YURISTGAMEINIGAMEID101

DIMENSI SUFISTIK DALAM STILISTIKA PUISI “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” KARYA ABDULHADI W.M.

oleh: Ali Imron Al-Ma’ruf
FKIP & Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta
Sumber: TSAQAFA, Jurnal Kajian Seni Budaya Islam Vol. 1, No. 1, Juni 2012
___________________

Pendahuluan

Karya sastra yang menggelorakan perasaan cinta ketuhanan dan semangat profetik yang bermuara pada intensitas transendental turut meramaikan khazanah sastra Indonesia. Karya sastra yang dimaksud itu antara lain karyakarya Amir Hamzah (Pujangga Baru, 1930-an), beberapa karya Chairil Anwar (Angkatan 1945), Taufik Ismail (Angkatan 1966), Abdulhadi W.M, Danarto, Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Supardi Djoko Damono, M. Fudzoli Zaini (dekade 1970-an). Begitu pula, karya sastrawan generasi berikutnya seperti Hamid Jabbar, D. Zamawi Imron, Afrizal Malna, Emha Ainun Najib dan lain-lain yang dikatakan oleh Abdulhadi W.M (1985:v) sebagai sastrawan berkecenderungan sufisfik.

Bersama D. Zawawi Imron, Hamid Jabbar, Sutardji Caloum Bachri, dan Danarto, Abdulhadi W.M. pantas dicatat eksistensinya sebagai sastrawan sufistik. Banyak kritikus dan pengamat sastra Indonesia yang memandang Abdulhadi W.M. sebagai penyair Indonesia yang memiliki intensitas penghayatan keilahian (ketauhidan) dan religiositas tinggi. Terbukti dengan banyaknya karya religius yang dilahirkannya, di antaranya kumpulan puisi Meditasi (1971), Anak Laut, Anak Angin (1981), Sastra Sufi Sebuah Antologi (1985), Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber: Esai-esai Profetik dan Sufistik (1999), dan Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas (2004).

Di pihak lain, karya sastra merupakan karya imajinatif bermediumkan bahasa yang fungsi estetiknya dominan. Sebagai media ekspresi karya sastra, bahasa sastra dimanfaatkan oleh sastrawan guna menciptakan efek makna tertentu guna mencapai efek estetik. Bahasa sastra sebagai media ekspresi sastrawan digunakan untuk mencapai efek estetis, dalam hal ini berhubungan dengan style ‘gaya bahasa’ sebagai sarana sastra. Dengan demikian, plastisitas dan estetika bahasa menjadi penting dalam karya sastra.

Untuk mencapai efektivitas pengungkapan, bahasa sastra disiasati, dimanipulasi, dieksploitasi, dan diberdayakan seoptimal mungkin sehingga tampil dengan bentuk yang plastis yang berbeda dengan bahasa non-sastra. Itu sebabnya karya sastra di samping disebut dunia dalam imajinasi, juga disebut dunia dalam kata. Dunia yang diciptakan, dibangun, ditawarkan dan diabstraksikan dengan kata, dengan bahasa. Apa pun yang akan dikatakan pengarang atau diinterpretasikan oleh pembaca mau tak mau harus bersangkut paut dengan bahasa. Struktur novel dan segala sesuatu yang dikomunikasikan, demikian Fowler (1977:3), selalu dikontrol langsung oleh manipulasi bahasa pengarang.

Bahasa sastra berhubungan dengan fungsi semiotik bahasa sastra. Bahasa merupakan sistem semiotik tingkat pertama (first order semiotics), sedangkan sastra merupakan sistem semiotik tingkat kedua (second order semiotics) (Abrams, 1981:172). Bahasa memiliki arti berdasarkan konvensi bahasa, yang oleh Riffaterre (1978: 2-3) arti bahasa disebut meaning (arti), sedangkan arti bahasa sastra disebut significance (makna). Sebagai medium karya sastra, bahasa sastra berkedudukan sebagai semiotik tingkat kedua dengan konvensi sastra. Bagi Riffaterre (1978:1-2) karya sastra merupakan ekspresi tidak langsung, yakni menyatakan suatu hal dengan arti yang lain.

Sifat bahasa sastra dapat dilihat dari segi ‘style’ gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan bahasa yang digunakan secara khusus untuk menimbulkan efek tertentu, khususnya efek estetis (Pradopo, 1997:40). Keraf (1991:113) menegaskan, bahwa gaya bahasa disusun untuk mengungkapkan pikiran secara khas yang memperlihatkan perasaan jiwa dan kepribadian penulis. Gaya bahasa itu adalah cara yang khas dipakai seseorang untuk mengungkapkan diri pribadi (Hartoko dan Rahmanto, 1986:137).

Bahasa sastra memiliki ciri penting yakni ketaklangsungan ekspresi. Riffaterre (1978:1) menyatakan bahwa puisi (demikian juga fiksi, pen.) itu ekspresi yang tidak langsung. Menurut Riffaterre (1978: 2) ketidaklangsungan ekspresi itu disebabkan oleh tiga hal, yakni: penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning). Stilistika merupakan sarana sastra yang berfungsi penting dalam mengekspresikan gagasan secara tidak langsung melalui ketiga cara tersebut.

