YURISTGAMEINIGAMEID101

CITRA NABI MUHAMMAD SAW DALAM PUISI NA`TIYA

oleh Abdul Hadi W.M.

Dalam tradisi sastra Islam terdapat jenis sastra yang memaparkan kehidupan, perjuangan dan kemuliaan pribadi Nabi Muhammad s.a.w. Jenis sastra yang dimaksud ditulis dalam bentuk prosa maupun puisi, dan dapat dijumpai dalam kesusastraan Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindi, Bengali, Melayu, Pasthun, Swahili dan lain sebagainya. Yang sangat digemari ialah yang ditulis dalam bentuk puisi, disebut al-mada`ih al-nabawiya dalam sastra Arab dan puisi na`tiya dalam bahasa Persia. Perkataan na`tiya berasal dari na`t yang artinya pujian, khususnya pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w.
Puisi na`tiya sebenarnya telah muncul pada zaman Rasulullah, namun baru benar-benar berkembang pesat pada abad ke-12 dan 13 bersamaan dengan berkembangnya kesusastraan sufi dan tariqat-tariqat sufi, yang lazim menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk Afrika, Asia Tengah, India dan Nusantara melalui pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan sajak-sajak pujian kepada beliau. Salah faktor keberhasilan dakwah Islam pada abad ke-14 dan 15 M di India dan Nusantara, yang penduduknya ketika itu sebagian besar beragama Hindu dan Buddha, atau penganut syamanisme, paganisme, totemisme dan animisme ketika itu, ialah karena digunakaannya pembacaan riwayat hidup Nabi dan puisi-puisi na`tiya sebagai media penyebaran agama. Ini dikemukakan antara lain oleh seorang sejarawan Muslim abad ke-15, Zainuddin al-Ma`bari dalam kitabnya Tuhfat al-Mujahidin.
Di antara puisi na`tiya yang sangat popular di kalangan masyarakat Muslim Asia pada abad ke-14 dan 15 M ialah Qasidah al-Burdah karangan Syekh al-Busiri (abad ke-13) dan Syaraful Anam. Keduanya ditulis dalam bahasa Arab. Puisi na`tiya dalam bahasa Persia yang popular pada abad-abad awal berkembangnya agama Islam di Nusantara itu antara lain ialah sajak-sajak karangan Fariduddin al-`Attar, Nizami al-Ganjawi dan Jalaluddin al-Rumi. Puisi-puisi tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada akhir abad ke-15.

Pada abad ke-16 tradisi penulisan puisi na`tiya dalam sastra Melayu mengalami perkembangan pesat dengan muncul seorang penyair sufi terkemuka dari Barus, Hamzah Fansuri. Pada zaman ini pulalah hampir seluruh hikayat berkenaan kehidupan Nabi Muhammad telah ditulis dalam bahasa Melayu, seperti misalnya Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Hikayat Nabi Lahir, Hikayat Khatim al-NabiHikayat Bulan Berbelah, Hikayat Nabi Bercukur, Hikayat Nabi Mi`raj, Hikayat Iblis dan Nabi, Hikayat Nabi Muhammad, Hikayat Raja Khandak, Hikayat Raja Lahad (Perang Uhud), Hikayat Nabi Wafat, Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah,Hikayat Nabi Mengajar `Aisyah, Hikayat Fartana Islam dan lain sebagainya. Hikayat-hikayat ini ditulis berdasarkan sumber-sumber sastra Arab dan Persia seperti kitab Umdat al-Ansab (Arab) dan Rawdah al-Ahbah, Hazar Mazar, Wafat Namah dan Tarjumah Mawlid al-Mustafa (Persia). Sumber lain yang digunakan untuk penulisannya ialah Sirah Nabi Muhammad karangan Ibn `Ishaq, hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidhi, Muslim dan al-Nasa`i. Penulis-penulis Arab lain yang karangan-karangan mereka dijadikan sumber ialah Bayazid al-Bistami, Urwah bin al-Zubair, Aban bin Utsman (Ismail Hamid 1983).

