YURISTGAMEINIGAMEID101

NILAI-NILAI PROFETIK DALAM KARYA SASTRA INDONESIA:

Sastra yang Memperhalus Akhlak, Mencerdaskan Akal, dan Menajamkan Nurani
oleh Jabrohim 
(Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta)

Pendahuluan  
Perkembangan ilmu pengetahuan modern telah membawa perubahan sosial dan budaya masyarakat. Dalam dinamika perubahan tersebut manusia dibawa pada lintasan kosmopolitan untuk memaknai arti perjalanan kehidupan globalisasi yang menjadi trend dalam tatanan dunia. Namun, di tengah laju derasnya arus perubahan tersebut, kini mulai muncul pergesekan budaya sebagai “tanda-tanda zaman” yaitu dengan tidakseimbangnya tatanan peradaban dunia. Ketidakseimbangan tersebut menjadikan kejujuran dari ilmu pengetahuan terpaksa berkompromistis dengan sebuah kepongahan dan arogansi dari dominasi komunitas tertentu. Sebagai akibatnya peran pemikir dan pakar yang sejak awal menciptakan ilmu pengetahuan sebagai cahaya peradaban, kini semakin tertelan zaman.  
Menghadapi kondisi di atas diperlukan sebuah reposisi peran ilmu pengetahuan sebagai cahaya dunia dan mata hati peradaban untuk terus menggelorakan kejujuran dan idealisme ilmu pengetahuan. Diantaranya adalah menyegarkan kembali aktualisasi sastra dalam menyuarakan kejujuran dan keberanian. Di tengah kepengapan, hegemoni dan  ketidakjujuran  dunia, hanya sastralah yang mampu menjawabnya. Meskipun seluruh kran informasi kebenaran dibungkam, sastra akan berbicara.

Yang menjadi pertanyaan, sastra seperti apa yang mampu menjawab tantangan global dan membebaskan peran ilmu pengetahuan? Apakah karya sastra Indonesia dewasa ini berperan dalam menjawab tantangan global dan membebaskan peran ilmu pengetahuan? Jawabannya tiada lain adalah membangun sastra yang memperhalus akhlak, mencerdaskan akal, dan menajamkan nurani. Inilah  yang menjadi dasar dari konsistensi sastra yang tidak lekang dengan pergulatan dunia.  

Berbicara membangun sastra yang memperhalus akhlak, mencerdaskan akal, dan menajamkan nurani tentulah akan banyak dibantu oleh Kuntowijoyo melalui Maklumat Sastra Profetik yang ditulis beliau menjelang akhir hayatnya dan dikirimkan ke majalah Horison sebulan sebelum beliau meninggal dunia.  



Mengenang Mas Kunto dan Memahami Maklumatnya   
Kuntowijoyo yang biasa disapa Mas Kunto oleh Emha Ainun Nadjib, Prof. Dr. Suminto A Sayuti, dan lain-lain; Pak Kunto oleh para mantan mahasiswanya seperti Dr. Nur Sahid (ISI Yogyakarta), Dr. Aprinus Salam (Universitas Gadjah Mada), dan lain-lain; Pak Guru Kunto oleh Dr. Zuly Qodir (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) adalah sastrawan, budayawan, dan akademisi yang lahir di Sorobayan, Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943. Dalam usianya yang tidak berbeda jauh dengan Rasulullah Muhammad saw (sekitar 62 tahun) telah melahirkan banyak karya, baik puisi, cerpen, drama, novel, maupun lainnya.
  
Ketika beliau masih sehat (tepatnya tahun 1987) bersama Pak Minto (sekarang Prof. Dr. Suminto A Sayuti, Universitas Negeri Yogyakarta) saya mengundang beliau dan Mahatmanto (penyair senior dari Kulon Progo, Yogyakarta) untuk berceramah dalam forum temu sastra di Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah, Lowanu. Untuk ulang tahun beliau ke-60 pada tahun 2003, saat saya sebagai Ketua Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) Komda DIY, bersama teman-teman HISKI Komda DIY menyelenggarakan acara khusus untuk beliau. Acara tersebut dimaksud untuk “obat” bagi beliau seusai sakit yang cukup lama. Dalam kesempatan tersebut karya-karya beliau di bidang sastra (puisi, cerpen, novel, dan drama), sejarah, dan ilmu sosial dibahas oleh para kritikus sastra, para ahli sejarah, baik akademikus maupun bukan akademikus, dan para pakar ilmu sosial. 

Pada tahun 2013, saat saya diamanati sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LSBO PP Muhammadiyah), bersama Zuly Qodir (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan kawan-kawan lain dari Penerbit Tiara Wacana, LPM Universitas Ahmad Dahlan, UIN Sunan Kalijaga, dan keluarga Kuntowijoyo menyelenggarakan kegiatan untuk “menggali dan memahami kembali” pemikiran-pemikiran Kuntowijoyo.  

Selain yang telah disebutkan di atas, tidak banyak yang bisa saya lakukan sebagai penghargaan untuk Mas Kunto, senior saya di dalam menggerakkan seni dan budaya di persyarikatan Muhammadiyah. Untuk penghargaan tersebut, saya baru bisa menyelesaikan dua buku Pasar dalam Perspektif Greimas dan Relasi Sintagmatik dan Paradigmatik Novel Wasripin dan Satinah Karya Kuntowijoyo (keduanya diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pelajar).  

Adapun sastra profetik menurut hemat saya merupakan gagasan orisinal Mas 
Kunto (selanjutnya, sesuai dengan kaidah dalam penulisan karya ilmiah, saya sebut Kuntowijoyo). Gagasan tersebut muncul berawal dari realitas bahwa pada umumnya orang mendefinisikan sastra Islam – dan seni Islam pada umumnya – terlalu sempit, yakni seni Islam sebagai seni yang menggugah kesadaran ketuhanan. Padahal menurut Kuntowijoyo tidak demikian, karena kesadaran ketuhanan barulah sepertiga dari kebenaran Sastra Profetik.   
Dalam pemikiran Kuntowijoyo, sastra profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya, sebab ia tidak saja menyerap, mengekspresikan, tetapi juga member arah realitas. Sastra profetik adalah juga sastra dialektik, artinya sastra yang berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaian dan kritik sosial-budaya secara beradab. Oleh karena itu, sastra profetik adalah sastra yang terlibat dalam seluruh sejarah kemanusiaan. Ia tidak mungkin menjadi sastra yang terpencil dari realitas.  

