YURISTGAMEINIGAMEID101

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN SASTRA SUFI

Teori psikologi kepribadian telah berkembang pesat dalam psikologi modern dan memiliki teori dan konsep yang cukup banyak. Namun teori yang paling dekat dengan konsep kepribadian dalam psikologi Islami adalah teori psikoanalisis atau juga disebut psikodinamik. Teori yang dikembangkan oleh Sigmund Freud ini merupakan salah satu teori penting dalam awal perkembangan psikologi modern. Teori ini menyatakan bahwa struktur kepribadian manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu id, ego dan super ego. Id merupakan dorongan dasar yang menjadi penggerak dalam kehidupan manusia, yang terdiri dari berbagai keinginan dan hawa nafsu. Ego, atau ’diri’ merupakan dimensi kesadaran rasional yang merupakan jembatan manusia berhubungan dengan dunia luar. Ego ini berkembang sejalan dengan proses perkembangan pikiran (kognitif) manusia. Sementara itu super ego merupakan dimensi moralitas yang menjadi pemandu perilaku manusia. Dalam kehidupan sehari-hari ego senantiasa menghadapi pertentangan antara dorongan dasar dari id dan nilai-nilai moral dari super ego. 

Kajian psikologi Islam mengenai struktur kepribadian dasar manusia banyak berkaitan dengan konsep nafsu, akal dan hati. Istilah-istilah tersebut bisa dipadankan dengan id, ego, dan super ego dalam konsep psikoanalisis. Nafsu adalah id, akal adalah ego dan hati adalah super ego. Nafsu adalah aspek kebinatangan dalam diri manusia. Para sufi menggambarkan hawa nafsu sebagai  binatang buas, seperti anjing pencuri, rubah yang licik, kuda liar, bahkan ular atau naga. Dorongan aspek kebinatangan dalam diri manusia ini bersifat primitif. Dia seringkali menyusup dalam setiap perilaku manusia, meski manusia tersebut sering tidak disadari. Jalaludin Rumi menggambarkan:



Hawa nafsumu adalah ibu semua berhala; berhala benda benda adalah ular, berhala rohani adalah naga
Menghancurkan berhala itu mudah, mudah sekali; namun menganggap mudah mengalahkan nafsu adalah tolol
O, anakku, jika bentuk-bentuk nafsu ingin kau kenali bacalah tentang neraka dengan tujuh pintunya
Dari hawa nafsu setiap saat bermunculan tipu muslihat; dan dari setiap tipu muslihat seratus Firaun dan bala tentaranya terjerumus. [1]

Emha Ainun Nadjib, seorang penyair sufistik Indonesia kontemporer menggambarkan nafsu sebagai keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Dalam syair lagu yang berjudul Tak Sudah-sudah, yang dinyanyikan oleh kelompok Kyai Kanjeng yang dipimpinnya, Emha Ainun Nadjib berkata:

Ketika belum, kepingin sudah
Ketika sudah, kepingin tambah
Sesudah ditambahi, kepingin lagi Kepingingn lagi...lagi...dan lagi...
Rasa kurang, tak berpenghabisan
Kepada dunia, tak pernah kenyang
Itulah api yang menghanguskan
Itulah nafsu, Lambang kebodohan[2]

Sigmund Freud berpendapat bahwa dorongan dasar yang paling dominan dalam diri manusia adalah dorongan seksual dan dorongan agresif. Dua dorongan inilah yang melatar belakangi seluruh perilaku manusia. Meskipun tidak dalam bentuk yang asli, dorongan seksualitas dapat berubah bentuk (sublimasi) menjadi keinginan untuk memiliki, keinginan untuk menguasai. Barangkali inilah yang dikatakan oleh Rumi bahwa hawa nafsu itu menciptakan tipu muslihat dengan tujuan agar manusia mengikuti dorongan id dan melupakan peringatan super ego. Kalau Freud menganggap bahwa banyak perilaku manusia yang merupakan sublimasi dari dorongan id, maka Rumi juga mengatakan hal yang mirip seperti itu. Hanya saja Rumi menggunakan istilah tipu muslihat. Nafsu sering menipu manusia. Seringkali manusia melakukan suatu perbuatan seakan demi menolong orang lain atau demi kebaikan, tetapi sebenarnya ditunggangi oleh hawa nafsu. Oleh karena itu manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsu yang menutupi penglihatan sejati.