Dari pengamatan awal, dapat dikemukakan bahwa salah satu kekhasan bahasa puisi Abdulhadi W.M. sebagai sarana sastra dalam puisi-puisinya adalah pemanfaatan style ‘gaya bahasa’ yang khas Abdulhadi W.M.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah: (1) Bagaimana gaya kalimat dan citraan pada puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdulhadi W.M.?; (2) Bagaimana unsur sufistik dalam puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdulhadi W. M. tersebut. Adapun tujuan tulisan ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan gaya kalimat dan citraan pada puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdulhadi W.M.; (2) Mengungkapkan dimensi sufistik dalam puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdulhadi W.M.
Style dalam tulisan ini sesuai dengan objek kajiannya, sastra, diartikan sebagai ‘gaya bahasa’. Gaya bahasa adalah cara pemakaian bahasa dalam karangan, atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan (Abrams, 1981:190191). Menurut Leech & Short (1984: 10), style menyaran pada cara pemakaian bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang tertentu, untuk tujuan tertentu. Gaya bahasa bagi Ratna (2007:232) adalah keseluruhan cara pemakaian (bahasa) oleh pengarang dalam karyanya. Hakikat ‘style’ adalah teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang diungkapkan.

Style ’gaya bahasa’ merupakan salah satu unsur struktur karya sastra (Hawkes, 1978:18). Karenanya,  hubungannya dengan unsurunsur lainnya sangat koheren. Dalam struktur itu tiap unsur hanya mempunyai makna dalam hubungannya dengan unsur lainnya dan keseluruhannya. Style ’gaya bahasa’ merupakan sistem tanda tingkat kedua dalam konvensi sastra. Makna tanda tersebut ditentukan oleh konvensi sastra. Dengan demikian, untuk dapat memahami makna puisi secara total kita dapat mengkaji hubungan stilistika itu sebagai salah satu unsur yang membangun puisi tersebut dengan unsur-unsur lainnya secara keseluruhan.
Puisi memiliki hubungan yang erat dengan filsafat dan agama. Aminuddin (1987:115) menyatakan bahwa sebagai hasil kreasi manusia, puisi mampu memaparkan realitas di luar dirinya. Puisi adalah semacam cermin yang menjadi representasi dari realitas itu sendiri. Tegasnya, puisi akan mengandung empat masalah yang berhubungan dengan (1) kehidupan, (2) kematian, (3) kemanusiaan, dan (4) ketuhanan.

Berangkat dari pengertian itu, maka pada dasarnya puisi itu juga menggambarkan problema manusia yang bersifat universal, yakni tentang hakikat hidup, hakikat manusia, kematian, dan ketuhanan. Puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdulhadi W.M., terasa mengandung problema manusia tersebut terutama ketuhanan, lebih tepatnya hubungan manusia dengan Tuhan.

Ungkapan yang menyatakan, bahwa “Pada awal mula, segala sastra adalah religius” (Mangunwijaya, 1982:11), tampaknya bukan sekedar ungkapan klise. Ungkapan itu mengandung makna yang dalam. Lebih jauh dapat dikatakan, “Semua sastra yang bernilai literer selalu religius”. Religiusitas bukan berarti hanya sekedar ketaatan ritual, ibadah formal belaka, melainkan lebih dalam dan mendasar dalam pribadi manusia. Religiusitas lebih melihat pada aspek batin, dimensi “roh” yang ada di lubuk kalbu, riak getaran nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain karena menyangkut batiniah.
Singkatnya, religiusitas merupakan cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan perasaan manusiawi) kedalaman batin si pribadi manusia. Karena itu, religiusitas lebih dalam daripada agama yang tampak, lahiriah, formal, dan ritual.

Sekedar ilustrasi, jika seorang Muslim melakukan shalat lima waktu, hal itu bukanlah religius melainkan sekedar ketaatan formal. Akan tetapi, ketika seorang petani desa pada saat sepi meletakkan kayu jati miliknya di area pembangunan masjid tanpa memberikan identitas semata-mata memenuhi panggilan jiwa tauhidnya, itulah religius. Lagu-lagu qasidah atau lagu-lagu berirama Padang Pasir yang berbahasa Arab yang menyeru untuk melaksanakan rukun Islam, itu agamis. Adapun lagu “Tuhan” karya Taufik Ismail yang dilantunkan oleh Bimbo dengan liriknya yang menyentuh kalbu dan banyak dinyanyikan pula oleh orang Kristen, Katolik, Islam, dan Hindu, itu religius.

Abdulhadi W.M. (2004:1; 1985: vi-vii) menyatakan bahwa segi penting dalam pembicaraan sastra keagamaan mendalam atau sastra sufistik adalah segi profetiknya. Semangat profetik merupakan segi yang sentral, pusat bertemunya dimensi sosial dan transendental di dalam penciptaan karya sastra. Dimensi sosial menunjuk pada kehidupan kemanusiaan yang bersifat profan, sedangkan dimensi transendental menunjuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi, kekal, berpuncak pada yang gaib.

Dimensi kedua memberikan kedalaman pada karya, menopangnya dengan nilai-nilai kerohanian, membuat karya seni bersifat vertikal (simbol makhluk dan Sang Khalik).
Sastra sufistik adalah karya sastra yang di dalamnya dijabarkan paham-paham, sifat-sifat, dan keyakinan yang diambil dari dunia tasawuf. Ringkasnya, sastra sufistik adalah karya sastra bermuatan ajaran kesufian (Sudardi, 2001:1).

