YURISTGAMEINIGAMEID101

IQBAL DAN PEMBARUAN PEMIKIRAN KEAGAMAAN (2)

oleh Abdul Hadi W. M.

             Agar ringkas baik kita rumuskan asas gerakan  Renaisans dalam konteks Islam maupun Asia, sebagai berikut: Pertama,   agar   tidak  sempit  dan   memiliki   dasar universal,  faham  nasionalisme mesti  diintegrasikan  dengan hasil-hasil  yang dicapai oleh gerakan pembaruan  agama dan gerakan kebudayaan baru. Menurut tokoh Renaisan Islam dan Asia , apabila kitab suci  agama-agama besar ditafsirkan dengan  benar  akan dijumpai   prinsip-prinsip  universal  yang penting   sebagai landasan moral dan  kerohanian suatu kebudayaan. Kedua,  kesadaran bahwa  Asia perlu melakukan renaisans perlu disebarluaskan  melalui  berbagai  wacana atau  rasa`il intelektual,  lembaga  pendidikan dan  konstruksi  pengetahuan yang sesuai dengan cita-cita kebangunan Asia . Ketiga, cita-cita Renaisans Asia takkan tercapai tanpa ada   gerakan  politik,  ekonomi  dan  sosial-keagamaan   yang melaksanakan cita-cita Renaisans tersebut.  Keempat,   Cita-cita  Renaisans  Asia  tidak   memiliki sendi kebudayaan yang kuat  dan  tidak  dapat   menularkan kesadaran sejarah secara mendalam apabila tidak  diekspresikan dalam karya sastra dan seni. Seni dan sastra merupakan  simbol dan  kembang  kebudayaan  yang  bukan  saja  penting,   tetapi juga merupakan tangga naik bagi masyarakat untuk menemukan  hakikat diri dan jati dirinya.

           Dilihat  dari  perspektif  pemikiran  Iqbal  pentingnya pengintegrasian  faham nasionalisme  (dan  demokrasi)  dengan gerakan  pembaharuan agama didasarkan pada alasan bahwa  agama sejak lama merupakan landasan utama pandangan kerohanian  dan sikap moral masyarakat Asia, di samping sebagai  titik  tolak kreativitas  budayanya. Membuang agama  dan  kebudayaan  dari kesadaran  nasional dan demokrasi, sama dengan  menanam  bibit unggul di tanah gersang. Nasionalisme mungkin dapat menanamkan rasa  cinta tanah air, tetapi manusia juga memiliki tanah  air  rohaniah yang berada di jantung ajaran agama dan cita-cita kebudayaan.

           Tetapi hal tersebut tidak berarti gerakan pembaruan  agama  tidak menimbulkan kekuatiran, apalagi jika menyempit menjadi gerakan fiqih dan teologi semata-mata. Jika gerakan  keagamaan  hanya bergerak  dalam kedua lapangan ini, ia akan cenderung menutup diri  pada kemajuan dan sama dengan menyediakan tanah  gersang bagi perkembangan kebudayaan. Tanpa dimensi kultural  gerakan pembaruan   agama  akan menjadi  suatu  benda  asing   bagi masyarakat  dan  tidak dapat  membebaskannya  dari kungkungan formalisme yang beku.Oleh  karena  itu perlu sekali  pesan-pesan  moral dan sosial  gerakan pembaharuan diekspresikan dalam ungkapan  seni dan  dintegrasikan dengan  simbol-simbol  budaya  yang  telah dikenal  masyarakat, dan secara perlahan ditransformasikan  ke dalam pengucapan dan wacana atau rasail modern. Di sini  kaum terpelajar  Asia  mesti  mampu  menggali  ajaran  agama  serta khazanah  intelektual dan estetik dari  kebudayaan  bangsanya, yang  dalam sejarahnya turut dibentuk oleh agama-agama  besar.