Meskipun tidak sesuai semuanya, konsep akal dalam sufisme  bisa disejajarkan dengan konsep ego dalam psikoanalisis. Seperti akal, ego berfungsi untuk mengendalikan dorongan id yang tidak sesuai dengan realitas. Misalnya, id membutuhkan dorongan seksual, maka ego tidak mengijinkannya karena kondisi realitas tidak memungkinan. Kalau id mendesak terus, maka ego akan terus berusaha mengekangnya karena ego mendapatkan pesan dari super ego bahwa hal itu tidak boleh. Disinilah kemudian sering terjadi pertentangan antara id dan ego.  Rumi juga menggambarkan pertarungan antara nafsu dan akal dalam metafora:

Dua ekor rajawali dan elang dalam satu sangkar:mereka saling mencakar...
Dalam setiap desah nafas kita, akal berjuang melawan godaan nafsu.
Keterpisahan dari Asal Sumber menyebabkan mereka terpuruk
Jika desahan nafas keledai telah kalah, akal akan menjadi Messiah
Sungguh akal dapat melihat setiap akibat, nafsu tidak
Akal adalah cahaya yang mencari kebaikan, Mengapa kegelapan nafsu dapat mengalahkannya?[3]

Sa’di, seorang sufi dari Persia, menggambarkan bahwa orang yang dapat mengendalikan hawa nafsu adalah orang yang mempunyai kekuatan yang sebenarnya. Orang-orang yang mengendalikan tali kekang nafsunya dari yang diharamkan berarti keberaniaannya telah melalui tokoh-tokoh perkasa seperti Rustam dan Samson. Budak hawa nafsu adalah musuh yang paling mengerikan bagimu. [4]

Sa’di juga menggambarkan diri manusia seperti sebuah kota yang mempunyai unsur kebaikan dan kejahatan yang selalu bertarung. 

Jiwa raga kita bagaimana kota yang mengandung kebaikan dan kejahatan.
Kau adalah rajanya dan akal adalah menterimu yang bijaksana
...nafsu dan menyia-nyiakan waktu adalah pencuri dan pencopet
Bila raja mengasihi orang jahat, bagaimana orang bijaksana bisa merasa tenteram?

Nafsu jahat, iri hati, kebencian bersatu padu dalam dirimu seperti darah dalam pembuluhnya. Jika musuh-musuhmu ini memperoleh kekuatan, mereka akan melawan perintah dan nasehatmu. Tak akan mereka melawan bila melihat betapa kerasnya akal.

Para perampok dan bajingan tak akan berkeliaran jika patroli polisi memadai [5]Ketika nafsu menguasai akal atau mendominasi ego, maka orang tersebut tidak dapat berpikir dan bertindak secara rasional. Dia akan mengembangkan berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang kurang sehat untuk membela diri sendiri. Mekanisme ini timbul ketika ego merasa terancam. Tujuannya tidak lain adalah  supaya ego merasa aman. Beberapa mekanisme pertahanan diri antara lain mekanisme represi, yaitu menekan berbagai hal yang tidak disukai atau keinginan yang tidak tersampaikan, ke dalam alam ketidaksadaran. Mekanisme penolakan, yaitu menolak mengakui suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Dalam mekanisme proyeksi,  seseorang melihat sesuatu yang ada di luar dirinya atau pada orang lain, padahal semua itu ada pada dirinya sendiri. Jalaludin Rumi menggambarkan adanya kecenderungan mekanisme proyeksi tersebut dalam puisi di bawah ini:

O pembaca, berapa banyak kejahatan yang kau lihat dalam diri orang lain yang tak lain adalah pantulan dari sifat-sifatmu yang terdapat dalam diri mereka Dalam diri mereka tampaklah semua dari dirimu: kemunafikan, kejahatan dan kesombongan
....
Bila kau telah sampai ke lubuk perigi sifat-sifatmu sendiri, maka kau akan mengetahui bahwa dosa apapun terdapat dalam dirimu sendiri. [6]

Mekanisme pertahanan diri yang sehat sangat dibutuhkan agar seseorang tidak mengalami keruntuhan pribadi ketika dirinya menghadapi persoalan. Tetapi ketika mekanisme pertahanan diri itu terlalu berlebihan, maka orang menjadi
terasing dan semakin jauh dari dirinya. Dia tidak akan bisa melihat kejelekan dan kelemahan diri karena semua itu dinisbahkan kepada orang lain. Maka sebagian besar Sufi sangat menekankan pentingnya seseorang untuk mengenal dirinya sendiri, karena orang yang telah mengenal diri sendiri maka dia akan mengenal Allah. Sunan Bonang, salah satu sufi dalam wali songo memberi nasehat kepada muridnya:

Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu[7]

Kemampuan untuk mengenal diri sendiri seperti yang dikemukakan para sufi di atas juga ditekankan dalam psikologi modern. Misalnya, dalam setiap training psikologis yang dilaksanakan, seorang trainer akan mengawali dengan permainan ‘who am I?’ dengan menggunakan teknik Jauhari window. Namun pada umumnya pemahaman diri yang dikembangkan psikologi modern hanya terbatas pada aspek sosial-psikologis, belum menyentuh sisi metafisikal dan transcendental. Akibatnya sering muncul istilah ‘psikologi untuk anda’. Artinya orang belajar psikologi untuk mempelajari orang lain, semsntara pengetahuan tentang dirinya diabaikan. Psikologi Islam semestinya dapat mengisi kekurangan tersebut.

