YURISTGAMEINIGAMEID101

MENEMUKAN KESUCIAN DI BALIK KESUNYIAN

oleh Moh. Ali Tsabit


Dalam sajaknya “Sunyi itu Duka” Amir Hamzah memberikan pengertian tentang sunyi.

Sunyi itu duka 
Sunyi itu kudus 
Sunyi itu lupa 
Sunyi itu lampus

Larik sajak tersebut merupakan manifestasi dari olah pikir Amir Hamzah dalam mendefinisikan kesunyian. Salah satunya ialah sunyi yang identik dengan getir, gundah, dan luka. Oleh karena itu, pengertian sunyi di titik ini cenderung berkait-kelindan dengan segala hal ihwal yang sifatnya ironi. Bangsa Indonesia setidaknya pernah mengalami babakan sejarah yang anti terhadap hiruk-pikuk. Kekuasaan disetel sedemikian rupa untuk menyensor segala aktivitas kehidupan masyarakat. Sejarah berjalan secara monologis. Tidak ada keriuhan dan kebisingan karena semua dipaksa untuk diam.

Konsekuensinya ialah terciptanya rezim antikritik. Seluruh elemen masyarakat didikte untuk mengikuti apa yang telah dititahkan. Titah itu diklaim sebagai “kebenaran” yang mau tidak mau harus dilaksanakan meskipun perih dan pedih mengiris kehidupan masyarakat. Inilah realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang berada di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru.

Arus kebudayaan dibelokkan untuk melegitimasi segala kebijakan yang diambil oleh rezim, termasuk dengan membungkam para penyair yang dianggap berisik. Namun, penyair merupakan orang pilihan yang di dalam dirinya tertera sifat pemberani. Meski berkali-kali dibungkam, ia tetap menolak patuh. Ia tidak sudi mendekam dalam kesunyian, ia harus bersuara. Penyair tidak mau menjadi bagian dari apa yang oleh seorang sosiolog Jean Boudrillard disebut mayoritas yang diam (silent majorities).

Para penyair menyadari bahwa Orde Baru akan memainkan kuasanya hingga aspek kebahasaan. Aspek-aspek terkecil pun selama bisa terjangkau oleh radar rezim akan terus dipaksa untuk patuh. Menyadari hal itu sejumlah penyair merepresentasikan puisi sebagai bentuk kekhawatiran dan ketakutan.

Di ruang ini,
Kunobatkan ketakutanku. Di menara ini,
Ku ikat hidup-hidup kehadiranku:
Begitu sunyi, terengguh oleh alam dan nasibku sendiri

Demikianlah Goenawan Mohammad berkata dalam sajaknya “Pariksit”. Di bawah kekuasaan tirani seperti itu yang harus dilakukan ialah membuat kritik sehalus mungkin. Karya sastra setidaknya mampu menghaluskan yang kasar, menyembunyikan yang tampak atau memultitarsirkan yang monotafsir agar kritik yang dilesatkan masih bisa tetap menderu hingga menemani detik-detik tumbangnya sang rezim.

Dengan sangat lugas sastrawan cum sejarawan, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan betapa perihnya dibungkam oleh rezim Orde Baru. Dalam bukunya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu ia memotret kehidupan yang begitu nelangsa di daerah pembuangan, Pulau Buruh. Pram merupakan contoh kecil dari anasir yang perlu disingkirkan. Buku tersebut merupakan sejenis memoar yang menceritakan elegi kehidupan Pram di pengasingan. Buku itu berisi surat-surat untuk anak-anaknya yang tidak pernah terkirim dan esai-esai yang digubahnya dari renungan terhadap realitas kehidupan yang mencekam.

Pada masa Orde Baru sunyi adalah duka. Kesunyian di sini ialah kengerian yang tersembunyi atau sejenis tragedi yang terusmenerus datang melanda, tetapi berusaha untuk terus ditutuptutupi. Orde Baru menjadi rezim pendamba kesunyian dan penolak segala kebisingan yang datang melalui kebebasan berekspresi. Jalan sunyi yang ditempuh Orde Baru tidaklah benar-benar sunyi karena di balik itu terendap sebuah gejolak dan gemuruh yang tak berkesudahan.

Riuhnya Kehidupan

Tumbangnya Orde Baru membuat kebebasan berpendapat tidak lagi disekat. Seturut dengan itu, wahana-wahana untuk berpendapat dan berekspresi pun kian menjamur. Titik baliknya ialah ketika teknologi informasi semakin canggih. Peradaban sunyi yang dulu digelar oleh Orde Baru dengan cepat terganti oleh hiruk-pikuk yang timbul pada era Refomasi. 

Nubuat yang dulu sempat disuarakan oleh seorang ilmuwan komunikasi Marshall McLuhan tentang desa yang mengglobal (global village) terbukti benar. McLuhan melontarkan ide semacam itu pada tahun 60-an. Pada waktu itu ide tersebut dianggap aneh dan terlampau radikal karena televisi dan radio jangkauannya masih terbatas dan internet pun belum ada. Desa global adalah sebuah konsep terkait perkembangan teknologi komunikasi yang diandaikan sebagai sebuah desa yang sangat luas dan besar.