           Untuk memenuhi amanah ini  ada beberapa hal penting yang mesti dilakukan, khususnya oleh para cendekiawan Muslim: Pertama,   al-Qur`an  dan  Hadis  ditafsirkan kembali dengan cahaya hermeneutik (ta'wil) baru sehingga pesan  moral, sosial dan spiritual ajaran Islam menemukan konteks yang  luas dan tepat. Metode penafsiran dan pemahaman harus  diperbaharui dengan  menyertakan  kesadaran  sejarah,  begitu  pula cara mentransformasikannya ke dalam wacana modern. Kedua,  Islamisasi  ilmu  dan kebudayaan  perlu  terus digalakkan.  Walaupun  menimbulkan  kontroversi,  toh  gerakan islamisasi  ilmu  mendorong  orang  Islam  bergairah  menggali kembali  khazanah intelektual dan  keilmuan  yang  berkembang dalam tradisi Islam. Melalui Islamisasi Ilmu dan  metodologinya cendekiawan Muslim dapat memandang ilmu dan pengetahuan modern secara segar. Dikotomi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu non-agama juga dapat dikurangi. Ketiga,  di samping menggali khazanah  intelektual  dan budaya  Islam yang berkembang di Arab dan Persia,  cendekiawan Muslim  di negeri-negeri seperti Indonesia dan Malaysia  mesti digalakkan   menggali   dan   menafsirkan   kembali   khazanah intelektual dan tradisi budaya Islam yang berkembang di  tanah airnya  sendiri. Penafsiran  kembali  perlu  dilakukan   agar relevansi  khazanah klasik itu muncul dan konteksnya  menjadi jelas. Dengan itu pula pemikiran dan ekspresi intelektual yang dihasilkan tetap mempunyai akar yang kuat dalam budaya bangsa.

Dalam bukunya Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam  Islam Iqbal menyebut pentingnya pengalaman dan kesadaran sejarah, di samping  eksplorasi  pengalaman empiris  dan   rasional.Tanpa kesadaran dan pengetahuan sejarah, yaitu sejarah Islam secara umum dan sejarah Islam di tanah airnya, eksistensi umat  Islam tidak mempunyai landasan yang kuat dalam kehidupan politik dan kultural  di negerinya yang, pada masa modern ini,  didominasi oleh  pengetahuan  sejarah  dan  ideologi  Eropah.   Penulisan sejarah  bangsa-bangsa berkembang hanya memakai sumber  Eropah dan  meletakkan hanya bangsa Eropah yang unggul  dalam  segala lapangan kehidupan.

             Lembaga pendidikan kita dijejali pengetahuan bahwa yang mengembangkan sains, falsafah, seni dan sastra hanyalah bangsa Eropah. Akar tradisi ilmu ialah Yunani-Romawi  dan  Yahudi-Kristen. Kita biasa membaca bahwa sejarah sains dimulai dengan munculnya  tokoh-tokoh seperti Pythagoras dan Archimedes  pada abad  ke-3 atau 4 SM, kemudian melompat jauh ke zaman  Galileo dan Copernicus. Di situ tergambar seolah olah bangsa Asia  dan orang Islam tidak pernah mengembangkan sains, walaupun  dalam kenyataan  banyak ilmu-ilmu modern seperti  kimia,  matematik, optik,  astronomi, botani, metalurgi, fisika  dan  lain-lain, sebelum dikembangkan bangsa Eropah telah dikembangkan di Cina, India, Persia dan Arab Islam sampai ke tingkat tinggi.

            Kita  juga biasa membaca sejarah Filsafat yang  dimulai dengan Socrates, Plato, Aritoteles dan Plotinus di Yunani pada abad  ke-3  dan 2 SM, lalu melompat ke Thomas Aquinas, Roger Bacon,  Descastes dan lain-lain di Eropah pada abad ke-15  dan 17 M. Seolah-olah selama belasan abad sebelum munculnya zaman Scholastik, Renaisans dan Humanistik di  Eropah,  filsafat  dalam  bentuknya  yang sistematis  dan  sofistikated tidak  pernah dikembangkan  oleh orang-orang  Hindu,  Cina  dan Islam.  Padahal  kita mengenal sederet  nama dari tradisi Islam seperti al-Kindi,  al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn `Arabi, Ibn Taymiyah, al-Biruni, Ibn Khaldun,  Umar al-Khayyami dan nama-nama cemerlang  yang  lain dalam lapangan sains dan falsafah.