Dilihat dari segi isinya, menurut Sudardi (2001:11), karya sastra sufistik dibagi menjadi tiga, yakni: (1) Sastra sufistik yang berisi ajaran atau konsepsi sufistik biasanya dibahas tentang sifat-sifat Tuhan dan asal-usul manusia dalam hubungannya dengan penciptaan (Jawa: sangkan paraning dumadi: asal ciptaan pada pusat yang satu, Allah); (2) Sastra sufistik yang berisi ungkapan pengalaman pencarian Tuhan. Mencari dan menjumpai Tuhan adalah sesuatu yang pelik. Pengalaman itu terkadang tidak dapat dilukiskan melainkan hanya dengan simbol-simbol. Misal: cerita Dewa Ruci yang mengisahkan Bima dalam mencari air kehidupan (air pawitra), yang tidak lain simbol pergulatan manusia dalam menemukan hakikat hidup; dan (3) Karya sastra sufistik yang berisi ungkapan kesatuan dengan Tuhan. Peristiwa ini merupakan sesuatu yang sangat dinanti oleh para sufi. Namun, peristiwa ini merupakan pengalaman sangat pribadi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Pengalaman itu sering dilukiskan dengan simbol atau perumpamaan. Misal: perasaan sufi yang sangat bahagia ketika berjumpa dengan Tuhan diibaratkan sebagai seseorang yang berhasil menjumpai kekasihnya yang sudah lama dicarinya.

Sastra sufistik  menurut Abdulhadi W.M (1999:23) dapat juga disebut sebagai sastra transendental, karena pengalaman yang dipaparkan penulisnya ialah pengalaman transenden seperti ekstase, kerinduan, dan persatuan mistikal dengan Yang Transenden. Pengalaman ini berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis. Kuntowijoyo juga menyebut sastra semacam itu sebagai sastra transendental.

Pengalaman dan penghayatan estetik dalam usaha mencapai Tuhan, termasuk yang diekpresikan dalam karya sastra, pada puncaknya berimplikasi pada intensitas religiusitas. Ekspresi religiusitas itu menyentuh dunia spiritual dan transendental. Hal ini dapat dipahami jika dikaitkan dengan hadits, “Tuhan itu Mahaindah, dan Dia mencintai keindahan”. Adapun pengalaman estetik bertalian dengan keindahan yang sifatnya spiritual dan supernatural yang pada klimaksnya akan mampu menghubungkan makhluk dengan Sang Khalik (Al-Ma’ruf, 1990:72).

Membaca puisi-puisi sufistik, seakan-akan kita menyenandungkan cinta kepada Tuhan dalam pesona transendental. Pada gilirannya, cinta itu akan membawa pemahaman kepada hakikat kehidupan dan mengenal lebih dekat kehadiran Tuhan dalam peristiwaperistiwa kemanusiaan. Pada Ilahi, penyair sufistik melabuhkan cintanya. Sebab, cinta kepada Tuhan bagi mereka terasa sebagai yang terdalam dan paling merasuk dari segala jenis perasaan.

Metode Penelitian
Karya sastra merupakan sebuah struktur tanda yang bermakna. Oleh karena itu, untuk mengkaji stilistika puisi diperlukan teori dan metode yang mampu mengungkapkan tanda-tanda tersebut. Dalam pengkajian ini, pertama dilakukan pengkajian stilistika puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”yang meliputi gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, dan citraan. Setelah pengkajian stilistika dilanjutkan dengan pengungkapan makna stilistika puisi itu dengan memanfaatkan teori Semiotik.

Objek penelitian ini adalah stilistika puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdulhadi W.M. yang akan dikaji dengan teori Semiotik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, mengingat objek penelitiannya, yakni stilistika puisi merupakan data kualitatif, yakni data yang disajikan dalam bentuk kata verbal (Muhadjir, 1989:41), dalam bentuk wacana yang terkandung dalam teks puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Melalui metode ini, peneliti menentukan dan mengembangkan fokus tertentu, yakni pengkajian stilistika puisi tersebut, secara terus-menerus dengan berbagai hal dalam sistem sastra.

Cara kerja kualitatif dipilih karena penelitian ini memiliki karakter participant observation yakni peneliti memasuki dunia data yang ditelitinya, memahaminya, dan terus-menerus menyistematikkan objek yang ditelitinya, yakni stilistika puisi  “Tuhan, Kita Begitu Dekat”.
Data kualitatif merupakan sumber informasi yang bersumber pada teori, kaya akan deskripsi, dan kaya akan penjelasan proses yang terjadi dalam konteks (Miles dan Huberman, 1984). Data penelitian ini adalah unsur-unsur stilistika puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” berupa data verbal terdiri atas gaya kalimat dan citraan. Adapun sumber datanya ada dua. Pertama, sumber data primer yakni puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdulhadi W.M. Kedua, sumber data sekunder yakni berbagai pustaka yang relevan dengan objek dan tujuan penelitian, seperti buku, puisi, kritik sastra, al-Quran dan alHadits.

