YURISTGAMEINIGAMEID101

IQBAL,PEMBARUAN PEMIKIRAN KEAGAMAAN

Oleh Abdul Hadi W.M.

              Tema seminar ini ialah tentang renaisan Islam dalam hubungannya dengan pembaruan pemikiran agama. Saya memililih Iqbal dengan pandangan bahwa pemikirannya masih relevan hingga sekarang, khususnya dalam konteks Indonesia. Filosof dan penyair Indonesia Pakistan ini hidup antara akhir abad ke-19 dan pertengahan abad ke-20 M. Dia lahir pada tahun 1873 dan wafat pada tahun 1938, dan mendapat baik pendidikan Barat maupun Islam secara seimbang, sehingga dalam dirinya tumbuh semangat pembaruan yang otentik, disebabkan kegelisahannya melihat keadaan masyarakat Muslim dan peradabannya yang menyedihkan di satu pihak, dan semakin kuatnya hegemoni Barat di bidang sosial, politik, ekonomi, intelektual dan kebudayaan. Annemarie Schimmel (1976) menyebut tokoh ini sebagai jembatan  yang menghubungkan Barat dan Islam. Sarjana lain menyebutnya sebagai Filosof Kebangkitan Timur. Penulis sejarah pemikiran Islam seperti  Vali Reza Nasr (1982) menyebutnya sebagai pemikir yang banyak memberi sumbangan bagi Reformasi Agama dan Rekonstruksi Falsafah Islam. Anwar Ibrahim (1998)  menyebutnya sebagai tokoh Renaisan Asia.

Ciri-ciri khas pemikiran Iqbal tampak dalam hal-hal seperti berikut ini. Pertama, dia menggabungkan ilmu kalam, tasawuf, falsafah, ilmu sosial dan sastra dalam pemikirannya sebagai rangka untuk memahami ajaran Islam. Dengan demikian ia meggunakan perspektif yang luas, yang membedakannya dari pemikir Muslim lain yang kebanyakan parsial dan hanya menekankan pada segi tertentu. Kedua, dalam memahami kondisi umat Islam dan perkembangan pemikirannya, ia tidak memisahkan falsafah dan teologi dari persoalan sosial budaya yang dihadapi umat Islam. Ini membuatnya menjadi seorang filosof dan  budayawan yang berwawasan luas. Ketiga, pikiran-pikirannya yang paling cemerlang sebagian besar diungkapkan dalam puisi yang indah dan menggugah, sehingga menempatkan diri sebagai penyair-filosof Asia yang besar pada abad ke-20. Pembaca  yang tidak memperhatikan puisi-puisinya, tidak akan menangkap keagungan pemikirannya.    Keempat,  dia berpendapat bahwa penyelamatan spiritual dan pembebasan kaum Muslim secara politik hanya dapat terwujud dengan cara memperbaiki nasib umat Islam dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan.

             Dalam mengemukakan pandangannya itu Iqbal senantiasa bertolak dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis. Di antara ayat al-Qur’an yang sering dikutip Iqbal ialah Q 51:20-1, yang menyatakan bahwa Allah meletakkan ayat-ayat-Nya yang tidak terhitung jumlahnya di langit dan di bumi, serta dalam diri manusia. Ayat-ayat itu membimbing manusia menuju realisasi Tuhan dan dirinya. Hadis yang sering dikutip di antaranya ialah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, ”Seseorang yang merealisasikan martabatnya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun.”

            Bagi Iqbal, dengan melihat sejarah masyarakat Asia, agama memainkan peranan penting dalam kehidupan umat manusia, termasuk perkembangan peradaban dan kebudayaannya. Iqbal mengeritik penyimpangan dan pengaburan ajaran agama oleh para sultan, ulama, cendekiawan dan pemimpin Islam yang menjadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih keuntungan politik dan ekonomi. Semua itu bagi Iqbal merupakan sumber degradasi moral umat. Dia sangat kritis terhadap peradaban dan kebudayaan Barat, sebagaimana terhadap Islam. Menurut Iqbal, peradaban dan kebudayaan Islam hanya bisa dimajukan dengan melakukan dua hal secara serentak, yaitu idealisasi Islam dan pembaruan pikiran agama. Untuk bisa bangkit dari kejatuhan, kaum Muslimin harus memiliki akses pada kebanaran ajaran agama dan sejarah panjang peradabannnya.  Kita harus menyadari bahwa Islam yang dipahami sebagian besar kaum Muslimin dewasa ini sudah tidak murni lagi, bercampur dengan berbagai keramat dan praktek penyembahan berhala. Dalam sajaknya ”Kepada Saqi” dia menulis:


