YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA SUFISTIK MESIR DEKADE 1980-AN HINGGA 1990-AN

Sastra Sufistik Mesir dekade 1980-an hingga 1990-an 
Peneliti dalam memaparkan pikiran dan perasaan yang terkandung dalam karya sastra sufistik di Mesir akan mengetengahkan sosok sastrawan Naguib Mahfouz dengan alasan bahwa berdasarkan kajian yang pernah dilakukan, karyakarya bernuansa sufistik telah mengambil bagian dalam akhir-akhir kehidupan Mahfouz (Fudholi, 1991). Secara periodik mungkin dapat dijelaskan bahwa pada periode pertama, Mahfouz menulis novel-novel romantik yang bersumber pada sejarah Mesir lama, seperti Kifah Thibah (1944), Radoubiez (1943), Abats alAqdar (1939) dan lain-lain. Bahasa Mahfouz dalam novel-novel periode ini masih banyak sekali terpengaruh oleh al-Manfaluthi, yang begitu mementingkan ukiran kata-kata. 

Pada periode berikutnya Mahfouz mulai menulis novel-novel realistis yang mengambil latar belakang kawasan lama kota Kairo, seperti Khan al-Khalili (1946), Zuqaq al-Midaq (1947), triloginya yang masing-masing berjudul Bayn alQasrayn (1956), Qasr al-Syauq (1957), dan al-Sukariyyah (1957) yang kesemuanya nama tempat dengan lorong-lorongnya yang khas. Di sini Mahfouz mulai mengunakan bahasa novel-novel modern yang menampilkan langsung kejadian dan peristiwa tanpa banyak bercerita tentang hal tersebut. 

Pada periode berikutnya, Mahfouz beranjak menulis novel-novel simbolis dan filosofis seperti al-Liss wa al-Kilab (1961), al-Summan wa al-Kharif (1962), al-hariq (1964), al-Syahhaz (1965) dan lain-lain. Mahfouz adalah lulusan jurusan filsafat Cairo University tahun 1934 dan sempat terdaftar untuk memperoleh gelar master dalam filsafat Islam. 
Pada periode selanjutnya sampai akhir hayatnya, Mahfouz masih terus menulis novel-novel simbolis-filosofis, ditambah lagi dengan kecenderungan yang sebenarnya bukan baru, yaitu kecenderungannya yang sufistik. Ini bisa dilihat dalam novel-novel Rihlah ibn Fattumah, Sabah al-Ward, Qasytamar (1989) dan lain-lain. 

Dalam karya Mahfouz berjudul Awlad Haratina, setidaknya peneliti menemukan adanya kecenderungan ke arah simbolis-filosofis (dalam kerangka sufistik). Dan karena itu pula dalam menganalisis pikiran dan perasaan sastra sufistik di Mesir, peneliti mengambil contoh novel karya Mahfouz yang berjudul Awlad Haratina tersebut. 


Awlad Haratina dibagi dalam lima bagian, setiap bagian dinamai sesuai dengan nama tokohnya. Ceritanya dimulai dengan Adham, anak Jabalawi dari seorang ibu yang berkulit coklat yang dahulunya adalah seorang budak. Jabalawi, pendiri dan pemilik perkebunan yang sangat luas, suatu hari memanggil anakanaknya untuk suatu kepentingan menyangkut masalah siapa yang akan menggantikan dirinya  dalam mengurus kekayaannya. dalam pada itu, dia memilih Adham untuk menggantikan dirinya meskipun dia anak bungsu dari istrinya yang bekas budaknya sendiri. Keputusan ini ditentang oleh Idris yang merasa lebih berhak atas warisannya, karena selain sebagai anak tertua dia adalah anak Jabalawi dari istri utamanya. Protes Idris ini membuat Jabalawi marah sehingga mengusirnya dari rumah dengan tamannya yang luas ke suatu tanah tandus yang kosong. 

Beberapa lama sesudah Adham menggantikan ayahnya, Adham didatangi oleh kakaknya, Idris, yang membujuk untuk melihat catatan yang memuat nama pewaris kekayaan Jabalawi. Karena bujuk rayu Idris, akhirnya Adham berani melanggar larangan ayahnya untuk melihat rahasia catatan tersebut. Kesalahan ini menyebabkan Adham menerima hukuman yang sama dengan Idris, dibuang ke tanah kosong dan gersang bersama istrinya. Dari keturunan mereka berdirilah suatu perkampungan yang luas membentuk suatu masyarakat yang bermacammacam. 

