YURISTGAMEINIGAMEID101

KISAH KOTA GEOMETRIS DAN SUFISTIK FATEHPUR SIKRI

oleh Abdul Hadi W.M.

FATEHPUR SIKRI ialah kisah kota yang pembangunannya menak jubkan sekaligus memelas nasibnya. Tidak begitu lama setelah dibangun dengan perancangan yang rapi dan bersusah payah, bekas ibu kota kesultanan Mughal di India itu pada akhirnya ditinggaikan oleh sebagian besar penghuninya. Kota megah yang semula ramai dan meriah dengan pesta-pesta kerajaan itu dalam beberapa hari saja berubah menjadi kota mati.

Tidak lagi terdengar senda gurau wanita-wanita cantik di tempat-tempat pemandian dan taman sari istana. Tidak terdengar lagi nyanyian merdu para qawali diiringi musik Hindi yang bercam-pur baur antara sendu dan gembira. Yang tinggal sebagai penghuni tetap kota mati itu hanyalah beberapa ratus orang pengikutTarekat Chistiyah. Hanya sesekali kota itu menjadi hidup kembali, yakni pada hari-hari tertentu atau hari libur pada musim orang perlu berziarah atau melancong

Kisahnya bermula pada tahun 1569 M ketika Akbar berusia 28 tahun. Sekonyong-konyong sultan muda ini membuat rencana besar yang membuat tercengang para pembantunya. Dia berhasrat mem-bangun sebuah kota yang membayangkan sebuah pola abstraksi geometris.

Ini belum pernah dilakukan oleh raja-raja India sebelumnya. Lagi pula kota itu hendak dibangun di sebuah lereng bukit terjal di mana sumber air tidak mudah dialirkan dan dipancurkan. Namun sebagai pencinta ilmu pengetahuan dia ingin membuktikan bahwa dia memi-liki pakar-pakar mekanik dari Persia yang mampu menciptakan mesin dan peralatan baru sehingga air dapat dialirkan dengan mudah dari lereng bukit yang berbatu-batu.

Sebagai pemimpin yang biasa bertindak cepat dan bersedia me-ngorbankan apa saja demi terlaksananya cita-cita ganjil itu, Akbar tidak menyia-nyiakan waktu dan peluang. Dia segera mengumpulkan para pakar di bidangnya masing-masing dan segera pula raemerin-tahkan agar kota idamannya dibangun menurut pola yang diinginkan. Dalam waktu sepuluh tahun kota itu akhirnya siap seluruhnya. Kompleks istana yang megah dan masjid agung siap hahya dalam waktu satu tahun. Pesta besar diselenggarakan. Apalagi selama sepu­luh tahun masa pemerintahannya itu Akbar berhasil memperluas wilayah kedaulatan Dinasti Mughal. Hampir seluruh negeri di barat daya India ditaklukkan oleh tentaranya.

Ada beberapa alasan mengapa pembangunan Fatehpur Sikri dilaksanakan secepat itu. Salah satu alasannya, konon, keinginan Akbar untuk memenuhi kaulnya. Dia merasa perlu berterima kasih kepada pemimpin Tarekat Chistiyah dan para pengikutnya yang telah membantu Babur, kakek Akbar, dalam peperangannya pada tahun 1530 melawan raja Hindu di Rajput yang ibu kota kerajaannya tidak jauh dari Sikri. Karena kemenangan yang diperolehnya itulah Babur memandang lereng bukit Sikri sebagai tempat keramat dan penuh barakah. Sebagai ucapan terima kasihnya kepada pemimpin dan pengikut Tarekat Chistiyah dia membangun sebuah masjid besar diberi nama Masjid Sikri. Bukit itu pun dikenal dengan nama Bukit Sikri. Kata Sikri berasal dari kata Arab syukriyah yang artinya terima kasih.

Dengan membangun Bukit Sikri sebagai kota besar, Akbar konon ingin melipatgandakan rasa terima kasih kakeknya. Padahal hu-bungan dia dengan pemimpin Tarekat Chistiyah tidak begitu baik. Kecenderungan Akbar yang sinkretik dalam melaksanakan agama dan toleransinya yang berlebihan terhadap agama lain membuat pemimpin Chistiyah curiga dan kritis. Dia sering mengundang pe­mimpin berbagai agama, termasuk pemimpin Kristen, untuk men-diskusikan gagasannya tentang pertemuan agama-agama. Dia sendiri mengawini dua putri raja Rajput dan membiarkan istrinya tetap me-meluk agama Hindu.