            Adat zaman telah bertukar
            Nada dan lagu baru terdengar di mana-mana
            Tipu daya Barat mulai terbongkar
            ...
            Di seluruh penjuru dunia telah tercium
            Bau busuk raja-raja dan sultan-sultan
            Lingkaran kapitalisme mulai gerah
            Para penipu mulai ditelanjangi dan akan enyah
            Dari mimpi lamanya Cina mulai terbangun
            ...
            Sekali lagi Musa menunggu cahaya dari Langit
            Tetapi orang Islam yang berpegang pada Tauhid
            Jiwanya masih terbelenggu tali keramat
            Seni, hukum, falsafah dan ilmu kalamnya
            Masih tercemar praktek penyembahan berhala
            Kebenaran ajaran agamanya
            Terkubur dalam timbunan sampah
            Dan upacara-upacara sesat
            Menenggelamkan kalimah syahadatnya

            (Djohan Effendy & Abdul Hadi W. M. 1987:70)

            Semua gagasan Iqbal dibungkus dan dijelaskan oleh Iqbal melalui konsep-konsep kunci falsafah yang diambil dari tradisi intelektual Islam. Yang terpenting di antaranya ialah konsepnya tentang  khudi (pribadi, diri) dan `ishq (cinta ilahi). Seluruh gagasan  dan pemikiran  Iqbal  tentang kebangunan Islam dan  Asia  memancur dari konsepnya tersebut. Tetapi kita tidak mungkin dapat memahaminya apabila tidak  mengetahui keadaan di Asia dan perkembangan kebudayaannya  pada  akhir abad ke-19  dan awal abad ke-20 yang melatari pemikiran tersebut.

            Satu   hal  lagi  yang  sangat  penting  dalam   rangka  memahami gagasan Renaisans Asia  dan Islam ialah 'kesadaran sejarah', 'kesadaran religius' dan 'kesadaran kemanusiaan/humanisme universal'.  Kesadaran sejarah ialah suatu kesadaran tentang perjuangan  bangsa-bangsa  Asia, termasuk  umat  Islam,  dalam membangun peradabannya sehingga mencapai tingkat kemajuan yang tinggi dan sebab-sebab kemundurannya dalam babakan  sejarahnya yang  kemudian.  Kesadaran  ini dibentuk tidak  hanya  dengan mengenal   sejarah   bangsa   Asia,   tetapi   juga    melalui pengenalannya  yang  luas terhadap  khazanah  intelektual  dan budayanya,   serta landasan  spiritual  dan  keagamaan   yang mendorong   bangsa-bangsa  Asia  kreatif pada suatu   zaman tertentu.

            Bersama-sama    kesadaran   religius   dan    kesadaran kemanusiaan  universal, kesadaran  sejarah  dapat   membentuk manusia Asia yang memiliki pribadi dan tahu arti serta  tujuan hidup,  misalnya  mengapa ia harus membina  sebuah  peradaban. Tetapi sekali  lagi kita baru dapat memahami  arah  pemikiran Iqbal apabila  memahami  latar belakang  sejarahnya,   yaitu keadaan  Asia dan perkembangan kebudayaannya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Asia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditandai oleh dua hal yang mencolok yang belum pernah terjadi sepanjang sejarahnya.  Pertama, kemunduran dan kemerosotan yang  melanda hampir  semua  lapangan  hidup  bangsa  Asia  sebagai akibat kolonialisme. Kedua, kian intensnya interaksi kebudayaan  Asia dengan  kebudayaan Barat,   khususnya    sebagai    akibat diterapkannya  sistem  Eropah  dalam  bidang pendidikan   dan semakin berpengaruhnya kegiatan kaum orientalis.