Setelah tanah yang dulunya kosong tersebut menjadi suatu perkampungan, akhirnya kekayaan Jabalawi diberikan kepada anak cucunya dengan menyerahkan pengelolaanya kepada orang yang ditunjuk. Dari penyerahan pusaka ini muncul berbagai persoalan yang membawa kesengsaraan kepada masyarakat. Kekayaan 
Jabalawi yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan seluruh penduduk “kampung Jabalawi”  disalahgunakan oleh pengaturnya, Nazir, yang merasa seolah-olah berkuasa. Untuk mengamankan dirinya dari kemungkinan adanya pemberontakan dari masyarakat, setiap saat Nazir menyewa orang-orang kuat untuk menjaganya yang disebut “Futuwwat”. Lama kelamaan tindakan Futuwwat semakin jauh melewati wewenang mereka. Dengan munculnya mereka, kesengsaraan penduduk menjadi bertambah. 

Rakyat yang sengsara hanya bisa berharap semoga Jabalawi, yang diyakini masih hidup dan mengasingkan diri dalam salah satu ruangan rumahnya, mau bertindak menyelamatkan anak cucunya dari kesengsaraan. Keluhan anak cucu tersebut  mendapat jawaban dari Jabalawi yang mengutus Jabal sebagai wakilnya untuk menentang kezaliman. Jabal, anak asuh Nazir Afandi, berusaha menyadarkan bapak asuhnya dengan baik, akan tetapi peringatan Jabal ini membuat sang bapak marah dan mengusirnya. Untuk keselamatanya, Jabal melarikan diri dari kampung Jabalawi setelah dikejar-kejar oleh Futuwwat karena dia telah membunuh salah seorang dari mereka. Selama masa pengasingan, Jabal hidup dengan seorang pawang ular yang kemudian mengawinkannya dengan salah satu putrinya yang pernah ditolongnya. Akhirnya dengan kemahiranya mengendalikan ular, Jabal dapat memaksa Nazir Afandi untuk berbuat baik demi kesejahteraan rakyat. 

Kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyat ternyata tidak berlangsung lama, karena setelah kematian Jabal, dan Nazir telah diganti dengan yang baru, rakyat kembali dalam penderitaan karena kesewenang-wenangan Nazir. Dalam keadaan seperti ini rakyat hanya bisa berharap agar Jabalawi mau kembali menolong mereka. “Do‟a” mereka akhirnya didengar oleh Jabalawi yang menyerahkan amanatnya kepada Rifa'ah. Dalam berjuang membela hak-hak rakyat, Rifa'ah harus menemui ajalnya. Kemakmuran yang dia harapkan baru terwujud setelah teman-temanya bersatu melawan Nazir dengan Futuwwat-nya. 
Cerita tentang kesewenang-wenangan Nazir kembali terulang dalam waktu yang tidak lama. Kali ini yang datang menentang Nazir adalah Qasim, seorang bekas pengembala kambing yang kawin dengan janda kaya dari kerabat Nazir. Pejuangan Qasim membuahkan hasil, akan tetapi tidak berlangsung lama. Pada akhirnya muncul pahlawan dari pendahulunya. Arafah, dalam menentang Nazir, tidak memerlukan “wahyu” dari Jabalawi sebagaimana pendahulunya. Dia berusaha menentang penguasa dengan kemampuannya sendiri. Dengan kemampuan akalnya, dia mampu menciptakan “granat  yang” diistilahkan sebagai sihir. 

Dengan senjata tersebut ia mampu menundukkan para Futuwwat akan tetapi pada akhirnya menjadi teman dari Nazir yang semula dia tentang. Persahabatan yang terbina antara Arafah dengan Nazir tidaklah kekal, karena setelah mengetahui rahasia senjatanya, Nazir memperalat Arafah dan membunuhnya. Dengan kematian Arafah, sekali lagi penduduk Jabalawi jatuh dalam kesengsaraan yang dalam. Cerita ini ditutup dengan satu pengharapan dari rakyat akan munculnya Hanash, teman Arafah yang dikabarkan membawa lari formula dari senjata ciptaan Arafah. Hanash diharapkan mampu menggantikan Arafah dalam menentang penguasa sehingga kedamaian dan kemakmuran bisa tercapai. Demikianlah ringkasan cerita dari novel Awlad Haratina karya Mahfouz. 