Dugaan lain mengapa kota ini dibangun ialah hasrat Akbar untuk menyingkir dari intrik-intrik busuk yang mulai melanda ibu kota Agra. Namun apa pun alasannya, Fatehpur Sikri merupakan kota yang menawan dari segi konsep arsitektur dan kesungguhan pendirinya untuk merealisasikan pembangunannya.

Kota yang Sufistik

Akbar dikenal sebagai pemimpin yang suka terburu-buru dalam melaksanakan sesuatu. Sifat ini dipengaruhi oleh kehidupannya pada waktu muda. Ketika ayahnya, Humayun, sedang berjuang memperta-hankan kedudukannya dari serangan lawan-lawannya di Afghanistan, Akbar kecil sering melarikan diri dan berpindah dari tempat yang satu ke tempat lain. Pada akhirnya dia mendapat perlindungan di istana Bani Safawi di Isfahan, Iran.

Di Iran dia menerima sedikit pendidikan formal mengenai seluk beluk pemerintahan. Sampai usia tiga belas tahun, pada saat dinobat-kan sebagai pengganti ayahnya, dia belum menunjukkan diri sebagai calon pemimpin yang berbakat. Malah dia cenderung enggan menerima jabatan sebagai sultan. Akan tetapi, tidak lama setelah naik tahta Akbar mulai menunjukkan diri sebagai pemimpin penuh semangat, cepat dalam bertindak dan memiliki pemikiran yang cemerlang. Dia tidak hanya pandai dalam politik, diplomasi, ad-ministrasi dan seni perang, tetapi juga memiliki apresiasi seni dan semangat religius yang tinggi dan menyukai Umu pengetahuan.

Ketika masih muda dia dikenal sebagai seorang murid yang tekun belajar dan cepat memahami apa yang diajarkan gurunya. Di antara gurunya terdapat beberapa Sufi terkemuka. Guru Sufi yang berpengaruh besar kepadanya ialah Mir Abdul Latif. Sebagai seorang Sufi berpildran liberal dan heterodoks, Mir Abdul Latif sering meng-ajarkan masalah toleransi agama kepada Akbar.

Pengetahuan Akbar tentang seni dan prinsip-prinsip estetika Islam juga diperoleh dari beberapa guru Sufi. Termasuk prinsip seni rupa geometris, yang dalam tradisi Islam, bersama-sama dengan seni hias tetumbuhan, mendapat kedudukan nomor dua setelah seni kaligrafi. Dia memahami bahwa prinsip-prinsip luldsan geometri, sebagaimana pfinsip seni Islam lain, termasuk arsitektur lahir dan memancar dari lubuk ajaran tasawuf. Pengetabuan dan kegemarannya terhadap lukisan geomctri inilab yang ingin diterapkan dalam pembangunan kota Fatehpur Sikri.

Dalam sejarah Dinasti Mughal di India Akbar dikenal sebagai pembangun gedung yang prolifik. Sebelum membangun Fatehpur Sikri dia telah banyak membangun gedung dan pusat peribadatan yang monumental. Sebagai orang yang memahami arsitektur dia sen-diri bertindak sebagai arsitek. Karya Akbar di bidang arsitektur sangat banyak. Dalam sejarah arsitektur Islam sendiri kemunculan Akbar membuat arsitektur Islam memasuki babakan baru yang mengesan-kan. Beberapa model bangunan yang dia perkenalkan segera berakar dalam tradisi arsitektur Islam di India.

Kecuali mempunyai pengetahuan luas tentang arsitektur dan seni rupa Islam pada umumnya, Akbar juga memiliki pengetahuan luas tentang arsitektur lokal India. Semua ini diperolehnya pada waktu dia melakukan ekspedisi ke wilayah-wilayah taklukannya. Selama mengunjungi daerah-daerah yang luas itu dia tidak lupa menggambar ban gun an-bangunan tradisional yang menarik perhatiannya. Fatehpur Sikri merupakan cerminan dari pengetahuannya yang luas tentang arsitektur Islam dan India, sekahgus merupakan cerminan dari cita rasa seninya yang sufisrik.