Asal-Usul dan Perkembangan

Puisi na`tiya sebenarnya telah muncul pada zaman Rasulullah, dipelopori oleh penyair-penyair yang hidup dalam dua zaman (Jahiliya dan Islam) seperti Hasan ibn Tsabit, Ka`ab ibn Malik, Abdullah ibn Rawahah, Labid dan Ka`ab ibn Zubair. Menurut riwayat pada mulanya yang mulai menulis puisi na`tiya ialah Hasan ibn Tsabit. Suatu ketika Nabi mencela sikap Ka`b in Malik yang mengejek beliau secara berlebihan, kemudian dia meminta maaf atas sikapnya yang tidak senonoh itu. Dia kemudian menulis sebuah syair:

Apa pun yang ditakdirkan Yang Maha Pengasih
Pasti semua akan terjadi
Setiap orang yang lahir dari rahim seorang ibu
Walau usianya panjang
Pasti akan diusung dalam keranda suatu hari kelak
Aku diberi tahu, Nabi Allah mengancamku
Kini yang kurindkan oleh keampunannya


Walaupun demikian gambaran yang terperinci tentang kehidupan Nabi dan sifat-sifat beliau yang terpuji, pada masa awal tarikh Islam tidak ditemui dalam puisi, melainkan dalam karangan-karangan prosa seperti Sirah al-Nabi karangan Ibn `Ishaq pada abad ke-8 M. Tetapi pada abad ke-11 M riwayat hidup dan pribadi Nabi mulai ditulis dalam bentuk prosa-puisi atau prosa berirama (matsnawi dalam sastra Persia, taromba dalam sastra Melayu) seperti terlihat pada karangan seorang sastrawan dan kritikus Arab terkemuka Tsa`labi. Karangan Tsa’labi inilah yang memberi ilham penulis-penulis Arab dan Persia untuk mengembangkan puisi na`tiya pada abad ke-12 dan 13. Perkembangan itu didorong lagi oleh tulisan-tulisan para sufi seperti Sahl al-Tustari, Mansur al-Hallaj, Ibn `Arabi, dan lain-lain tentang berbagai aspek dari kehidupan spiritual dan sosial keagamaan Nabi Muhammad s.a.w.

Kian maraknya perayaan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. yang diselenggarakan oleh tariqat-tariqat sufi dengan pembacaan syair, menambah pesat perkembangan puisi na`tiya. Puisi pujian kepada Nabi mulai mencapai puncaknya dalam syair-syair sufi Arab dan Persia seperti Sana’i, `Attar, Nizami dan al-Busiri, dan terutama sekali dalam puisi-puisi agung Jalaluddin Rumi. Demikianlah peranan penulisan puisi na`tiya beralih ke tangan para penyair sufi pada abad menjelang runtuhnya kekhalifataan Abbasiyah.

Dalam kitabnya Tsa’labi antara lain menggambarkan bahwa Nabi berhasil membawa umatnya terbebas dari kegelapan menuju penceraham. Nabi adalah pembimbing umat menuju kebenaran ilahi. Kelahiran dan kedatangan beliau diberkati dan membawa keberuntungan. Pernyataan-pernyataan Tsa`labi ini memberi ilham bagi penulis-penulis Muslim sesudahnya, khususnya berkenaan dengan citraan simbolik Nabi. Nabi Muhammad misalnya diumpamakan sebagai bulan purnama dan matahari yang sinarnya menerangi seluruh dunia (Schimmel 1991:244-5). Simbol matahari misalnya pada abad ke-20 dipakai oleh dua pergerakan Islam Indonesia, Muhammadiyah dan Persis.