            Umat yang tidak memiliki kesadaran sejarah, dan  merasa tidak memiliki sejarah, dengan mudah dapat  dipinggirkan.  Ia tidak memiliki  dasar yang kuat bagi eksistensi kultural  dan politiknya, terutama di dunia modern.  Orang Indian di Amerika merupakan contoh yang menonjol, begitu juga penduduk  pribumi Australia  yang disebut Aborigin. Mereka tidak  punya  sejarah tertulis  dan oleh sebab itu hak hidup mereka mudah dipangkasnya dan kepemilikan atas tanah airnya dipandang sebagai  suatu yang  ganjil.

           Umat  Islam  di Indonesia hampir mengalami  nasib  yang sama. Agama  dan kebudayaannya,  khazanah  intelektual   dan sumbangannya  kepada perjuangan bangsa, dianggap  lebih  asing dibanding kebudayaan Eropah yang baru  berkembang satu setengah abad yang lalu. Karena itu  tidak  mengherankan apabila  bukan  saja pada zaman kolonial,  tetapi  sejak  awal kemerdekaan, melalui zaman Orde Lama dan Orde Baru, umat Islam mudah menjadi bulan-bulanan peminggiran dan dengan cara  yang keji dipojokkan terus menerus. Ia menjadi  warganegara  kelas dua yang hak asasinya boleh dikesampingkan, karena dikuatirkan mengancam demokrasi dan kemajuan, serta perkembangan ekonomi.

           Ahli-ahli   sejarah   dan  kebudayaan   Eropah   selalu menanamkan  kesadaran kepada kita bahwa sejarah dan  kebudayaan  Indonesia ialah sejarah peradaban Hindu dan Eropah, sedangkan sumbangan dan peranan Islam yang besar dikesampingkan secara sistematis. Demikianlah, walaupun umat Islam mayoritas dilihat dari jumlah penganutnya, tetapi minoritas dalam buku sejarah dan  politik, minoritas dalam ekonomi, perdagangan dan kebudayaan.  Gambaran   keliru  bahwa  Indonesia  merupakan   negeri berkebudayaan  Hindu digembar-gemborkan sampai saat  ini,  dan setiap  usaha menghidupkan kebudayaan Islam dan sejarah  Islam dinilai  sebagai penentangan terhadap keabsahan dan  kemapanan ilmu  yang dikonstruksi dan dikemas oleh cara pandang  sekular bangsa penjajah.

            Karena  itu selain kesadaran sejarah,  kita  memerlukan konstruksi  pengetahuan  baru, di mana  khazanah  dan  sejarah Islam mesti diberi tempat sewajarnya. Begitu  pula  penekanan harus diberikan terutama kepada watak universal ajarannya. Pemaparan  di  atas menjelaskan  luasnya  konteks  atau lingkupkait  pemikiran dan gagasan Iqbal, termasuk  gagasannya tentang  khudi (pribadi,  diri).  Yang  dimaksud  Diri  dalam pemikiran Iqbal ialah keseluruhan potensi kerohanian  manusia, yang  bila  diupayakan sungguh-sungguh   dapat mengantar jiwa seseorang mencapai  hakikat  Insan  Kamil. Disebabkan  potensi  kerohaniannya itulah,  sebagaimana  al-Qur`an menetapkan,  manusia pantas menjadi khalifah  Allah  di  atas bumi.  Tetapi di samping itu manusia juga ditetapkan  sebagai hamba-Nya.

