YURISTGAMEINIGAMEID101

MENGENAL ALLAH - IMAM AL-GHAZALI

Sebuah hadis Nabi saw. yang terkenal berbunyi “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Allah.” Artinya, dengan merenungi kan wujud dan sifat-sifatnya, manusia sampai pada sebagian pengetahuan tentang Allah. Mengingat banyak orang yang merenungkan dirinya tetapi tak juga menemu Tuhannya, berarti ada cara-cara tersendiri untuk menjalani perenungan itu. Kenyataan nya, ada dua metode untuk bisa sampai pada pengetahuan ini. Salah satunya terlalu musykil sehingga tak bisa dicerna kecerdasan biasa dan, karenanya, lebih baik tidak kita bahas di sini.

Metode lain adalah sebagai berikut. Jika seseorang merenungkan dirinya, ia akan mengetahui bahwa sebelumnya ia tidak ada, sebagaimana tertulis dalam Alquran: "Tidakkah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bukan apa-apa?" (Q. 76: 1)

Lalu ia akan mengetahui bahwa ia terbuat dari setetes air yang tak mengandung intelek, pendengaran, kepala, tangan, kaki, dan seterusnya. Jadi jelaslah, setinggi apa pun tingkat kesempurnaannya, ia tidak menciptakan dirinya, bahkan tak kuasa untuk menciptakan meski hanya sehelai rambut.

Betapa sangat tak berdayanya manusia ketika ia hanya berupa setetes mani! Jadi, sebagaimana telah dijelaskan, ia mendapati wujudnya sebagai miniatur atau pantulan dari kekuasaan, kebijakan, dan cinta Sang Pencipta. Jika semua orang pintar dari seluruh dunia dikumpulkan dan hidup mereka diperpanjang sampai waktu yang tak terbatas, mereka tak akan bisa memperbaiki sedikit saja dari struktur jasad manusia, yang paling kecil sekalipun. Keajaiban penciptaan manusia tampak dalam berbagai sisi, seperti kesesuaian antara geligi depan dan samping ketika mengunyah makanan, proporsi lidah di mulut, kelenjar air liur dan kerongkongan untuk menelan, dan berbagai organ lainnya yang begitu menakjubkan. Lihatlah pula struktur tangan dengan lima jarinya yang tak sama panjang—empat di antaranya punya tiga persendian dan jempol hanya punya dua—sehingga ia bisa dipergunakan untuk mencekal, menjinjing, atau memukul. Tidak mungkin manusia, secerdas apa pun ia, mampu membuatnya lebih baik lagi, misalnya dengan mengubah jumlah dan struktur jari-jari itu, atau dengan cara lainnya.

Lalu, jika ia memikirkan lebih lanjut mengenai hasratnya terhadap beragam makanan, penginapan, dan sebagainya, yang semuanya bisa didapatkan dari gudang penciptaan, ia akan menyadari bahwa kasih sayang Allah sama besarnya dengan kekuasaan dan kebijakan-Nya. Allah berfirman, “Rahmat-Ku lebih luas dari kutukan-Ku.” Dan sebuah hadis Nabi saw. menyebutkan bahwa kasih Allah lebih lembut daripada kasih seorang ibu pada bayinya yang sedang menyusu. Jadi, dengan mengenali penciptaan dirinya, manusia akan mengetahui keberadaan Tuhan. Dengan merenungi struktur tubuhnya yang menakjubkan ia menyadari kekuasaan dan kebijaksanaan Allah. Dan dengan merenung kan karunia yang berlimpah untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, ia akan menyadari cinta Allah kepadanya. Begitulah, mengenal diri menjadi kunci untuk mengenal Allah.
Bukan saja sifat-sifat manusia merupakan pantulan sifat-sifat Tuhan, melainkan keberadaan ruhnya pun dapat mengantarkan manusia pada pemahaman tentang keberadaan Allah. 

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Allah dan ruh manusia tidak terbatasi ruang dan waktu, gaib, tak terbagi, di luar definisi kualitas dan kuantitas, serta tak dapat dilekati oleh gagasan tentang bentuk, warna, atau ukuran. Manusia kesulitan untuk memersepsi bentuk hakikat-hakikat semacam itu yang berada di luar batasan kualitas, kuantitas, dan sebagainya, sebagaimana ia tak bisa memersepsi bentuk perasaannya sendiri, seperti marah, sakit, senang, atau cinta. Semuanya itu merupakan konsep pikiran yang tak dapat dimengerti oleh indra, sementara kualitas, kuantitas, dan batasan-batasan lainnya merupakan konsep indrawi. Sebagaimana telinga tak bisa mengenali warna atau mata mengenali suara, kita berada di sebuah ruang, tempat persepsi indrawi tak bisa dipergunakan untuk membayangkan kedua hakikat puncak itu, Allah dan ruh. Meski demikian, sebagaimana bisa kita lihat, Allah adalah pengatur jagat dan Dia—yang berada di luar batasan ruang dan waktu, kuantitas dan kualitas—mengatur segala sesuatu di alam semesta ini begitu sempurna. Seperti itu pulalah ruh mengatur jasad dan seluruh anggotanya sementara ia sendiri tak kasatmata, tak terbagi, dan tak beruang. Bagaimana mungkin sesuatu yang tak terbagi ditempatkan di suatu ruang yang terbagi. Dari sinilah kita bisa melihat kebenaran hadis Nabi saw.: “Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya.”