Pada tahun 1578 M ketika Fatehpur Sikri sedang berada di puncak kejayaannya datanglah seorang pelancong Inggris terkenal, Finch. Melihat Fatehpur Sikri, Finch benar-benar kagum. Pada waktu itu penduduknya sudah mencapai 20.000 orang dan luas kotanya sama dengan Roma dan London. Keterpesonaan Finch terutama tertuju pada semangat rasional kota itu, yang sekahgus juga memancarkan suasana spiritual. Persis seperti lukisan geometri Islam yang telah diresapi estetika sufisrik Islam.

Menurut Finch tidak ada kota yang demikian skemaris seperti Fatehpur Sikri. Seluruh bangunan membentuk kesatuan dinamik dan fungsional. Tidak ada ruang arsitektural terbuang percuma, sampai ke puncak atas bangunan sekalipun memiliki fungsi bagi penghuninya. Kekaguman lain para pelawac ialah kemampuan para teknisi Mughal mengalirkan air dari lereng ke atas bukit yang jaraknya seratus yar. Seorang misionaris Katolik Pater Monserrate menyaksikan sendiri bagaimana air dialirkan secara mekanik ke tangki-tangki air yang jumlahnya sangat banyak. Dari tangki-tangki itu kemudian air dipancurkan ke taman-taman, disalurkan ke sumur-suraur, tempat pemandian, masjid dan rumah-rumah penduduk.

Bahkan Pater Monserrate melihat sendiri minat besar Akbar terhadap ilmu mekanik. Pada suatu hari dia menyaksikan sultan muda itu sedang mencoba sebuah mesin dan memberi pengarahan bagai­mana menjalankan sebuah mesin baru (lihat Bernard Lewis, [Ed.], The World of Islam, London: Thames &C Hudson, 1976). Paparan lain menyebutkan bahwa setiap perayaan tahun baru dan hari-hari besar keagamaan beberapa ilmuwan Iran seperti Fathullah (w. 1595 M)—seorang filosof, astronom dan ahli flsika dari Shiraz—diundang khusus untuk memamerkan mesin baru ciptaannya dan hasil-hasil penemuan ilmiahnya. Khususnya mesin-mesin untuk pertanian dan pengairan.

Bagi para pelancong, berjalan-jalan di Fatehpur Sikri akan mera-sakan suasana kerohanian tertentu. Penyair dan sastrawan sering men-dapat ilham untuk penulisan puisinya setelah berkunjung ke Fatehpur Sikri. Bangunan-bangunan disusun sebagai bagian dari rangkaian rupa dan keruangan yang terancang rapi, sama seperti menikmati sebuah lukisan geometri. Ruang-ruang dikelilingi beranda dan gang-gang yang membentuk diri sebagai latar belakang bangunan.

Struktur kotanya leluasa dan mendatangkan ketenteraman. Setiap ruang, puri, secara bertahap mengalir ke titik pusat yang merupakan klimaks yaitu taman hijau di sekeliling Masjid Jami\ Sukar sekali bagi kita untuk membayangkan bahwa kota ini benar-benar dibangun oleh tangan dan pikiran manusia. Yang lebih menakjubkan lagi ialah tidak adanya jalan konvensional. Yang ada ialah deretan teras yang teratur membentuk lorong-lorong yang asri dengan taman-taman yang mengelilingi istana-istana kecil dan paviliun-paviliun

Titik dan Garis Sentral

Selain mencerminkan suasana batin Akbar, Fatehpur Sikri juga mencerminkan politik pemerintahannya. Pribadinya yang praktis dan pemahamannya yang dalam terhadap ajaran tasawuf, terlihat nyata pada kota ini. Apalagi pembangunan Fatehpur Sikri sepenuhnya didukung oleh para perencana dan arsitek berjiwa Sufi.

Kualitas sufistik jiwa Akbar terlihat pada metode yang diterapkan sejak proses pembangunan dimulai. Seperti penciptaan sebuah lukisan geometri, dia memulai dulu dengan membuat titik sentral, sebab esensi lukisan ialah titik dan garis. Titik sentral ini tepat berada di tengah antara dua bangunan suci yang telah ada sebelumnya, yaitu Masjid Jami' yang dibangun Sultan Babur dan khanqah para syekh Tarekat Chistiyah. Dua bangunan ini konon dibangun khusus oleh para tukang batu sebagai penghormatan kepada guru mereka, Salim Pukha.