           Oleh karena kedudukan dan perannya sebagai khalifah Allah di atas  dunia  itulah maka hanya  manusia  yang  mampu  menjadi pencipta  sejarah dan kebudayaan. Sebagai konsekwensinya  umat yang  tidak mampu mencipta sejarah, yaitu  mencipta  peradaban dan kebudayaan,  tidak dapat dikatakan memiliki sejarah. Umat  Islam sebenarnya telah pernah  mencipta  sejarah, dan  menjadi  pelaku  utama peradaban  dan  kebudayaan dunia. Tetapi  karena ingatan dan pengetahuannya terhadap  sejarahnya telahpupus,  dan  karena tak memiliki  hubungan  yang  rapat dengan kebudayaan dan khazanah intelektualnya yang kaya,  maka ia  seolah-olah  tidak  punya sejarah. Karena itu  dia  tidak memiliki kesadaran sejarah dan mudah tunduk pada sejarah  yang dibuat umat atau bangsa lain, yang sebenarnya bukan sejarahnya sendiri.

           Sejarah  dan  peradaban suatu  umat  sebenarnya  merupakan komponen  penting daripada Diri atau Pribadi umat.  Umat  yang tidak mengenal sejarah dan peradabannya ialah umat yang tidak mengenal  Diri  atau  Pribadi. Begitulah   gagasan  Iqbal memiliki konteks luas: konteks spiritual dan religius di  satu hal sebagai kerangka intuitifnya, yaitu Diri sebagai  khalifah Allah di  atas bumi dan hamba-Nya yang  taat  serta  beriman kepada  Yang  Satu.  Adapun  di lain pihak, sebagai kerangka zahirnya  ialah konteks sosial  dan  budayanya, yaitu  sejarah  dan  khazanah peradabannya,  yang  hanya dapat diperoleh  melalui  kontruksi pengetahuan  yang benar. Yaitu konstruksi pengetahuan yang  di dalamnya  sejarah dan peradaban Islam, hasil-hasil  kebudayaan dan perjuangannya menentang kolonialisme,  dipaparkan  secara objektif dan benar.

           Diri,  menurut  Iqbal,  dapat  tumbuh  dan  berkembang apabila  memiliki  cita-cita yang tinggi  dan  kehendak  untuk mencapai  cita-cita yang tinggi. Apabila  seseorang memiliki kehendak dan cita-cita yang tinggi, maka Cinta akan tumbuh  di dalam dirinya,  yaitu cinta kepada  apa  yang  dicita-citakan olehnya.Perkenankan di sini saya menerangkan dua aspek  tentang cinta,  yaitu  aspek  pengertiannya  yang  luas  dan aspeknya sebagai  cara  memahami kehidupan serta  mendapat  pengetahuan tertinggi. Dalam  pemikiran Iqbal atau Cinta  memiliki pengertian  ganda.  Di antaranya cinta atau kepatuhan  kepada Tuhan, sebagai Kekasih tertinggi. Hasil daripada cinta seperti itulah menyatunya keyakinan seseorang dengan  Yang  Dicintai, yang dalam istilah keagamaan disebut haqq al-yaqin.

           Cinta juga  berkaitan dengan pribadi teguh  dan  militan,  yaitu pribadi yang mampu merasakan sepenuhnya makna keberadaan  atau eksistensi dirinya. Di lain hal cinta merupakan prinsip kreatif  kehidupan, berdasarkan  kenyataan yang diungkap sebuah Hadis qudsi,  "Aku perbendaharaan Tersembunyi (kanz makhfiy), Aku cinta (ahbabtu) untuk diketahui, maka Aku mencipta dan karenanya  diketahui". Asas penciptaan  alam  semesta  dan  seisinya  ialah   Cinta, sebagaimana dinyatakan dalam Basmallah, di mana Allah  disebut sebagai  al-Rahman  dan  al-Rahim,  Yang  Maha Pengasih   dan Penyayang.  Kedua  perkataan tersebut berasal dari  kata  yang sama  yaitu Rahmah.

