YURISTGAMEINIGAMEID101

DUA TINGKATAN ZIKIR - IMAM AL-GHAZALI

Ada dua tingkatan zikir kepada Allah: 

Tingkatan pertama adalah zikir para wali yang seluruh pikirannya terserap dalam ingatan dan perenungan kepada Allah. Tak ada sedikit pun ruang dalam hati mereka untuk selain Dia. Ini tingkatan zikir yang lebih rendah, karena ketika hati manusia sudah mantap dan anggota tubuhnya telah terkendalikan oleh hatinya sehingga mereka bahkan menjauhkan diri dari laku yang dibolehkan, maka ia sama sekali tak membutuhkan sarana maupun pelindung dari dosa. Tingkatan inilah yang dimaksudkan oleh sabda Nabi saw. “Orang yang bangun di pagi hari dan hanya Allah dalam pikirannya maka Allah akan menjaganya di dunia maupun di akhirat.”

Sebagian pelaku zikir ini begitu larut dalam ingatan kepada-Nya sehingga mereka tidak mendengar orang yang berbicara kepada mereka, tidak melihat orang yang berjalan di depan mereka; tubuh mereka linglung seakan telah menabrak dinding. Seorang wali menuturkan bahwa suatu hari ia melewati tempat para pemanah sedang berlomba. Agak jauh dari situ, tampak seseorang duduk sendirian. “Aku mendekatinya dan mencoba mengajaknya berbicara, tetapi ia menjawab, ‘Mengingat Allah lebih baik daripada ngobrol.’ 

Aku berkata, ‘Tidakkah kau kesepian?’ 
‘Tidak,’ jawabnya, ‘Allah dan dua malaikat bersamaku.’ 
Sembari menunjuk kepada para pemanah aku bertanya lagi, ‘Mana di antara mereka yang menjadi pemenang?’ 

‘Orang yang telah ditakdirkan Allah untuk menang,’ jawabnya. 
Kemudian aku bertanya, ‘Dari manakah jalan ini berasal?’ 
Terhadap pertanyaan ini ia memandang lurus ke langit, kemudian bangkit seraya berkata, ‘Tuhanku, begitu banyak mahkluk-Mu yang menghalang-halangi orang untuk mengingat-Mu.’”

Syekh al-Syibli suatu hari mengunjungi al-Tsauri. Tiba di sana ia mendapati al-Tsauri sedang duduk tafakur sedemikian khusyuk sehingga tak satu helai rambut pun bergerak. Al-Syibli bertanya, “Siapa yang mengjarimu tafakur sedemikian khusyuk?” Al-Tsauri menjawab, “Seekor kucing yang aku lihat menunggu di depan lubang tikus. Dibanding keadaanku sekarang, ia bahkan jauh lebih tenang.”

Tingkatan kedua adalah zikir “golongan kanan” (ashhâbul yamîn). Mereka sadar bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka dan merasa malu di hadapan-Nya. Meski demikian, mereka tetap sadar dan tidak larut dalam pikiran tentang keagungan-Nya. Keadaan mereka seperti orang yang tiba-tiba terkejut mendapati dirinya dalam keadaan telanjang dan terburu-buru menutupi tubuhnya. Sementara kelompok tingkatan pertama seperti orang yang tiba-tiba mendapati dirinya di hadapan seorang raja sehingga ia kaget dan bingung. 

Kelompok tingkatan kedua selalu mewaspadai segala yang terlintas dalam pikiran mereka, karena kelak di Hari Perhitungan setiap tindakan akan dipertanyakan: kenapa, bagaimana, dan apa tujuan tindakan itu? Pertanyaan pertama diajukan karena setiap orang semestinya bertindak berdasarkan dorongan Ilahi, bukan dorongan setan atau jasad semata. Jika pertanyaan ini dijawab dengan baik, pertanyaan kedua mempersoalkan bagaimana tindakan itu dilakukan, secara bijaksana, ceroboh, ataukah lalai. Dan pertanyaan ketiga mencari tahu apakah tindakan itu dilakukan demi mencari rida Allah ataukah untuk mendapat pujian manusia. 

Jika seseorang memahami arti ketiga pertanyaan ini, ia akan memerhatikan keadaan hatinya dan akan selalu berpikir sebelum bertindak. Mengawasi setiap lintasan pikiran yang muncul memang pekerjaan yang sangat berat dan musykil. Orang yang tak mampu melakukannya mesti mengikuti bimbingan guru ruhani yang akan menerangi hatinya. Ia harus menghindari orang terpelajar yang hanya mementingkan dunia, karena mereka adalah pendukung setan. Allah berfirman kepada Daud a.s. “Wahai Daud, jangan bertanya tentang orang terpelajar yang telah dimabuk cinta dunia, karena ia akan merampok cinta-Ku darimu.” Dan Nabi saw. bersabda, “Allah mencintai orang yang cermat meneliti soal-soal yang meragukan dan yang tidak membiarkan akalnya dikuasai nafsu.” Nalar dan tugas pemilahan berkaitan erat, dan orang yang nalarnya tak mampu mengendalikan nafsunya tidak akan bisa mengawasi dan memilah pikiran serta tindakannya secara cermat.***

___

Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007.

ADMIN

BACA JUGA