YURISTGAMEINIGAMEID101

ASPEK SOSIAL SASTRA SUFI

oleh Abdul Hadi W.M

        Tulisan ini bukanlah pembelaan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa sastra sufi, atau sufistik dan yang sejenis, tidak bertalian dengan kehidupan sosial, dan hanya mengemukakan pengalaman mistikal yang bersifat individualistik. Tidak dimaksudkan sebagai pembelaan, oleh karena, analog dengan perkataan Rumi, "Hanya matahari yang dapat menjelaskan apa matahari itu!", maka "Hanya sastra sufi yang dapat menjelaskan tentang sastra sufi itu sendiri", dan bukan sastranya Ingarden, Gunter Grass, Maxim Gorky, Roland Barthes, Focoult atau Derrida. Namun karena kita menghadapi masalah luasnya kekurangpahaman ten­tang peranan dan kedudukan sastra sufi dalam kebudayaan kita, yang sebagian disebabkan upaya kaum orientalis, maka diperlukan penjelasan yang memadai tentang beberapa aspeknya yang penting.

        Tidak dapat diingkari bahwa sesudah tiga abad periode kemarakan perkembangannya yang awal, yaitu antara abad ke-11 dan 14, kemudian bermunculan sufi dekaden yang mencemarkan ajaran tasawuf yang murni. Gejala semacam itu sebenarnya juga terjadi pada setiap paham dan aliran keagamaan yang lain, namun kita hanya membatasi perhatian kita kepada tasawuf. Kemunculan sufi dekaden itu terjadi baru pada abad ke-19 dan melahirkan kecaman bukan saja dari kalangan ortodoks dan pembaharu, tetapi juga dari kalangan sufi sendiri. Namun demikian hasil karya para sufi di lapangan kesusastraan, filsafat, pemikiran keagamaan dan berbagai disiplin ilmu, tidak dapat begitu saja dinafikan. Begitu pula sumbangan dan peranan mereka terhadap peradaban dan kebudayaan Islam, terutama di kepulauan Nusantara dan Asia Tenggara.

        Khazanah sastra sufi merupakan bagian yang terbesar dan penting dalam perbendaharaan kesusastraan Islam. Para sufi tidak hanya menulis karya-karya mistikal dan transendental, tetapi juga epik, alegori politik, sastra bercorak kesejarahan dan adab. Bahkan dari tangan mereka mengalir pula kitab-kitab fiqih, ilmu usul, tafsir al-Qur'an, ilmu hadis,nahu, kajian filologi, puitika, estetika, metafisika, psikologi dan Iain-Iain. Bahwa puisi mereka tidak hanya menyajikan masalah esoterik, dapat dilihat dalam kary a agung Sa' di, seorang penulis Persia abad ke-13. Dalam karyanya Bustan dan Gulistan, yang tidak hanya mengilhami penyair-penyair Persia namun juga penulis sastra adab di dunia Islam bagian Timur, Sa'di membahas masalah sosial, politik dan pemerintahan dalam kaitannya dengan moral dan spiritualitas.

         Hart Edward, seorang penerjemah karya Sa'di ke dalam bahasa Inggris, mengatakan misalnya, "Adakah gambaran antara hubungan raja dengan rakyat yang lebih baik pengungkapannya dibanding epigram Sa'di pada abad ke-13?" (Lihat kata pengantar Edward dalam Bustan, terje-mahan A. Kadir Audah. Jakarta: Litera AntarNusa, 1986). Epigram Sa'di yang dimaksud itu ialah:

Rakyat bagaikan akar dan raja bagaikan. pohon
Dan pohon, ya Anakku, mendapat kekuatan dari akar

