YURISTGAMEINIGAMEID101

NOVEL RELIGIUS

: Media Efektif Penyampaian Pesan Moral sebagai Modal Pembentukan Karakter Anak Bangsa

oleh Linda Rozie

Novel merupakan satu bentuk kreativitas bersastra yang sarat makna karena dapat disampaikan secara panjang lebar dan luas mendalam. Berbagai informasi, harapan, dan asa dapat diungkapkan oleh penulisnya ke dalam sebuah novel tanpa perlu rasa takut melampaui jumlah kata dan atau baris tertentu. Ekspresi apa pun mendapat ruang dan kesempatan yang sama dalam sebuah novel. Yang penting adalah pesan utama apa yang ingin disampaikan, kepada siapa pesan tersebut hendak penulis sampaikan, dampak apa yang penulis harapkan bagi penikmat karya tersebut ketika telah menjadi milik masyarakat, serta tepatkah pilihan dan rangkaian kata yang tertuang dalam karyanya sehingga kemanfaatan keberadaan karya sastra berupa novel benar-benar dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat, disadari atau tidak disadari.

Ketika persoalan yang berbau duniawi disampaikan, akan sangat sensitif serta berpeluang besar menyentil, bagi yang tersentil, pelakunya. Masalah korupsi, misalnya, dapat melukai para koruptor dan koruptorisme—istilahku untuk para pendukung koruptor—yang terlanjur nyaman bergelut dengan dosa berjamaah; masalah prostitusi riskan keributan karena melibatkan banyak aktor di dalamnya; masalah kekerasan dalam rumah tangga memerlukan pendekatan khusus karena tidak semua pelaku dan korban mau dan mampu membuka duka internal mereka; masalah ekonomi ibarat benang kusut yag sungguh sulit terurai karena akar persoalan yang tak kunjung ditemukan; masalah poligami yang mengatasnamakan pengikut sunah Rasul, “Itu mah interpretasi para suami yang centil,” kata Mamah Dedeh, menjadi pemicu darah tinggi sebagian besar kaum istri; masalah pendidikan yang mahal tentulah akan menoreh luka hati orang tua dan anak-anak yang sedang dalam ujian kemiskinan; masalah politik dan kriminalitas jika salah sasaran dan salah penafsiran hanya menambah panasnya dunia ini. Masih banyak lagi persoalan dunia yang dapat diangkat sebagai pokok persoalan sebuah novel yang ditawarkan kepada publik.

Apakah dengan diungkapnya persoalan tersebut dapat menjadi solusi peliknya kehidupan ini? Bagaimana dengan program pemerintah membentuk manusia berkarakter? Meskipun sudah tak hangat lagi, tetapi gelora menjadikan manusia Indonesia berkarakter masih tetap terasa hingga saat ini. Pada dasarnya, manusia berkarakterlah yang akan mencuci bersih negara ini dari berbagai noda yang mencederainya. Generasi tua dan generasi muda yang berkarakterlah yang akan membawa bangsa dan negara ini menjadi pewarna yang indah bagi dunia dengan prestasi yang menginspirasi. Karakter yang baik tentulah yang dimaksudkan. Ibarat pepatah bijak, tak semudah membalikkan telapak tangan. Demikian pula dengan membentuk karakter anak bangsa ini. 

Diperlukan pemikiran dan kerja keras oleh berbagai pihak. Sulit jika hanya mengandalkan pemerintah wa bilkhusus departemen tertentu. Semakin sulit pula jika hanya pihak orang tua atau keluarga yang melakukannya. Akan lebih baik dan mungkin lebih terasa hasilnya, jika ada sinergi yang baik antara keluarga, masyarakat, pemerintah sebagai motor penggeraknya, dan alim ulama ikhlas bersemuka meski tanpa imbalan rupiah apa lagi dolar.

Lalu, seiring berjalannya waktu, di dunia kesastraan yang penuh dengan inovasi kreativitas para novelis andal, lahirlah berbagai novel religius yang penuh dengan pesan keagamaan yang berpeluang berkontribusi dalam pembentukan karakter.

Ajakan ber-muhasabah, ber-tabayun, dan ber-islah terasa mendamaikan jiwa. Sesekali meresahkan kalbu yang belum istiqomah, jauh dari qonaah, apalah lagi tawakal ‘alallahi setelah ikhtiar maksimal tentunya. Ada pula yang berkisah tentang semangat berbasis Islami man jadda wa jada, man saaro ‘alaa darbi washola. Tak ada yang mustahil di dunia ini jika rida Allah yang menjadi pijakan melangkah senantiasa terjaga kebenarannya. Akan semakin kokoh jika pondasi hidup seorang anak manusia ditanamkan sedini dan seawal mungkin. 

Demikian yang diisyaratkan dalam agama yang kuanut. Pilihan yang tepat terhadap calon ayah dan ibu untuk anak yang akan dilahirkan adalah berpedoman pada empat kriteria, yaitu rupa/wajahnya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Jika ingin bahagia, pilihlah karena agamanya. Mengapa? Rupa secantik dan setampan apa pun tak akan mampu melawan tua. Harta sebanyak apa pun akan habis jika tak pandai mengelolanya. Keturunan sebaik, sehebat, dan setinggi apa pun derajatnya tetap tak bernilai jika tanpa didasari ilmu dan iman yang kuat. 

Nah, jika agama yang mendasari pilihan hati, insha Allah, karakter baiklah yang mengisi jiwa anak bangsa. Kebahagiaan hidup pun terbentang di depan mata. Dan jika ada yang diberi kesempatan mendapatkan sosok dengan empat kriteria tersebut, sungguh bonus terindah yang wajib diterima dengan ikhlas lalu disyukuri dan dinikmati secara baik. Pastilah tidak mudah berterima pada awal pembacaan. Akan tetapi, yakinilah bahwa malaikat takkan pernah salah alamat ketika membagi rezeki atau pun musibah kepada setiap makhluk.***

ADMIN

BACA JUGA