YURISTGAMEINIGAMEID101

PSIKOTERAPI SASTRA SUFI

Salah satu cabang psikologi yang terus berkembang sejak munculnya psikologi modern adalah bidang psikoterapi. Teori psikoanalisis yang dikembangkan Sigmund Freud tidak hanya membahas konsep kepribadian manusia, tetapi juga beberapa teknik psikoterapi, yang sekarang dimasukkan dalam kategori terapi aliran psikodinamik, yaitu terapi ini yang menekankan aspek ketidaksadaran. Terapi aliran humanistik menekankan aspek hubungan yang baik dengan sesama manusia. 

Sementara itu  aliran psikoterapi perilakuan (behavioristik) menekankan aspek proses belajar. Dikatakan bahwa berbagai bentuk gangguan jiwa disebabkan adanya kesalahan dalam proses belajar, sehingga untuk mengubahnya, orang harus melakukan proses ‘belajar kembali’ (re-learning). Teknik behaviorisme klasik saat ini telah berkembang menjadi terapi kognitif, yang menyatakan bahwa berbagai gangguan psikologis adalah disebabkan karena kesalahan berpikir. Misalnya, seorang yang mengalami gangguan depresi, ternyata karena dia terlalu banyak melihat sisi negatif dari semua peristiwa yang dialami dan mengabaikan sisi positif. Oleh karena itu untuk menghilangkan gangguan tersebut dia harus belajar memahami pengalaman-pengalaman tersebut dengan menggunakan frame work yang lain.

Sejumlah puisi para sufi memiliki unsur terapis yang sangat dalam, yang mampu merubah diri manusia menjadi lebih baik. Ketika orang menghadapi berbagai masalah, puisi-puisi tersebut dapat menjadi terapi yang efektif. Misalnya Jalaludin Rumi memberi nasehat pada orang yang sedang menghadapi berbagai permasalahan hidup. Menjadi manusia adalah menjadi wisma tamu. Setiap pagi datang dengan tamu yang baru. Kegembiraan, kesedihan, atau sifat buruk sedikit pengetahuan diri hadir sebentar sebagai tamu yang singgah tanpa perjanjian.

Sambut, dan jamulah mereka semuanya! Biarpun tamumu hanya sekerumunan nestapa yang melanda rumahmu dengan kasar dan mengangkut segala isinya, tetaplah temui setiap tamu dengan mulia. Bisa jadi ia sedang mengosongkanmu demi akan datangnya banyak kebahagiaan baru. Niat buruk, rendah diri, dengki, sambutlah mereka di pintu dengan tertawa, dan ajak mereka masuk. Bersyukurlah atas apa pun yang diturunkan untukmu, karena setiap tamu adalah utusan dari sisi-Nya, sebagai penunjuk jalanmu.[1]

Puisi di atas menggambarkan bagaimana orang bersikap menghadapi berbagai persoalan kehidupan: kesedihan, duka nestapa, keruwetan, atau bahkan kegembiraan dan kesenangan. Rumi menasehati supaya semua itu diterima dengan senang hati. Bahkan perlu disyukuri, karena semua membawa pesan dan hikmah tersendiri. Penerimaan, bahkan mensyukuri kesulitan yang dialami, merupakan salah satu teknik psikoterapi yang banyak disarankan para ahli. Dari perspektif terapi kognitif, merubah pikiran negatif menjadi pikiran yang positif dan rasional merupakan teknik yang banyak diterapkan untuk mengatasi depresi. Dalam terapi humanistik, menerima emosi negatif merupakan jalan yang paling baik untuk mengatasi dampak yang timbul. Bahkan dalam terapi aliran psikologi positif sekarang banyak dikembangkan teknik kebersyukuran (gratitude therapy). Orang dilatih untuk mensyukuri dan melihat sisi positif dari semua hal yang dialami. Dalam puisi yang berjudul Hikmah Kesengsaraan,  Rumi juga memberikan metode yang sama dengan melihat dampak jangka panjang dari penderitaan yang dialami.