         Sa'di dikagumi penyair-penyair modern di Timur dan Barat, seperti Emerson, Goethe, Schiller dan Iain-lain. Mereka mengagumi karya Sa'di karena pesan moral dan kerohaniannya yang abadi dan universal. Dia seorang sufi yang meninggalkan kawan-kawannya yang tenggelam dalam kehidupan esoterik semata-mata, karena yakin bahwa ajaran Islam tidak membenarkan penganutnya meninggalkan aktivitas sosial. Di antara ma-salah-masalah sosial yang disajikan Sa'di dalam karyanya ialah masalah penyakit sosial sepanjang zaman yang meruntuhkan suatu masyarakat, yaitu keruntuhan moral disebabkan merajalelanya materialisme dan he-donisme. Kolusi, korupsi, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, yang mengakibatkan masyarakat menderita, dan ajaran agama tidak di-amalkan sebagaimana mestinya, mendapat sorotan tajam dalam karya Sa'di.

         Memang pokok utama dan landasan perjuangan para sufi ialah men-capai makrifat dan melaksanakan cinta kepada Tuhan. Namun, sebagaima­na Fazlur Rahman mengatakan dalam bukunya Islam (Bandung: Pustaka, 1985): "Sama halnya, cita-cita tentang cinta kepada Tuhan, bilamana perlu dengan mengorbankah harta, berulangkali dinyatakan dalam al-Qur'an, walaupun sekali lagi, cinta di sini bukanlah sebutan untuk perasaan semata-mata, yang hanya dipupuk dalam batin, tetapi secara definitive merupakan cinta yang memiliki kecenderungan pada kegiatan nyata."

          Oleh sebab itu dalam sajaknya "Faqir", sebutan untuk sufi sejati, Iqbal merasa perlu membedakan antara Sufi Qur'ani dan sufi sesat:

Faqir Qur'ani mampu menguji keberadaannya dengan kritis:
Kerjanya tak hanya berzikir, menari dan menyanyi
Lebih jauh Muhammad Iqbal menyatakan:
Faqir yang kafir lari menjelajahi lembah-lembah
Faqir beriman membuat darat dan laut gemetaran
Hidup bagi faqir kafir bertapa di gua dan gunung
Faqir beriman mengalir dari kefanaan agung
Yang pertama mencari Tuhan dengan menyiksa badan
Yang kedua menggosok pribadinya di batu uji Tuhan

        Tidak sedikit sufi, bukan hanya mengemukakan masalah sosial dalara karya-karya mistikalnya, namun juga malah aktif dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Contohnya Syibli, Rumi, 'Attar, Sa'di, Jami, Imam al-Ghazali, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatxani, Nuruddin al-Raniri, Syekh Jamaluddin al-Minangkabawi, Yasadipura, Raja Ali Haji, Syekh Arsyad al-Banjari, Sultan Badruddin al-Palimbangi, Syekh Yusuf al-Mengkasari dan Iain-lain.

        Dalam bukunya Mystical Dimensions of Islam Annemarie Schimmel mengatakan, "Segi sosial dan praktis dalam tasawuf kita ketahui dari batasan-batasan seperti diberikan oleh Junaid al-Baghdadi dan al-Nuri, yang menyatakan bahwa tasawuf tidak tersusun dari praktek kerohanian dan ilmu, tetapi ia merupakan akhlak, dan barang siapa yang melebihimu dalam akhlak maka ia melebihimu dalam tasawuf." (Edisi Indonesia berjudul Dimensi Mistik dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986, h. 14).

