YURISTGAMEINIGAMEID101

CINTA - ABDUL HADI W.M.

Abdul Hadi W.M, dikenal sebagai penyair sufi dan seorang profesor di Universitas Paramadina Jakarta. Dia lahir di Pasongsongan, Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Sejak lulus sekolah menengah pertama, dia sudah keluar dari Madura untuk menimbah ilmu. Mulai dari Surabaya, Bali, Yogyakara, Bandung, Jakarta, sampai luar negeri, seperti Amerika, dan Malaysia. Dari kota ke kota hingga mancanegara itulah, dia menempuh pendidikan sampai tahap akhir sebagai doktor sekaligus dosen tamu. 

Karya-karyanya tersebar di sejumlah media, buku bersama, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Buku puisi yang pernah lahir dari tangannya, antara lain: Riwayat (1967) Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976) Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin (1983), Pembawa Matahari (2002).

Selain itu, dia juga banyak menerjemahkan karya-karya penting dunia ke dalam bahasa Indonesia, semisal Faust (Goethe), Rumi: Sufi dan Penyair (1985), Pesan dari Timur Mohammad Iqbal (1985), Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-bangsa Timur (1985), Kehancuran dan Kebangunan: Kumpulan Puisi Jepang (1987). Sedang di antara banyak kumpulan esainya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber (1999) merupakan yang paling banyak dicari orang.

Tidak terbilang jumlah penghargaan yang pernah dia raih, di antaranya: Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1979), South-East Asia (SEA) Write Award, Bangkok, Thailand (1985), Anugerah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) (2003), dan Penghargaan Satyalancana Kebudayaan Pemerintah Republik Indonesia (2010).

Kini dia tinggal di Bogor, masih terus aktif menulis, mengisi seminar, juri tetap Sayembara Buku Puisi HPI setiap tahun, dan menjadi pembina Yayasan Hari Puisi.

Abdul Hadi W.M.
CINTA

Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu
Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya

Angin kencang datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang
Dan menyelimutinya dengan kegelapan

Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya
Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma

Kau di sampingku
Aku di sampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang

About Author

Related Post