Lihatlah buncis dalam periuk, betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan, merintih terus-menerus tiada henti, ”Mengapa engkau letakkan api di bawahku? Engkau membeliku: Mengapa kini kau siksa aku seperti ini? Sang istri memukulnya dengan penyedok. “Sekarang,” katanya, “Jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api. Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencianku; sebaliknya, inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup: kesengsaraan bukanlah penghinaan.[2]

Selain aspek psikoterapi secara umum yang dapat ditemukan dalam puisi Jalaludin Rumi di atas, konsep psikoterapi Islam dapat ditemukan dalam lirik puisi yang digubah oleh Sunan Bonang, yang sangat popular di masyarakat Indonesia, yaitu dalam lagu Tombo Ati (Obat hati):

Tombo ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

(Obat hati ada lima perkara
Yang pertama membaca al Qur’an dan memahami artinya
Yang kedua sholat malam laksanakanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang-orang sholeh
Yang keempat perut anda harus dikosongkan
Yang kelima dzikir malam kerjakanlah
Salah satunya siapa yang bisa melaksanakan
Semoga Allah memberkahi)

Kajian-kajian ilmiah ternyata banyak memberikan dukungan pada teknik terapi yang disarankan oleh Sunan Bonang di atas. Yang pertama, membaca Al Qur’an merupakan salah satu terapi religius yang penting. Muhammad Sholeh mengutip tulisan dari Malik Badri yang melaporkan hasil penelitian di Florida, Amerika Serikat. Penelitian itu berhasil membuktikan bahwa orang yang membaca atau orang yang mendengarkan bacaan Al Qur’an, ternyata menunjukkan perubahan emosi seperti penurunan depresi dan kesedihan, sebaliknya terjadi peningkatan rasa ketenangan. Selain itu juga terjadi perubahan-perubahan fisiologis seperti detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit yang berpengaruh pada kondisi tubuh seseorang[3]

Selain membaca Al-Qur’an, membaca puisi religius juga dapat menjadi terapi efektif.  Saloom[4] mengemukakan bahwa  beberapa psikoterapis di Iran mengajak kepada pasien mereka untuk membaca puisi karya para sufi, antara lain Rumi, Sa’di, Hafez, dan Omar Kayyam, khususnya puisi yang mengandung unsur motivasi dan harapan. Mereka mengklaim hasil yang positif dari terapi tersebut.

Aspek terapi shalat telah banyak dibahas oleh para ahli. Misalnya Sentot Haryanto mengungkapkan bahwa shalat memiliki aspek terapi relaksasi dan aspek meditasi yang dapat menenangkan perasaan.[5] Shalat juga berfungsi sebagai media katarsis untuk mengungkapkan berbagai persoalan yang mengganggu pikiran.[6] Selain itu juga memiliki pengaruh sebagai terapi auto sugesti yang dapat mempengaruhi diri secara positif dan terapi. 34 Sementara itu M.A. Subandi mengungkapkan berbagai pengalaman yang ditemui oleh orang-orang yang secara intensif melaksanakan dzikir, antara lain kesembuhan dari penyakit fisik maupun dari gangguan psikologis.[7]

____
Sumber: Subandi, M.A, Konsep Psikologi Islam dalam Sastra Sufi. Jurnal Millah, Vol. X,  No. 1, Agustus 2010

Endnote:

[1] http://peacefulrivers.homestead.com/Rumipoetry2.html. Diunduh 10 Juli 2010.
[2] http://syairsyiar.blogspot.com/, diunduh 10 Juli 2010.
[3] Muhammad Sholeh, Terapi Shalat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit, (Jakarta: Hikmah, 2006), hal. 104 .
[4] Saeed Shamloo, “Psychotherapy in Iran” dalam www.iranpa.org/pdf/007.pdf. Diunduh pada 7 Juli 2010.
[5] Sentot Haryanto, Psikologi Sholat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 76-86.
[6] Ibid., hal. 87. 34 Ibid., hal. 88.
[7] M.A. Subandi, Psikologi Dzikir: Studi Fenomenologi Pengalaman Transformasi Religius, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 88-90.

ADMIN

BACA JUGA