Sejalan dengan kajiannya, kajian ini dimulai dengan pendeskripsian berbagai fenomena kebahasaan sebagai wujud stilistika puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” dengan mengungkapkan latar belakang, fungsi, dan tujuan pemanfataan stilistika dalam puisi tersebut. Selanjutnya, analisis makna dilakukan dengan menggunakan metode pembacaan model Semiotik yang terdiri atas pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik (Riffaterre, 1978:5-6). Pembacaan heuristik adalah pembacaan menurut sistem semiotik tingkat pertama yakni pembacaan menurut konvensi bahasa. Pembacaan hermeneutik (retroaktif) adalah pembacaan berulang-ulang dengan memberikan interpretasi berdasarkan sistem tanda semiotik tingkat kedua sesuai dengan konvensi sastra. Dengan demikian puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” dapat dipahami arti kebahasaannya dan sekaligus makna (significance) kesastraannya.

Barthes (1973:193-195; lihat pula Hawkes, 1978: 131-133) menyatakan bahwa bahasa, wacana dan tuturan, baik yang bersifat verbal maupun visual, semuanya bermakna. Semiotik mengacu pada dua istilah kunci, yakni penanda atau ’yang menandai’ (signifier) dan petanda atau ’yang ditandai’ (signified).  Penanda adalah imaji bunyi yang bersifat psikis, sedangkan petanda adalah konsep. Adapun hubungan antara imaji dan konsep itulah yang disebut tanda.
Peirce (dalam Abrams, 1981: 170) membedakan tiga kelompok tanda, yakni: (1)  Ikon (icon) adalah suatu tanda yang menggunakan kesamaan dengan apa yang dimaksudkannya, misalnya kesamaan peta dengan wilayah geografis yang digambarkannya. (2) Indeks (index) adalah suatu tanda yang mem-punyai kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya, misalnya asap merupakan tanda adanya api.

Tuhan
(3) Simbol (symbol) adalah hubungan antara hal/sesuatu (item) penanda dengan item yang ditandainya yang sudah menjadi konvensi masyarakat. Misalnya, janur kuning merupakan tanda adanya upacara pernikahan sepasang manusia.

Hasil dan Pembahasan

Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu
Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya Aku arah dalam anginmu
Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai kain dengan kapas Aku kapas dalam kainmu
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Pada tahap pertama akan dikaji stilistika puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” yang difokuskan pada gaya kalimat dan citraan. Hal itu dilakukan berdasarkan alasan bahwa gaya kalimat dan citraan pada puisi karya Abdulhadi W.M. tersebut dipandang cukup dominan dalam mengekspresikan gagasan mengenai unsur sufistik yang terkandung di dalamnya. Setelah itu akan dikaji gagasan sufistik yang tersirat dalam puisi tersebut. Berikut dipaparkan puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”.

1.  Gaya Kalimat
Kepadatan kalimat dan bentuk yang ekspresif sangat diperlukan dalam karya sastra khususnya puisi. Hal itu mengingat bahwa dalam puisi hanya inti gagasan atau pengalaman batin yang dikemukakan. Hanya yang penting dan substansi saja yang dikemukakan dalam puisi. Oleh karena itu, hubungan antarkalimat dinyatakan secara implisit agar kalimatkalimat dalam baris puisi benarbenar padat, plastis, dan efektif dan imajinatif. Gaya kalimat demikian menurut Pradopo (2000:272) disebut gaya implisit.

Kepadatan kalimat dengan gaya impilisit juga terdapat dalam puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Sejak bait 1 hingga bait 4 kepadatan kalimat demikian terasa yterutama pada baris kedua, /Kita begitu dekat/. Kalimat pada baris kedua terdapat bagian kalimat yang diimplisitkan. Pada baris pertama bait 1, 2, dan 3, terdapat kata yang diimplisitkan yakni kata “Wahai” . Jadi sebenarnya baris pertama itu berbunyi (Wahai) /Tuhan/

Pada baris kedua itu bait 1, 2, dan 3 sebenarnya juga dapat disisipkan bagian kalimat “aku dan Kau Tuhan” dan “jaraknya” agar lebih jelas. Namun, sengaja bagian itu diimplisitkan agar kalimat lebih padat dan efektif. /Kita (aku dan Kau Tuhan) begitu dekat (jaraknya)/
Pemadatan kalimat dengan mengimplisitkan bagian kalimat tertentu pada puisi tersebut selain kalimat menjadi ringkas dan efektif juga mampu menciptakan suasana keakraban atau intensitas hubungan yang demikian “cair” antara si penyair dengan Tuhan, antara makhluk dengan Khalik. Pemadatan kalimat dengan gaya implisit itu membawa suasana sakral dan mistis. Suasana demikian hanya dapat dirasaklan oleh mereka yang benar-benar memiliki penghayatan spiritual dan transendental yang tinggi.

Dengan bentuk kalimat pendek dan gaya implisit itu maka baris kedua pada bait 1, 2, dan 3 terasa intens dan efektif. Lebih dari itu, kepadatan kalimat itu membawa makna khusus yakni intimitas (kemesraan) hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, makhluk dengan Sang Khalik. Intimitas hubungan manusia dengan Tuhan yang demikian akrab dan dekat semacam itu tidak dapat tercipta seandainya kalimat pada baris kedua bait 1, 2, dan 3 itu itu dibuat secara lazim atau biasa tanpa gaya implisit.

Wahai Tuhan

Kita, aku dan Kau Tuhan, begitu dekat jaraknya.Demikian pula kalimat pada baris ketiga bait 1, 2, dan 3 terdapat bagian kalimat yang diimplisitkan yakni “yang dapat diibaratkan”, “yang dapat diumpamakan”, “yang dapat digambarkan”. Namun, bagian ini sengaja tidak ditampilkan atau diimplisitkan agar kalimat terasa lebih padat dan efektif. Bahkan, dengan pemadatan itu kalimat terasa lebih ekspresif dan asosiatif dari segi maknanya. Jadi sebenarnya barias ketiga bait 1, 2, dan 3 itu dapat dibuat menjadi berikut ini.