            Rahmah adalah bukti daripada  Cinta  yang dilimpahkan  Allah  kepada segenap ciptaan-Nya,  dan  melalui Rahmah-Nya  itulah Dia diketahui. Perkataan  'tahu' merupakan kunci di  samping 'cinta'. Keduanya,  masing-masing,  merujuk kepada pentingnya Ilmu dan Spiritualitas. Demikian  Cinta  lantas dikatakan  oleh  Iqbal  sebagai metode  penting  mencapai pengetahuan. Menurut Iqbal  ada  dua pendekatan  penting dalam memahami dan  memperoleh  kenyataan, termasuk   kenyataan  tertinggi. Pendekatan   pertama   ialah pendekatan intelektual atau akliyah, yaitu pendekatan rasional berdasarkan  pemikiran dan pengetahuan.

            Sedangkan  pendekatan kedua ialah  pendekatan vital, yang disebut  Cinta.  Di sini Cinta lantas diartikan sebagai metode intuitif.  Ibadah  yang kita  lakukan,  seperti salat, puasa di  bulan  Ramadhan dan menunaikan ibadah haji, merupakan pendekatan vital dan  metode intuitif. Berdasarkan   gagasan  tersebut   Iqbal   mengembangkan gagasan  Renaisans  Asia.  Agar bangsa  Asia,  khususnya  umat Islam,  dapat membangun kembali peradaban  dan  kebudayaannya, serta mencipta sejarahnya, ia harus membangun kembali khudinya atau  Dirinya.  Untuk  dapat  membangun  itu  dua pendekatan tersebut,  yaitu Akal dan Kalbu (`aql o-dil ) dan Cinta  dan Pengetahuan  (`ishq o-`ilm) harus dipadukan menjadi kesatuan pendekatan  yang  selaras. Dengan perkataan  lain  umat  Islam jangan memisahkan hasil pencapaian akal budinya dengan sumber ajaran Islam atau wahyu, yaitu al-Qur`an dan Sunnah.

Kemunduran  umat  Islam  disebabkan  karena  merosotnya jumlah dan kualitas pengetahuan yang dimiliki, yang  bersamaan dengan itu merosot juga cintanya, yaitu cintanya kepada  Tuhan dan  Rasul-Nya,  kepada  potensi terpendam  ajaran  agama  dan khazanah   kebudayaannya  yang  kaya.  Renaisans   Asia   yang sesungguhnya  hanya dapat terwujud apabila umat  Islam  dapat membangunnya, dan memulihkan Cinta yang bersemayam dalam dirinya. Sebab bagaimana pun juga umat Islam merupakan  bagian integral  dari penduduk Asia dan jumlahnya pun  sangat besar, serta menguasai  bagian dari wilayah yang kaya  dengan  hasil bumi dan peninggalan sejarah yang gilang gemilang. Dengan  demikian  yang dimaksud Renaisans Asia  jelas: gabungan   Gerakan Pembaharuan  Agama  yang   dihidupi   oleh spiritualitas yang sehat dan kegiatan kebudayaan  dalam  arti yang luas, serta pemekaran intelektual. Demikian pula  dimensi universal dari gerakan ini tidak mesti menenggelamkan semangat kebangsaan  dan  melupakan konteks nasional  di mana  gerakan tersebut dilahirkan.

Jakarta 18 Desember 1998

Rujukan

Asif Iqbal Khan (1977). Some Aspects of Iqbal’s Thought. Lahore, Pakistan.
Abdul Hadi W. M. (1992). “Pemikiran Falsafah Iqbal dan Kesesuaiannya Masa Kini”. Jurnal
Akademi Sains Islam Malaysia Kesturi. 2/Bil.1 June 1992
Djohan Effendy & Abdul Hadi W. M. (1987). Iqbal: Pemikir Sosial Iqbal dan Sajak-sajaknya.
Jakarta.
Hafezz Malik (1971). Iqbal: Poet-philosopher of Pakistan. New York & London.
Muhammad Iqbal(1962). The Reconstruction of Religius Thought in Islam. Lahore.
S. M. Ikram (1970). Modern Muslim India dan the Birth of Pakistan. Lahore.
Vali Reza (2001). “Muhammad Iqbal”. Profetik Vol.2. No. 1 & 2.

About Author

Related Post