Setelah titik sentral ditentukan dengan mengambil ancang-ancang masjid dan khanqah, lantas sebuah Iapangan luas dibentangke seluruh penjuru yang parameter luarnya berupa dinding-dinding kota. Pin-tu-pintu masuk dibuat sesuai posisi simetris garis yang menuju titik sentral. Di atas pintu dibuat panggung-panggung yang mengelilingi kota. Panggung-panggung ini dirangkai sedemikian rupa sehingga bertalian dengan sejarah masing-masing bangunan.

Dilihat dari perspektif politik cerminannya dapat dilihat pada metode dan prinsip pengerjaannya. Para perajin, tukang batu, arsitek, pembangun, juru gambar dan Iain-lain, yang berasal dari berbagai wilayah di India, diperbolehkan mengekspresikan diri secara leluasa menurut desain masing-masing. Akbar hanya bertindak sebagai pembimbing.

Pembangunan dilakukan secara serentak. Lokasi bangunan diten­tukan dengan melihat fungsi, arah, topografi, keamanan dan es-tetikanya. Jika bangunan tradisional India dibangun berdasar prinsip arah utara-selatan, maka Fatehpur Sikri dibangun berdasar arah timur-barat, karena orang Islam India sembahyang menghadap kiblat yang berada di arah barat.

Tempat-tempat pelayanan umum dibangun di pinggir platform dasar yang jembar, tepat di tepi luar bubungan. Bangunan-bangunan umum seperti mahkamah, pengadilan, dewan rakyat dan Iain-lain membentuk lingkaran mcngclilingi ruang-ruang pertemuan pribadi para anggota kerajaan. Ruang para anggota kerajaan ini ditempatkan di jantung komposisi dan lebih tinggi dari bangunan sekitarnya.

Kesatuan Visual dan Simbol Toleransi

Seorang pakar arsitektur Islam terkemuka Satish Grover menga-takan dalam bakunysi Akbar's Deserted Capital: Fatehpur Sikri (New Delhi, 1985) bahwa walaupun rincian estetika bangunan diserah-kan kepada masing-masing kelompok seniman, namun kesatuan visual seluruh bangunan terjamin. Kesatuan itu terbentuk melalui sesuatu pengarahan yang sederhana. Batu bata merah digunakan un-tuk lantai, dinding dan atap, sehingga bangunan tampak seakan-akan rumah kayu. Warna merah yang dominan diimbangi rangkaian pualam putih dan kadang-kadang ubin biru cerah. Dekorasi bagian dalam bangunan diserahkan kepada masing-masing penghuni.

Cepatnya bangunan-bangunan itu selesai dikerjakan memang menakjubkan. Apalagi metode yang diterapkan sangat konvensional. Setelah lokasi ditetapkan untuk riap bangunan, maka kemudian posisi diatur menurut hubungan geometris yang telah diukur. Setiap bangunan dihubungkan satu dengan yang lain secara grafis mengikuti poros-poros yang ditetapkan di sudut kanan tiap-tiap bangunan. Gedung Dewan Am (Balai Sidang) walaupun interiornya tidak isti-mewa dan permukaannya bujur sangkar, namun mencolok dise-babkan adanya tiang berukir yang mengembang ke bawah.

Balai Sidang dibangun sebagai ungkapan toleransi agama dan mengambil model bangunan penganut agama Jaina. Dari platform senual dibangun empat jembatan menurut garis diagonal. Jembatan ini menghubungkan ruang dalam dengan balkon-balkon yang tergan-tung di sekitarnya. Secara visual susunan ruang arsitektural di Dewan-i Khas ini menggambarkan kembang teratai, sebuah gambar simbolik dalam mitologi Hindu dan Buddha. Di titik sentral ruang itulah Sultan Akbar biasa duduk, raem-bayangkan diri seolah-olah Sang Buddha sedang samadi 6i tengah kembang teratai. Para menteri menempati posisi di sudut ma­sing-masing yang telah ditentukan. Tidak diketahui apakah ruang ini digunakan sebagai tempat musyawarah atau ruang diskusi keagamaan.

Tidak jauh dari situ ada bangunan penting Punch Mahal (Lima Istana). Bangunan ini ialah sebuah paviliun lima tingkat, yang walau­pun diilhami bangunan vihara Buddha, namun lima tingkat di-maksud sebagai lambang rukun Islam {arkan al-hlani). Dari arah timur dan selatan bagian depan gedung muncul secara vertikal dan berpuncak pada sebuah kubah yang ditopang empat tiang. Bangunan ini juga disebut Istana Angin, yang biasa digunakan oleh para istri Akbar untuk bersantai selama musim panas.