        Salah satu tujuan tasawuf, yang tercermin dalam karya sastranya, ialah pembinaan pribadi yang teguh. Upaya untuk mencintai Tuhan sepenuhnya tidak mungkin tanpa seseorang berikhtiar menundukkan diri dan sebelum seseorang mampu mengatasi godaan dewa-dewa palsu selain Tuhan. Jalan ini disebut mujahadah (perjuangan batin menundukkan diri). Dalam mujahadah seseorang berupaya menekan dorongan-dorongan egosentriknya, dan dengan demikian memberikan tempat kepada tujuan hidup yang luhur dan bersih dalam batinnya. Upaya ini dilakukan bukan untuk kepuasan diri, melainkan untuk kepentingan agama dan kemanusiaan. Bagaimana para sufi memandang hawa nafsu sebagai rintangan paling berbahaya yang dihadapi manusia dalam melaksanakan tugas kemanusia-annya selaku khalifah Tuhan dan hamba-Nya, dapat disimak melalui pernyataan Rumi dalam Matsnawi:

Hawa nafsumu ialah ibu semua berhala
Berhalajasmani ialah ular
Namun berhala rohani ialah naga besar
Menghancurkan berhala itu mudah
Namun memandang mudah mengalahkan hawa nafsu
Adalah tolol, sangat tolol
0 Anakku, apabila kau ingin mengetahui
Bentuk-bentuk hawa nafsu
Bacalah uraian tentang neraka dan tujuh gerbangnya
Setiap saat dari hawa nafsu bermunculan tipu muslihat
Dan dari setiap tipu muslihat
Terjerumuslah seratus Fir'aun dan bala tentaranya

           Para penulis sufi lazim menyampaikan kritik sosialnya secara halus, namun tajam dan menukik hingga inti permasalahan. Tidak hanya itu. Para pemikir modern, baik di Timur maupun Barat, seperti Iqbal, Erich Fromm, Reza Arasteh, Arberry, Schimmel, William Chittik dan lain-lainvmalahan melihat besarnya relevansi karya Rumi pada masa kini di mana manusia dihadapkan pada krisis global kehampaan spiritual dan semakin kurangnya toleransi terhadap manusia lain karena latar belakang kebudayaan, agama dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Rumi mengajarkan tentang kesatuan hakiki diri manusia, dan walaupun berbeda agama dan latar belakang kebudayaan, tetap dapat dipertemukan dalam dialog yang pemih kasih sayang. Bukan dibenturkan dalam apa yang disebut "Benturan antar Peradaban" dan dekonstruksi kebudayaan.

            Iqbal misalnya melihat empat hal yang dapat kita simak dari per-juangan Jalaluddin Rumi. Pertama, Rumi berpendapat bahwa suatu ma-syarakat tidak dapat didorong aktif tanpa Cinta, dan Cinta-Iah sebenarnya yang merupakan substansi iman. Kedua, Rumi senantiasa mengingatkan bahwa suatu peradaban akan rapuh tanpa memiliki dasar spiritualitas dan teladan moralitas yang benar. Ketiga, Rumi mengingatkan bahwa untuk membangun masyarakat yang kukuh tidak mungkin apabila kita memi-sahkan pembangunan politik dan ekonomi dari tujuan keagamaan. Ke-empat, kehidupan yang kukuh dan memancarkan kebahagiaan hanya mungkin dibangun apabila manusia tidak semata-mata memiliki kekayaan ekonomi. Yang iebih penting lagi ialah kekayaan rohani, pikiran, gagasan, cinta dan keimanan, yang di atasnya semua bentuk harapan dan optimisme dapat dikembangkan dengan penuh kegairahan. Tujuan hidup bagi seorang beragama, kata Rumi, ialah merealisasikan cinta kepada Tuhan dalam kehidupan sosial.

         Berdasarkan pandangan iniiah Muhammad Iqbal menguraikan per-bedaan antara naturalisme al-Qur'an dengan naturalisme ilmu modern, serta cita-cita sosialisme Islam dan sosialisme sekular, Cita-cita sosialisme Islam tidak bermaksud menghapuskan pribadi, dimensi spiritual dan transendental dari kehidupan, dan tidak pula berkehendak membangun masyarakat yang didasarkan kapitalisme negara. Begitu pula pengertian Islam tentang realitas, egalitariahisme, sejarah dan kesejahteraan sosial berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh aliran-aliran pemikiran modern. Realitas yang sebenarnya menurut Islam ialah Tuhan, karena itu membangun kehidupan yang baik mesti merujuk kepada sumber wahyu, bukan kepada fenomena sosial semata-mata.

