YURISTGAMEINIGAMEID101

MENUJU JADAB ILLAHIAH DENGAN PUISI RELIGI(US)


oleh Suyanto*

Esai ini ditulis oleh Bapak Suyanto setelah membaca Puisi-Puisi Samsudin Adlawi yang dimuat sufinesia.com (Minggu, 25 November 2018). Bapak Suyanto merupakan guru sastra Indonesia di SMPN1 Genteng Banyuwangi Jawa Timur. Magister Kajian Budaya alumnus Unud Denpasar 2007 ini produktif bersastra di media massa nasional. 
(082 232 378913 | yantogaruda12@gmail.com)
_______________________


Puisi Samsudin Adlawi, menarik untuk diapresiasi. Bahkan kukira tak cukup dengan apresiasi yang dangkal, akan tetapi perlu analisis mendalam dengan bekal air mata cinta yang kuat atas kerinduan kepada Tuhan. Puisi pertama yang berjudul “Seperti Musim Gugur” mengilustrasikan tentang kematian yang tentu sudah pasti. Ada panca indra dalam diri manusia yang pada saat detik akhir ajal manusia mulai tak berfungsi. Ia tak suka apa saja, hanya kebahagiaan alam akhirat yang ia harap, sementara bagi yang penuh lumuran dosa, ketakutan siksa itu makin kentara di matanya. Meski demikian mati harus datang pada waktu yang sudah ditentukan Allah.

Puisi ini profetik dan religius, serta mengingatkan pembaca untuk sadar bahwa kekuasaan di luar dirinya lebih Maha Agung, karena itu tak ada artinya pengakuan "eksistensi" pada diri hamba, yang Maha Eksis hanya Allah.

Atas dasar ini, saya menyebut bahwa penyair Samsudin adalah bagian dari pelanjut aplikasi sastra profetik yang sarat religius sebagaimana telah dibuka pintunya oleh budayawan besar Kuntowijoyo (alm).

Adapun pada puisi kedua “Seruling Merambat” bahwa ketulusan itu buah dari keikhlasan manusia di mata Allah, ikhlas mengakui tauhid, kemahakuasaan, rukun iman, rukun Islam, dan lain-lain yang akan menguatkan diri hamba dan aku lirik. Walau puisi kedua ada beberapa kelemahan, karena penyair seakan dikekang oleh rima (bunyi akhir atau persajakan dalam teori sastra) dari larik satu hingga larik kesembilan. Namun demikian, tugas utama sebagai penyair adalah mengabarkan kemuliaan kepada para pembaca sudah dilakukan dengan baik.

Pada puisi ketiga, “Riuh Ramai” adalah ilustrasi kesenyataan akan hakikat alam dan Ketuhanan. Aku lirik menyadari hakikat itu dengan hati yang tulus sehingga Keesaan itu benar-benar ada dalam guratan hatinya. Sementara itu puisi keempat “Konser Orkestra” merupakan simpulan hakikat hidup oleh aku lirik, bahwa bencana, riuh politik, kriminalitas, OTT, korupsi, pemerkosaan, hoaxs, dan lain-lain adalah sejenis orkestra yang biasa dalam kehidupan manusia. Ada yang slow, keras, sedang, bahkan yang tak berbentuk sekalipun, merupakan peristiwa yang biasa dan lumrah di mata Tuhan. Manusia hanya menduga, bahwa orkestralah yang membuat dunia ini ramai setiap hari dan di sepanjang kehidupan manusia.

Puisi terakhir ini mengindikasikan bahwa penyair telah sampai pada pengembaraan rohani yang jauh sebagaimana seorang sufi yang rindu kepada Illahi. Maka di medan sastra, seni, jurnalisme, budaya, bahkan tasawuf pun ia tempuh untuk bisa sampai merambah kemakrifatan llahiah yang sesungguhnya.

Salut, untuk saudaraku Samsudin, jurnalis yang tak hanya bergumul pada kabar berita akan tetapi berani mengabarkan kepada dunia seisinya, bahwa jurnalistik sastra dan sastra jurnalistik yang digelutinya mampu mengobati kerinduan kepada Tuhannya.


ADMIN

BACA JUGA