Lebih lanjut Kuntowijoyo menjelaskan bahwa sastra hanya bisa berfungsi sepenuhnya jika ia sanggup memandang realitas dari suatu jarak, karena itu keluar ungkapan “sastra lebih luas dari realitas”, atau “sastra membangun realitasnya sendiri”. Ia adalah renungan tentang realitas. Realitas sastra adalah realitas simbolis, bukan realitas aktual dan juga bukan realitas historis.    

Ada tiga kaidah sastra profetik, yakni kaidah epistemologi strukturalisme transendental, kaidah sastra sebagai ibadah, dan kaidah keterkaitan antar kesadaran. Melalui kaidah pertama, kaidah epistemologi strukturalisme transendental, sastra profetik bermaksud melampaui keterbatasan akal-pikiran manusia dan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi. Untuk itu, sastra profetik merujuk pada pemahaman dan penafsiran Kitab-Kitab Suci atas realitas, dan memilih epistemologi Strukturalisme Transendental. Epistemologi itu disebut Epistemologi Transendental karena Pertama: Kitab-Kitab Suci itu transendental sebab merupakan wahyu dari Yang Maha Transenden, Yang Abadi, Al Baqi; di samping Kitab-Kitab Suci itu juga transendental, melampaui zamannya, yakni masih dapat dipergunakan sebagai petunjuk bagi orang yang beriman meskipun sudah tua umurnya. Kitab suci Al Qur-an, misalnya, sekalipun telah diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu, tetap tidak pernah ketinggalan zaman dan tidak termakan oleh waktu. Oleh sebab itu kitab suci dinamakan abadi dan “melampaui zamannya”.  

Kedua: Kitab-Kitab Suci itu masing-masing adalah struktur, dan agama-agama yang diajarkan juga merupakan struktur. Struktur Kitab-Kitab Suci dan agama-agama itu selalu koheren (utuh) ke dalam dan konsisten ke luar. Utuh ke dalam, artinya struktur itu merupakan sebuah kesatuan. Konsisten (taat azas) ke luar, artinya struktur yang satu tidak bertentangan dengan struktur lainnya. Kitab yang satu juga tidak lebih tinggi daripada kitab yang lainnya, tetapi sejajar. Islam mengajarkan (Al-Qur-an, 3: 64) tentang adanya kalimah sawa’  (titik temu, konsensus, common denominator). Tidak ada pertentangan tentang hal-hal yang fundamental, meskipun ada perbedaan dalam detailnya. Oleh karena itu, menurut Kuntowijoyo, sekalipun dalam maklumat sastra profetik yang dikemukakannya hanya mengemukakan ajaran satu Kitab Suci saja, diyakininya dapat mewakili semua Kitab Suci lainnya, karena maklumat hanya membicarakan hal-hal yang ada titik temunya dan yang tidak kontroversial.  

Sebagai sastra yang berdasarkan Kitab Suci, Sastra Profetik dimaksudkan sebagai sastra bagi orang beriman. Khusus untuk seorang muslim seperti Kuntowijoyo, iman itu berarti iman secara Islam, yakni iman bil lisan, bil arkan, dan bil amal). Dan itulah tiga hal yang menjadi substansi dalam sastra profetik; yakni iman, Islam dan ihsan.

Berkaitan dengan kaidah kedua, yakni sastra sebagai ibadah Kuntowijoyo menjelaskan bahwa Al Qur-an adalah struktur dan Islam pun sebuah struktur, sedangkan struktur adalah keutuhan (wholeness). Dalam Islam, keutuhan itu adalah kaffah. Keutuhan Islam tidak dapat disusutkan ke dalam unsur-unsurnya yang disebut rukun (syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji).  Islam yang kaffah (utuh) itu harus juga meliputi seluruh mu’amalahnya. Lebih lanjut Kuntowijoyo menegaskan bahwa pengarang yang shalat dengan rajin, zakat dengan ajeg, haji dengan harta yang halal, Islamnya tidaklah kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah. Itulah kesadaran ketuhanan. Kesadaran ketuhanan saja tidak cukup, belum berarti kaffah kalau tidak disertai kesadaran kemanusiaan. Sastra profetik menghendaki keduanya, kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan. Hal itu bisa juga diartikan bahwa sastra profetik memiliki tugas besar memperluas ruang batin, dan menggugah kesadaran ketuhanan serta kesadaran kemanusiaan. 

Kaidah kedua ini mengajarkan bahwa orang yang beriman dan berislam dalam menjalankan aktivitas kesastraan ataupun kebudayaan haruslah berdasar pada kaidah keutuhan ajaran Islam yang terdiri dari ibadah mahdlah dan ghoiru mahdlah atau muamalah dan banyak sunah-sunah yang dianjurkan oleh Islam. Seorang muslim yang rajin mengerjakan shalat, rajin berpuasa, membayar zakat serta menjalankan haji, tidaklah sesuai dan tidak terpuji, bahkan dapat dikatakan berbohong dengan agamanya, jika dalam aktivitas kebudayaannya bertentangan dengan ajaran yang terkandung di dalam ajaran yang mahdlah tersebut. Demikian ditegaskan Zuly Qodir dalam diskusi “menggali dan memahami kembali” pemikiran-pemikiran Kuntowijoyo. 

Lebih lanjut Zuly Qodir menjelaskan bahwa pekerjaan kebudayaan adalah aktivitas ghairu mahdhah, tetapi akan bernilai ibadah di hadapan Tuhan ketika diniatkan sebagai ibadah dan dikerjakan dengan mengharap ridla Ilahi, berharap akan kurnia Tuhan yang Maha Sempurna. Seorang budayawan akan menjadi hamba Tuhan yang sesungguhnya ketika dia berkebudayaan yang tidak bertentangan dengan kaidahkaidah keislaman dan keimanan yang diyakini sebagai landasasan dalam berkebudayaan. Sastra profetik mengajarkan kepada mereka yang beragama Islam dan beriman kepada Allah agar bersastra sesuai dengan ajaran Tuhan baik yang tertuang dalam kitab suci Alqur-an maupun dalam hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. 

