YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA SUFISTIK DAN MODERNISME

Sastra Sufistik dan Modernisme 
Masyarakat Islam Indonesia dan Mesir, sejauh yang dicatat oleh para orientalis, terkesan seolah menolak modernisasi, yakni dengan mengatakan bahwa masyarakat tidak bersedia diajak maju, untuk tidak mengatakan bahwa bangsa Indonesia dan Mesir, meminjam istilah C.A van Peursen (1976) yang membagi tiga bentuk kesadaran yaitu mitis, ontologis dan fungsional, pada dasarnya berwatak mitis, suatu hal yang bertolak belakang dengan watak modernisasi. Anggapan tersebut tentu saja sepihak. Maksudnya, memang diakui bahwa dalam beberapa hal tahap modernisasi awal yang diperkenalkan oleh kolonial adalah modernisasi yang mengalami seleksi demi kepentingan pihak penjajah. Di samping itu, pihak kolonial dengan sengaja menyempitkan arti modernisasi karena dalam beberapa hal memang bangsa yang sedang dijajah tidak sepenuhnya bersedia bekerja sama dengan penjajah. Sikap tidak mau bekerja sama tersebut diartikan sebagai sikap tidak mau menerima modernisasi yang ditawarkan oleh penjajah. 

Terjadinya sekularisasi atau lunturnya kehidupan beragama yang membuat terjadinya perlawanan dan kebangkitan agama. Artinya, sekularisasi bisa jadi merupakan prasyarat terjadinya vitalitas agama. Hal tersebut berangkat dari  asumsi bahwa terjadinya sekularisasi menyebabkan para penganutnya (terutama Islam) berusaha memberi antisipasi terhadap kecenderungan itu dengan melakukan aktivitas-aktivitas keagamaan, ataupun aktivitas lain yang didukung dengan semangat keagamaan. Dalam kaitannya dengan sastra sufistik, para sastrawan dan penyair mencoba kembali menghangatkan atau mengeksplorasi semangat tradisi sufisme. Dalam hal ini, meminjam bahasa Madjid, gerakan sastra sufistik adalah sebagai upaya pembebasan manusia dari tuhan-tuhan selain Tuhan yang sesungguhnya. 

Dalam sebuah tulisan untuk keperluan yang sedikit berbeda, Abdurrahman (1985:49-59) mencoba menjelaskan sumbangan tradisi sufi pada masyarakat modern yang dalam hal ini ia menyebutnya sebagai sufisme sosial. Menurutnya, keberadaan sufisme sosial sangat relevan pada suatu masyarakat yang sedang dan cepat berubah. Sufisme tidak hanya berurusan dengan masalah spiritual seperti sering dituduhkan oleh para pembaru dan kalangan sekular. Pandangan yang lebih positif terhadap sufisme memperlihatkan bahwa sufisme dapat melawan keterasingan dan hilangnya kesadaran spiritual sebagai ciri kehidupan urban modern masyarakat perkotaan. Berger (1990: 239) menyatakan bahwa pengaruh sekularisasi paling kental terjadi dalam area ekonomi sebagai akibat proses industrialisasi (isme) dan kapitalisme. Proses situ secara umum lebih banyak terjadi di perkotaan. Pada saat ini, karena di dalam sufisme tersebut telah terjadi liberasi maka sufi lebih berorientasi pada individu dan banyak menarik minat kalangan masyarakat perkotaan. Dalam konteks yang lebih spesifik dapat disebutkan di sini bahwa sebagian dari mereka adalah para penyair baru yang berdomisili di kota. 

Memang harus diakui bahwa dari perkembangan fisik/material, kehidupan masyarakat dunia seolah mengalami kemajuan yang luar biasa. Kesejahteraan hidup meningkat sehingga tidak berlebihan jika masyarakat modern hidup dalam kemewahan dan kemudahan. Baik bangsa Indonesia maupun Mesir dalam beberapa hal juga mengalami kemajuan ekonomi. Akan tetapi, seperti telah disinggung di atas, hal ini pula yang mendorong maraknya sastra sufistik. 

Masalahnya adalah mengapa dan ada apa dalam sastra sufistik? Sebagaimana diketahui, dalam proses transformasi besar yang melanda dunia itu, ketika masyarakat berada dalam perubahan-perubahan formasi sosial yang menyebabkan sebagian besar masyarakat merasa semakin teralineasi, seperti diprediksi Naisbiit dan Aburdene (1990:Bab 9), orang-orang akan berusaha mencari pegangan untuk hidupnya sebagai upaya signifikasi kembali ke keberadaan kemanusiaannya. Akan tetapi, karena perkembangan ilmu dan pengetahuan tentu saja terjadi perubahan perspektif dalam melihat dan menempatkan agama. Telah terjadi perubahan besar dalam melihat agama pada masa dulu dan sekarang. Jika dulu dunia diandaikan sebagai sesuatu yang stabil maka masyarakat modern adalah masyarakat yang dinamis. Dengan demikian, agama-agama besar yang dulu menghadapi dunia stabil dianggap tidak cocok lagi. Itulah sebabnya, muncul istilah "spiritualitas ya, agama tidak". Dalam hal ini, agama akan menghadapi era baru yang berakar pada gerakan potensial manusia yang memiliki satu kesadaran yang kompleks tentang satu keesaan ciptaan, potensi manusia yang tidak terbatas, serta kemungkinan mengubah diri dan dunia hari ini menjadi lebih bermakna dan lebih baik. 

Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa kepercayaan terhadap suatu perubahan yang merupakan skenario seluruh penciptaan Tuhan berarti juga sejalan dengan pandangan Tauhid. Artinya, konsep Tauhid bukan hanya mengutamakan dan mempertamakan Tuhan, melainkan sekaligus  bagaimana manusia terikat dalam suatu tanggung jawab yang termaktub pada kehendak bebas yang diberikan oleh-Nya untuk membongkar, mengkaji, menganalisis, mengembangkan, mendayagunakan, serta memanfaatkan organisasi dan struktur sunnah Allah, apakah sunnah Allah itu tersembunyi dalam tanda-tanda atau simbol-simbol implisit atau yang terindera bagi aspek kemanusiaan.  
Dengan demikian, latar sosial-politik hadirnya sastra sufistik tidak lain berupaya memberikan reaksi, respons, dan perlawanan terhadap wacana modernisme pada umumnya, dan sekularisme atau sekularisasi pada khususnya. Demikianlah, suatu penjelasan bagaimana sastra sufistik mengambil posisi dan berhadapan dengan kekuasaan pemerintah, disamping bagaimana sastra sufistik memberikan reaksinya terhadap kecenderungan masyarakat modern.  

Sebagai catatan akhir, bagaimana dampak sastra sufistik pada masa depan? Pertanyaan ini memang bukan fokus utama kajian ini, namun tidak ada salahnya disinggung bahwa berdasarkan kerangka teoritis yang dibangun, ada kemungkinan sastra sufistik akan selalu mengalami kebangkitan sesuai dengan tuntutan zamannya. Terlepas dari kerangka di atas, tampaknya ada kemungkinan bahwa faktor perkembangan intertekstualitas masyarakat akan menjadi salah satu faktor penting dari kebangkitan tersebut. Hal ini disebabkan bahwa sastra sufistik merupakan bagian inheren dari tuntutan terhadap ketinggian atau kematangan intelektualitas itu sendiri.

Sumber: Sub-Bahasan dari FENOMENA SASTRA SUFISTIK DI ERA MODERN, Helmi Syaifuddin


ADMIN

BACA JUGA