YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA SUFI SEBAGAI SUMBER PSIKOLOGI ISLAM

Sumbangan tradisi tasawuf atau sufisme dalam pengembangan sastra Islam tampak jelas sejak awal perkembangan Islam di berbagai daerah. Bagi seorang sufi sastra bukan hanya sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk mengekspresikan perasaan-perasaan yang pada umumnya terfokus pada kecintaan kepada Tuhan. Tidak terbatas itu saja, sastra bagi sufi juga merupakan media untuk mengekspresikan pikiran, ide-ide, nasehat atau gagasan dalam bentuk puisi atau cerita penuh hikmah. Oleh karena itu tidak mengherankan jika karya-karya sastra tersebut menjadi sumber kajian-kajian ilmiah di berbagai bidang. Misalnya, William C Chittick mengkaji berbagai kajian filsafat dari karya-karya Ibnu Arabi, seperti theologi[1], ontologi[2] dan epistimologi[3].  Sementara itu Sachio Murata membahas Kosmologi[4] dan Psikologi Rohani.5 Javad Nurbakhsy secara spesifik mengkaji psikologi sufi, khususnya berkaitan dengan kesadaran manusia.[5]Di bidang sastra, Abdul Hadi secara komprehensif menyusun antologi karya-karya para sufi yang memiliki nilai sastra sangat tinggi. [6] Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi konsep-konsep psikologi Islam[7] yang terkandung dalam karya-karya sastra para sufi.

Psikologi Islam merupakan sebuah gerakan pemikiran baru di kalangan psikolog muslim yang berusaha mengembangkan konsep-konsep psikologi yang berasal dari ajaran agama Islam dan masyarakat muslim. Gerakan ini sebenarnya telah lama berlangsung, tetapi momentum yang dianggap mengawali secara tersistematis adalah ketika Malik Badri menerbitkan buku the Dilemma of Muslim Psychologist.[8] Buku tersebut mendapat sambutan yang sangat antusias di kalangan para psikolog muslim di seluruh belahan dunia Islam. Di Indonesia sendiri geliat psikologi Islam dimulai sekitar tahun 1980-an ketika banyak bermunculan kelompok diskusi, seminar, penulisan artikel dan buku psikologi Islami mulai diterbitkan. Sebagian dari tokoh-tokoh psikologi yang banyak aktif mengembangkan psikologi Islam di Indonesia pada fase-awal perkembangannya antara lain Hanna Djumhana Bastaman,[9]  Djamaludin Ancok dan Fuad Nashori [10]. 

Selanjutnya bermunculan pemikir-pemikir muda yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Saat ini telah terbentuk sebuah organisasi profesional para psikolog yang berminat di bidang psikologi Islam, yaitu API (Asosiasi Psikologi Islami). Organisasi ini sudah diakui secara resmi sebagai bagian dari organisasi psikologi di Indonesia, HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). Sumber kajian dalam mengembangkan psikologi Islam tidak terbatas pada penafsiran Al Qur’an dan Hadist yang mempunyai unsur psikologi, tetapi juga karya-karya dan pemikiran para ulama, filsuf dan termasuk juga para sufi. 

Salah satu konsep psikologi perkembangan Islam yang bisa dikaji adalah dari puisi Jalaludin Rumi, seorang sufi dan penyair besar dari Turki. Rumi menulis:

Mula-mula dia muncul dalam alam benda-mati; Kemudian masuk ke dunia tumbuh-tumbuhan
dan hidup bertahun-tahun sebagai tetumbuhan, tak ingat lagi akan
Apa yang telah dia alami, lalu melangkah maju Ke kehidupan hewan, dan sekali lagi
Tak ingat akan kehidupan tetumbuhan itu.
Kecuali ketika dirinya tergerak senang,
Pada tetumbuhan di musim bunga-binga berkembang indah.
Seperti bayi-bayi yang mencari puting susu dan tak tahu mengapa.
Sekali lagi Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana sebagaimana engkau ketahui
Memindahkannya dari alam hewani
Ke tingkat Manusia; demikianlah dari satu alam ke alam lainnya dia
Bergerak, ia menjadi pandai,
Cerdik dan bijak, sebagaimana dia kini.
Tak terkenang lagi akan keadaan sebelumnya,
Dan dari jiwanya yang sekarang pun dia akan diubah pula.[11].

Puisi di atas secara tegas menggambarkan bagaimana pendapat Rumi tentang perkembangan manusia. Menurut Rumi, manusia pada awalnya merupakan benda mati yang tidak bernyawa. Melalui proses perubahan yang terus menerus manusia berpindah dari kondisi kejiwaan yang satu ke kondisi yang lain. Ungkapan dalam puisi di atas dapat diberi makna secara riil apa adanya maupun makna secara simbolis. Makna secara riil menunjukkan bahwa manusia awalnya merupakan benda mati, kemudian berubah dalam kehidupan tumbuhan, kemudian menuju pada kehidupan binatang dan akhirnya memasuki kehidupan manusia. Pemikiran seperti ini bukan merupakan ide baru. Filsuf dan dokter muslim ternama, Ibnu Sina, telah berusaha menyatukan pemikiran filsuf Aristoteles dari Yunani yang menyatakan bahwa ada tiga macam jiwa, yaitu jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia[12]  Jiwa tumbuhan tampak pada janin yang masih berada dalam kandungan. Dia adalah tumbuhan yang sangat tergantung pada kondisi lingkungan dan tidak dapat bergerak sendiri. Dia dapat bertahan hidup karena pemberian makanan dari ibunya. Ketika sudah lahir ke dunia, bayi mulai belajar bergerak sendiri. Dia mulai mengeksplorasi dunia sekitarnya. Karena akalnya belum berkembang, maka dia seperti binatang. Namun ketika seorang anak mulai berkembang aspek kognitifnya, maka dia berada dalam alam manusia, yang berpikir dan memahami lingkungan sekitarnya.