Kaidah ketiga, keterkaitan antar kesadaran. Mengapa dari urusan Tuhan menjadi urusan manusia? Demikian Kuntowijoyo membuat pertanyaan. Apakah dia berarti tidak sistematis dan tidak koheren? Kuntowijoyo kemudian menjelaskan, bahwa hal demikian tidak berarti meloncat dan kontroversial. Itulah ciri khas strukturalisme transendental, dari yang Maha Kuasa menuju yang maha lemah dan maha tidak kuasa apapun kecuali karena yang Maha Kuasa (Ilahi Rabbi). Oleh sebab itu, kesadaran akan ketuhanan merupakan keasadaran adi kodrati yang ada pada setiap manusia, hanya saja di tengah jalan kadangkala manusia mengalami “ketersesatan” sehingga tergelincir dan tidak berada dalam sirathal mustakim, bukan di jalan yang benar dan sesuai ajaran kitab suci, tetapi berada dalam egosisme manusia yang kemudian menuntun dalam jurang kesesatan. Di situlah mengapa kekafiran dinamakan sebagai jurang kesesatan karena tidak lagi berkenaan dan tidak berada dalam jalan yang dituntun Kitab Suci, tetapi pada egoisme dan nafsu kemanusiaan, bukan nafsul muthmainah. Nafsu mutmainah merupakan nafsu yang dibimbing cahaya ketuhanan, namun nafsu yang dibimbing syahwat binatang seringkali memenangkan pertarungan manusia terutama yang glamour tentang realitas semu. 

 Zuly Qodir menjelaskan pemikiran Kuntowijoyo, bahwa sastra profetik merupakan sastra yang mendasarkan pada kaidah kitab suci, ibadah, dan wholeness, maka hal yang tidak mungkin bisa dihilangkan adalah bahwa aktivitas kebudayaan merupakan aktivitas humanisasi, pembebasan manusia dari segala macam keterjeratan realitas semu yang bisa datang dari sesama umat manusia, berupa syahwat binatang, kerakusan, dan kebohongan. Sastra profetik karena itu juga mengajarkan tentang kejujuran, pembelaan pada kaum mustadafin, pembelaan pada yang lemah miskin, dan beramal saleh sebagai tindakan nyata dalam berkarya pembebasan manusia yang kesusahan di dalam kehidupannya. Manusia tidak dikontrol oleh dahsyatnya mesin sebagai kompas dalam hidup, sehingga menciptakan manusia sebagai robot yang serba mekanik. Manusia tidak menyerahkan dirinya pada peralatan dan budaya massa. Sastra profetik memberikan ruang alternatif untuk manusia menjadi pembebasan manusia dari berbagai macam keterpurukan hidup dan jeratan glamour duniawi.

Rumusan tentang tiga maklumat sastra profetik itulah yang menggiring Kuntowijoyo sebagai sastrawan dan budayawan, tidak saja sebagai sastrawan yang berkarya sastra dan budaya sebagai kebudayaan, tetapi berkarya sastra dan budaya sebagai ibadah. Segala aktivitas kebudayaannya adalah sebagai ibadah, karena bentuk ketundukan kepada sang khalik dan tuk minu billah. Dalam pandangan Kuntowijoyo, umat Islam agar dapat maju harus meninggalkan dunia mitos dan ideologis menuju dunia ilmu, sehingga yang diperlukan adalah pengilmuan Islam, bukan Islamisasi ilmu pengetahuan. Hal tersebut juga berarti bahwa sastra profetik tidak seperti yang dipahami oleh banyak orang selama ini, yakni sastra profetik sebagai karya sastra yang mengedepankan aspek Islami.  

Diskusi teman-teman di Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah atas gagasan sastra profetik dapat dirumuskan sebagai berikut. Menurut Kuntowijoyo sastra profetik adalah karya sastra yang didasarkan pada kitabkitab suci orang beriman, secara khusus beriman secara Islam. Sastra profetik juga termasuk sastra dialektik, artinya karya itu harus terkait dengan realitas sosial dan melakukan penilaian kritik sosial budaya secara beradab. Oleh karena itu, sastra profetik sebagaimana ditegaskan oleh Kuntowijoyo adalah sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan. Ia tidak menjadi sastra yang terpencil dan terhempas atau menghempaskan umat manusia. Ia menjadi bagian dari realitas kehidupan umat manusia. Ia membawa keluar dari belenggu kemanusiaan dan membangun realitasnya sendiri. Ia merupakan renungan tentang realitas, bukan didikte oleh realitas. Berangkat dari pemikiran seperti itu, sastra profetik dapat juga dikatakan sebagai sastra yang memperhalus akhlak, mencerdaskan akal, dan menajamkan nurani.  

Dalam Maklumat Sastra Profetik, Kuntowijoyo selain membahas kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatan sastra profetik, juga membahas etika profetik. Dijelaskan oleh Kuntowijoyo bahwa sastra profetik dari sisi teknik penulisannya adalah sastra demokratis. Ia tidak otoriter dengan memilih satu premis, tema, teknik, dan gaya (style), baik yang bersifat pribadi maupun yang baku. Sastra profetik bersumber dari etika profetik Kitab Suci Alqur-an. Etika profetik terdapat dalam Al-Qur-an, 3: 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah”. Setelah menyatakan keterlibatan manusia dalam sejarah (ukhrijat linnas), selanjutnya ayat itu berisi tiga hal, yaitu amar makruf (menyuruh kebaikan, humanisasi), nahi munkar (mencegah kemungkaran, liberasi), dan tukminu billah beriman kepada Tuhan, transendental). Ketiga hal itulah yang disebut etika profetik. 
 Humanisasi kita perlukan sebab ada tanda-tanda bahwa masyarakat kita sedang menuju ke arah dehumanisasi. Dehumanisasi ialah objektivasi manusia (teologis, budaya, massa, negara), agresivitas (kolektif, perorangan, kriminalitas), loveliness (privatisasi, individualisasi), dan spiritual alienation (keterasingan spiritual). Dalam dehumanisasi perilaku manusia lebih dikuasai oleh bawah sadarnya daripada oleh kesadarannya. Dehumanisasi ini sudah menggerogoti masyarakat Indonesia, yaitu terbentuknya manusia mesin, manusia dan masyarakat massa, dan budaya massa. 

