YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA SUFI SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN MORAL DALAM PENGAJARAN SASTRA

oleh: Hasrul Rahman 
(Universitas Ahmad Dahlan)


Pendahuluan
Sastra sufi lahir dari sebuah perenungan manusia yang pada dasarnya memiliki kerinduan terhadap Tuhan. Di dalam sastra sufi, bahasa yang digunakan tentunya berorientasi terhadap Islam. Dalam hal ini aspek ketuhanan pun menjadi hal yang paling ditonjolkan. Nilai-nilai kerohanian yang dimunculkan dalam sastra sufi lebih mengarah kepada pengalaman religius yang ditemui penyair. Lebih lanjut Lathief (2013:230) menegaskan sufi itu sendiri merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah setelah manusia itu beriman dan bertaqwa. Karena dengan modal beriman dan bertaqwa itulah terlahir perasaan cinta yang mendalam terhadap Tuhan.

Bertolak dari pemakaian katanya, sastra sufi menuntut adanya relevansi penulis dengan hasil karyanya, sedangkan sastra mistik dapat hanya berorientasi pada karyanya, tanpa ada konsekuensi bahwa si penulis harus sebagai pelaku kegiatan mistik atau “mistikus”? dalam “pembukaan” Adam Makrifatnya Danarto dapat pengakuan penulis bahwa suatu karya dapat saja bertentangan seratus persen dengan kemauan penulisnya. Kecuali itu, sastra sufi lebih bersifat khusus, sedangkan sastra mistik bersifat umum, karena sastra sufi lebih menujukkan pada aktivitas kerohanian umat muslim, sedangkan mistik lebih mengarah pada aktivitas kerohanian yang tidak terbatas bagi orang Islam saja melainkan juga dilaksanakan oleh agama lain Danarto (dalam Istadiyantha, 2002: 395).

Banyaknya sastra sufistik yang lahir membawa dampak baik untuk menambah cakrawala media pengajaran di Indonesia. Sastra sufistik yang ada bisa menjadi alat untuk menguatkan pendidikan moral anak bangsa. Dewasa ini, pendidikan sekolah menjadi hal yang paling disorot. Banyaknya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siswa menjadi hal yang perlu diwaspadai. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, satu diantaranya ialah karena kurangnya penanaman pendidikan moral sejak dini. Pendidikan moral merupakan sebuah alat yang wajib dimiliki siswa, tidak hanya melalui pendidikan agama saja. Akan tetapi, semua mata pelajaran tentunya wajib bersinergi untuk memiliki sistem khusus guna menanamkan nilai-nilai moral di dalamnya. Sastra sufistik bisa menjadi alternatif lain untuk menguatkan pendidikan moral siswa.

Proses penguatan pendidikan moral yang ada saat ini masih sangat rendah adanya. Kurangnya kreativitas pendidik menjadi permasalahan tersendiri. Berawal dari permasalahan inilah sastra sufi dapat menjadi media yang efektif dalam pengajaran bahasa Indonesia, khususnya pada bidang sastra.

Sastra Sufi dan Sufistik
Istilah sastra sufi menunjukkan bahwa pengarangnya seorang sufi, sedangkan istilah sufistik mengacu pada karya yang mengandung ajaran kesufian (Badardi, 2003:2). Akan tetapi Badardi (2003) lebih lanjut mengatakan kita tidak tahu secara pasti apakah seorang pengarang adalah seorang sufi atau bukan, melainkan kita hanya tahu bahwa kaya-karya tersebut bermuatan sufi dan bukan pula sebuah jaminan bahwa seorang sufi akan menghasilkan karya-karya sufistik. Dari pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasannya karya sastra sufi atau sufistik tidak terlalu menimbulkan permasalahan dalam memaknainya. Sebagai penikmat sastra tentunya hal tersebut menjadi sebuah tantangan untuk menelusurinya lebih jauh.

Sastra sufistik banyak mengandung nilai-nilai tentang Islam di dalamnya. Nilai-nilai kerohanian yang ada di dalamnya dapat menjadi cikal bakal sebuah sistem atau media yang dapat dikembangkan ke ranah pendidikan. Simbol-simbol sufi dalam setiap karya sastra sufistik dapat menjadi sebuah perenungan untuk dipecahkan oleh siswa guna membangkitkan hati nuraninya yang mungkin saja  sudah mulai tak tersentuh. Sastra sufistik memiliki banyak sekali keindahan yang tertutup simbol-simbol bahasa yang digunakan.
Sastra sufi dihasilkan oleh pengalaman sufistik seorang penulis dan sastrawan yang melalui simbol-simbol sufistik berusaha mendekati Sang Khaliq. Seperti karya sastra lainnya, karya sastra sufi tidak memberi meaning untuk dimengerti, melainkan memberi pesan permenungan (Lathief, 2008: 182). Sastra sufi lebih mengarah ke dalam ajaran Islam tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan media lainnya yang berkaitan dengan kerohanian yakni sastra mistik.

