YURISTGAMEINIGAMEID101

ENAM DIWAN - HAFIZ

Hafiz Al-Syirazi salah satu sufi penyair Persia paling masyhur yang lahir pada tahun 1320 M di Syraz dengan nama Shams al-Din Muhammad Hafez-e Shirazi. Salah satu karya besarnya adalah Divan-e-Hafez. DIa wafat pada tahun 1389 M. Di Iran, kelahirannya diperingati setiap tanggal 20 Mehr. Goethe (Jerman) merupakan tokoh yang secara terbuka menyatakan kekagumannya pada Hafiz.

1
Yusuf yang hilang dari bumi Kanaan
Akan kembali: jangan berduka!
Jangan berduka! Dalam sedih
Mawar akan berbunga dari bawah lantai ini
Dan di hadapan siksa rahasia
Hati akan menundukkan muka
O hati ngilu, kegembiraan akan datang
Damailah kau wahai otak yang compang-camping
Karena cinta, tapi jangan berduka!

Sekali lagi Musim Semi Kehidupan
Memberimu kembang di padang hijau, jangan berduka!
Dan atas kepalanya pengembara malam
Menghamburkan mawar, kelopak demi kelopak!
Rahasia dunia takkan kau jumpai
Namun di balik tirai api cinta membakar
Mengapa harus berduka?
Harapan akan kembali, jangan berduka!

Hari ini minggat, hari esok minggat
Sebelum roda berputar beri aku pemuas hatiku
Sorga sendiri akan berubah
Jangan mengumpat nasib
Rombongan haji hampir tiba di kota Mekkah
Duri-duri kaktus melukaimu sampai ngilu
Gurun berbunga lagi, jangan berduka!

Dari sungai kehidupan yang fana, dengar
Gemuruh apa yang mengepung rumahmu hingga oleng?
Tapi jangan berduka! Nabi Nuh akan jadi nakhodamu
Dan akan menyelamatkan kapalmu ke daratan
Tujuan masih jauh, jalan penuh bahaya
Namun setiap jalan menuju tempat yang sama
Di mana kau akan menurunkan muatan, jangan berduka!

Musuh-musuhku telah menyekapku dan menghukumku
Cintaku berpaling dan meninggalkan pintuku
Tuhan cermat menghitung air mata kami
Dan tahu pula derita kami:
Ah, jangan berduka! Tuhan telah mendengar
Jika derita datang dan dalam malam kau karam
Hafiz, ambil Qur’an dan bacalah
Lagu maha abadi, jangan berduka!

2
Mawar merah merekah, burung bulbul mabuk
Sufi, pencinta anggur! Ayo sambut pengumuman ini
Bagi bumi yang haus, anggur telah datang
O Penyesalan yang lama membatu
Lihat mukjizat ini! Sekejap saja
Kau dihancur-lebur oleh gelas anggur

Tak peduli raja atau penjaga pintu istana
Ayo, bawa anggur itu kemari, hidangi mereka semua!
Si mabuk dan si bijak, layani dengan baik mereka semua
Bila pesta ramai ini telah usai dan malam tambah larut
Dua pintu kedai anggur kian pula terbuka lebar
Yang rendah, yang tinggi, harus menundukkan kepala
Dekat pintu Hidup, sebab di luar itu tak ada apa-apa

Kecuali melewati jalan penuh bahaya
Tak seorang sampai ke perhentian riang gembira
Tuhan berkata: Tidakkah aku ini Tuhanmu?
Dengan ragu kau menjawab: O, ya!
Jangan antara Ya dan Tidak kau mondar-mandir
Dengan Ya baru kau selamat
Dan jika Tidak kau akan binasa

Keluhuran Asaf, kuda terbang pacuan angkasa
Dan bahasa burung ini, semua akan lenyap ditiup angin
Begitulah dia majikan mereka yang sudah mati
Ketika pergi tak satu pun ia tinggalkan di bumi
Jangan terbang dari jalan dengan sayap berbulu
Terlalu cepat melepaskan anak panah dari busurnya
Ke selokan anak panah akan terjatuh
Namun kau Hafiz, Lidah
Yang berucap lewat mulut seruling
Pahala apa bagimu jika ghazalmu beredar
Dari bibir ke bibir, nyanyian apa akan kau nyanyikan?