Liberasi ada yang bersumber dari kekuatan eksternal dan dari kekuatan internal. Keduanya dapat menjadi tema sastra dalam menulis karya sastra. Yang termasuk liberasi dari sumber kekuatan eksternal antara lain: kolonialisme yang sekarang hanya ada di Palestina, kolonialisasi oleh Negara adikuasa kepada Negara lemah, kapitalisme yang menyerbu Negara-negara ketiga lewat berbagai rekayasa ekonomis. Adapun yang termasuk liberasi yang bersumber dari kekuatan internal antara lain: penindasan politik atas kebebasan seni pada masa pra 1965, penindasan Negara atas rakyatnya di massa Orde Baru, dan ketidakadilan gender.   

Transendensi adalah kesadaran ketuhanan. Kesadaran ketuhanan ini sudah banyak dalam sastra Indonesia, dan disebut sastra transendental atau sufi. Transendensi sebenarnya tidak harus berarti kesadaran ketuhanan secara agama saja, tetapi bisa kesadaran terhadap makna apa saja yang melampaui batas kemanusiaan. Meskipun demikian, Kuntowijoyo yakin bahwa hanya di tangan orang beragamalah transendensi itu efektif bagi kemanusiaan. Dengan mengutip pendapat Roger Garaudy, Kuntowijoyo menyebutkan bahwa unsur transendensi itu ada tiga, yaitu (1) pengakuan ketergantungan manusia kepada Tuhan, (2) ada perbedaan yang mutlak antara Tuhan dan manusia, dan (3) pengakuan akan adanya norma-norma mutlak dari Tuhan yang tidak berasal dari manusia.  

Dalam Islam, menurut Kuntowijoyo, transendensi itu akan berupa sufisme. Kandungan sufisme, seperti khauf (penuh rasa takut), raja’ (sangat berharap), tawakkal (pasrah), qana’ah (menerima pemberian Tuhan), syukur, ikhlas, dan lain-lain, adalah tema-tema dalam sastra transendental.    

Dalam Maklumat Sastra Profetik, selain dibahas masalah kaidah sastra profetik dan etika profetik,dibahas juga Struktur Sastra. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa maklumatnya hanya menginginkan kandungan sastra harus ditingkatkan, supaya sastra Indonesia lebih cendekia dalam ekspresinya, sehingga sastra mendapatkan pengakuan sejajar dengan ilmu dan teknologi. Etika Profetik yang menyuguhkan tema-tema sosialbudaya adalah salah satu cara untuk peningkatan itu. Konsep-konsep itu memang analitis (misalnya tentang mesin politik, marjinalisasi, kelas, spiritual alienation), tetapi sastra harus tetap deskriptif-naratif dan tidak analitis. Sastra bukan reportase jurnalistik, bukan tulisan ilmiah, dan bukan buku filsafat. Sastra adalah sastra, tegas Kuntowijoyo.

Di manakah letak konsep-konsep Etika Profetik (tema-tema) dalam karya sastra? Untuk keperluan itu kita dapat melihatnya pada struktur sastra. Struktur sastra adalah manner of organizing. Bagi Kuntowijoyo, sastra adalah strukturalisasi dari pengalaman, imajinasi, dan nilai. Imajinasi selalu ada dalam setiap struktur sastra, sehingga struktur itu terdiri dari dua atau tiga unsur. Pengalaman bisa berupa pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, dan hasil riset. Imajinasi ialah kemampuan mental untuk membayangkan sesuatu secara unit, sadar, dan aktif; tidak seperti bayangan dalam mimpi yang tidak runtut, tidak sadar, dan pasif. Adapun nilai itu bisa apa saja: agama, filsafat, ilmu, adat, dan gugon-tuhon.  
Mengakhiri Maklumat Sastra Profetik-nya, Kuntowijoyo menyatakan bahwa maklumatnya hanyalah satu usaha untuk meningkatkan sastra Indonesia, supaya sastra lebih berperan dalam masyarakat. Diharapkannya maklumat tersebut member sumbangan pemikiran pada teman-teman pengarang, terutama para pengarang muda. Pengarang harus berpartisipasi pada kehidupan bangsa sesuai dengan profesinya, karena bangsa Indonesia modern sedang dalam krisis, krisis peradaban. Krisis peradaban ini tidak mungkin diselesaikan oleh politik. Krisis itu bersifat global dan universal. Krisis disebabkan karena kita sudah kehilangan makna hidup, dan tugas sastrawan yang sangat relevan dan fungsional ialah mengembangkan makna hidup pada kemanusiaan. Dan itu, bagi Kuntowijoyo adalah cara untuk mengabdi kepada Tuhan dan tanah air. 

Nilai-Nilai Profetik dalam Novel Kuntowijoyo 
Untuk berbicara nilai-nilai profetik dalam sastra Indonesia tentu sangat luas karena begitu banyak karya sastra yang telah dihasilkan oleh para pengarang Indonesia. Oleh karena itu saya membatasi diri untuk membahas karya salah satu pengarang Indonesia saja, yakni Kuntowijoyo. Dipilih Kuntowijoyo karena dimaksud untuk mengetahui (bukan menghakimi) bagaimanakah kaidah-kaidah profetik sebagaimana diungkapkan dalam uraian di atas muncul dalam karya sastranya. Itu pun belum semua karya sastra yang ditulis oleh Kuntowijoyo, baru dua karya saja, yakni novel Pasar dan novel Wasripin dan Satinah.
  
1. Novel Pasar 
Novel Pasar mengungkapkan soal perubahan sosial di kota kecil pada akhir tahun 1950-an. Dua orang yang sudah berumur, seorang priyayi Jawa kecil-kecilan (Pak Mantri Pasar) bersaing dengan seorang pedagang (Kasan Ngali) memperebutkan “cinta” seorang gadis pegawai Bank Pasar. Tidak seorangpun memenangkan persaingan karena gadis itu dipindahtugaskan. Cerita itu merupakan realitas keseharian yang dialami, diamati, dikhayalkan, dan dirasakan pengarang di masa kecilnya, tetapi 15 tahun kemudian saat pengarang menulis karya sastra semua itu berubah menjadi misteri yang mengagumkan. Pasar itu belakangan menjadi pasar modern dengan kioskios di sekitarnya. Apa yang ditulis Kuntowijoyo dalam Pasar itu adalah strukturalisasi dari pengalaman, imajinasi, dan nilai yang dialami, diamati, dikhayalkan, dan/atau dirasakan serta ditawarkan oleh Kuntowijoyo. 