Setelah kita mengetahui sebagian esensi dan sifat-sifat Allah melalui perenungan terhadap esensi dan sifat-sifat ruh, kita akan memahami metode kerja, pengaturan, dan pendelegasian kekuasaan Allah kepada kekuatan-kekuatan malakut dan sebagainya dengan mengamati bagaimana kita mengatur kerajaan kecil dalam diri kita. Contoh sederhananya, seseorang ingin menulis nama 
Allah. Mula-mula keinginan itu terbetik dalam hati, kemudian dibawa ke otak oleh ruh-ruh vital. Bentuk kata “Allah” tergambar dalam relung otak, kemudian berjalan mengikuti jalur saraf dan menggerakkan jari-jari, yang kemudian menggerakkan pena. Begitu lah, nama “Allah” tergurat di atas kertas tepat seperti yang tergambar dalam otak penulisnya. Demikian pula, jika Allah menghendaki sesuatu, ia tampil di alam ruhaniah yang dalam Alquran disebut “Singgasana” (Arasy). Dari sana ia mengikuti arus spiritui al ke suatu alam yang lebih rendah yang disebut Kursi (almkursiy), kemudian bentuknya tampil di Lauh Mahfuzh; lalu, melalui peri antaraan kekuatanikekuatan yang disebut “malaikat”, bentuk itu mewujud dan tampil di atas bumi dalam bentuk tanaman, pohon, hewan, dan lainilain sebagai cerminan keinginan dan pikiran Allah, sebagaimana huruf-huruf yang tertulis mencerminkan keinginan yang terbetik dalam hati dan bentuk yang hadir di otak sang penulis.

Tidak seorang pun bisa memahami seorang raja kecuali seorang raja. Karena itu, Allah telah menjadikan tiap-tiap kita sebagai, katakanlah, seorang raja kecil, penguasa atas sebuah kerajaan yang merupakan tiruan dari kerajaan-Nya. Di dalam kerajaan manusia, singgasana Allah dicerminkan oleh ruh, malaikat oleh hati, Kursi oleh otak, dan Lauh Mahfuzh oleh perbendaharaan pikiran. Ruh—yang tak tertempatkan dan tak terbagi—mengatur jasad sebagaimana Allah mengatur jagat. Pendeknya, kepada kita diamanatkan sebuah kerajaan kecil, dan kita diwajibkan untuk mengaturnya secara saksama, tidak ceroboh apalagi semena-mena.
Sementara berkenaan dengan pengaturan Allah terhadap alam semesta, pengetahuan manusia terbagi ke dalam beberapa tingkatan. Ada tingkatan fisikawan yang, seperti seekor semut yang merangkak di atas selembar kertas dan mengamati huruf-huruf hitam yang tersebar di atasnya, hanya mengetahui bahwa penyebabnya adalah pena. Ada tingkatan astronom yang, seperti seekor semut dengan pandangan yang lebih luas, bisa melihat jari-jari yang menggerakkan pena. Maksud nya, ia tahu bahwa berbagai elemen semesta dipengaruhi oleh kekuatan bintang-bintang, tetapi ia tidak tahu bahwa bintang-bintang itu berada di bawah kekuasaan malaikat-malaikat. Jadi, karena perbedaan tingkat persepsi setiap orang, tak heran jika muncul perbedaan paham mengenai Sebab Pertama dari segala akibat. Orang yang tak pernah melihat ke balik dunia gejala adalah seperti orang yang menganggap budak sebagai raja. Memang hukum alam harus bersifat tetap, karena jika tidak, tak akan ada sains dan sebagainya; tetapi, menganggap budak sebagai majikan adalah kesalahan besar.
Selama kapasitas persepsi manusia berbeda-beda, perdebatan akan terus berlanjut. Keadaan itu bagaikan beberapa orang buta yang mendengar kedatangan seekor gajah di kota mereka dan kemudian pergi menyelidikinya. Pengetahuan hanya mereka dapatkan lewat indra peraba sehingga ketika seorang memegang kaki gajah, orang kedua memegang gadingnya, dan yang lain telinganya, tentu persepsi mereka tentang gajah akan berbeda. Orang pertama menyebut gajah sebagai sebuah tiang, orang kedua menyebutnya tabung yang tebal, dan yang lainnya menganggap gajah sebagai sesuatu yang lembut bak kapas. Setiap orang menjadikan bagian kecil yang dipersepsinya sebagai keseluruhan. Begitulah, fisikawan dan astronom menyamakan hukum-hukum yang mereka tangkap dengan Tuhan Sang Pembuat berbagai hukum. Kesalahan itu pulalah yang disimpulkan Ibrahim ketika ia berturut-turut berpaling kepada bintang, bulan, dan matahari sebagai objek sembahannya. Ketika menyadari kesalahannya dan mengetahui Dia yang menciptakan segala sesuatu, ia berseru: “Aku tidak menyukai segala sesuatu yang terbenam.” (Q. 6:76).