             Terpuruknya  bangsa Asia ke dalam  keterbelakangan  dan kemiskinan,  menyebabkan  lembaga  pendidikan   tradisionalnya mandeg,  begitu pula kreativitas masyarakat  dan  perkembangan kebudayaannya.  Karena  perkembangan agama  sangat  tergantung pada  tingkat  kemakmuran  kelas  menengahnya,  yang   menjadi penunjang  lembaga  pendidikan  keagamaan,  maka  perkembangan agama juga menerima pukulan hebat akibat  lumpuhnya  kegiatan pendidikan dan terpuruknya ekonomi kelas menengahnya.

              Dua  akibat  paling nyata  dari  perkembangan  tersebut ialah merajalelanya takhyul, bidah dan  khurafat.  Masyarakat yang  begitu  frustrasi,  dan  telah  mengalami demoralisasi, dengan mudah mempercayai hal-hal bersifat takhyul dibandingkan harus mengerahkan   tenaga  pikirannya   untuk   memperbaiki kehidupannya.  Akibat  yang lain,  terutama  disebabkan  oleh semakin   menyempitnya   pemahaman  terhadap   ajaran agama, meluasnya  formalisme  yang  kaku  dalam  praktek   keagamaan. Kegiatan keagamaan dibatasi hanya pada ritual atau peribadatan formal,  dan  dari  waktu ke waktu semakin  kehilangan  makna spiritualnya.

             Namun keadaan  ini sedikit terobati  dengan  dibukanya lembaga pendidikan modern yang semula dibangun oleh pemerintah kolonial untuk mendidik calon ambtenar atau pegawai pemerintah kolonial.  Ternyata  dari kalangan yang  memperoleh pendidikan modern inilah lahir sekelompok terpelajar yang begitu prihatin terhadap nasib bangsanya dan sadar bahwa keadaan seperti tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Dari kalangan inilah  lahir tiga  gerakan pembaharu. Mula-mula yang muncul  ialah  Gerakan Pembaharuan Agama, disusul Gerakan Kebangsaan atau Nasionalis, dan kemudian Gerakan Kebudayaan Baru, misalnya Pujangga Baru di Indonesia.

             Gerakan   Pembaharuan  Agama.  Walaupun   gerakan   ini bersinggungan dengan masalah politik  dan  terpengaruh  oleh gagasan  nasionalisme, namun lebih menumpukan perhatian  pada bidang  fiqih,  teologi dan penafsiran  baru  terhadap  ajaran agama, terutama  konteks sosialnya. Gerakan ini  tidak  hanya muncul  di  kalangan Islam, tetapi juga di  kalangan  penganut agama Hindu, Kristen dan Buddha. Di kalangan Islam dipelopori oleh  Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan  Syekh  Rasyid Ridha. Di kalangan Hindu nampak pada Brahma Samoj yang muncul di India pada akhir abad ke-19 dan dipelopori oleh Raj Ramohon Roy.  Di  lingkungan Kristen muncul di Libanon dalam  kalangan penganut  Kristen Maronit, sebagainana tercermin dalam  karya-karya Khalil  Gibran  yang  mengagumi  gerakan   pembaharuan Muhammad Abduh di Mesir.

             Mengenai  gerakan kebangsaan, ladang kegiatannya  ialah panggung kehidupan sosial politik. Dalam perkembangannya  kaum nasionalis  ini  terpecah  menjadi  tiga golongan:  (1)  yang memilih  jalan  demokrasi dan liberalisme;  (2)  yang  memilih jalan Marxis dan sosialisme, darimana gerakan komunis  muncul; (3)  yang memilih perkawinan sosialisme dan demokrasi   dengan jalan agama, sebut saja sebagai golongan nasionalis religius.

Ketiga  bentuk   gerakan   tersebut,   yaitu   gerakan pembaharuan  agama, gerakan nasionalisme dan kebudayaan  baru, sayangnya    berjalan   secara   terpisah. Kenyataan    ini memprihatinkan sekelompok budayawan yang ingin melihat  ketiga gerakan  ini  berjalan  seiring dan  saling  mengisi.  Menurut mereka,  apabila gerakan itu berjalan  secara  terpisah,  maka masyarakat  akan  menanggung kerugian  besar.  Ketiga wilayah kehidupan ini sama pentingnya dan tidak dapat dipisahkan dalam rangka membina masyarakat baru yang telah terlanjur  terpecah-belah akibat kebijakan diskriminatif pemerintah kolonial.

