YURISTGAMEINIGAMEID101

TASAWUF MENURUT FAZLUR RAHMAN

Untuk melacak Pemikiran Rahman di bidang tasawuf, dapat diketahui dari pandangannya tentang perjalanan spiritual dalam Islam. Baginya spiritualisme itu telah ada semenjak Nabi Muhammad saw, dan ia sebagai penunjang misi kenabian dan kerasulannya, namun para sahabat tidak  mempersoalkannya, sebab  mereka  dituntut  melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Pengalaman spiritual dianggapnya sebagai kekhususannya. Dalam perkembangan selanjutnya, penanaman taat terhadap hukum Tuhan, lama-kelamaan menjadi tahapan khusus interiorisasi dan introspeksi motif moral, hal inilah yang menjadi landasan kehidupan asketisme Islam yang berkembang dengan pesat pada abad VII dan VIII M.32.

Praktek tersebut mendapat dorongan kuat dari realitas sosial, ekonomi dan keberagamaan  masyarakat,  khususnya  penguasa  Dinasti  Umayyah,  maka  ada sekelompok yang rupanya meningkatkan kesalehannya secara individual. Dengan demikian  gerakan  ini  adalah  murni  etis  dengan  pendalaman  motif  etis.  Juga didorong oleh adanya fenomena isolasi politik, agar umat terlepas dari percaturan politik dan kenegaraan serta umat secara keseluruhan, bahkan sampai pada anjuran untuk uzlah ke gua, ditambah lagi reaksi terhadap formalisme dan legalisme dalam Islam.


Kehidupan asketisme merupakan awal kehidupan tasawuf yang merupakan reaksi atau protes moral spiritual dari keadaan pada waktu itu[1], yang akhirnya membawa sikap isolasi para sufi terhadap dunia, dan sikap sinisme politik akan menimbulkan pesimisme. Rahman sangat tidak sepakat dengan  model  kehidupan  yang  demikian  tersebut  dan  keduanya  bertentangan dengan ajaran al-Quran, sebab yang utama dalam al-Quran adalah implementasi aktual dari citra moral secara realistik dalam suatu konteks sosial[2]. Justifikasi  para sufi  dengan kehidupan Nabi  tidak bisa  diartikan penolakan Beliau terhadap dunia, akan tetapi sekedar menunjukkan kesederhanaan Nabi.  Sebab  bagaimanapun  juga  penolakan  secara  ekstrim  terhadap  kehidupan duniawi adalah salah dan hal demikian sangat asing bagi Nabi SAW sendiri.

Adalah sangat tidak tepat bila dikatakan bahwa di antara para sahabat ada yang mengalami ekstase-ekstase seperti Abu Yazid al-Busthami, Ibn Arabi, al-Hallaj dan sebagainya. Pada dasarnya gerakan asketisme ini adalah sebuah gerakan moral yang menandaskan betapa pentingnya usaha-usaha interiorisasi, pendalaman dan penyucian  terhadap motif moral dan memperjuangkan kepada umat manusia mengenai tanggung jawab yang maha berat yang dibebankan dalam hidup ini ke atas pundak manusia. Inilah yang sebetulnya model gerakan yang didukung oleh al-Quran dan al-Hadits Nabi saw.

Namun dalam prakteknya, Rahman tidak sependapat dengan pandangan para tokoh  tasawuf  falsafi,  yang  menurutnya  mereka  telah  melakukan  "penambahan" dalam  agama.  Karena  ekstase  (fana'  diri)  yang  dijalaninya  telah  menyebabkan pengisolasian diri yang dianggap sebagai the ultimate goal atau perjalanan manusia menuju Khaliknya. Penolakan Rahman tersebut berdasarkan pada perilaku Rasulullah.  Menurutnya, seandainya  ekstase  diri  para  sufi  itu  dianggap  sebagai religious  experience (pengalaman agama), maka Rasulullah pun mengalaminya. Tetapi pengalaman asketisme bukan sebagai titik akhir apalagi mengisolasikan diri dari  kehidupan duniawi,  melainkan tampil dalam  bentuk social movement atau gerakan sosial. Sebab kesucian seseorang bukan karena keterasingannya dari dunia dan  proses  sosial,  namun  harus berada di dalamnya dalam bentuk gerakan menciptakan sejarah. Dan demikian itulah yang sebetulnya menjadi tujuan utama, al-Quran; yaitu tegaknya sebuah tata sosial yang bermoral, adil dan dapat survive di muka bumi. Konsep taqwa hanya memiliki arti dalam konteks sosialnya.[3]. Konteks sosial-historis kemanusiaan, memberikan tanggapan kritis dan pemikiran alternatif untuk keberadaannya khususnya menghadapi masa depan. Selain itu dikaitkannya dengan berbagai bidang keislaman seperti teologi, fiqh, politik, dan doktrin-doktrin ortodok Islam secara kontekstual-sosiologis.