Novel Pasar adalah priyayi Jawa yang sangat mendalami falsafah Jawa, mendalami dan menguasai sastra Jawa, dan pandai akan tembang-tembang Jawa. Ilmu dan pengetahuannya tentang Jawa semua hal yang berkaitan dengan Jawa menyebabkan Pak Mantri menjadi orang yang berpengetahuan luas, orang yang sabar, cakap, dan berbudi luhur. Hati nurani Pak Mantri berisi niat-niat baik untuk berbuat kebajikan serta niat untuk meluruskan hal-hal yang dipandang tidak baik.  

Di kota kecamatan, tempat pasar yang dipimpin Pak Mantri berada, para pemimpin belum mencerminkan jiwa dan sikap seorang pemimpin. Mereka, para pemimpin itu, masih mendahulukan kepentingan pribadi daripada kepentingan masyarakat. Tugas-tugas sebagai pemimpin tidak dilaksanakan dengan baik. Mereka masih meremehkan permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Oleh karena itulah Pak Mantri berkeinginan untuk meluruskan, ingin berbuat kebajikan.  

Langkah yang ditempuh Pak Mantri dalam melaksanakan tugasnya adalah dengan memberikan contoh. Contoh perbuatan yang diberikan oleh Pak Mantri, diantaranya, saat menyelesaikan masalah burung-burung dara milik Pak Mantri (kepentingan pribadi) yang mengganggu orang-orang di pasar (kepentingan masyarakat atau umum). Pak Mantri merelakan burung-burung dara itu diambil/ditangkap oleh siapa pun termasuk para pedagang atau orang-orang di pasar itu. Pak Mantri tidak ingin burung-burung daranya mengganggu orang-orang pasar, artinya menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya. 

Langkah lain yang ditempuh Pak Mantri adalah banyak memberikan didikan dan petuah kepada Paijo (simbolisasi generasi muda). Kepada Paijo Pak Mantri berpesan tentang nilai-nilai kebajikan seperti jangan takut berbuat kebaikan demi menyongsong kehidupan, korbankan harta atau milik kesayangan dan keinginan pribadi jika hal tersebut demi kemaslakhatan masyarakat, bersenanglah setelah orang lain merasa senang, pekerjaan rendah jika diterima dengan senang hati akan mendatangkan keberuntungan, jangan menyombongkan kekayaan, kesaktian, kepandaian, dan pangkat. 

Dalam melaksanakan tugasnya, Pak Mantri ditolong oleh Paijo (simbolisasi generasi muda). Paijo sering bercakap-cakap dengan Pak Mantri, generasi muda mau berkomunikasi dan belajar pada orang-orang bijak, berpengetahuan, dan berbudi luhur. Pak Mantri menyampaikan pesannya saat bercengkerama, nilai-nilai kehidupan disampaikan dengan bijaksana dan dalam suasana yang tepat. Sebagai laki-laki (pemimpin, penguasa) Pak Mantri tertarik pada perempuan yakni Siti Zaitun (simbolisasi rakyat atau masyarakat umum) dan ingin merebut cintanya (simbolisasi ketaatan dan kepercayaan rakyat atau masyarakat umum). Dalam cerita tersebut Siti Zaitun (perempuan, simbolisasi rakyat) membenarkan rencana-rencana baik Pak Mantri serta memberikan dorongan dan semangat (rakyat membantu upaya-upaya yang dilakukan).  

Upaya Pak Mantri tersebut ditentang oleh Kasan Ngali (simbolisasi generasi tua yang sempit pengetahuannya), tidak didukung Pak Camat (simbolisasi penguasa yang lebih banyak mementingkan keperluan atau kebutuhan pribadi, tidak memahami nilainilai kebajikan), dan tidak diperhatikan oleh Kepala Polisi (simbolisasi pengayom yang tidak mengayomi masyarakat dan tidak tahu pentingnya nilai-nilai kebajikan). Mereka itu pengganggu, penghalang, dan pembuat tidak lancarnya upaya-upaya Pak Mantri, (generasi tua) mewariskan nilai-nilai Jawa (nilai-nilai kebijaksanaan) kepada Paijo (generasi muda) yang oleh Pak Mantri dipandang/diharapkan sebagai orang yang mampu menjadi penggantinya sebagai pemimpin (generasi penerus yang memiliki kemampuan memimpin dengan baik).       
Cerita di atas merupakan aktan utama novel Pasar. Aktan utama novel ini mengungkapkan Pak Mantri ingin memberikan (mewariskan) jabatannya kepada Paijo. Melalui aktan ini pengarang mengungkapkan kebaikan Pak Mantri. Paijo yang semula hanyalah seorang pesuruh dididik oleh Pak Mantri untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan sabar Pak Mantri memberikan pelajaran kepada Paijo. Selain pelajaran membaca dan menulis, diajarkannya pula sastra Jawa. Sampai waktu yang tepat, Pak Mantri menyerahkan jabatan kepala pasar kepada Paijo disertai harapan agar Paijo dapat memimpin pasar dengan sebaik-baiknya. Artinya, Pak Mantri mewariskan seluruh ilmu dan pengetahuan tentang “ssttra Jawa” (nilai-nilai Jawa) yang dimilikinya kepada Paijo. Pak Mantri memilih Paijo karena dalam diri Paijo terdapat sikap jujur dan mau memperbaiki diri. Pak Mantri menginginkan agar kemauan memperjuangkan kebajikan yang dimilikinya dapat dilanjutkan oleh Paijo, oleh bibit yang baik. 