             Menurut  budayawan baru itu apabila gerakan  kebangsaan hanya bertujuan mengembangkan kesadaran politik dan  ekonomi, maka  yang  akan  muncul ialah nasionalisme  yang  sempit  dan picik.  Nasionalisme  politik hanya akan menghasilkan sebuah nation  state (negara bangsa) yang memuja-muja batas  wilayah, dan  melupakan pembangunan kebudayaan dan  agama,  sedangkan masyarakat  Asia sudah sejak lama menjadikan  kebudayaan dan agama sebagai  asas utama kehidupan dan pengembangan nilai-nilai, termasuk moral. Selain itu tanpa memberi perhatian pada kebudayaan,  maka bangsa yang akan dibangun cenderung tidak memiliki  jati  diri, bahkan  tidak  pernah menjadi   subyek pembangunan. Mereka hanya akan dipaksa mencintai tanah air dan sekaligus  dipaksa menerima ideologi baru yang  belum  tentu mereka mengerti sepenuhnya,  bahkan  belum tentu   dapat menerimanya sepenuh hati.

Terhadap gerakan pembaharuan agama yang tidak  memiliki dimensi kultural, para budayawan itu khawatir gerakan tersebut dapat menyempit  menjadi gerakan fiqih dan  teologis  semata-mata, sedangkan kehidupan modern dimensinya luas dan kompleks, memerlukan  berbagai pendekatan. Masyarakat modern tidak  bisa dibimbing  maju hanya dengan pemurnian akidah  dan  pemahaman ajaran agama secara rasional. Di antara tokoh kebudayaan Asia yang kuatir itu  ialah Rabindhranath  Tagore, Muhammad Iqbal, Kahlil  Gibran dan  Lin Yu  Tang.  Mereka  ialah para filosof  dan  penyair, memiliki pengetahuan  yang  luas  tentang  agama,  dan  memahami   baik kebudayaan Barat maupun Timur  beserta sejarah dan khazanahnya yang  kaya. Merekalah yang dimaksud sebagai  tokoh  Renaisans Asia  oleh  Anwar Ibrahim, walau dia  tidak menyebut  Kahlil Gibran dan Lin Yu Tang.

              Dari sudut pandang Indonesia, jelas yang paling relevan ialah Muhammad  Iqbal. Keadaaan umat Islam  India  di  bawah kolonial Inggeris yang digambarkannya, tidak jauh berbeda dari keadaan  umat Islam Indonesia di bawah kolonial Belanda.  Baik kolonial   Inggris  maupun  Belanda  memandang  bahwa   ancaman terbesar  bagi peradaban Barat, dan dengan  sendirinya   sistem kolonial  dan  kapitalisme  ialah Islam. Karena  itu  sedapat mungkin   umat  Islam dibikin daif dan terpuruk,  serta  tidak diberi kesempatan mengenal potensi terpendam dari ajaran agama dan khazanah kebudayaannya. Kontruksi pengetahuan diajarkan di lembaga  pendidikan  modern,  yang kita  warisi  dari   zaman kolonial,  dengan  jelasnya  memperlihatkan  betapa  peradaban Islam selalu dibayangkan sebagai  peradaban  yang sangat terkebelakang.  Berkat kontruksi pengetahuan semacam  itulah umat Islam yang telah terpecah belah semakian terpecah  belah, begitu pula golongan ulamanya.

               Di  manapun  di  negeri  Islam  yang  berada  di  bawah pemerintahan  kolonial pada abad ke-19 terdapat tiga  golongan ulama yang  mewakili kepentingan berbeda-beda:  (1) Golongan ulama yang  bekerja untuk kepentingan  pemerintah  kolonial. Mereka  sering mengeluarkan fatwa untuk mendukung  kebijakan pemerintah  kolonial, di  antaranya ajakan  agar  umat  Islam membatasi  kegiatannya dalam peribadatan atau ritual saja.  Di luar  ritual  dan peribadatan formal, penerapan  ajaran  Islam dipandang tidak relevan; (2) Golongan ulama tradisional,  yang karena  benci terhadap pemerintah kolonial, mengajarkan  umat Islam agar  menjauhkan  diri dari  kehidupan modern. Mereka menghalang  umat  mempelajari pengetahuan  modern  dan  bahasa Inggeris, sebab ilmu-ilmu tersebut berasal dari orang  kafir. Secara ringkas mereka membawa umat hidup eksklusif, dan  sukar disentuh ide-ide pembaharuan. Kondisi itulah menyebabkan  umat Islam terkebelakang dan mundur; (3) Golongan ulama tasawuf dan pemimpin  tarekat yang dekaden. Mereka mendorong  umat  Islam karam dalam berbagai khurafat, bid'ah dan  takhyul.  Mereka menyuburkan kebiasaan memuja para wali dan berziarah ke makam-makam keramat untuk  memohon  pertolongan.

