

Musik cinta menemukan alatnya pada manusia
Rahasia ia singkap, dirinya satu semata dengan-Nya
Tuhan mencipta dunia, manusia membuatnya indah
Manusia adalah kerabat kerja dan sahabat Tuhan

Apa guna kalbu dalam dada? tanyamu
Akal yang dlimpahi rasa oleh Sang Pencipta
Jika rasa dalam dirimu hidup, hidup pulalah kalbumu
Jika tidak, akal akan berubah menjadi debu

Jangan kutuk apa tujuan hidup di bumi
Baiknya nikmati saja keajaibannya yang menawan
Kucintai pngembaraan jauh yang berkali-kali
Sebab setiap keberangkatan adalah tantangan bagiku

Kau matahari, aku planet berputar mengitari-Mu
Diterangi oleh penglihatan-Mu
Terpisah dari-Mu adalah derita bagiku
Kau Kitab Agung, aku hanya setitik huruf di dalamnya

Disebut Cina, Arab, Parsi dan Afghan
Kita ini milik sebuah taman besar, pohon agung
Lahir di musim semi
itulah keluhuran
Membedakan warna kulit adalah dosa besar

Dunia kita ini masih percobaan seorang pemahat
Perubahan demi perubahan akan ia alami siang malam
Pahatan Nasib memerintahkan kita bekerja terus
Memberi bentuk, sebab dunia masih pahatan kasar

Belajarlah dari kuntum bunga tentang hidup, o Hati!
Ia adalah perlambang hidupmu yang selalu mencari cahaya
Ia menyembul jauh dari kegelapan bumi
Namun sejak lahir memiliki mata di sinar matahari

Jika kau tahu kemungkinan-kemungkinanmu yang terpendam
Setetes embun bisa kau cipta menjadi lautan
O Hati, mengapa mengemis terang kepada sinar bulan?
Nyalakan lampumu sendiri agar terang malam-malammu

Kau masih terikat pada warna kulit dan ras
Maka kau sebut aku Afghan atau Turkoman
Namun aku pertama kali manusia, nyata manusia
Baru kemudian bisa kau sebut India atau Turkistan

(Penerjemah: Abdul Hadi W.M.)

ADMIN

BACA JUGA