Pak Mantri mengundurkan diri setelah menyerahkan jabatan kepala pasar dan banyak berpesan kepada Paijo untuk mau memperjuangkan kebaikan. Paijo telah mau menerima tugas itu. Keduanya sama-sama menyadari arti kebaikan, arti kehidupan yang sebenarnya. Pak Mantri dalam berusaha melaksanakan tugasnya sebagai kepala pasar tidak mendapatkan dukungan, namun karena kearifan dan kebijaksanaan yang dimilikinya berhasil menjadikan Paijo yang dipercaya akan mampu menjadi penggantinya sebagai kepala pasar. Ini ada nilai transendensi, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mau mengubah dirinya”, ada humanisasi “mengajak kepada kebaikan berupa ajakan mewariskan peradaban”, dan ada liberasi “pembebasan dari penindasan, ketidakpedulian dari Negara yang disimbolkan melalui Camat dan Kepala Polisi.    

2. Novel Wasripin dan Satinah 
Novel Wasripin dan Satinah mengungkapkan peristiwa-peristiwa. Peristiwaperistiwa haruslah dipahami sebagaimana tokoh-tokohnya memahami dunianya sendiri. Dalam karya itu pengarang membiarkan tokoh-tokoh imajinernya mereaksi (dengan berpikir, berbicara, dan berbuat) peritiwa-peristiwanya sendiri. Tokoh-tokoh imajiner dalam Wasripin dan Satinah adalah orang-orang sederhana, maka pikiran, perkataan, dan perbuatannya juga sederhana.  

Novel Wasripin dan Satinah mengungkapkan makna tersurat (actual meaning) bahwa kekuasaan dan upaya mempertahankannya sering dicapai dengan mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah beserta keluarganya dan orang-orang di dekatnya, mengorbankan orang-orang baik atau orang-orang yang sudah berusaha menjadi baik, mengabaikan orang-orang berjasa, melanggar etika, moralitas, tatanan maupun aturan, dan menghalalkan segala macam cara. Dalam novel ini, untuk mendapatkan kehormatan seperti dapat mencapai tujuan, memperoleh maupun mempertahankan kekuasaan/ jabatan seseorang sering mengorbankan orang lain, baik orang itu sudah berbuat baik dan suka berbuat kebaikan seperti Wasripin, sudah menjadi baik dan tidak pernah melakukan kesalahan kepada siapa pun seperti Satinah, ataupun orang baik dan sudah banyak jasanya pada Negara, bangsa, dan masyarakat seperti Pak Modin. Adapun makna tersurat (intentional meaning) novel Wasripin dan Satinah adalah bahwa kita perlu memiliki keluasan pengetahuan, kewaspadaan, dan kedalaman maupun pengamalan agama dalam menjalani kehidupan ini sehingga tidak akan melalukan atau tidak menjadi korban “penghalalan segala macam cara” dalam mengejar kehidupan dunia. Dalam menampilkan makna tersebut Kuntowijoyo membangun seluruh unsur struktural novel Wasripin dan Satinah memiliki koherensi karena di antara elemen strukturnya jalin-menjalin.   

Tiga tokoh penting dalam novel Wasripin dan Satinah adalah Wasripin, Satinah, dan Pak Modin. Ketiga tokoh tersebut dilukiskan sebagai tokoh yang memiliki round character (tokoh bulat). Kuntowijoyo menempatkan ketiganya sebagai tokoh yang mempunyai bermacam-macam sifat atau watak dan suasana. Kriteria lain tiga tokoh tersebut dianggap tokoh bulat yakni karena mereka memiliki dua kriteria yakni lifelike dan suspense atau kejutan. 

Lifeliki yang tampak nyata terlihat pada diri Wasripin yang digambarkan sebagai seseorang yang ketika hidup di Jakarta bersama ibu angkatnya hanyalah seperti sampah. Dia dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan oleh ibu angkatnya sendiri dan ketika hidup di desa nelayan dia menjadi disegani dan dihormati banyak orang. Wasripin, bagai messias yang membawa keberuntungan, bisa menyembuhkan segala penyakit sampai-sampai banyak tawaran kerja yang datang padanya. Satinah pada waktu kecil selalu berpengaruh terhadap perekonomian orang tuanya ketika berganti nama. Meskipun telah dinodai oleh pamannya sendiri dia tetap terlihat cantik. Pada usia dewasa Satinah menjadi terkenal di kampungnya dan disukai banyak orang terutama laki-laki dewasa. 

  Suspense terlihat pada tokoh Wasripin dan Satinah. Ketika di desa nelayan itu, Wasripin  banyak dihormati, disegani, dan terkenal karena dia bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Wasripin juga menguntungkan bagi warga desa nelayan itu apalagi banyak tawaran kerja datang padanya. Hal tersebut di atas merupakan contoh tindakan yang mengejutkan (suspense). Demikian juga halnya dengan Satinah. Dia juga menjadi terkenal dalam bernyanyi di kampungnya. Adapun Tokoh Pak Modin digambarkan sebagai orang yang sabar, taat beribadah, suka membantu orang lain, imam surau, dan orang yang dihormati di kampungnya.   

Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam novel Wasripin dan Satinah adalah peristiwa realisme imajiner yang menunjuk pada hubungan kausalitas, hubungan sebab akibat. Wasripin memutuskan untuk pergi meninggalkan dunia gelap dan emak angkatnya yang pemabuk dan banyak meminta dilayani kebutuhan seksualnya. Hal itu dilakukan oleh Wasripin karena alasan jngin membalas emak angkatnya yang telah mengasuhnya cukup lama. Selain itu, ia pun rela memenuhi apa yang diminta oleh emaknya, yakni melayani kebutuhan seksual teman-teman emaknya, demi menghasilkan uang bagi emak angkatnya. Ketika muncul kesadaran terkait dengan perilakunya selama bersama emaknya, Wasripin meninggalkan emak angkatnya, kembali ke kampung halamannya. Wasripin meninggalkan Jakarta sampai di suatu tempat di wilayah pantai utara Jawa Tengah sebelah barat, sebuah kampung nelayan. Di kampung itu Wasripin bertanya tentang keberadaan ibunya tetapi tidak satu pun orang di kampung itu yang mengetahui, apalagi Wasripin sendiri tidak tahu nama ibu kandungnya.  