Dilihat dari alurnya, novel ini tidak dapat dipisahkan dari cerita-cerita dalam kitab agama-agama samawi. Agama yang diturunkan pada umat manusia mempunyai tujuan yang sama. Yaitu memberi petunjuk jalan kebenaran demi tegaknya kedamaian. Demikian pula dengan misi yang diemban tokoh-tokoh dalam novel ini. Kedatangan Jabal, Rifa'ah, Qasim dan juga Arafah adalah untuk menegakkan kedamaian serta menyebarkan kesejahteraan. Mereka datang untuk menolong penduduk yang menderita karena tindakan penguasa dengan pengawalpengawal mereka. Di samping itu mereka juga mempunyai misi memberi peringatan kepada para penguasa akan “petunjuk Jabalawi”. 

Petunjuk Jabalawi yang menjadi pegangan mereka menyatakan bahwa seluruh kekayaan yang ditinggalkanya harus dipergunakan untuk kesejahteraan anak cucunya, yaitu seluruh penduduk kampung Jabalawi. Agama pun mengajarkan bahwa alam semesta ini dapat digunakan seluruhnya untuk kesejahteraan  seluruh umat manusia. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, semakin memberi keyakinan bahwa agama merupakan salah satu tema atau bahkan tujuan dari Awlad Haratina. 

Novel ini ditulis pada saat demokrasi mulai menggema di negara-negara ketiga, tidak ketinggalan di dunia Arab. Setelah terlepas dari belenggu kolonialisme, bangsa Arab semakin menyadari akan arti demokrasi. Mereka menghendaki agar demokrasi dapat dirasakan bukan hanya dalam bidang politik, akan tetapi juga dalam aspek-aspek sosial yang lain. Bangsa Arab, selain menghadapi problem demokrasi  juga menghadapi problem ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, Shukri mencatat bahwa novel ini mencoba mengobarkan semangat mencari ilmu pengetahuan modern, sosialisme serta kebebasan. 

Awlad Haratina adalah novel simbolik yang bercerita tentang sejarah umat manusia. Mengingat bahwa sejarah permulaan umat manusia hanya diketahui lewat kitab suci agama samawi, maka semua cerita tentang kisah tersebut tidak akan lepas dari kitab suci. Di dalam novel ini Mahfouz masih terikat pada kitab suci sampai pada penamaan tokoh-tokohnya. 

Novel ini bercerita tentang anak cucu Jabalawi, sosok manusia setengah dewa yang hidup dalam waktu  yang mencapai beberapa generasi. Tokoh Jabalawi sebagai pendiri "kampung kita" banyak diyakini sebagai tokoh yang menjadi simbol Tuhan yang telah menjadikan alam semesta. Nama tersebut diambil dari kata jbl (Jabala) yang berarti mencipta, membentuk atau membuat formulasi.  Hal ini bisa disimbolkan kepada tuhan yang "Jabala", atau mencipta dan membentuk Adam dari tanah. Fatma Zahra' mengatakan bahwa kata "Jabalawi" diambil dari kata "jabbar"  atau "jabarut" ,yang berarti perkasa. 

Di samping itu, ada beberapa tokoh yang mempunyai kesamaan nama dengan tokoh dalam sejarah dalam fonetik. Adham misalnya, mirip dengan Adam dalam pengucapanya. Demikian pula dengan Idris yang sesuai dengan iblis. Disamping itu, beberapa nama disesuaikan secara maknawi, misalnya adalah Umaymah ibu Adham. Nama ini merupakan "ism tasghir" dari kata "al-umm", yang berarti ibu. Dengan demikian mudah untuk dikatakan bahwa Umaymah merupakan simbol dari hawa, ibu seluruh umat manusia. Keterkaitan seperti ini juga terjadi pada tokoh-tokoh yang lain. Jabal, yang berarti gunung merupakan tokoh simbolik dari Musa. Keterkaitan yang ada adalah bahwa Musa AS selalu dihubungkan dengan gunung Sinai, tempat di mana Tuhan pernah berbicara kepada Musa. Rifa'ah diambil dari kata rf' (rafa'ah) yang berarti mengangkat. Hal ini sesuai dengan nabi Isa a.s yang dipercayai telah diangkat oleh Allah. 'Arafah yang diambil dari kata 'rf ('arafa), mempunyai arti mengetahui atau berpengetahuan. Nama-nama seperti tersebut di atas tidaklah terlalu berlebihan jika dianggap sebagai simbol dari nama-nama yang ada dalam kitab suci. Adapun nama Qasim dan Muhammad  tidak mempunyai persamaan sama sekali, baik dari sisi fonetik maupun tematik. Satu-satunya hubungan adalah bahwa Muhammad SAW mempunyai anak yang diberi nama Qasim. 

