YURISTGAMEINIGAMEID101

FARIDUDDIN ATTAR (1145-1221 M)


WWW.SUFINESIA.COM | Fariduddin Attar merupakan salah satu sufi penyair Persia. Dia lahir di Nisyapur (Iran) sekitar 1145 M dengan nama lengkap Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim. Ayahnya merupakan seorang ahli kimia yang kaya raya. Pada awalnya, Attar sendiri dikenal sebagai saudagar minyak wangi yang pandai bercerita. Attar diberi gelar oleh para sufi sebagai "penyebar wangi dan Saitu al Salikin (cemeti orang-orang sufi).

Perjalanan hidupnya berubah pada suatu hari ketika di toko minyak wanginya yang besar datang seorang fakir tua renta yang tak berduit satu sen pun. Melihat fakir yang dikiranya akan mengemis itu `Attar segera bangkit dari tempat duduknya, menghardik dan mengusirnya agar pergi meninggalkan tokonya. Dengan tenang fakir itu menjawab, “Jangankan meninggalkan tokomu, meninggalkan dunia dan kemegahannya ini bagiku tidak sukar! Tetapi bagaimana dengan kau? Dapatkah kau meninggalkan kekayaanmu, tokomu dan dunia ini?” `Attar tersentak, lalu menjawab spontan, “Bagiku juga tidak sukar meninggalkan duniaku yang penuh kemewahan ini!”

Sebelum `Attar selesai menjawab, fakir tua renta itu rebah dan meninggal seketika. `Attar terperanjat. Sehari kemudian, setelah menguburkan fakir itu selayaknya, Attar galau dan menyerahkan penjagaan toko-tokonya yang banyak di Nisyapur kepada sanak-saudaranya. Dia pun mengembara ke berbagai negeri, Baghdad, Basra, Kufa, Mekah, Madinah, Damaskus, Khwarizm, Turkistan, dan India, Dia belajar di pemukiman para wali dan mengumpulkan tulisan-tulisan dari para sufi. Attar sempat berguru sufi pada Syekh Buknaddin, Abu Sa'id bin Abil Khair, dan Majd ud-Din Baghdadi selaku murid dari Najmuddin Kubra.

Adapun kita-kitab yang telah ditulis oleh Attar antara lain adalah: Attar menulis sekitar 114 kitab dalam bentuk bentuk prosa dan puisi. Beberapa kitabnya yang terkenal adalah Thadkira al-`Awlya (Anekdote Para Wali), Ilahi-namah (Kitab Ketuhanan), Musibat-namah (Kitab Kemalangan) dan Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) sebagai magnum opus-nya.

Attar mengalami akhir yang tragis. Pada usia 70-an tahun, dia wafat sebagai sahid, yakni terbunuh dalam pembantaian masal oleh pasukan Mongol pada era Hulagu Khan sekitar April 1221. Attar dimakamkan di tempat kelahirannya, Nishapur. Makammya dibangun oleh Ali-Shir Nava'i abad ke-16 dan direnovasi total pada masa Reza Shah pada 1940 M. Pada makam Attar dalam bahasa Persia tertulis:

“Di sini di taman Adn bawah, Attar menerbarkan wangi pada jiwa orang-orang sederhana. Inilah makam seorang yang begitu mulia sehingga debu yang terusik kakinya akan merupakan kolirium di mata langit; makam Syaikh Farid Attar yang terkenal, yang menjadi ikutan orang-orang suci; makam penebar wangi yang utama dengan nafasnya yang mengharumi dunia dari Kaf ke Kaf. Di kedainya, sarang para malaikat, langit bagai botol obat semerbak dengan wangi sitrun. Bumi Nisyapur akan terkenal akan terkenal hingga hari kiamat karena orang yang termasyhur ini”.

Saat Attar wafat, Rumi baru berusia 14 tahun. Bahkan Rumi kecil pernah bertemu dengannya. Attar memberikan sebuah kitab karyanya dan berkata: "Kau kelak akan menduduki posisi tinggi dalam tasawuf". Dari karya Attar, Rumi banyak belajar tentang kesufian. Itulah kenapa Rumi pernah bilang: "Attar telah melintasi tujuh kota Cinta, sementara kita masih di persimpangan salah satu jalannya. Attar adalah roh, Sanai matanya bersinar, Dan pada saat sesudahnya, Datanglah kita di kereta mereka". 

ADMIN

BACA JUGA