Dalam tatanan kehidupan desa yang mengglobal (global village) pola penyebaran informasi semakin masif karena bisa diakses oleh semua orang. Komunikasi yang terjalin bukan sekadar interaksi individual, melainkan interaksi massa. Kejadian yang sedang terjadi di kota metropolitan Jakarta dengan hitungan per sekian detik bisa diakses oleh mereka yang berada di pelosok Pulau Madura.

Akan tetapi, ironisnya saat manusia tak mampu mengendalikan perkembangan teknologi informasi. Masih segar dalam ingatan kita tentang seorang laki-laki di Jagaskara, Jakarta membuat siaran langsung bunuh diri di akun media sosialnya. Pihak facebook mungkin tak akan sempat berpikir bahwa fitur siaran langsung yang diciptakannya akan berdampak buruk seperti itu.

Namun, itulah dampak jika yang diciptakan melampaui kehendak penciptanya. Barangkali cerita dalam novelnya Mary Shelley sangat tepat dijadikan tamsil. Viktor Frankeinstein tokoh dalam novel itu mencoba menghidupkan kembali orang mati dengan merakit ulang potongan-potongan organ manusia. Akan tetapi, yang terjadi dari uji coba selama di laboratorium tersebut justru monster meneror penciptanya.

Di samping itu, pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat kita terkepung oleh kesegeraan. Seolah-olah kita dituntut untuk terus mengikuti perkembangan terkini, entah itu perkembangan ekonomi, politik, style atau mode. Tak ada ruang bagi kita untuk menepi sejenak dari riuhnya pasaraya informasi.

Afrizal Malna dalam sajaknya “Abad yang Berlari” memekarkan kesadaran bahwa kita sedang dikepung oleh kesegeraan dan kecepatan.

dada yang bekerja di dalam waktu dunia berlari. dunia berlari
seribu manusia dipacu tak habis mengejar

Kecepatan dan kesegeraan membuat eksistensi manusia gampang terombang-ambing. Padahal, terkadang kecepatan perkembangan ekonomi, politik, mode atau style tidak sesuai dengan kemampuan manusia untuk menggunakan fungsinya. Kita dibawa untuk terus berlari oleh komoditas yang sedang berkembang atau oleh informasi yang sedang viral, bukan malah mengendalikan lajunya. Inilah “Abad yang Berlari” meskipun seribu manusia dipacu tak habis mengejar.

Belum lagi soal hoax atau berita bohong atau fitnah yang gampang diumbar di media sosial yang membuat garis antara kebenaran dan kepalsuan kian menipis. Dengan ujaran kebencian (hate spech), media sosial menjadi palagan untuk saling menghujat dan saling menyalahkan.
Kesunyian pada saat ini ialah sesuatu yang seolah-olah jauh karena hidup sedang dililit oleh kegaduhan, keramaian, dan kebisingan. 

Pesatnya teknologi informasi membuat sebagian masyarakat hanyut dan lebur dalam persoalan yang justru tidak berkenaan sama sekali dengan dirinya sendiri. Mereka terlibat debat kusir yang belum tentu memiliki signifikansi. Kehidupan publik kita surplus kebisingan dan defisit kesunyian. Semua ini terjadi saat batas dan jarak telah dilipat oleh kecanggihan teknologi informasi.

Kesunyian pun terasa lindap tertelan derasnya arus informasi yang hadir setiap detik. Naasnya, infomasi yang berjejal masuk dalam pikiran kita ialah informasi buruk mulai soal pembunuhan, pemerkosaan hingga kasus korupsi. Secara tidak langsung setiap hari kita memperbanyak jelaga dalam diri yang mengusik ketenangan dan kedamaian hidup.

Untuk itu, di saat suasana sedang genting, ramai dan gaduh, salah seorang investor Amerika, Warren Buffet menyarankan untuk berhenti membaca koran atau lebih tepatnya berhentilah sebentar bermedia sosial dan sejenak memilih jalan sunyi untuk menajamkan nalar dan menerangi mata hati.

Sunyi yang Kudus

Di tengah riuh-rendahnya kehidupan kita saat ini, mengkhidmati kesunyian merupakan jalan yang harus ditempuh agar bisa meluruhkan kegelisahan, kesumpekan dan kegaduhan yang melilit. Karena sunyi bukan sekadar duka seperti yang tergores dalam lembar sejarah Orde Baru, melainkan juga kudus yang dapat menyibakkan segala gundah yang sedang memasung diri.

Dalam banyak tradisi, kesunyian memiliki posisi yang agung. Setidaknya, di dalam kesunyian itu kita bisa melakukan refleksi, menafakuri hidup dan menguatkan konsentrasi. Lakulaku meditatif yang tersimpan di balik kesunyian ialah jalan keluar bagi kita yang sedang terhimpit oleh kegelisahan dan krisis eksistensial.

Dalam tradisi Jawa sudah sejak dahulu mendekam dalam kesunyian dikenal dengan nama semedi atau bertapa. Ada banyak cara yang dilakukan dalam bertapa, entah dengan pergi ke guagua, tinggal di puncak-puncak perbukitan atau berdiam diri di tempat-tempat ziarah yang disucikan di seantero Pulau Jawa. Tujuan mereka jelas ialah menyinari jiwanya dengan kebenaran hakiki agar hidup yang dijalani penuh dengan keselamatan.