Wasripin ingin kembali ke jati dirinya sebagai manusia, yakni manusia yang baik dalam arti yang sesungguhnya (karena perbuatan baik yang dilakukan ketika bersama emaknya bukanlah baik yang sesungguhnya). Dalam pencarian jati diri itu, Wasripin tinggal bersama masyarakat yang baru, yakni di kampung nelayan. Di kampung nelayan itu ia ingin mendapatkan hakikat kebaikan dalam kehidupan. Ternyata orang-orang di kampung itu juga sama dengan dirinya dan selalu ke surau ketika mendapatkan permasalahan. Mereka sangat menghormati Pak Modin, mau mendekatkan diri ke agama, dan belajar pada agamawan (Pak Modin). Ini sesungguhnya adalah prinsip tukminu billah beriman kepada Tuhan, prinsip transendental yang merupakan salah satu Etika Profetik. 

Di kampung nelayan, selain orang-orang yang ingin menjadi baik (yakni Wasripin dan masyarakat) ada pula orang-orang yang terbelenggu pada upaya untuk mengejar dan mempertahankan jabatan. Mereka tidak berdaya menghadapi Wasripin dan Pak Modin yang sangat dihormati dan dihargai orang-orang.  

Wasripin menjadi orang penting karena ia bisa membantu penyembuhan segala penyakit dan menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan. Wasripin mampu lebih dahulu menemukan jati dirinya dibandingkan para nelayan. Dia begitu dikenal karena kebaikannya. Lama kelamaan Wasripin menjadi anggota masyarakat yang sangat dihormati.  
Selama di kampung nelayan itulah Wasripin menemukan pujaan hatinya, yakni Satinah, gadis desa yang cantik dan lugu. Satinah telah mulai menemukan jati dirinya, menjadi manusia yang menyadari bahwa manusia hidup itu untuk berbuat kebaikan. Dia mau bekerja dengan pamannya yang telah menghancurkan dirinya. Satinah sudah mulai menjadi perempuan baik-baik dan mau menjadi perempuan somahan (sebagai istri yang dengan penuh mendampingi suami). Satinah maupun Wasripin sama-sama mempunyai masa lalu yang suram. Keduanya saling menerima atas peristiwa yang pernah mereka lalui. Mereka berdua berencana melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Mereka berdua ingin menjadi manusia baik yang sadar akan tugasnya sebagai manusia. Cita-cita mulia Satinah yang kedua berantakan karena Wasripin dibunuh tentara yang menjadi alat bagi mereka yang ingin mempertahankan jabatannya. Kematian Wasripin membuat Satinah pergi. Tidak diketahui apakah Satinah tetap menjadi manusia yang sadar akan jati dirinya, atau menjadi korban “kembali menjadi manusia yang tidak menyadari bahwa manusia hidup itu untuk berbuat kebaikan”.  

Dalam Wasripin dan Satinah terdapat pengulangan beberapa peristiwa yang inti isinya sama. Pengulangan tersebut dimaksud untuk memperkuat makna cerita dalam novel tersebut. Pengulangan tersebut tampak dalam peristiwa yang terkait dengan Wasripin sebagai penyembuh (4 kali), Pak Modin sebagai orang berwibawa (4 kali), tindakan rekayasa terhadap Wasripin (4 kali), dan tindakan rekayasa terhadap Pak Modin (3 kali). Pengulangan peristiwa yang sama tersebut mengandung makna intensitas. Artinya, pengulangan tersebut bertujuan untuk mencapai kedalaman pemahaman tentang tokoh Wasripin dan Pak Modin.  

Dalam novel Wasripin dan Satinah, Kuntowijoyo ingin mengungkapkan peristiwa-peristiwa sebagai sebuah dialektik, artinya peristiwa-peristiwa yang ditulisnya berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaian dan kritik sosialbudaya secara beradab. Dengan demikian Wasripin dan Satinah yang ditulis Kuntowijoyo tersebut adalah sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan.  Melalui peristiwa berupa rekayasa-rekayasa yang ditimpakan kepada Wasripin dan Pak Modin dengan cara yang beradab Kuntowijoyo melakukan kritik sosial, mengajak kita untuk berpikir kritis dan tidak dibodohi.  
Kuntowijoyo mengungkapkan dalam ceritanya bahwa sejumlah rekayasa dapat dipatahkan oleh Wasripin dan Pak Modin, baik dengan bantuan orang lain maupun tidak. Wasripin ditangkap melalui skenario yang diatur dan dilaksanakan oleh tentara. Setelah penangkapan itu koran-koran memberitakan bahwa Wasripin ditempak tentara waktu berusaha merebut senjata. Diberitakan pula bahwa Wasripin adalah Komandan DI/TII Pantura, anti Pancasila, dan ingin mendirikan Negara Islam dengan senjata. Kematian Wasripin itu ditanggapi oleh orang-orang kampung dengan sikap tidak percaya, marah, dan mau menyerbu Markas Tentara Kecamatan dan Markas Tentara Kabupaten. Namun, hal itu dapat diredakan oleh Pak Modin dengan alasan yang rasional, yang dapat diterima akal orang-orang kampung.   
Rekayasa yang ditimpakan kepada Pak Modin dapat dilihat pada cerita berikut. Partai Randu sebagai partai pemerintah yang berkuasa merancang dan melaksanakan berbagai cara untuk menyingkirkan Pak Modin karena menjadi penghalang upaya mempertahankan kekuasaan. Dipandang sebagai penghalang karena Pak Modin oleh Partai Randu dianggap sebagai dedengkot golput. Partai Randu meminta bantuan Badan Pengawas Agama untuk menyingkirkan Pak Modin. Badan tersebut meminta bantuan Polisi untuk mengusut tuduhan melakukan politisasi agama yang dilakukan Pak Modin. Pak Modin dipanggil dan diinterogasi, lalu dilepas dan disuruh kembali tiga hari kemudian. Pak Modin menelepon perwira tinggi kenalannya di Laksusda, namun perwira itu tidak dapat menolongnya. Perwira Tinggi tersebut dipindahkan ke pusat dan dituduh bersimpati dengan ekstrem kanan atau ekstrem kiri.  

