YURISTGAMEINIGAMEID101

DUNIA DALAM PANDANGAN PENYAIR SUFI

oleh Abdul Hadi W.M.

Iqbal, dalam bukunya yang terkenal Membangun Kembali Pemikiran Agama Dalam Islam, mengatakan bahwa menurut pandangan al-Qur'an "manusia itu bukanlah orang asing di dunia ini dan bumi bukanlah penjara bagi manusia, bukan tempat penyiksaan." Bumi malah merupakan tempat terbaik bagi manusia dalam mengembangkan kemampuan rohaninya. Apabila al-Qur'an menurunkan kisah kejatuhan Adam dari jannah (surga), al-Qur'an bermaksud menunjukkan kebangkitan manusia dari keadaan primitif (bersahaja) dengan selera naluri rendahnya, menuju kesadaran bahwa ia memiliki pribadi yang merdeka, yang mampu untuk bersikap ragu-ragu dan mampu pula untuk membangkang.

Filosof-penyair Muslim terkenal itu menyitir ayat suci yang menya-takan, "Dan Kami telah mendirikan bagimu bumi serta di dalamnya Kami berikan hal-hal yang menegakkan kehidupan. Betapa kurangnya rasa terima kasihmu."(Q. 7:10). Memang, menurut al-Qur'an, bumi tidak diciptakan dengan sia-sia, dan karenanya tidak boleh dinafikan. Ibn '' Arabi, pemikir sufi dari Spanyol, dengan tegas menyatakan bahwa dunia ini bukanlah suatu ilusi. Dunia itu nyata sebab merupakan ayat-ayat Tuhan. Oleh karena dalam diri manusia juga terbentang ayat-ayat Tuhan, maka upaya mengidentifikasikan manusia dengan dunia atau masyarakat adalah mungkin. Dengan perkataan lain dunia dan masyarakat mempunyai hu-bungan dengan manusia, baik secara jasmani maupun secara rohani.

Pandangan Iqbal tentang dunia, pun Ibn 'Arabi, mewakili pandangan sufi yang benar dan sesuai dengan amanat kitab suci. Iqbal malah mengutip sebuah ayat lagi dalam kitab suci, "Dan Kami telah menyebabkan engkau tumbuh dari bumi." Dalam sebuah sajaknya, penyair sufi penulis Musya-warah Burung yang masyhur, Fariduddin "Attar menulis:

Ketika Singa Tuhan Sayidina Ali hadir di sebuah majelis
Secara terus terang seseorang mengutuk dunia.
"Dunia itu" jawab Haidar, “tak layak dikutuk."
Celakalah kau jika mengucilkan diri dari hikmah
Dunia, Nak, adalah sebuah ladang
Untuk  didatangi siang dan malam
Apa saja yang memancar dari martabat dan kekayaan iman
Semuanya diperoleh dari dunia ini.
Buah hari esok adalah kembang benih hari ini
Dan orang yang ragu akan merasakan buah pahit penyesalan
Dunia ialah tempat terbaik bagimu
Di dalamnya kau dapat menyiapkan bekal buat hari kemudian
Pergilah ke dunia, tapi jangan tenggelam oleh hawa nafsu
Dan siapkan dirimu bagi dunia lain
Jika kau berlaku demikian, dunia akan pantas bagimu
Akrabilah dunia semata demi tujuan mulia ini

Sajak ini ditulis sehubungan dengan peristiwa yang dialami oleh Khalifah keempat, Sayidina Ali, seperti tersebut dalam kitab Nahj al-Balaghah. Amirul Mukminin dikisahkan kedatangan seseorang yang mengutuk, menyumpah dan melaknati dunia. Dunia dikatakan oleh orang itu sebagai penuh kesalahan, sumber kehancuran. Padahal dalam perspektif Islam, sebagaimana dikatakan Murtadha Mutahhari, hubungan manusia dengan dunia bukanlah seperti hubungan antara seorang tawanan dengan penjaranya. Hubungan manusia dengan dunia bisa diuinpamakan sebagaimana hubungan antara petani dengan ladangnya, atau antara pedagang dengan pasar. Dunia merupakan sebuah sekolah bagi manusia, tempat melatih diri untuk mencapai kesempurnaan. Halangan untuk men-capai kesempurnaan ialah hawa nafsunya, yang membuatnya demikian terikat dan terbelenggu oleh dunia.