Kalau dalam psikologi modern proses perkembangan hanya terbatas pada kondisi psikologis (jiwa), maka menurut Rumi proses perkembangan manusia tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Rumi mengatakan bahwa , “Dan dari jiwanya yang sekarang pun dia akan diubah pula.” Ini menandakan bahwa proses transformasi manusia masih akan berkembang terus. Khususnya dimensi rohani / spiritualitas manusia. Dalam puisi berikut Jalaludin Rumi menggambarkan proses transformasi:

Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan muncul sebagai hewan, Aku mati sebagai hewan dan aku menjadi Insan.
Mengapa aku mesti takut? Bilakah aku menjadi rendah karena kematian?
Namun sekali lagi aku akan mati sebagai Insan, untuk membumbung Bersama para Malaikat yang direstui; bahkan dari tingkat malaikat pun Aku harus wafat: Segala akan binasa kecuali Tuhan.
Ketika jiwa malaikatku telah kukorbankan,
Aku akan menjadi sesuatu yang tak pernah terperikan oleh pikiran.
Oh, biarkanlah aku tiada! Karena Ketiadaan
Membisikkan nada dalam telinga. “Sesungguhnya kepada-Nya-lah kita kembali.”[13]


Puisi di atas menegaskan bahwa manusia akan mengalami transformasi atau memasuki alam malaikat. Dari sini pun akan mengalami perubahan lagi menuju ke ketiadaan. Manusia dari tiada menjadi ada dan menjadi tiada. Proses ini terjadi melalui fase dan tahapan yang panjang, yang penuh dengan rintangan. Menurut Mohammad Shafii, puisi Rumi di atas tidak hanya menunjukkan adanya proses perkembangan, tetapi sekaligus merupakan gambaran dari wujud evolusi manusia di bumi.[14] Dalam konteks psikologi Barat, pendekatan evolusi juga mulai dikembangkan seperti yang dibahas oleh Dicky Hastjaryo[15]. Pendekatan evolusionistik ini sering disebut sebagai bionomik kognitif, yang menyatakan bahwa kognisi manusia seperti persepsi, memori, bahasa, berpikir itu harus dipahami dalam konteks evolusi fisik dan sosial manusia. Erick Fromm, salah seorang tokoh Psikoanalisis modern, juga memiliki pandangan evolusionistik. Dia mengemukakan: “Manusia telah muncul dari kerajaan binatang, dari adaptasi dengan instink...dia telah melampaui kondisi alam, meskipun dia tak pernah meninggalkannya; dia bagian dari itu..manusia hanya bisa mengembangkan pikirannya dengan menemukan harmoni baru.”[16]

Psikologi Islami mempunyai konsep yang lebih jauh dari itu. Seperti diungkapkan dalam visi Rumi,  bahwa kondisi manusia akan mengalami proses perubahan terus bahkan menjadi sesuatu yang berbeda, “..sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh pikiran.” Dengan ungkapan berbeda  Mohammad Shafii menyatakan: “…evolusi kemanusiaan tidak hanya berakhir sampai pada bentuk manusia saat ini saja. Ada potensi (manusia) untuk menjadi makhluk yang lebih tinggi. Perspektif yang progresif dan memberikan banyak harapan ini adalah sebuah kekuatan dinamis…”[17]

____
Sumber: Subandi, M.A, Konsep Psikologi Islam dalam Sastra Sufi. Jurnal Millah, Vol. X,  No. 1, Agustus 2010

Endnote:
[1] William C. Chittick, Sufi Path of Knowledge: Ibn al-’Arabi’s Metaphysics of Imagination, (Albany, NY: State University of New York Press, 1989), hal. 31-76.
[2] Ibid., hal. 77-138.
[3] Ibid., hal 145-186.
[4] Sachiko Murata, The Tao of Islam: Kitab Rujukan Relasi Gender dalam Kosmologi dan Teologi Islam, terj. Rahmani Astuti dan M.S. Nasrullah, (Bandung: Penerbit Mizan, 1996), hal. 165-298. 5 Ibid., hal 299-414.
[5] Javad Nurbakhsy, Psikologi Sufi, terj. Arief Rachmat, (Yogyakarta: Pyramedia, 2008), hal. 228-241.
[6] Abdul Hadi, Sastra Sufi: Sebuah Antologi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985).
[7] Beberapa tokoh lebih suka menggunakan istilah Psikologi Islami, sementara yang lain menggunakan istilah Psikologi Islam. Di dalam paper ini kedua istilah itu digunakan secara silih bergantian, karena kedua istilah tersebut mengacu kepada hal yang secara esensial adalah sama.
[8] Malik. B. Badri, The Dilemma of Moslem Psychologist, terj. Siti Zainab Luxfiati, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994).
[9] Hana Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam,  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995).
[10] Djamaludin Ancok, & Fuad Nashori, Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995).
[11] http://syairsyiar.blogspot.com/, diunduh 10 Juli 2010.
[12] Mohammad Shafii, Psikoanalisis dan Sufisme, terj M.A. Subandi dan tim. (Yogyakarta: Campus Press, 2004), hal. 7.
[13] Ibid., hal 6.
[14] Ibid., hal. 6.
[15] Dicky Hatjaryo, Mengenal Sepintas Psikologi Evolusioner”. Buletin Psikologi  No. 9 Thn ke 2 (Juli, 2003),  hal 83-94.
[16] Mohammad Shafii, Psikoanalisis dan Sufisme..., hal. 52.
[17] Ibid., hal 5.

ADMIN

BACA JUGA