Di antara penyair sufi yang mendapat ilham dari penggambaran Tsa`labi ialah Syekh al-Busiri. Dalam Qasidah al-Burdah, penulis Mesir abad ke-13 ini melukiskan kehadiran Nabi dalam pentas sejarah kemanusiaan sebagai berikut:


Terbit purnama di tengah kita
Maka silamlah semua purnama
Bagai cantikmu tak pernah kupandang
Aduhai wajah kegembiraan

Engkau mentari engkau purnama
Engkaulah cahaya di atas cahaya
Engkaulah iksir tidak terperi
Engkaulah pelita di tiap dada

Duhai kekasih, duhai Muhammad
Duhai mempelai pendebar kesumat
Duhai Muayyad., duhai Mumajjad
Duhai sang imam kedua kiblat!

(terjemahan Syu`bah Asa)

Dalam kasidahnya itu Busiri menggambarkan dengan indah dan ekspresif tanda-tanda menakjubkan dari pribadi Nabi yang merujuk kepada sifat-sifat istimewa beliau sebagai nabi terkahir (syama`il wa dala`il al-nubuwwah). Citraan-citraan simbolik yang digunakan Busiri dalam menggambarkan ilmu, akhlaq dan kepribadian Nabi tidak sedikit yang diambil dari al-Qur’an. Hal serupa dapat dijumpai dalam puisi-puisi `Attar dalam Ilahi-namah dan karya Rumi Matsnawi-i Ma`nawi.

Menurut Busiri, Nabi diutus ke dunia oleh Allah s.w.t. untuk menjadi cahaya penerang di tengah kegelapan zaman jahiliyah. Beliau juga diumpamakan hujan lebat yang mencurahkan air kehidupan bagi jiwa yang kerontang; permata yang tidak ternilai harganya, yang kilauannya membayangkan ketinggian pencapaian rohani beliau. Inilah baris-baris sajak Busiri yang melukiskan kebesaran Nabi di tengah manusia lain:

Muhammad, pangeran dua dunia, manusia dan jin
Dialah raja dua kaum, Arab dan `Ajam (bukan Arab)
Dialah nabi kita yang menganjurkan dan melarang –
Dalam berkata iya dan tidak, tidak ada yang lebih terpercaya
Dialah kekasih bagi mereka yang merindukan harapan
Di hadapan kekejaman dan kezaliman
Nabi menyeru kita agar kembali kepada-Nya
Dan mereka yang berpegang teguh pada ajarannya
Akan memperoleh buhul tali yang kuat sebagai pegangan


Menurut Busiri, “Selamanya dia hidup dan berada bersama kita/Mukjizatnya mengungguli nabi-nabi lain/Nabi-nabi sebelumnya (ajarannya) tidak kekal seperti dia.” Tentang risalah agama yang disampaikan Rasulullah, Busiri menulis:

Agama-agama lain umpama tamu yang sedang berkumpul
Bersama Sahabat yang tangkas dalam pertempuran
Ketika agama Islam datang bersama Sahabat Nabi
Kemurahan yang tercerai-berai dipadukan kembali

Bilamana agama ini telah menerangi dunia
Semua upacara palsu surut perlahan
Tuhan maha tahu, bagaimana nasib bintang-bintang
Jika matahari telah muncul di hadapan mereka



Sulaiman Celebi, penyair Turki abad ke-14 menulis dengan ungkapan lain, seperti berikut:

Dialah (Muhammad) raja pengetahuan yang mulia
Dialah makrifat dan tauhid keduanya
Karena mencintainya langit (jiwa) berputar
Manusia dan jin sangat merindukan wajahnya
Malam kelahirannya adalah malam-malamnya sendiri
Ia menerangi semesta dengan cahaya berkilauan
Malam ini bumi menjadi sorga
Malam ini mereka yang punya hati akan bersuka ria
Malam ini para pencinta dianugerahi kehidupan baru
Mustafa adalah rahmat bagi sekalian alam!