3
Angin dari timur, o Burung Siang Hari
Kukirim kau pada Kekasih, walau jauh
Jalan ke Saba, kumohon jangan mengeluh
Jangan di debu sayap liarmu terhantar
Jangan remuk oleh duka, kukirim kau ke sarangmu Kesetiaan.
Jauh atau dekat tiada tempat berhenti
Di jalan Cinta – kulihat wajahmu, tak tampak
Dan angin restuku mendesirkan lagu di telingamu.
Angin utara dan timur menghembuskannya
Setiap pagi kafilah rahmat dan ucapan selamat Kukirim padamu.

Kau asing bagi mataku
Namun kau teman yang selalu hadir dalam hatiku
Segala yang terucap dalam doa dan pujian Kukirim padamu
Janganlah kafilah duka yang datang untuk menaklukkan hatimu
Kukirim hidupku membawakan lagi damai padamu
Sebagai tebusan. Dari penyanyimu aku belajar
Bagaimana orang yang rindu padamu menangis dan berkobar hatinya:
Sajak dan kata-kata yang remuk, lagu dan nada merdu Kukirim padamu.

Beri aku cawan! Ramai suara terdengar di telingaku
“Sabarlah kawan memikul tahun-tahun yang menyiksa
Untuk sakitmu kukirim restu sorga
Tuhan Sang Pencipta tercermin dalam wajahmu
Matamu akan melihat, bayang-bayang-Nya ada di cawan
Kukirim itu padamu.

Hafiz! Tak seorang mendengar pujianmu
Cepat kemari, o kau yang berduka
Sepasang baju kehormatan, pelana kuda Kukirim padamu.

4
Maha Suci Tuhan, betapa bahagia aku semalam
Telah berjumpa Kekasih
Aku sujud di hadapan wajah-Nya molek
Kuhamburkan puji-pujian, sungguh
Mempesona apa yang kulakukan semalam
Dahan hidupku yang mati tumbuh lagi
Menunas ranting, karena berjumpa dengan-Nya

Senang aku, gembira, berjumpa dengan-Nya semalam
Biar di bumi darahku bersimbah
Tetap kuucapkan Ana al-haqq seperti Al-Hallaj
Sebab aku berjumpa Dia semalam
Dan di tanganku kugenggam erat
Surat balasan Lailatul Qadar
Karena dalam sadar kujumpai Dia semalam

Padulah kini hatiku yang merindukan jalan
Tersingkap tirai yang memisahkan aku dengan-Nya
Walaupun kepalaku harus bercerai dari badan, semalam
Dan kukatakan: Tuhan, Engkaulah yang empunya nikmat
Zakat yang mustahil kuterima itu
Mohon sekarang berikan padaku
Sebab aku berjumpa dengan-Nya semalam

Wahai kecemasan, jangan takut
Kau akan hilang diterbangkan pusaran angin
Dan Hafiz, bekas pembangkang itu
Kini telah bertobat sebab bertemu kekasihnya –
Tuhan, semalam.

5
Rambutnya tergerai, bibirnya ketawa
Mabuk oleh keringat pesta raya
Dia datang, menyanyikan cinta, bertepuk tangan

Kusut wajahnya dan kainnya terlempar
Semalam dekat ranjangku ia terhuyung
Bibirnya penuh keluh kesah

Dalam matanya kulihat duka bertikai
Ketika ia berbisik,
Adakah cinta kita yang lama telah tidur?

Sebelum fajar tiba, beri ia anggur
Sungguh kafirlah seorang pencinta
Jika tidak dengan anggur mencinta

6
Di padang hijau langit kulihat sabit bulan baru
Ingat masaku menanam dan panen, kukatakan:
O Keberuntungan, kau tidur dan matahari berbunga
Jawab terdengar: Jangan rapuh seperti masa lalu.
Jika kau pergi tanpa noda dan sendiri
Seperti Almasih ke Angkasa Raya
Keajaibanmu akan menyentuh matahari.
Jangan percaya pada bulan yang melintasi malam
Sebab ia telah mencuri mahkota Kaus dan sabuk Kaykhusraw
Walau telingamu berat oleh gemerincing emas
Musim yang indah lenyap – dengar nasehat!
Bisakah mata jahat menjauh dari tahi lalat pesonamu
Jika di papan catur keindahan ia menggerakkan bidak
Dan memperoleh hadiah dari bulan dan matahari.
Bisakah langit tak menjual kebesaran ini
Jika dalam cinta kala panen tiba, diberinya bulan
Sebutir jagung dan dua butir untuk bintang Suraya.
Kemunafikan api tukang tapa
Akan membakar hangus panen agama.
Hafiz! Lemparkan jubahmu dan pergi.

____
Penerjemah: Abdul Hadi W. M.

About Author

Related Post