         Bahwa penulis karya-karya transendental dan sufistik memberi per-hatian terhadap masalah sosial dapat dilihat dalam karya Kahlil Gibran al-Nabi. Apakah Gibran di situ tak berbicara masalah yang dihadapi setiap masyarakat? Dalam antologi ProsesU dia antara lain menulis tentang hukum dan keadilan:

Justice on earth would cause the jinn
To cry at misuse of the word And were the dead to witnessed
They'd mock at fairness in this word.
Yea, death and prison we mete out
To smalt offenders of the taws While honor, wealth and full respect
On greater pirates we bestow

Tak kepalang banyaknya sajak Kahlil Gibran seperti itu. Dia juga menulis, kurang lebih:

Aku mencintaimu sebab kau lemah di hadapan para penindas yang kuat, dan miskin di hadapan si kaya tamak...
Aku mencintaimu, apakah kau memuja di gereja, berlutut di. kuil atau salat di masjid.

        Suara Gibran begitu lembut dan menyentuh kalbu kita yang terdaiam. Sebagai penyair dia tahu bahwa estetika sangat penting dalam penulisan. Dia menemukan persatuan hakikat kemanusiaan sebagai dasar pandangan humanisme religiusnya. Cinta merupakan dasar tema sajak-sajaknya, bukan pertentangan kelas ataupun individualisme.

         Salah Abdussabur ialah seorang penulis Mesir kontemporer yang banyak menimba ilham karyanya dari T.S. Eliot dan penyair sufi Arab dan Persia. Penulis yang wafat pada tahun 1981 itu telah menulis sebuah drama puitik berjudul Tragedi al-Hallaj. Tentang drama ini Annemarie Schimmel menulis, "Segi menarik dalam drama ini ialah kedalaman yang ditampilkan pengarang berhubungan dengan peranan sufi abad ke-10 Mansur al-Hallaj."

        Berikut ialah petikan drama yang melukiskan kesufian al-Hallaj dan peranannya dalam kehidupan politik pada abad ke-10 di Baghdad. Di sini dipaparkan kedinamisan pribadi sang sufi, dan gagasan humanistiknya yang didasarkan atas Cinta dan Iman. Lakon ini ditulis berdasarkan penelitian yang mendalam terhadap sejarah dan pandangan sosial tokoh sufi itu. Saleh Abdussabur sendiri ialah bekas kepala Perpustakaan Nasional Mesir, dan di situ dia mengumpulkan data-data tentang al-Hallaj dan menelitinya selama bertahun-tahun.

         Tatkala Syibli, sufi yang hidup sezaman dengannya bertanya kepada al-Hallaj, "Apakah yang dimaksud dengan kejahatan itu?" maka al-Hallaj menjawab:

Kejahatan ialah kemiskinan orang-orang miskin
Kelaparan orang-orang lapar
Di mata mereka yang malang ini, kulihat nyala api
Kata-kata berpijar di bola mata mereka
Aku tak tahu dengan pasti apa yang terkandung di dalamnya
Kadang-kadang terbaca olehku:
"Kini tataplah mataku
Namun kau takut akan kenyataan ini
Tuhan mengutuk kemunafikanmu.

      Beberapa lakon Arifin C. Noer seperti Dalam Bayangan Tuhan juga mengandung unsur-unsur sufistik. Dan aspek sosial yang terdapat dalam lakon tersebut tidak diragukan. Begitu pula halnya dengan karya-karya sufistik Danarto dan Kuntowijoyo. Mengenai cara menyajikan masalah sosial berbeda dengan cara penulis realisme sosial dan realisme formal, tidak dapat dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa karya tersebut tidak berbicara tentang masalah sosial.***

About Author

Related Post