Bait 1
................................
(yang dapat diibaratkan) /Sebagai api dengan panas/
Bait 2
...............................
(yang dapat diumpamakan) /
Seperti angin dan arahnya/
Bait 3
...............................
(yang dapat digambarkan)/
Sebagai kain dengan kapas/

Kalimat pada baris keempat bait 1, 2, dan 3 juga terdapat gaya implisit yakni dihilangkannya kata “adalah” setelah kata “Aku”. Dengan diimplisitkannya kata “adalah” pada kalimat baris ketiga bait 1, 2, dan 3 tersebut kalimat menjadi ekspresif, asosiatif, dan efektif.
Bait 1
.....................................
/Aku (adalah) panas dalam apimu/
Bait 2
.....................................
/Aku (adalah) arah dalam anginmu/
Bait 3
......................................
/Aku (adalah) kapas dalam kainmu/

Pada bait 4 pemadatan juga dilakukan penyair dengan mengimplisitkan bagian kalimat tertentu. Pada baris kesatu, sebenarnya terdapat kata “suasana” atau “kondisi” misalnya sebelum kata “gelap” tetapi kata tersebut sengaja diimplisitkan dalam kalimat itu. Dengan demikian kalimat pada baris kesatu menjadi efektif dan ekspresif.
Pada kalimat baris kedua bait 4 juga ada bagian yang dihilangkan yakni ksts “dapat” dan prefiks meN- pada kata “nyala”. Demikian pula pada kalimat baris ketiga pemyair mengimplisitkan bagian kalimat tertentu. Sebenarnya pada kalimat itu dapat ditampilkan kata “yang” dan “milik...”. Adanya pemadatan dengan gaya implisit itu kalimat pada bait 4 menjadi lebih intens, ekspresif, dan asosiatif.

Bait 4
/Dalam (suasana) gelap/
/Kini aku (dapat me-) nyala/
/Pada lampu (yang) padam (milik) -mu/
Dari kajian gaya kalimat di atas dapat dikemukakan bahwa dalam puisi karya Abdulhadi W.M. tersebut terlihat kalimat-kalimat mengalami pemadatan dengan gaya implisit. Pemadatan kalimat dengan gaya implisit itu tidak mengganggu hubungan antar kalimat melainkan justru menambah efektivitas kalimat dan menimbulkan efek makna khusus sekaligus mampu mencapai efek estetis.

2. Citraan
Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan penting untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca. Citraan merupakan kumpulan citra (the collection of images), yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indera yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun secara kias (Abrams, 1981: 78).

Citraan pada dasarnya terefleksi melalui bahasa kias. Dengan demikian, ada hubungan yang erat antara pencitraan dengan bahasa kias yang asosiatif dan konotatif. Cuddon (1979:316) menjelaskan bahwa citraan kata meliputi penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, dan setiap pengalaman indera yang istimewa.
Di tangan sastrawan yang pandai, demikian Coombes (1980: 42), imaji itu segar dan hidup, berada dalam puncak keindahannya untuk mengintensifkan, menjernihkan, memperkaya; sebuah imaji yang berhasil membantu orang merasakan pengalaman penulis terhadap objek atau situasi yang dialaminya, memberi gambaran yang setepatnya, hidup, kuat, ekonomis, dan segera dapat dirasakan.

Citraan lazimnya lebih mengingatkan kembali daripada membuat baru kesan pikiran sehingga pembaca lebih terlibat dalam kreasi puitis (Altenbernd, 1970:13). Pembaca akan lebih mudah menanggapi hal-hal yang dalam pengalamannya telah tersedia simpanan imaji-imaji yang kaya. Di sinilah citraan dalam karya sastra berfungsi menghidupkan imaji-imaji yang ada dalam pikiran pembaca.

Dalam puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung. Pada bait 1 penyair memanfaatkan citraan visual (penglihatan) dalam melukiskan kedekatan hubungannya dengan Tuhan. Keakraban, kedekatan, dan intimitas hubungan antara penyair dengan Tuhan, makhluk dengan Khalik dilukiskan dengan memanfaatkan simbol-simbol yang lazim dalam kehidupan alam. Dalam hal ini memanfaatkan kata dengan realitas alam “api dengan panas”. Citraan itu diciptakan dengan menggunakan bentuk majas simile pada baris ketiga dan majas metafora pada baris keempat.

Bait 1
Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu

Untuk melukiskan kedekatannya dengan Tuhan pada bait 2 penyair menggunakan kata-kata dengan objek realitas alam untuk menghidupkan citraan intelektual (intellectual imagery) pembaca. Kedekatan antara makhluk dengan Khalik,  penyair dengan Tuhan, dilukiskan “seperti angin dan arahnya”. Citraan ini menggugah imaji pemikiran pembaca dalam merasakan pengalaman spiritual penyair dalam hal ini keakrabannya dengan Tuhan. Dengan citraan dalam bentuk majas simile (baris ketiga) dan metafora (baris keempat) itu pembaca lebih mudah membayangkan suasana akrab yang terbangun antara penyair dengan Tuhan.