Ada sebuah contoh umum tentang betapa sering manusia salah menyimpulkan sebab kedua sebagai Sebab Pertama, yakni rasa sakit yang diderita manusia. Misalnya jika ada orang yang tak lagi tertarik pada urusan dunia, menjauhi pelbagai bentuk kesenangan, dan tampak tenggelam dalam depresi, dokter akan menyimpulkan: “Ia menderita melankoli dan harus diobati dengan anu dan anu.” Fisikawan akan berkata, “Ia menderita kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak akan sembuh hingga udara menjadi lembab kembali.” Dan berbeda lagi pendapat astrolog yang mengaitkan fenomena itu dengan konjungsi planet dan bintang-bintang. “Sejauh jangkauan kebijakan mereka,” kata Alquran. Sama sekali tak terlintas dalam pikiran mereka bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut: Yang Mahakuasa berkehendak mengurusi kesejahteraan orang itu, dan kemudian memerintah hamba-hamba-Nya, yakni planet dan elemen-elemen semesta lain, agar menciptakan situasi tertentu dalam diri orang itu sehingga ia berpaling dari dunia ke Pencipta nya. Pengetahuan tentang kenyataan ini merupakan mutiara paling berharga dari samudera pengetahuan yang diilhamkan. Dibanding mutiara itu, semua bentuk pengetahuan lain hanya seperti pulau-pulau di tengah lautan.

Memang pendapat ketiganya, yakni dokter, fisikawan, dan astrolog benar dari sisi cabang pengetahuannya masing-masing, tetapi mereka tak bisa melihat bahwa penyakit itu adalah, katakanlah, tali cinta yang digunakan oleh Allah untuk menarik para wali mendekat kepada-Nya. Tentang para wali ini Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi, “Aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku.” Penyakit itu sendiri adalah salah satu di antara bentuk-bentuk pengalaman yang menjadi sarana bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Allah, sebagaimana Dia berfirman melalui lisan Nabi saw.: “Penyakit-penyakit itu sendiri adalah hamba-hamba-Ku, dan semuanya bergantung pada keputusan-Ku.”

Penjelasan di atas memungkinkan kita memahami lebih dalam makna seruan yang sering diucapkan orang beriman, seperti “subhânallâh”, “alhamdulillâh”, “lâ ilâha illâ allâh”, dan “allâhu akbar.” Seruan terakhir, yang berarti Allah Mahabesar tidak berarti bahwa Allah lebih besar dari ciptaan, karena ciptaan adalah pengejawantahan-Nya, sebagaimana cahaya adalah pengejawantahan matahari. Tidak benar jika dikatakan bahwa matahari lebih besar dari cahayanya. Seruan itu berarti bahwa kebesaran Allah tak dapat diukur dan berada di luar kemampuan kognisi manusia dan bahwa kita hanya bisa membentuk suatu gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna tentang kebesaran-Nya. Jika seorang anak meminta kita menjelaskan nikmatnya kekuasaan dan memerintah, kita bisa katakan bahwa hal itu tidak berbeda dengan kesenangannya bermain bola dengan pemukulnya meski pada hakikatnya keduanya tidak sama kecuali bahwa keduanya termasuk dalam kategori “senang”. Jadi, seruan “allâhu akbar” berarti bahwa kebesaran-Nya jauh di luar batas kemampuan pemahaman kita. Lagi pula, pengetahuan tentang Allah yang tak sempurna seperti itu— sebagaimana yang bisa kita peroleh—bukan sekadar pengetahuan spekulatif, tetapi mesti disertai dengan penyerahan diri dan ibadah. Jika seseorang mati, ia hanya akan berurusan dengan Allah. Dan jika kita harus hidup bersama seseorang, kebahagiaan kita bergantung sepenuhnya pada seberapa besar kita mencintainya.



Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman.

About Author

Related Post