             Namun demikian, terdapat juga ulama tasawuf yang  tidak ternoda  oleh  kecendrungan  seperti itu  dan  tersentuh  oleh gagasan pembaharuan. Tidak sedikit dari kalangan ulama tasawuf seperti  itu  tampil pemimpin dan pejuang anti-kolonial  yang gigih, seperti misalnya para pemimpin Tarekat Naqsabandiyah di Asia Tengah  yang menentang imperialisme Rusia dan  di  Cina yang menentang penguasaan Dinasti Manchu. Perang Diponegoro di Jawa  juga melibatkan pemimpin Tarekat yang progresif.  Contoh terbaik  ialah  pemimpin Tarekat Sanusiyah  di  Afrika Utara, misalnya di Libya. Tarekat ini mengalami pembaharuan pada abad ke-19 dan mengangkat tema sosial dalam organisasinya. Beberapa pemimpinnya   tampil sebagai  pemimpin perjuangan   melawan kolonialisme Itali dan Perancis.

Dalam sebuh sajaknya Iqbal menulis tentang akibat  yang muncul  disebabkan sikap sekelompok ulama, khususnya  golongan kedua:

Agama sejati tenggelam
Kalah kepada bukan agama
Bagi para mullah agama ialah kesibukan
Mengecam orang sebagai kafir
Bagi si kafir agama ialah bagaimana mengatur
Siasat dan menimbun kekayaan
Bagi para mullah agama ialah bagaimana
Mendatangkan kesulitan atas nama Tuhan

              Sedangkan kalangan terpelajar Muslim yang disorot Iqbal ialah mereka yang terbaratkan secara pemikiran,  gaya  hidup, gagasan  dan  isi  pengetahuan. Mereka  tidak lagi  mengenal hakikat universal ajaran Islam dan khazanah kebudayaannya yang kaya, yang apabila digali serta ditafsirkan dengan  baik  dan tepat dapat mendorong kemajuan bagi orang Islam, tanpa  orang Islam meniru bulat-bulat adat kebiasaan dan pola hidup Barat. Golongan  intelektual semacam itu juga dikatakan  orang  Islam yang  tercabut dari akar agama  dan  budayanya,  dan  dengan demikian  telah  kehilangan pribadinya  di hadapan berhala-berhala paganisme modern Barat. Contoh paling menonjol cendekiawan seperti itu ialah Mustafa Kemal Ataturk dari Turki dan  Sir  Sayyid Ahmad Khan, pendiri Universitas Agra  di  New Delhi. Walaupun  memakai  label  Islam,   Universitas   Agra sepenuhnya universitas sekular. Tentang golongan ini Iqbal menulis sebagai berikut:

            Rahasia  kekuatan  Barat bukan dalam  nada  suling  dan gitarnya
            Pun tidak dalam  tari setengah bugil gadis-gadisnya
            Tidak pula dalam pesona kemolekan wanitanya
            Atau karena pamer buah dada dan baju tembus pandang

            Kekuatan Barat bukan pula karena sekularisme
            Pun kemajuannya tidak disebabkan memakai huruf Latin
            Kekuatan Barat terletak pada ilmu dan seninya
            Lampunya menyala terang oleh filsafat dan sastranya

            Pengetahuan tak tergantung pada corak pakaian
            Kopiah tak merintangimu mendapat pengetahuan

            Selain dilatar belakangi keprihatinan terhadap  keadaan masyarakat  Asia  yang terpuruk di bawah  sistem  pemerintahan kolonial, kesadaran akan Renaisans Asia juga dilatarbelakangi oleh akibat semakin intensnya interaksi kebudayaan Asia dengan kebudayaan  Eropah. Interaksi yang semula berjalan  wajar  dan seimbang itu pada akhirnya membuat dominasi kebudayaan  Eropah semakin besar dan kebudayaan Timur semakin terkubur. Di  sisi lain, baik di Eropah maupun di  Asia  sendiri, kian  intensnya interaksi  dua  kebudayaan  tersebut  memberi pengaruh  positif dengan munculnya kesadaran baru, bahwa  baik Timur maupun  Barat  perlu  saling  belajar  dan  melengkapi kebudayaannya   dengan   kebudayaan   lain.