Bait 2
Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya Aku arah dalam anginmu

Penyair juga memanfaatkan citraan visual pada bait 3 dengan memanfaatkan bahasa kias dalam majas simile dan metafora sekaligus. Hubungan yang demikian dekat antara penyair dengan Tuhan dilukiskan dengan menghidupkan imaji visual dalam diri pembaca. Bentuk “Sebagai kain dengan kapas” lebih mudah melukiskan kedekatan antara manusia dengan Tuhan yang sangat intens daripada menggunakan bahasa biasa.

Bait 3
Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai kain dengan kapas Aku kapas dalam kainmu

Pada bait 4 dalam puisi itu penyair juga memanfaatkan citraan visual. Penyair kembali menciptakan citraan visual dengan menggunakan bentuk majas metafora dalam bait 4 ini. Citraan dengan bentuk majas metafora itu lebih mudah menghidupkan imaji visual pembaca dalam melukiskan keakraban dan keintiman penyair dengan Tuhan daripada bahasa biasa. Dengan citraan visual itu imaji yang ada dalam diri pembaca menjadi lebih mudah merespons dan merasakan pengalaman religius penyair, dalam hal ini intimits hubungannya dengan Tuhan.

Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Pemanfaatan citraan dalam puisi tersebut mampu menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang dirasakan oleh penyair, menghayati pengalaman religius penyair. Seandainya penyair menggunakan bahasa biasa kiranya tidak mudah bagi pembaca untuk membayangkan apa yang dirasakan penyair, terlebih pengalaman religius yang bersifat batiniah. Demikian intensif pemanfaatan citraan dalam puisi itu.


Dimensi Sufistik dalam Puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”

Makna karya sastra merupakan formulasi gagasan-gagasan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Mengacu teori Semiotik, karya sastra merupakan sistem komunikasi tanda. Oleh karena itu, apa pun yang tercantum dalam karya sastra merupakan tanda yang mengandung makna yang implisit di balik ekspresi bahasa yang eksplisit.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka stilistika puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” dapat dipandang sebagai gejala semiotik atau sebagai tanda. Sebagai tanda, karya sastra mengacu kepada sesuatu di luar dirinya (Riffaterre, 1978:1).

Bahasa sastra yang terformulasi dalam stilistika merupakan ”penanda” yang menandai sesuatu, dan sesuatu itu disebut ”petanda”, yakni yang ditandai oleh “penanda”. Makna karya sastra sebagai tanda adalah makna semiotiknya, yakni makna yang bertautan dengan dunia nyata (Siti Chamamah-Soeratno, 1991:18).

Dengan memanfaatkan metode pembacaan model Semiotik, gagasan dalam stilistika puisi 
“Tuhan, Kita Begitu Dekat” dapat diungkapkan sebagai berikut.

Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu
Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya Aku arah dalam anginmu
Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai kain dengan kapas Aku kapas dalam kainmu
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Secara keseluruhan, dari bait 1, 2, 3 hingga bait 4, puisi itu mengandung dimensi sufistik yang mendalam. Suasana kedekatan, keakraban, kemesraan antara penyair sebagai makhluk dengan Tuhan sebagai Sang Khalik terasa sekali. Bahkan, lebih dari itu keakraban dan intimitas hubungan yang begitu dekat antara penyair dengan Tuhan itu menunjukkan kecenderungan adanya ’kebersatuan’ atau ’penyatuan’ antara penyair sebagai manusia dengan Allah sebagai Tuhan. Dalam terminologi Islam suasana kedekatan dan kebersatuan antara makhluk dengan Khalik itu disebut ma’rifat, yakni suasana kebersatuan, intensitas keintiman dengan mengenal dan memahami hakikat Allah sebagai dzat tertinggi. Suasana keakraban dan kebersatuan makhluk dengan Khalik demikian yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang menghayati kedalaman tasawuf. Sebuah pengalaman religius yang ditunggu-tunggu oleh para sufi. Apa yang dirasakan oleh penyair kemudian diekspresikannya dalam bentuk karya sastra puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Itulah yang dimaksud dengan “estetika sebagai ekspresi religiusitas”.

Religiusitas tidak sama dengan keagamaan. Agama (Din atau religi) adalah: (1) sistem kredo (tata keimanan atau keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia; (2) ritus atau tata peribadatan, yakni tata aturan dari Pencipta (Khaliq) untuk dijalankan oleh ciptaan-Nya (makhluq); dan (3) norma (tata kaidah atau aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam lainnya sesuai dengan tata keimanan dan tata peribadatan seperti termaktub di atas (Anshari, 1976:32-33). Dengan demikian agama itu meliputi aqidah, ibadah, dan muamalah.

Sebagai sastrawan santri atau ’kaum sarungan’, penghayatan religiositas Abdulhadi W.M. terasa sekali dalam puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Puisi itu mampu menunjukkan bahwa penyair bukan hanya sastrawan santri melainkan sastrawan sufistik yang menghayati kedalaman tasawuf yang memiliki intensitas religiusitas.

Ungkapan pada keempat bait dalam puisi itu mengandung hakikat makna yang sama yakni kedekatan, keakraban, dan keintiman penyair dengan Tuhan, makhluk dengan Sang Khalik. Pada bait 1, 2, dan 3, baris kesatu dan kedua bahkan sama persis.