Momen-momen kesunyian memberikan getaran rohani yang sangat luar biasa. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. saat khalwat di Gua Hiro. Dengan demikian, saat berkonsentrasi penuh dan merenung secara kuat, pancaran kebenaran gampang tertuang pada diri. Hanya dalam kesunyian, Tuhan sebagai bahasa kebenaran menemukan tempat dan hadir dalam hati. Sebagaimana kata Bunda Theresa, “Tuhan adalah kawan kesunyian. Pepohonan, bunga dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Lihat juga bintang, bulan dan matahari semua bergerak dalam kesunyian.”

Pada dimensi yang lain menempuh jalan asketis dan meditatif seperti itu berguna untuk menguatkan eksistensi dan mengintrospeksi diri. Syahdan, saat gelombang kepesatan teknologi informasi sedang menjadi-jadi, eksistensi kita tetap tegak dan tidak gampang terbawa arus bagaikan karang yang dihantam ombak. Pijakan kita jelas karena kita telah mampu membedakan antara yang artifisial dan yang substansial, atau anatara yang faktual dan yang fiktif.

Sementara seseorang yang hanya berkubang dalam gemerlap duniawi dan hiruk-pikuk kehidupan akan sangat kesulitan menemukan dirinya yang sejati. Melalui perilaku meditatif itulah kita mampu menekan keakuan yang cendrung egoitis dengan menemukan “aku” yang hakiki, yakni yang altruis, bijak, jujur, dan toleran.

Untuk itu, agar terbebas dari keriuhan yang terus-menerus datang menerjang dan demi mencapai sunyi yang kudus itu, Acep Zamzam Noor dalam sajaknya “Tak Kujanjikan” berkata,

“Segala yang gemerlap kujauhi semenjak mengenal sunyi
Yang membenamkan cahayanya di balik mimpiku
Lalu bercerita tentang pengorbanan, tentang keikhlasan
Yang segala-galanya bagi pecinta.”

Setelah merasakan sunyi yang kudus itu, seseorang akan teguh merawat jiwanya meski berada dalam keriuhan. Ia menjadi ngeli nanging ora keli ‘menghanyutkan, tetapi tidak terhanyut’. Pada titik ini memilih jalan sunyi bukan berarti selamanya mendekam di dalamnya, melainkan harus terjun kembali ke tengahtengah kehidupan yang disesaki keriuhan sembari menjadi suluh yang dapat mengatasi aneka persoalan yang sedang membelit masyarakat.

Mereka yang telah mencapai titik ini akan mengabdikan hidupnya semata untuk kepentingan umat manusia dan menjaga harmoni semesta. Kapasitas yang terkandung dalam dirinya bisa ditransformasikan dalam kehidupan sosialnya. Pemahaman seperti itu yang menurut Ki Hadjar Dewantara tertuang dalam semboyan mengaju-aju salira, mengaju-aju bangsa, mengaju-aju menungsa ‘membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan manusia’.

Mengakrabi kesunyian bukan berarti antisosial, tetapi sebagai titik pijak untuk berlaku luhur terhadap sesama. Soekarno misalnya menemukan ide dasar Pancasila justru saat berada dalam kondisi sunyi di Pulau Ende Nusa Tenggara Timur. Ia terus merenung di bawah pohon sukun memikirkan falsafah yang cocok untuk bangsa Indonesia hingga pada akhirnya ditemukanlah konsep dasar Pancasila. Demikian pula dengan sejumlah tokoh besar, seperti Mahatma Gandhi, Abdurahman Wahid alias Gus Dur, dan Mohammad Hatta yang teguh merawat ketenangan jiwanya dengan menempuh jalan sunyi yang kudus.

Dengan demikian, sunyi yang kudus dapat melahirkan kejernihan berpikir dan kearifan bertindak. Alhasil, merenung dalam kesunyian merupakan salah satu cara agar tidak gampang terprovokasi dan tetap tenang di tengah deru kecepatan informasi. Persoalannya, masihkah kita bisa mengkhidmati dan menemukan kesucian di baliknya?


Daftar Pustaka

Baudrillard, Jean. 1983. In the Shadow of the Silent Majorities. New York: Semiotext(e).

Hamzah, Amir 2008. Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat. 

Latif, Yudi. “Jalan Sunyi Pengorbanan” dalam Kompas 20 Desember 2016.

Malna, Afrizal. 2004. Abad yang Berlari. Jakarta: Omashore. McLuhan, Marshall 1964. 

Understanding Media: The Extension of Man. The MIT Press.

Setiadi, Tia. 2015. Petualangan yang Mustahil. Yogyakarta: Interlude.


___
Sumber: Menyelamatkan Bahasa Indonesia (Antologi Esai Karya Pemenang dan Karya Pilihan Lomba Penulisan Esai bagi Remaja Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017), Penyunting: Dwi Atmawati, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, 2017.

ADMIN

BACA JUGA