Pak Modin dibawa tentara ke Kodim dan diperiksa langsung oleh Komandan Kodim. Namun, Komandan Kodim memperlakukan Pak Modin dengan baik karena dia sudah tahu betul Pak Modin. Bahkan kepada Pak Modin dia membisiki bahwa ada kekuatan dahsyat seperti banteng tak tertembus di atas sana. Komandan Kodim dipindah dan Pak Modin diadili oleh Pengadilan. Legiun Veteran Daerah menyesali tindakan polisi, tentara, dan pengadilan lalu melakukan pembelaan dengan mengirimkan surat kepada Presiden Soedarto. Selanjutnya diceritakan bahwa Pak Modin ditangkap setelah memberikan pengajian Maulid Nabi karena dalam pengajian itu dia mengatakan “Orang-orang yang mati syahid itu tidak mati. Wasripin telah syahid. Negara mendzalimi anaknya sendiri yang mestinya dilindungi”.  Pak Modin dibawa pergi tentara. Selanjutnya pada akhir peristiwa diceritakan Pak Modin dikembalikan ke kampung nelayan, diturunkan dari jip hijau di tepi jalan. Orang yang pertama kali menjumpainya tahu betul bahwa orang diturunkan adalah Pak Modin. Namun demikian kepada orang itu, Pak Modin mengatakan bahwa dirinya bukan Pak Modin, tetapi Mister Mudin, Presiden NII. Dengan menggunakan becak, Pak Modin yang dalam keadaan bongkok (tidak seperti saat ditangkap) dan kesehatannya mengkhawatirkan itu dibawa ke rumahnya di kampung nelayan. Dari peristiwa itu dapat kita simpulkan bahwa tokoh agama yang tidak sejalan dengan kepentingan pemerintah akan mendapatkan perlakuan yang mengenaskan, dituduh maker, dikaitkan dengan pendirian NII. 

Dalam menulis peristiwa-peristiwa (peristiwa kesejarahan sekali pun) di dalam novel Wasripin dan Satinah, Kuntowijoyo membiarkan tokoh-tokoh imajiner ceritanya mereaksi peristiwa-peristiwanya. Tokoh-tokoh cerita dalam Wasripin dan Satinah itu adalah orang-orang sederhana, dan karena itu pikiran, perkataan, dan perbuatannya pun sederhana. Para tokoh dan masyarakat tidak bertanya-tanya terkait peristiwaperistiwa konyol dan lucu seperti (1) mengapa tentara begitu cepat mengambil kesimpulan terhadap orang asing hanya dengan melihat pakaian dan tidak adanya identitas (KTP atau lainnya), (2) mengapa Lurah begitu saja mengikuti pendapat tentara, (3) mengapa Wasripin dan Pak Modin diancam begitu rupa oleh tentara, (4) mengapa surau Pak Modin dicap sebagai sudah lampu kuning, dan (5) mengapa Wasripin dan Pak Modin diperlakukan begitu sadis dan hina. Wasripin, Satinah, Pak Modin, dan para nelayan tidak pernah memahami bahwa mereka sedang menghadapi penindasan oleh Negara yang otoriter yang bernama marjinalisasi umat Islam.  

Yang mereka ketahui hanyalah mereka sedang berhadapan dengan Muspika, polisi, pengadilan, dan penjara. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan Negara yang otoriter. Ungkapan “marjinalisasi umat Islam” yang memberi kerangka peristiwa-peristiwa (tema) dan berasal dari konsep Etika Profetik tidak pernah disebutkan dalam novel itu. Dalam novel ini Kuntowijoyo mengatakan bahwa dirinya kagum pada Wasripin yang tiba-tiba menjadi messias bagi para nelayan. Kuntowijoyo sebagai sejarawan tentu saja mempelajari dan memahami Messiasime atau Ratu Adilisme, tetapi konsep tentang messias tidak mengganggu Wasripin dan Satinah yang deskriptif-naratif. Dan itu adalah salah satu prinsip Maklumat Sastra Profetik yang digagasnya. 

Penutup 
Selain karya-karya Kuntowijoyo, masih banyak karya sastra Indonesia yang menggelorakan perasaan cinta ketuhanan dan/atau semangat profetik yang bermuara pada intensitas transendental. Karya sastra yang dimaksud itu antara lain untuk novel dan/atau cerpen karya Muhammad Diponegoro, Muhammad Fudholi, Ahmad Tohari, dan lain-lain, sedangkan untuk puisi antara lain puisi-puisi karya Amir Hamzah, beberapa karya Chairil Anwar, Taufik Ismail, Abdulhadi W.M, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Hamid Jabbar, D. Zamawi Imron, Afrizal Malna, Emha Ainun Najib, Ahmadun Yosi Herfanda, dan lain-lain.    
Keterbatasan waktulah yang menyebabkan saya hanya membahas karya Kuntowijoyo, tidak membahas karya-karya penyair maupun pengarang lainnya. Tulisan ini diharapkan dapat merangsang timbulnya penelitian yang lebih komprehensif tentang bagaimanakah sastra kita dewasa ini. 

Daftar Pustaka 
Kuntowijoyo. 1997. Identitas Politik Umat Islam. Bandung: Mizan. 
----------.  1989. Agama dan Budaya. Yogyakarta: Tiara Wacana. 
----------. 1994. Pasar. Yogyakarta: Bentang Intervisi Utama.  
----------. 2003. Wasripin dan Satinah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas – PT Kompas Media Nusantara.  
----------. 2005. “Maklumat Sastra Profetik” dalam majalah Horizon, xxxiv, 05, 2005. 
Muqoddas, M. Busyro. 2011. Hegemoni Rezim Intelejen: Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad. Yogyakarta: PUSHAM UII. 
Selden, Raman (terjemahan Rachmad Djoko Pradopo. Panduan Membaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. 
Spegele, Roger D. 1974. “Karya Fiksi dan Wawasan Politik” dalam Titian, April 1974. 
Suyuti, A Suminto. 1990. “Metode Penelitian Sastra” dalam bulletin Poetika, Edisi 4 Tahun V. Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia.  
----------. 2005. “Kuntowijoyo” dalam majalah Horizon xxxiv, 05, 2005. 
Zaimar, Okke KS. 1979. Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik dalam Tiga Novel Iwan Simatupang. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 

___
(Makalah Jabrohim dalam Seminar Internasional "Pengembangan Nilai-nilai Profetik dalam Kehidupan Berbangsa melalui Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya" yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang, 17 November 2015.)

   

About Author

Related Post

Note: Only a member of this blog may post a comment.