YURISTGAMEINIGAMEID101

LAHIRNYA NEO-SUFISME

Kehadiran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan agar lebih bermakna dalam artian yang luas. Petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, al-Quran dan al-hadits, tampak ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, mengembangkan kepedulian sosial, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia, dan sikap positif lainnya.

Namun kenyataannya umat Islam jauh dari cita ideal tersebut. Dalam perjalanan sejarahnya, antara kedua dimensi penghayatan keagamaan tersebut sempat menimbulkan konflik antara ahli tasawuf dan ahli fikih, konflik antara ahli hakikat dan ahli syariat, konflik antara penganut ajaran esoterik dan penganjur ajaran eksoterik atau antara golongan Islam ortodoks dengan golongan Islam heterodoks. Hal ini terjadi terutama pada abad III H.[1] Selanjutnya dengan semakin berkembangnya tasawuf pada saat itu, lahirlah dua corak pemikiran tasawuf, yaitu corak tasawuf yang materi dasarnya bersandar pada al-Quran dan al-Sunnah, dengan ide gagasan pada pembentukan moralitas. Sementara corak yang lain adalah tasawuf yang materi dasarnya banyak bersumber dari filsafat.

Melihat kondisi seperti ini, tokoh sufi terkenal yaitu, al-Ghazali mencoba memformulasikan tasawufnya yang sengaja dirancang guna rekonsiliasi sufistik antara berbagai disiplin keislaman dan lembaga  tasawuf yang semakin senjang. Namun usaha ini belum mampu mengembalikan misi dan pesan dasar tasawuf secara total sebagai pendorong  gerakan moral dan  ruh  Islam yang berkarakter damai dan harmonis. Hegemoni lembaga-lembaga tasawuf justru banyak mengubah dimensi spiritual-moral-sosial kepada dimensi spiritual-mistik-individual, selalu mempraktekkan sikap ‘uzlah yang bertujuan melakukan pembersihan jiwa dengan cara menjauhi kehidupan dunia.[2] Hal ini secara tidak langsung dapat menyebabkan umat Islam menjadi apatis terhadap kehidupan dunia, lupa akan tugas sebagai khalifah di bumi dan menghindar dari tanggung jawabnya sebagai makhluk sosial. 

Maka terjadilah ketimpangan, yang mana penekanan pada aspek esoteris semata membuatnya menjauhi hal-hal yang bersifat keduniaan dan cenderung lebih mementingkan urusan akhirat, yang didapat hanya kesalehan individual semata, bukan kesalehan sosial. Menurut Hamka, hal ini menyebabkan umat Islam menjadi lemah dikarenakan cukup lama menjauhi dunia, ketika hendak berkurban, tidak ada yang hendak dikurbankan, berzakat juga tidak mampu karena tidak ada harta untuk dizakatkan. Ketika manusia lainnya telah maju dalam bidang kehidupan dunia, umat Islam statis karena telah mengambil sikap menjauhi kehidupan dunia.[3]


Menghadapi realitas ini, pada awal abad XX, lahir pemikiran baru yang menginginkan tasawuf tidak berpola seperti yang telah diuraikan di atas, dalam pandangan mereka tasawuf harus positif dalam memandang kehidupan dunia, tidak boleh menjauhinya dan justru harus berperan aktif di dalamnya. Pemikiran ini terinspiratif dari ulama besar Abad Pertengahan Ibnu Taimiyah yang telah secara intens memberikan perhatian terhadap permasalahan umat dan agama, termasuk di dalamnya masalah tasawuf. Lalu dipopulerkan Rahman dengan istilah Neo-Sufisme. Gejala ini juga bisa dikatakan sebagai pembaruan dalam dunia sufisme, menurut Azra hal ini terjadi akibat berbagai permasalahan agama, sosial, politik, ekonomi dan budaya yang kompleks. Selain itu keadaan ekonomi yang mapan mendorong umat Islam tidak hanya beribadah namun mengeksplorasi pengalaman keagamaan dan spiritualitas yang intens dan hanya didapat dari sufisme yang tidak selalu sesuai dengan paradigma dan bentuk tasawuf konvensional.[4] Dengan demikian perlu diketengahkan dalam tulisan ini mengenai konsep Neo-Sufisme, sebab ide terpenting dari Neo-Sufisme adalah tawazun atau keseimbangan, yaitu keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, antara kesalihan individu dan kesalihan sosial.

Neo-sufisme terdiri dari dua kata neo dan sufisme. Neo berarti sesuatu yang baru atau yang diperbarui.[5] Sedangkan sufisme berarti nama umum bagi berbagai aliran sufi dalam agama Islam. Dengan demikian, neo-sufisme dapat diartikan bentuk baru sufisme atau pembaruan sufisme dalam Islam. Menurut Fazlur Rahman selaku penggagas istilah ini, neo-sufisme adalah Reformed Sufism, sufisme yang telah diperbarui.[6] Neo-sufisme secara singkat dapat dikatakan sebagai upaya penegasan kembali nilai-nilai Islam yang utuh, yakni kehidupan yang berkeseimbangan dalam segala aspek kehidupan dan dalam segi ekspresi kemanusiaan.8 

Dengan alasan ini pula dapat dikatakan, bahwa yang disebut neo-sufisme itu tidak seluruhnya barang baru, namun lebih tepatnya dikatakan sebagai sufisme yang diaktualisasikan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat sesuai dengan kondisi kekinian. Seperti apa yang dikemukakan Burhani, Neo-Sufisme dalam terminologi Fazlur Rahman atau tasawuf modern dalam terminologi Hamka berusaha tetap mempertahankan hasil-hasil positif dari modernisme dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang terdapat padanya. Ia berpegang pada pepatah khudz ma shafa, da’ ma kadara (ambil yang baik dan buang yang buruk). Atau dalam istilah ushul al fiqh dirumuskan dengan al-muhafadzah ‘ala al- qadim alshalih wal-akh’dzu bil-jadid al-ashlah (mengadopsi hasil-hasil capaian generasi lama yang baik dan membangun capaian baru yang lebih baik.[7]   

___
Sumber: Otoman, "Pemikiran Neo-Sufisme", Jurnal Tamaddun,  Vol 13 No 2 (2013)

Endnote:
[1] Amin Rais, Islam dan Pembaharuan, (Jakarta : Rajaprasindo, 1995), hlm. vii
[2] http://elbaruqy.blogspot.com//filsafat-tasawuf.html
[3] Hamka, Tasawuf Modern, (Jakarta: Panji Mas, 2007), hlm. 16
[4] Martin dan Julia, Urban Sufism, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), hlm. v
[5] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (edisi III), (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 779
[6] Fazlur Rahman, Islam, (terjemahan) Ahsin Muhammad, (Jakarta: Pustaka Bandung,1984), hlm. 78-79 
[7] Ahmad Najib Burhani, Sufisme Kota, Berpikir Jernih Menemukan Spiritualitas Positif, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001), hlm. 171-172

ADMIN

BACA JUGA