Sasaran yang ingin dituju novel ini merupakan satu pertanyaan yang tetap menjadi pemikiran para kritikus. Melihat alur ceritanya, seorang pembaca diajak untuk lebih memperhatikan tendensi-tendensi agama. Meskipun demikian, akan sangat sulit mengatakan bahwa  novel ini ditulis sebagai kritikan terhadap fanatisme keagamaan yang cenderung destruktif. Sebagian kritikus yang lain mengatakan bahwa dalam novel ini Mahfouz ingin mengkritik sistem politik yang dijalankan di Mesir pada masa itu. 

Kalau dilihat dari kedua sudut, intrinsik dan ekstrinsik, maka sangat memungkinkan untuk menggabung dua kemungkinan diatas. Disamping ingin mengkritik fanatisme agama yang berlebihan, Mahfouz juga berkeinginan untuk mengkritik  sistem politik yang dijalankan oleh Nasser pada waktu itu. 

Dalam kaitannya dengan nuansa sufisme pada karya Mahfouz tersebut, bisa dikatakan bahwa hubungan antara Jabalawi dan Adham mencerminkan adanya hubungan antara Tuhan dan manusia. Dalam perspektif tasawuf, dinyatakan bahwa makhluk yang ada di dunia ini adalah bagian dari pancaran lahutnya Tuhan, walaupun lahirnya bervariasi akan tetapi batinnya atau rohnya secara essensi adalah satu yakni wujud Tuhan. Satu kesatuan wujud yang ada di bumi ini dengan wujud Tuhan karena Tuhanlah satu-satunya yang memiliki wujud dan yang lainnya adalah sebuah wujud yang bersifat ilusi atau pinjaman dari Tuhan. 

Doktrin yang demikian, menurut Ibn Arabi, disebut wahdatul wujud. Doktrin wahdatul wujud ini tidak hanya menekankan hanya sisi tasybih (keserupaan), tetapi juga sisi tanzih (ketidakserupaan). Dilihat dari sisi tasybih, Tuhan adalah identik, atau lebih serupa dan satu, dengan alam (walaupun keduanya tidak setara) karena dia, melalui nama-Nya, menampakan diri-Nya dalam alam. Namun dilihat dari sisi tanzih, Tuhan sama sekali berbeda dengan alam karena Dia adalah zat Mutlak yang tidak terbatas di luar alam nisbi yang terbatas. Gagasan ini dirumuskan dengan ungkapan singkat, huwa lâ huwa (Dia dan bukan Dia). Dalam pandangan ini, Tuhan adalah transenden dan sekaligus imanen. Konsep ini bila dianalogikan seperti suatu benda atau manusia bila di dekatkan kepada sebuah cermin, maka dalam bentuknya ia akan menjadi banyak dan itu adalah sebuah ilusi atau pancaran dan bayangan yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Dan yang pasti bayangan itu bukanlah sebuah essensi melainkan sebuah ilusi semata dan yang paling penting ialah wujud dari benda diluar cermin tersebut. Begitu juga dengan alam ini atau segala bentuk benda yang terdapat di alam ini, itu adalah sebuah bayangan bukan esensi dari bentuk Tuhan dan bukan berarti kita setara dengan Tuhan itu sendiri. 

Jika kita mengamati dan mempelajari secara seksama, sebenarnya tidak ada maksud untuk menyekutukan Allah (politeisme) akan tetapi yang ingin dikatakan adalah bahwa alam ini dengan segala isinya adalah satu kesatuan wujud Tuhan yang diciptakan dari ain wujud-Nya. Bila kita mengutip sebuah hadits yang berbunyi bahwa Allah adalah rahasia yang tersimpan rapat lalu Dia ingin agar kita mengetahuinya, sehingga Dia menciptakan alam. Dan apabila kita memperhatikan asal kata dari alam ini, di sana terdapat beberapa bentuknya, seperti ‟ilm, ‟alam, dan ‟alamah, karena memang alam ini adalah alamatnya Tuhan. Dengan memperhatikan alam, kita dapat melihat Allah; kita dapat sampai kepada arti ketuhanan yang tinggi. Itulah sebabnya Allah menyuruh kita di dalam berbagai firman-Nya untuk memperhatikan alam. 


Sumber: Sub-Bahasan dari FENOMENA SASTRA SUFISTIK DI ERA MODERN, Helmi Syaifuddin



ADMIN

BACA JUGA