Nasir Khusrau, penyair sufi yang juga dikenal sebagai filosof di antara para penyair {hakim al-syu'ara) mempersembahkan puisi ini dalam kumpulan diwannya:

O Dunia, betapa tepat dan hakiki kau
Pun jika kau tak setia padaku.
Sakit dan celaka kau tampaknya bagi mata yang murung
Namun indah dan segar jika orang memandangmu dari dalam
Bila terkadang kau mematahkan satu atau dua orang sampai berkeping
Banyak orang patah kausatukan dan pulihkan kembali.
Kau busuk bagi orang yang kotor
Murni bagi yang tak cela
Jika ada yang mengutukmu, katakan olehmu,
"Kau tak memahami aku yang sesungguhnya."
Kau telah tumbuh dariku. Jika kau bijak,
Mengapa kau kutuk pohon di mana kau adalah dahannya?
Tuhan menjadikan aku sebagai jalan bagi perjalananmu mendaki
Dan kau telah tinggal di jalan rendah ini.
Tuhan menanam sebuah pohon yang dari batangnya kau tumbuh
Jika kau tumbuh lurus, kau akan selamat
Dan jika kau menyimpang bengkok, akan termakan nyala api
Ya, setiap orang membakar dahan-dahannya yang bengkok
Dan tak peduli apa kayu kenari atau cemara
Kau anak panah Tuhan yang ditujukan pada musuh-Nya
Mengapa kau aniaya dirimu dengan senjata ini?

Dalam sajak ini Nasir Khusrau menyatakan bahwa dunia ini me-rupakan laluan manusia dalam perjalanannya mendaki ke alam ketuhanan, dan agar pendakian berjalan dengan baik, maka terlebih dahulu jalan untuk mendaki hams diperbaiki. Jadi dunia harus diperbaiki sebagai persiapan jalan menuju akhirat, menuju Tuhan.

Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Adam adalah khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi, namun untuk menjadi khalifah yang baik dia harus menyempurnakan dirinya. Iqbal menunjukkan dua cara penting dalam menyempurnakan diri, yaitu melalui 'cara intelektual' dan 'cara vital'. Cara yang pertama bertalian dengan pemupukan ilmu pengetahuan, pe-nalaran dan pengasahan akal. Cara kedua, melaiui iman atau cinta ('isyq), dan pelajaran tentang cinta banyak diberikan oleh nabi-nabi, wali-wali dan para muttaqin yang telah mencapai makrifat.

Rumi melukiskan bahwa Adam lebih tinggi kedudukannya dari ma-laikat oleh karena ia memiliki ilmu pengetahuan. Namun dia jatuh ke bumi, oleh karena ilmu pengetahuan saja memang tidak cukup. Maka sebelum turun ke bumi, ia meminta petunjuk (hidayah) kepada Tuhan. Sejak itulah, dalam perspektif Islam, akal saja dipandang tidak cukup dan karenanya Islam menolak rasionalisme ekstrem. Akal harus dibimbing oleh Wahyu Ilahi.

Menurut para penyair sufi, seluruh alam semata ini digerakkan oleh daya tarik dan gravitasi umum: Seluruh partikel saling menarik satu sama lain untuk menyusun suatu pola. Jadi di dalam semesta ini terdapat pola saling menarik antara bagian-bagian. Demikian pula antara manusia dengan bumi tempat hidup, antara manusia dengan sesamanya, serta lingkungan tempatnya hidup. Wahshi Kirmani menulis dalam sajak sufi-nya:

Setiap zarrah yang menari terserap oteh kekuatan pesona yang sama 
Yang menariknya menuju tujuan istimewa yang pasti
Dibawanya sekuntum bunga ke sisi kumpulan bunga lain
Dan didorongnya sedikit percikan api memburu himpunan kawan-kawannya
Dari api ke angin, dari air ke debu
Dari bawah rembulan ke puncak langit
Dari kawanan ke kawanan dari himpunan ke himpunan
Kau akan melihat pesona di setiap hal yang bergerak
Dari angkasa raya sampai ke benda-benda bumi fana.