Tuhan Kita begitu dekat

Adapun baris ketiga dan keempat ekspresi stilistikanya bervariasi meskipun hakikat maknanya juga sama yakni kedekatan, keakraban, dan kentiman penyair dengan Tuhan. Bahkan, seolaholah antara penyair sebagai makhluk dan Tuhan sebagai
Khalik tidak ada jarak sama sekali.

Bait 1
....................................
Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu
Bait 2
...................................
Seperti angin dan arahnya Aku arah dalam anginmu
Bait 3
.....................................
Sebagai kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Ungkapan “Sebagai api dengan panas” dan “Aku panas dalam apimu” (bait 1), “Seperti angin dan arahnya” dan “Aku arah dalam anginmu” (bait 2), lalu “Sebagai kain dengan kapas” dan “Aku kapas dalam kainmu”, kesemuanya mengeskpresikan gagasan yang sama tentang kedekatan, keakraban, dan keintiman penyair dengan Tuhan. Hubungan “api dengan panas”, “angin dan arahnya”, lalu “kapas dengan kain” jelas tidak terpisah. Lebih jauh dapat ditafsirkan, bahwa esensi gagasan puisi itu adalah berpadunya dimensi insaniyah dengan dimensi Ilahiyah, bersatunya eksistensi manusia dengan eksistensi Tuhan.

Adapun bait 4, meskipun tidak dimulai dengan /Tuhan/ /Kita begitu dekat/, hakikat makna bait itu sama pula derngan bait-bait sebelumnya, yakni kedekatan, keakraban, dan keintiman penyair dengan Tuhan. Bahkan, dapat dinyatakan bahwa bait 4 merupakan konklusi atau substansi dari bait 1, 2, dan 3.

Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Ungkapan “Kini aku nyala” “Pada lampu padammu” menunjukkan semacam konklusi atau esensi dari keseluruhan puisi tersebut, yakni kedekatan, keakraban, dan keintiman penyair dengan Tuhan. Kata “nyala” dengan “lampu” merupakan dua kata yang esensi maknanya menunjukkan berpadunya eksistensi manusia dengan eksistensi Tuhan, kebersatuan antara makhluk dengan Khalik. Itulah penghayatan tasawuf penyair yang diekspresikan melalui puisinya.

Melalui puisi tersebut penyair menyampaikan kedalaman ajaran Tasawuf  yang mencerminkan berpadunya eksistensi manusia dan eksistensi Tuhan. Tasawuf adalah sebuah pemahaman dalam agama Islam yang berpandangan bahwa melalui perjalanan spiritual dengan tingkatan-tingkatan tertentu yang dikenal dengan empat maqam, yakni syari’at, thariqat, haqikat, dan ma’rifat, manusia akan dapat sampai pada penyatuan dengan Tuhan, yakni berpadunya dimensi Ilahiyah dengan dimensi insaniyah dalam diri manusia. Dalam hal ini aliran Tasawuf  Wahdatul Wujud agaknya menjadi pahamnya. Wahdatusy Wujud berpandangan bahwa manusia dapat menyatu dengan Tuhan dalam kejadian atau wujud, seperti yang dianut oleh Al-Hallaj atau di Indonesia Syeh Siti Jenar dengan pernyataanya yang terkenal Anaa al-Haq, yang artinya ’Saya adalah kebenaran’ dan ’kebenaran’ pada ungkapan itu adalah Tuhan (Nasution, 1985:72-73; Aceh, 1989: 57-58).

Paham lain yang berbeda dengan aliran tasawuf Wahdatusy Wujud adalah aliran WahdatusySyuhud yakni sebuah aliran tasawuf yang berpandangan bahwa Tuhan itu dekat dengan manusia, apabila Tuhan diseru, Dia akan memperlihatkan  Diri-Nya, dan Dia ada di mana saja  (Nasution, 1985:72-73). Bagi penganut Wahdatusy Syuhud manusia dapat menyatu dengan Tuhan dalam jarak terbatas (sangat dekat) atau dalam kesaksian, bukan dalam kejadian atau wujud (Aceh, 1989:57-58). Dalam praktik ketasawufannya, tarekat ini ditandai dengan menjalankan kewajibankewajiban agama, antara  lain tidak meninggalkan syari’at.

Jika dianalisis dengan pendekatan Interteks, puisi tersebut dapat dirunut kemungkinan hipogram (latar penciptaan puisi) yang menjadi sumber inspirasinya yakni pada ayat al-Quran. Jika dicermati penggunaan imaji atau pemilihan simbol dan tematiknya, tampaknya bukan tidak mungkin bahwa puisi diilhami oleh ayat al-Qur’an. Tentu saja dalam hal ini Abdulhadi W.M. juga menggalinya dari sumber sastra yang sudah menjadi konvensi. Hal itu akan terasa sebagai kebenaran jika kita membaca alQuran Surat  Qaaf ayat 16. Ayat ini begitu estetik bunyinya, dan mendalam maknanya. Jassin (1978) menerjemahkan ayat tersebut menjadi berikut ini.

Kami telah ciptakan manusia Dan kami tahu apa yang dibisikkan Hatinya kepadanya. Kami lebih dekat kepadanya Dari urat lehernya.

Ayat ini terasa puitik, begitu estetik. Bukankah ayat ini dekat sekali dengan puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” tersebut, baik imaji atau simbolik maupun muatan tematiknya.
Dari analisis di atas makin jelaslah bahwa puisi “Tuhan, Kita Begitu
Dekat” bukan tidak mungkin mendapat inspirasi dari ayat suci alQuran. Dengan kata lain, merujuk teori Interteks sangat terbuka kemungkinan bahwa ayat al-Quran merupakan hipogram dari puisi tersebut.

