YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA SUFISTIK DALAM KLIK PARA PENELITI

Sastra Sufistik dalam Klik Para Peneliti 

Penelitian tentang sastra sufistik secara beragam dan kaya sudah banyak dilakukan orang. Akan tetapi, berbagai kajian tersebut pada umumnya terkonsentrasi pada perkembangan dan persoalan sastra sufistik klasik (abad ke-16 hingga ke-19). Beberapa kajian yang dapat disebutkan di sini adalah kajian AlAttas (1966, 1970), Braginsky (1993), Daudy (1983), Quzwain (1985), Simuh (1988), Baroroh (1987), Abdul Hadi (1995), dan Fathurrahman (1999). Kajian tersebut secara umum berorientasi pada pembahasan sufistik secara internal, dikotomi sufisme heterodoks dan ortodoks, dan perkembangan sufisme pada waktu kemudian. 

Dalam kaitannya dengan itu, Azra (1999: 158) mencatat bahwa dari sekian banyak kajian tentang sastra sufistik, sebagian besar kajian terfokus pada ajaran tokoh-tokoh sufi tertentu. Kajian dengan orientasi sejarah sosial dan politik masih jarang dilakukan. Khusus untuk Indonesia, memang Hadi (1992: 12-29; 1999: 2161) pernah membahas kecenderungan umum sastra transendental/sufisme. Dalam tulisannya, Hadi memaparkan telah terjadi kebangkitan umum sastra sufistik yag telah dimulai pada tahun 1970-an yang dipelopori oleh Kuntowijoyo, Bachri, dan sebagainya. Akan tetapi, Hadi hanya mempersoalkan perkembangan internal sastra sufistik itu sendiri. Hadi tidak mengaitkan gejala tersebut dengan perkembangan sosial, politik, dan budaya masyarakat Indonesia pada saat itu. 
Adapun kajian tentang sufisme, baik yang dilakukan di Indonesia maupun di Mesir, juga sudah banyak dilakukan orang. Kajian tentang sufisme ini biasanya menyinggung tentang doktrin-doktrin sufi yang disampaikan melalui medium sastra. Smith (1972: 7) dalam kajiannya menyimpulkan bahwa ajaran paling murni dan tipikal tentang tasawuf kebanyakan ditulis dalam bentuk puisi. Seyyed Hossein Nasr (1980: 10) menghubungkan kecenderungan ini dengan pemahaman khusus para sufi terhadap hakikat ajaran Islam: 

Islam itself is deeply attached to the aspect of the Divinity as beauty, and this feature is particulary accentuated in sufism, which quite naturally is derived from and contains what is essential in Islam. It is not accidental that the works written by Sufis, whether they be poetry or prose, are of great literary quality and beauty. 

(Islam sendiri benar-benar menganggap aspek ketuhanan sebagai keindahan, dan gambaran ini dijadikan tumpuan istimewa dalam tasawuf, yang secara alami berasal dan mengandung inti (haqaiq) ajaran Islam. Maka bukanlah suatu kebetulan apabila karya-karya yang ditulis para sufi, baik puisi maupun prosa, merupakan karya agung dalam kualitas dan keindahan). 

Aspek ketuhanan sebagai keindahan inilah yang dipandang sebagai aspek mistikal atau dimensi esoterik dari Islam, dan yang juga di pandang sebagai aspek Islam yang paling indah. Schimmel (1981: 240) mengaitkan penekanan terhadap aspek mistikal ini, dalam penghayatan para sufi terhadap ajaran Islam, dengan penciptaan puisi yang berlimpah jumlahnya dalam berbagai bahasa masyarakat Muslim. Khazanah sastra sufistik yang kaya itulah yang mengilhami banyak gagasan mengenai ciri-ciri mistikisme Islam kepada Barat. Happold (1981: 250) juga mengatakan: 

Sufism produced a galaxy of poets, whose vision was one of God as Absolute Beauty and Absolute Love, and for whom earthly love imaged and Love...The descriptions of the quest for and union with God by these sufi mystics are not only psichologically and intelectually iluminating but also often given exquisite expression; for as we have said, sufism produced men were not only true mystics, but also poets... Christianity has only one poet-mystics, St.Jones of teh Cross, who is comparable with Rumi, Áttar and some other Persian poet-mystics. 

(Tasawuf menghasilkan himpunan penyair yang penglihatan batinnya tentang Tuhan sebagai Keindahan dan Cinta Mutlak, dan yang kepadanya cinta kebumian membayangkan dan menyingkap Keindahan dan Cinta Ilahi… Uraian tentang pencarian dan persatuan dengan Tuhan oleh para sufi tidak hanya merupakan pencerahan kalbu dan intelektual, tetapi juga sering diberi ekspresi yang indah, sebab seperti yang telah kami katakan, tasawuf tidak hanya menghasilkan ahli-ahli mistik sejati, tetapi juga penyair-penyair… Agama Kristen mempunyai seorang penyair ahli mistik, John of The Cross, dibandingkan dengan Rumi, Áttar dan beberapa penyair ahli mistik Persia (Iran) yang lain). 


Nyata sekali bahwa tasawuf tidak hanya merupakan gerakan keagamaan, tetapi juga merupakan gerakan sastra. Braginsky (1993: xiv-v) menyebut tasawuf sebagai gerakan sastra dengan istilah “tasawuf puitik”. Tasawuf yang ditulis dalam bentuk doktrin keruhanian disebut sebagai “tasawuf kitab”. Tasawuf puitik merupakan fenomena universal. Ia bukan hanya fenomena lokal, tidak terbatas hanya dalam lingkungan tradisi Muslim Arab, tetapi juga muncul dalam tradisi masyarakat lain seperti Turki, Urdu, Bengali, Cina, Melayu, dan Jawa. Tasawuf puitik mempengaruhi gerakan-gerakan sastra modern di luar dunia Islam, di Timur maupun Barat. Seperti gerakan sastra lain yang wilayah penyebarannya melampaui batas-batas geografi dan kebangsaan, sifat nasional dari masyarakat yang melahirkannya selalu melekat pula dalam hampir semua karya sufi. Selain itu, sebagai karya universal, karya-karya penyair sufi yang unggul juga mencerminkan kecemerlangan dan keagungan gagasan serta pemikiran para penulisnya. Dari penjelasan ini, jelas bahwa sastra sufistik tidak terpisah dari tasawuf. 


Sumber: Sub-Bahasan dari FENOMENA SASTRA SUFISTIK DI ERA MODERN, Helmi Syaifuddin

ADMIN

BACA JUGA