Selain pengetahuan tentang diri yang sangat penting, psikologi modern juga perlu memahami konsep tentang ’hati’ dalam psikologi Islam. Istilah ini tidak merujuk pada hati secara fisik atau liver, tetapi hati nurani atau qolbu. Konsep hati memang ada kemiripan dengan konsep super ego dalam konsep psikoanalisa. Pada tahap tertentu memang hati nurani berisi nilai-nilai moral yang terinternalisasi dalam diri seseorang. Dalam pemikiran para sufi, makna hati jauh lebih luas dari itu. Hati inilah yang  merupakan pusat dari segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia. Dengan mengacu kepada sabda Nabi Muhammad saw, para Sufi mengatakan bahwa jika hati baik, maka baiklah seluruh tubuh manusia. Jika hati jelek maka jelek-lah seluruh diri manusia. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep psikologi modern, khususnya psikologi kognitif, yang menganggap bahwa segala sesuatu dalam diri manusia tergantung bagaimana proses berpikirnya. Orang-orang yang mengalami gangguan psikologis dalam pandangan psikologi kognitif, disebabkan oleh kesalahan atau kekeliruan dalam proses berpikir. Oleh karena itu terapi kognitif sangat banyak digunakan dalam psikologi modern saat ini. Konsep tentang hati dalam psikologi Islam merupakan sebuah alternatif pemikiran yang sangat penting untuk dipertimbangkan.

Keluasan konsep hati dibandingkan dengan konsep super ego, adalah karena dalam pandangan para sufi, di dalam hati inilah ruh manusia bersemayam, dan melalui hati inilah manusia dapat mencapai pengalaman langsung berhubungan dengan Allah. Muhammad Iqbal, seorang penyair sufistik dari Pakistan menulis: tempat matahari terbit, adalah lubuk terdalam hati kita[8]

Sementara itu Jalaludin Rumi, berkata;

Jadi, pasukan manusia berasal dari dunia ruh: akal adalah menteri dan hati adalah sang raja
Suatu ketika hati ingat negeri ruh. Seluruh pasukan kembali dan memasuki dunia keabadian[9]

Dengan demikian dapat dipahami bahwa meskipun konsep nafsu dalam beberapa puisi sufi mirip dengan konsep id dalam psikologi modern,  konsep ego mirip dengan konsep akal dan konsep ego dapat disejajarkan dengan konsep hati, tetapi semua konsep tersebut memiliki makna yang lebih luas. Dengan demikian konsep kepribadian dari psikologi Islam menjangkau dimensi yang tidak atau belum terjangkau oleh psikologi modern.


____
Sumber: Subandi, M.A, Konsep Psikologi Islam dalam Sastra Sufi. Jurnal Millah, Vol. X,  No. 1, Agustus 2010

Endnote:

[1] Abdul  Hadi W.M., Rumi: Sufi dan Penyair..., hal. 15.
[2] http://www.hotlyrics.net/lyrics/E/Emha_Ainun_Nadjib/Tak_Sudah_Sudah.html, diunduh 29 September 2010.
[3] William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran spiritual Jalaludin Rumi. Terj. M. Sadat Ismail dan Achmat Nidjam. (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001), hal. 50.
[4] Abdul Hadi W.M. 1985. Sastra Sufi: Sebuah Antologi…,  hal. 7.
[5] Ibid., hal.7.
[6] Abdul Hadi W.M., Sastra Sufi: Sebuah Antologi..., hal. 19.
[7] Abdul Hadi. W.M. “Sastra Pesisir Jawa Timur: Suluk-suluk Sunan Bonang” dalam http:// ahmadsamantho.wordpress.com/2007/05/22/sastra-pesisir-jawa-timur-suluk-suluk-sunan-bonang/. Diunduh. 10 Juli 2010.
[8] Abdul Hadi W.M. Sastra Sufi: Sebuah Antologi…, hal. 272.
[9] William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran spiritual Jalaludin Rumi…, hal. 58.

ADMIN

BACA JUGA