YURISTGAMEINIGAMEID101

SHALAT SUFI


Para penempuh jalan tasawuf (murîd) melihat shalat sebagai mengandung seluruh tahapan perjalanan menuju Tuhan, dari pertama sampai akhir, yang di dalamnya semua maqâmat (stasiun-stasiun spiritual) terungkap. Bagi mereka, wudhu bermakna tobat, menghadap kiblat bermakna kebergantungan kepada seorang pembimbing spiritual, berdiri dalam shalat bermakna kediaman-diri, membaca ayat-ayat Al-Quran (dalam shalat) bermakna perenungan batin (zikir), ruku‘ bermakna kerendahhatian, sujud bermakna pengetahuan diri, membaca syahadat bermakna kemesraan dengan Tuhan (uns), dan salam bermakna pemisahan diri dari dunia dan “melepaskan diri” dari ikatan “stasiun-stasiun” (maqâmat).

Maqâmat (jamak dari kata maqâm) berarti serangkaian stasiun atau perhentian spiritual. Ia adalah tingkatan-tingkatan yang telah dicapai oleh para penempuh jalan tasawuf berkat segala jerih payah melawan (hawa nafsu) dirinya sendiri dan latihan spiritual (riyâdhah) untuk menundukkannya. Para sufi berbeda-beda dalam hal jumlah dan macam stasiun-stasiun ini. Sebagai contoh, Al-Ghazali menyebutkan stasiun-stasiun ini sebagai terdiri secara berturut-turut dari: al-taubah (tobat), al-shabr (sabar), al-faqr (kemiskinan-spiritual), al-tawakkul (tawakal), al-mahabbah (cinta), al-ma‘rifah (pengetahuan spiritual), dan al-ridhâ (rela).

Para syaikh (sufi) memiliki beberapa pandangan yang berbeda mengenai makna shalat. Sebagian di antara mereka berpandangan bahwa shalat adalah sarana untuk mencapai kehadiran dalam Tuhan (hudhûr), yang lainnya berpandangan bahwa ia merupakan sarana untuk “tidak hadir” (ghaibât, dari segala sesuatu selain Allah). Sebagian yang telah “hadir” menjadi “tidak hadir” dalam shalat, sementara yang lainnya dari “tidak hadir” menuju “hadir”.



Para syaikh menyuruh pengikutnya untuk melakukan shalat sebanyak-banyaknya agar tubuh mereka terbiasa dan tetap hati (istiqâmah) untuk melakukan ibadah. Juga, para syaikh melaksanakan shalat sebagai ungkapan rasa syukur atas apa-apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada mereka. Orang-orang yang (disebut-sebut sebagai) memiliki berbagai “keadaan” (arbâb-i ahwâl)—yang di dalamnya mereka mencapai kesempurnaan ekstasi (kegembiraan-puncak yang bersifat sepenuhnya spiritual, wajd)—mencapai kebersatuan dengan Tuhan dalam shalat mereka. Sedangkan ketika mereka selesai shalat, dan keluar dari keadaan ekstasi itu, mereka pun terpisah (dari kebersatuan dengan Tuhan) itu.

Ahwâl (jamak dari hâl) adalah keadaan-keadaan spiritual yang dicapai oleh para penempuh jalan tasawuf. Berbeda dengan “stasiun-stasiun” yang bersifat lebih menetap (permanen), “keadaan-keadaan” spiritual hanya dialami dalam waktu pendek. Juga, jika maqâm merupakan hasil upaya aktif pelaku tasawuf, “keadaan” lebih merupakan anugerah Allah. Sebagai contoh, Abu Nashr Al-Thusi menyebut sembilan macam “keadaan”, termasuk al-qurb (kedekatan dengan Allah), al-syauq (perasaan rindu kepada Allah), al-uns (perasaan mesra), al-thuma’nînah (ketenteraman), dan sebagainya. Terkadang, suatu maqâm yang disebut oleh seorang sufi, contohnya al-mahabbah (cinta), dimasukkan ke dalam kelompok “keadaan” oleh sufi lain.

__
Sumber: Buat Apa Shalat?, Haidar Bagir, Jakarta: Mizan DP, 2007

ADMIN

BACA JUGA