Walaupun para penyair sufi memandang dunia sebagai suatu yang tak boleh disia-siakan, dan memandangnya sebagai memiliki tujuan yang mulia yaitu sebagai ladang untuk bercocok tanam, sebagai pasar untuk menggelar barang dagangan, namun mereka menolak sikap terikat kepada dunia. Keterikatan pada dunia, seperti sering ditulis dalam al-Qur'an, melahirkan penjajahan benda-benda atas manusia, yang derajatnya lebih tinggi dari benda-benda. Dalam sajaknya Nasir Khusrau sekali lagi menulis:

Tak pernah aku jatuh jadi mangsa dunia
Sebab tak lagi ia membelenggu hatiku
Akulah nyatanya sang pemburu dan dunia adalah mangsaku
Walau sekali ia pernah mendesakku jadi buruannya
Walau banyak orang jatuh tertusuk anak panahnya
Dia tak bisa menjadikan aku sebagai sasarannya
Jiwaku terbang mengatasi gelombang dahsyat dunia
Dan tak lagi aku takut pada ombak dan pasangnya.

Dalam Islam memang bertarung melawan sikap keduniawian, ma-terialisme, sikap terikat pada dunia, merupakan upaya manusia yang penting menuju kebangkitan kembali identitas dan.kepribadi-annya. Se-seorang harus mampu menentang setiap perbudakan dari selain Allah dan membebaskan diri dari belenggu selain Allah. Hafiz menulis dalam sajaknya:

Aku abdi dari kemurahan hatinya
Siapa bebas dari noda keterikatan pada segala di bawah kolong langit
Kecuali cinta kepada Tuhan kekasih sejati,
Akan riang bahagia dan redam segala dukanya
Terus terang kuumumkan, dengan gembira kumaklumkan
Aku abdi cinta dan bebas dari dua dunia
Kecuali demi nama Kekasih yang terukir di lubuk hati
Guru takkan mengajarkan padaku kata-kata lain.

Dalam Matsnawi Jalaluddin Rumi menyatakan bahwa tidak perlu ada pertentangan antara kehidupan dunia dan ukhrawi. Kehidupan yang satu merupakan laluan menuju kehidupan yang lain, dan antara keduanya terdapat benang penghubung yang batasnya samar. Kehidupan duniawi dan keakhiratan merupakan bagian dari satu kesatuan, dan karenanya tidak terpisahkan. Islam mengajarkan bahwa kehidupan sosial yang baik tidak mesti berbenturan dengan nilai-nilai transendental yang ingin ditegakkan dalam kehidupan. Bahkan Rumi berpendapat bahwa hidup merupakan anugerah yang harus diterima dengan penuh tanggung jawab, sebab anugerah itu datang dari Sang Pencipta. Kepercayaan kepada Yang Gaib, sisi kehidupan transendental, merupakan keharusan bagi setiap orang beriman. Namun kepercayaan kepada Yang Gaib ini tidak harus membuat orang beriman menolak keperluan berikhtiar dan mengusahakan kehidupan dunia. Bah­kan dalam Matsnawi Rumi mengingatkan agar selalu memulihkan per-taiian antara kehidupan politik dan ekonomi dengan agama, karena setiap waktu hubungan itu dapat retak. Kata Rumi:

Jika kau percaya Tuhan, percayalah pada-Nya ketika bekerja
Tanamlah benih, kemudian barulah bertopeng kepada Yang Maha Kuasa.

Rumi juga menganjurkan pembacanya bekerja keras dan menjauhkan diri dari sikap bersantai, termasuk dalam beribadah dan menuntut ilmu pengetahuan:

Lebih baik bertarung dengan pedih daripada bersantai
Di jalan ini biarlah kau tertempa dan tergosok dan ditantang terns.
Namun Rumi mengingatkan pula:
Jangan bangun rumahmu di tanah orang lain
Bekerjalah demi cita-citamu sendiri, jangan terjerat orang asing
Siapa orang asing itu kecuali nafsu keduniawianmu?
Ialah penyebab kesedihan dan malapetakamu
Selama kau cuma merawat dan memanjakan tubuhmu
Jiwamu takkan subur, takkan pula kukuh.

Dengan demikian tidak ada alasan buat kita untuk mengatakan bahwa sastra sufi, dan sastra sufistik, merupakan suatu pelarian dari kehidupan. Sebaliknya, ia merupakan upaya pencerahan dan pemulihan kembali kondisi kemanusiaan kita yang dapat saja rapuh disebabkan cinta kita yang berlebihan kepada dunia.***

About Author

Related Post