Simpulan

Berdasarkan pengkajian stilistika puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” dan pengkajian maknanya dengan pendekatan semiotik dapat dikemukakan konklusi sebagai berikut. Pertama, stilistika dalam puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” memiliki keunikan yang khas Abdulhadi W.M. yang merupakan wujud individuasi penyair. Kekhasan tersebut antara lain ditunjukkan dalam pemadatan kalimat dan citraan. Pemadatan kalimat dilakukan dengan memanfaatkan gaya implisit. Gaya implisit itu tidak mengganggu hubungan antarkalimat melainkan justru menambah efektivitas kalimat dan menimbulkan efek makna khusus. Adapun citraan yang dimanfaatkan penyair dalam puisi itu adalah citraan visual dan citraan intelektual. Pemanfaatan citraan dalam puisi tersebut mampu menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Melalui citraan itu pembaca dapat menghayati pengalaman religius penyair. Seandainya penyair menggunakan bahasa biasa kiranya tidak mudah bagi pembaca untuk membayangkan apa yang dirasakan penyair, terlebih pengalaman religius yang bersifat batiniah.

Kedua, puisi karya Abdulhadi W.M. itu mengandung dimensi sufistik. Dalam hal ini, puisi itu sarat dengan gagasan tasawuf Wahdatul Wujud, yang menunjukkan berpadunya eksistensi manusia dengan eksistensi Tuhan, berpadunya dimensi insaniyah dengan dimensi Ilahiyah, bersatunya makhluk dengan Khalik. Itulah esensi puisi itu yakni hakikat dan ma’rifat dalam tradisi tasawuf yang dianut para sufi. Sekaligus puisi itu menunjukkan bahwa Abdulhadi W.M. merupakan salah satu sastrawan sufistik Indonesia.

Ketiga, ada kecenderungan kuat bahwa puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” memiliki hubungan intertekstual dengan al-Quran. Dalam hal ini, puisi itu merupakan karya transformasi yang dapat dirunut hipogramnya pada ayat alQuran surat al-Qaaf ayat 16. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa puisi itu merupakan karya seni yang memiliki nilai tinggi, yang berhasil memadukan dimensi sosial dan dimensi transendental, dimensi insaniyah dengan dimensi Ilahiyah.

Daftar Pustaka

Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Aceh, Abubakar. 1993. Pengantar Tasawuf. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 1990. “Dialog Religius dalam sajak ‘Nyala Cintamu’ Karya Anshari (Persia) dan Sajak Anak Laut, Anak Angin’ karya Abdulhadi W.M.” dalam Rethoric, Nomor 1 Tahun 1990.
Altenbernd, Lynd and Lislie L. Lewis. 1970. A Handbook for the Study of Poetry. London: Collier-Macmillan Ltd.
Aminuddin, M. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru dan Malang: YA3.
Atmazaki. 1993. Analisis Sajak Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung: Angkasa. Anshari, Endang. 1987. Kuliah Agama Islam. Bandung: Rosdakarya Barthes, Roland. 1973. Mythologies (Trans. Annette Lavers). London: Paladin.
Chamamah-Soeratno, Siti. 1991. “Hakikat Penelitian Sastra” dalam Jurnal Gatra Nomor 10/11/12. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.
Combes, H. 1980. Literature and Criticism. Harmondsworth, Midlesex: Penguin Books Ltd.
Cuddon, J.A. 1979. A Dictionary of Literary Term. Great Britain: W&J Mackay Limited.
Fowler, Roger. 1977. Linguistic and the Novel. London: Methuen & Co Ltd.
Hartoko, Dick & B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Hawkes, Terrence. 1978.Structuralism and Semiotics. London: Methuen.
Jassin, H.B. 1978. Al-Qur’anul Karim: Bacaan Mulia. Jakarta: PD Djambatan.
Keraf, Gorys. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Leech, Geoffrey N. & Michael H. Short. 1984. Style in Fiction: a Linguistics Introduction to English Fictional Prose. London: Longmann.
Mangunwijayam Y.B. 1982. Sastra dan Religiousitas. Jakarta: Sinar Harapan
Miles, M.B. and Huberman, A.M. 1984. Qualitative Data Analysis. California. Beverley Hills: Sage Pub.
Muhadjir, Noeng. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin. Nasution, Harun. 1991. Tasawuf. Jakarta: Bulan Bintang.
Pradopo, Rachmar Djoko. 1997. “Ragam Bahasa Sastra” dalam Humaniora Nomor 1 Tahun IV 1997.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. London: Routledge & Kegan Paul.
Sudardi, Bani. 2001. Tonggak-tonggak Sastra Sufistik Indonesia Petualangan Batin Manusia Indonesia Sepanjang Zaman. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
W.M., Abdulhadi. 1985. Sastra Sufi. Jakarta: Pustaka Firdaus.
_____. 1988. “Semangat Profetik dalam Sastra Sufi dan Jejaknya dalam Sastra Modern” dalam Horison Nomor 6, Juni 1988.
_____. 1999. Kembali ke Akar Kembali ke Tradisi: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik. Jakarta: Pustaka Firdaus.
_____. 2004. Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa. Yogyakarta: Mahatari.

ADMIN

BACA JUGA