Sebagai Media Pencerahan Batin
Proses perjalanan batin memiliki banyak sekali tantangan. Membutuhkan keseriusan dan kesadaran yang baik. Tanpa adanya kemauan yang kuat sekaligus arahan yang tepat maka akan sulit terwujud. Sastra sufistik  dapat dibentuk sebagai media penghubung dalam sistem pembelajaran. Selain itu, sastra sufistik dapat dijadikan sebagai sebuah media pembelajaran yang handal karena di dalamnya terdapat nilai agama yang bisa diambil.Sebagai media pembelajaran, karya sastra sufistik memiliki ciri-ciri yang menonjolkan kerohanian dalam memaparkan maknanya. Pada prinsipnya, karya sastra sufistik memiliki ciri khas tersendiri dalam syiar keagamaannya. Sastra sufistik akan lebih tepat jika dapat dijadikan perantara yang berfungsi sebagai media pencerahan batin.
Setiap karya sastra yang tercipta tentunya memiliki suatu tujuan tertentu. Tujuan tersebut sangat beraneka ragam. Akan tetapi, ada perbedaan yang khas di dalam sastra sufistik. Di dalam setiap karya sastra sufistik bukan hanya nilai kerohaniannya saja yang ditonjolkan. Namun, ada nilai pendidikan karakter yang secara otomatis mengikutinya. Dari sinilah dua hal tersebut dapat dijadikan sebagai media pencerahan batin. Melalui media pencerahan batin berupa puisi misalkan, siswa akan peka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan moral.

Sastra Sufistik sebagai Media Penguatan Moral
Melalui sastra sufistik, penanaman pendidikan moral anak akan mudah terbentuk. Prosesnya tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Akan tetapi, dengan adanya sebuah media yang tepat anak lambat laun akan memahaminya dengan baik. Disinilah siswa dituntut untuk bisa merefleksikan dirinya dengan baik. Menurut Wibowo (2013: 153) refleksi adalah sebuah proses perenungan yang dilakukan oleh anak mengenai pengetahuan dan keterampilan yang baru saja dipelajarinya dan yang sudah menjadi miliknya. Berkaitan dengan hal tersebut, siswa tentunya akan mampu mengaitkan pemahamannya dengan kehidupannya sekarang maupun kehidupannya yang akan datang.

Menanamkan pendidikan moral kepada siswa merupakan sebuah hal yang wajib dilakukan oleh seorang guru. Hal ini karena dilatar belakangi oleh perkembangan zaman yang semakin maju dan menjadi tantangan bagi fasilitator pendidikan. Guru menjadi sosok yang paling sentral untuk dapat menciptakan sistem pembelajaran yang berkemajuan. Dengan mempelajari sastra sufistik,siswa diharapkan dapat memahami makna dari setiap karya yang mengandung aliran sufistik. Secara tidak langsung siswa akan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Hal tersebut muncul karena karya sastra sufistik selalu diekspresikan dengan sebuah keinginan manusia untuk bertemu dengan Tuhan.

Menurut Abdul Hadi WM (dalam Latief, 2008:200) bahwa agama memiliki dua dimensi penting yaitu dimensi lahir dan dimensi batin. Dimensi lahir berwujud ibadah formal atau syariat. Dimensi batin berupa tasawuf. Keduanya tidak boleh ditinggalkan agar kehidupan beragama tidak timpang. Dari pendapat tersebut bahwasannya dalam pembelajaran sastra sufistik siswa dituntut untuk lebih banyak melakukan perenungan agar dapat membuka wawasan sekaligus menggugah nuraninya, sebab siswa saat ini ketika melakukan tindakan lebih mengedepankan emosinya daripada logikanya.

Sebagai media pembelajaran, sastra sufistik memiliki kecenderungan formula yang lengkap untuk kehidupan seseorang. Nilai moral dan agama menjadi tonggak utama untuk dijadikan sebagai penggerak siswa dalam mengubah sikap. Hubungan manusia dengan Tuhan menjadi tolak ukur yang tepat untuk menumbuhkan kesadaran terhadap pola berpikir siswa. Sebab saat ini siswa memiliki kelemahan dalam kaitannya dengan akhlak.

Kesimpulan
Sastra sufistik merupakan salah satu karya sastra yang lahir melalui suatu perenungan yang panjang karena di dalamnya lebih menonjolkan hal-hal yang sifatnya kerohanian. Di dalam karya sastra sufi nilai kerohanian menjadi topik yang selalu dibahas. Sastra sufistik memiliki banyak hal yang menarik untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran. Berawal dari sumber pembelajaran tersebut, makna di dalamnya dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Media inilah yang dapat dijadikan sebagai perantara untuk mengembangkan metode pembelajaran yang tepat guna.

Dengan adanya media tersebut, siswa akan lebih mudah diarahkan agar dapat memaknai isi dari setiap karya sastra sufistik yang disuguhkan oleh pendidik. Hal ini tentunya akan bermanfaat untuk menambah alternatif sistem pembelajaran yang berkualitas dan menarik. Diharapkan kedepannya materi sastra bisa lebih diseimbangkan sehingga media tersebut bisa digunakan untuk memperbaiki moral anak bangsa melalui sastra sufistik.

Daftar Pustaka

Istadiyantha. 2002. Perbedaan antara sastra Sufi dan Sastra Mistik. Dalam Surjawanto dan
Jabrohim (Ed). bahasa dan Sastra Indonesia Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI. Yogyakarta: Gama Media. Hlm: 391-411.
Lhatief, Supaat. 2003. Ekssitensialisme-Mistisime Religius. Lamongan: Pustaka Ilalang Sadardi, Bani. 2008. Sastra Sufistik. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Wibowo, Ari. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

ADMIN

BACA JUGA