Karena kedudukan Nabi begitu sentral dalam sejarah Islam, Sana’i – pelopor sastra sufi Persia – menulis lebih kurang, “Menyebut nama indah yang lain (di antara ciptaan) selain namamu, ya Nabi, adalah salah. Menyanyikan puji-pujian dalam sajak kecuali memuji namamu, sungguh kami akan merasa malu!” Seorang penyair Urdu merasa bahwa kepenyairannya tidaklah berarti sebelum menulis sajak pujian untuk Nabi Muhammad. Tetapi begitu dia menulis puisi na`tiya, jalan luas lantas terbentang di hadapannya dan keberadaannya menjadi berarti (Schimmel ibid).

Puncak perkembangan puisi na`tiyah pada abad ke-13 terlihat dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi, penyair sufi terbesar sepanjang abad dari Persia. Dalam Divan-i Samsi Tabriz dan Matsnawi, citra Nabi ditampilkan sebagai pengubah tatanan sosial dan politik, di samping ketinggian akhlaq dan taqwanya. Sebagai penerima wahyu terakhir, Nabi adalah ‘tokoh yang mengatasi pemikiran rasional oleh karena dilimpahi cahaya ketuhanan. “Memang,” kata Rumi, “Nabi makan dan minum seperti manusia lain, namun yang membuat martabatnya mengatasi manusia lain ialah nubuwah yang diterimanya, cahaya ketuhanan yang menyertai penglihatan dan pengetahuannya”.

Dengan ungkapan lain Hamzah Fansuri menulis dalam syairnya seperti berikut:

Rasulullah itulah yang tiada berlawan
Meninggalkan tamak (tha`am) sungguh pun makan
`Uzlat dan tunggal di dalam kawan
Olehnya duduk waktu berjalan


Jadi walaupun Nabi adalah seorang faqir sejati yang gemar `uzlat dan zuhud, tetapi tidak meninggalkan kewajibannya dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Walau hatinya teguh dan hanya terpaut pada Tuhan (duduk), beliau tetap aktif mengerjakan urusan dunia dengan penuh pengabdian, kesungguhan dan pengurbanan. Untuk menjadi faqir seperti Nabi, kita harus menyingkirkan ego rendah kita dan berani memerangi diri kita sendiri (melakukan jihad besar):

Adamu itu yogya kau serang
Supaya dapat negeri yang henang
Seperti Ali tatkala perang
Melepaskan Duldul tiada berkekang


Selanjutnya Syekh Hamzah Fansuri menulis pula seperti berikut:

Syariat Muhammad terlalu `amiq (dalam maknanya)
Cahayanya terang di negeri Bayt al-`athiq
Tandanya ghalib sempurna thariq (jalan)
Banyaklah kafir menjadi rafiq (kawan)


Faizi, seorang penyair Urdu abad ke-17, jadi sezaman dengan Hamzah Fansuri, mengatakan pula:

Dengan syariat dan al-Qur’an, cahaya terang datang
Dengan lidah dan pedang, bukti terpecahkan
Dari tanah lempung dia, namun dari Arasy turunnya
Buta huruf (ummi), namun perpustakaan besar ada dalam kalbunya


Mengenai ke-‘ummi’annya, Rumi berkata, lebih kurang seperti berikut: “Nabi Muhammad s.a.w. harus seorang ummi, agar wahyu Ilahi bisa diturunkan ke dalam kitab tanpa aktivitas intelektual, sehingga apa yang disampaikan beliau benar-benar merupakan tindakan yang lahir dari kesucian, keagungan dan keluruhan jiwa. “Seorang yatim piatu tidak pernah belajar (di sekolah formal) tetapi seluruh perpustakaan dunia habis dibaca olehnya!” ujar Sa’ di al-Syirazi, penyair Persia lain abad ke-13 juga.