Bangunan terbesar ialah Jodha Bai Mahal, terdiri atas serangkaian puri dalam bentukyang konvensional dan ruang-ruang di dua tingkat paling bawah yang dibentuk melingkar. Di luarnya ialah taman terbuka dengan istana-istana musim dingin dan musim panas. Puri-puri di sekitarnya tampak modern walaupun bentuknya lebih kecil. Bangunan yang paling bagus dan mewah tentulah Puri Maryam Sultana. Kemudian Khwab Gab (Paviliun Impian). Di sini Akbar biasa bercengkrama dan istirahat bersama permaisuri. Di bawah platform terdapat air yang dipancurkan selama musim panas. Seluruh bangunan yang disebut ini mencerminkan perpaduan arsitektur Islam, Hindu, Buddha dan Jaina.

Masjid Jami'

Satu-satunya bangunan yang benar-benar berciri Islam secara arsitektural ialah Masjid Jami'. Bangunan yang sangat eksklusif ini diperindah dengan kubah yang artistik dan memesona. Untuk memperingati kemenangannya pada waktu merebut benteng Hindu Ranthambor, Akbar menambah pada masjid ini sebuah gapura besar.

Untuk membangun gapura ini dia khusus mengundang arsitek dan para pembangun dari Iran. Gapura ini kemudian disebut Buland Darwaza. Tidak hanya prestisius karena ukurannya yang besar dan ketegaran strukturnya, akan tetapi yang jauh lebih menakjubkan ialah desainnya. Pengunjung tidak hanya takjub oleh kemegahan gapura ini, tetapi juga oleh kesan yang ditimbulkannya begitu melewatinya.

Akan tetapi, baru lima belas tahun kota ini dihuni, tiba-riba Akbar memutuskan untuk meninggalkannya. Dia kembali ke ibu kota lama di sebelah selatan Sikri, yaitu Agra, tidak jauh dari Delhi. Ada sebuah cerita tersebar mengapa kota itu terpaksa ditinggalkan. Para guru Chistiyah konon merasa terganggu oleh keributan kota Fatehpur Sikri. Mereka berpendapat bahwa tempat yang dahulunya lengang dan memancarkan kesucian itu, tiba-tiba tercemar menjelma sebuah pasar. Mereka menghadap Akbar dan meminta agar kota itu segera ditinggalkan. Akbar, yang demikian hormat kepada wali-wali Tarekat Chistiyah, konon menyetujui permintaan itu tanpa banyak pertimbangan.

Namun cerita lain menyatakan bahwa pribadi Akbar yang tidak pernah merasa puas yang menjadi penyebab kota itu ditinggalkan. Kecuali itu, suplai air minum makin lama maldn terasa sulit, disebabkan oleh hancurnya pintu air di danau lembah Sikri yang sukar diperbaiki lagi. Pada tahun 1585 Fatehpur Sikri ditinggalkan oleh Akbar dan tidak pernah lagi kembali ke sana.

Sekalipun demikian, para ahli bersepakat bahwa Fatehpur Sikri merupakan kota paling kaya yang pernah dibangun oleh Akbar. Kota itu merupakan bukti dari kreativitas puncak sultan Mughal terbesar itu. Kebudayaan dan gaya hidup Dinasti Mughal mengalami kejayaannya di sini. Bagi pengunjung di kemudian hari Fatehpur Sikri tetap menarik sebagai sumber pengetahuan. Para arsitek yang datang ke sana akan memperoleh banyak inspirasi, karena apa yang ada di kota ini memang menantang. Semangat religius, keterampiian teknis, cita rasa seni yang tinggi dan ilmu pengetahuan berpadu menjadi suatu kesatuan dinamik.

Akbar juga sangat besar jasanya bagi perkembangan seni lukis miniatur. Sejak dia naik tahta banyak sekali pelukis terkenal dari Iran, terutama murid-murid Bihzad, diundang ke India dan bekerja dalam studionya. Akbar juga melatih para pelukis Hindu di bawah bimbingan pelukis Persia. Dari bengkel pelatihan inilah kelak lahir lukisan miniatur gaya Rajput yang terkenal itu. Pada abad ke-18 lukisan miniatur Rajput disebarkan ke Asia Tenggara dan mem-pengaruhi lukisan sejenis di Siam dan Jawa.***

About Author

Related Post