           Kesadaran    ini mempengaruhi  perkembangan  intelektual di Barat. Salah satu pengaruhnya  di Eropah ialah semakin pesatnya kajian  terhadap kebudayaan Timur disertai penerjemahan dan  penyebar  luasan wacananya.  Hasilnya  yang positif ialah munculnya  berbagai gerakan  kebudayaan  yang diilhami oleh  ajaran  falsafah  dan kesusastraan Timur, khususnya India dan Persia. Di  antaranya  ialah romantisme Inggeris  pada  awal  abad   ke-19   yang dipengaruhi  oleh  spiritulitas Timur dan karya para  penyair klasik  Asia. Gerakan  lain yang juga menerima pengaruh  Timur  ialah gerakan Oriental (Ketimuran) yang muncul juga pada abad  ke-19 di  Jerman  dipelopori oleh Goethe,  seorang  filosof  penyair terkemuka yang dipandang sebagai Bapak Kebudayaan Jerman.

             Kedua gerakan  ini tidak  puas  terhadap  perkembangan kebudayaan   Barat  yang  dikuasai   semangat   rasionalisme, materialisme dan utilitarianisme. Gerakan romantik di Inggeris mengeritik  kecenderungan  masyarakat industri  yang  membuang spiritualitas  dari  kebudayaan, dan  mengucilkan  agama  dari kehidupan  sosial  dan politik. Begitu  pula  dengan  gerakan Oriental di Jerman. Gerakan  lain  yang muncul di kalangan  sastrawan  dan budayawan  ialah Weltliterature (Sastra Dunia),  yang  menolak faham nasionalisme  sempit (chauvinisme) yang  berkembang  di Eropah.  Faham tersebut melahirkan  bangsa  yang  etnosentris dalam segala lapangan kehidupan, termasuk  dalam penyusunan  wacana kebudayaan  dan  intelektual. Didorong oleh pengamatan  bahwa khazanah  kebudayaan  Timur  begitu  kaya  dan  indah,   serta didasarkan atas hikmah abadi dan universal yang terdapat dalam khazanah  kearifan Timur, mereka mempelopori  lahirnya  karya sastra yang menerobos batas geografis dan kebangsaan, di  mana di dalamnya hikmah Barat dan Timur dipertemukan dan dipadukan. Ini terlihat misalnya dalam karya Goethe West-oestlicher Divan (Pujian Timur-Barat).

             Di  Asia sendiri sambutan terhadap  wacana  intelektual dan   khazanah  kebudayaan  Asia  yang  kaya,   tidak   kurang hangatnya.  Kehangatan  sambutan itu seiring  dengan  sambutan mereka terhadap perkembangan intelektual dan kebudayaan Barat yang  dipacu  oleh perkembangan filsafat,  sains,  sastra  dan seni secara keseluruhan. Pertalian  pemikiran tokoh Renaisans Asia  dengan  kaum romantik  Eropah ialah dalam hal pengutamaan spiritualitas  di samping   sains   dan  falsafah   rasional dalam   memajukan kebudayaan.  Sebagaimana  kaum romantik Inggris  mereka  tidak puas  dengan  metode  empiris,  historis  dan  rasional  dalam melihat kenyataan, dan menghendaki agar metode intuitif diberi perhatian  sebab  metode ini begitu penting dalam  kehidupan. Iqbal menyebut  yang pertama sebagai  pendekatan  intelektual terhadap  kehidupan, dan yang kedua sebagai pendekatan  vital. Pendekatan  vital didasarkan atas keimanan dan  cinta.  Dalam istilah  Iqbal metode rasional dan empiris Sains dikaitkan  dengan akal (`aql), sedangkan metode intuitif  atau   iman dikaitkan dengan hati  (dil) dan cinta ilahi(`ishq).

Baca Juga:
IQBAL,PEMBARUAN PEMIKIRAN KEAGAMAAN (II)

About Author

Related Post