Karena perkembangan puisi na`tiya terkait dengan perkembangan tasawuf, maka sangatlah wajar jika sebagian besar puisi na`tiya bercorak sufistik. Seperti dikatakan Zaki Mubarak, “Puisi na`tiya ialah sejenis puisi sufistik yang disebar luaskan para sufi, sebagai cara menyampaikan perasaan religius, dan kemudian ia menjelma sebagai bentuk pengucapan yang mantap disebabkan lahir dari hati yang tulus dan mengakui kebenaran.” Sedangkan Ghu;a, D. Rasheed dalam bukunya The Development of Na`tiya Poetry in Persian Literature (1965) mengatakan bahwa, “Sifat-sifat Nabi yang terpuuji, sebagaimana digambarkan dalam puisi na`tiya, menyajikan kepada dunia suatu contoh ketaatan kepada Tuhan atau keselarasan dengan kehendak Tuhan. Sebagian besar puisi na`tiya bertalian dengan nilai-nilai moral...”

Itulah sebabnya Rumi menulis, lebih kurang seperti berikut: “Letakkan tanganmu pada Yang Satu dan Muhammad/Bebaskan dirimu dari Abu Jahal duniawi dan badaniah”

Na`tiya dan Puisi Modern

Perkembangan puisi na`tiya tidak kalah menarik di anak benua India semenjak abad ke-17 hingga abad ke-20. Penyair-penyair di wilayah ini menggunakan pendekatan sendiri dalam kepribadian nabi. Ini terlihat dalam karya penyair-penyair sufi terkemuka seperti Amir Khusraw, Shah Latif, Khawaja Mir Dard, Ghalib, dan pada puncaknya tampak dalam puisi Muhammad Iqbal. Puisi na`tiya memasuki fase baru pada abad ke-19 sebagai pengaruh dari munculnya gerakan pembaruan (tajdid) yang dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir. Gambaran Nabi Muhammad menjadi lebih beragaman dan kompleks, tidak terbatas pada akhlkaq dan mukjizat beliau. Pada abad inilah puisi na`tiya benar-benar mengalami perkembangan yang pesat dan menarik.

Dua situasi yang mendorong berkembangnya puisi na`tiya di anak benua India itu ialah runtuhnya kekuasaan Dinasti Mughal yang sekaligus menandai kemunduran Islam di India, dan semakin besarnya kekuasaan kolonial Inggris yang berarti bermulanya secara definitif proses westernisasi dalam kehidupan intelektual dan kultural masyarakat India, Hindu maupun Muslim. Pada masa ini Inggers mulai menjalankan sistem kekuasaan yang sangat menyudutkan dan merugikan umat Islam. Secara sistematis, Islam dan kebudayaannya dipinggirkan, kekuatan politik dan ekonominya dipangkas sampai gundul, dan bersamaan dengan itu Inggris meniupkan sentimen keagamaan yang memecah belah dua penganut agama besar itu (Hindu dan Islam).

Pada waktu bersamaan muncul tiga pemikir besar sufi memimpin geakan pembaruan. Mereka ialah Shah Waliullah, Mashar Janjangan dan Khwaja Mir Dard. Gerakan mereka bertujuan memberikan dorongan baru bagi kaum Muslimin untuk menghayati zaman kegemilangan Islam pada zaman Nabi dan khalifah al-rasyidin. Gerakan ini juga melahirkan puisi na`tiya tersendiri. Aspek penting kehidupan Nabi sebagai tokoh pengintegrasi umat dan pembangan tatanan dunia baru ditonjolkan. Ini sejalan dengan gambaran Nabi sebagai teladan umat Islam, yang seperti dikatakan Nabibaksh Balokh, “Peranan Nabi yang tersendiri dalam sejarah revolusi kerohanian tidak dapat disangkal. Dengan teori tauhid yang revolusiner beliau telah meletakkan batu fundasi bagi kesatuan umat manusia dan tingkat kemajuan intelektualnya. Beliau memperkenalkan bahwa yang spiritual lebih utama dari yang material, walaupun yang terakhir ini juga penting....beliau menerangi jalan bagi tindakan dan pengalaman manusia; dan beliaulah yang menyebabkan pendengaran dan penglihatan, pengetahuan dan intelek, tampil ke depan” (Schimmel 1985:1777).

About Author

Related Post