Paradigma di atas kalau dicermati lebih dalam, maka sesungguhnya gagasan Neo-Sufisme  Fazlur  Rahman  tersebut  dilatar belakangi  oleh  beberapa  anomali  atau problematika yang dipraktekkan oleh para sufi terutama puncaknya pada abad III H. Anomali  tersebut  adalah  pertama, anomali  teologis  yang  berhubungan  dengan pengalaman ekstasik-fana' dan ucapan-ucapan syatahat yang ganjil serta banyak ditandai oleh pemikiran-pemikiran spekulatif-metafisis, seperti Hulul, wahdat al- wujud, ittihad dan sebagainya, kedua, anomali non-formalistik yang berhubungan dengan dasar praktek-aplikatif tasawuf yang tidak bersandar pada normativitas Alquran dan Sunnah, dan ketiga, anomali holistika, yang berhubungan dengan aspek aksiologis (implementasi) tasawuf dimana para sufisme lebih memilih sikap isolasi dari kehidupan dengan melakukan kontemplasi dan uzlah dan tidak mau aktif dalam praksis kemasyarakatan.

Maka  dengan  demikian  Neo-Sufisme  Fazlur  Rahman  dengan  kerangka pemikiran back to Qur'an and Sunnah yang begitu kuat, akan melahirkan alternatif kehidupan sufistik di masa sekarang sesuai dengan tantangan zaman yang semakin berkembang. Neo-Sufisme  yang  telah  dikonstruksi ol Rahman dapat dikategorikan sebagai tasawuf model salafi. Sebuah model tasawuf yang secara epistemologis berdasarkan acuan normatif al-Quran dan al- Sunnah,  menjadikan  Nabi  dan  para  salaf  alshalihin  sebagai  panutan  dalam aplikasinya  yang  tidak  berlebih-lebihan  dalam  menjalankan  proses  spiritualisasi ketuhanannya  dengan  mengeliminir  unsur  misti-kmetafisik  dan  asketik  dalam tasawuf serta unsur-unsur heterodoks asing lainnya, dan digantikan dengan doktrin-doktrin  yang  bernuansa  salaf  yang  qur’anik-normatif  namun  tidak  elitis-eksklusif. Doktrin ini dimaksudkan untuk menjadikan tasawuf mampu berperan dalam konteks sosial kemasyarakatan. Hal ini dilakukan karena berbagai anomali atau problem (teologis, normative dan sosiologis) yang berkembang di tubuh tasawuf kala itu harus diperbarui agar tasawuf  sebagai  bagian  dari  keislaman  dapat memberikan kontribusi positif-konstruktif terhadap kehidupan masyarakat muslim dalam berbagai bidang kehidupannya.

Telaah metodologis Neo-Sufisme Fazlur Rahman di atas, membawa kita pada visi baru tentang tasawuf sebagai produk sejarah masa lalu yang bermakna ganda.[4] Pertama adalah mengembalikannya pada bentuk keberagamaan masa Rasulullah namun dengan tetap menerima peranan tasawuf dalam mendekati  Tuhan. Makna  yang  kedua  adalah  mengembangkan potensi tasawuf untuk menawarkan pemecahan praktis masalah kemanusiaan abad modern dengan memanfaatkan  pengalaman intuitif. Dalam  hal  ini  tasawuf  didudukkan sebagai proses peningkatan kualitas keberagamaan atau meminjam rumusan Abu al- Wafa menunjuk pada filsafat dan cara hidup untuk memperoleh keutamaan moral, irfan sufi dan kebahagiaan spiritual.

Unsur dasar yang menjadi perhatian utama visi ini adalah sifat kehidupan manusia yang senantiasa berubah. Artinya, konteks kehidupan tasawuf di abad lalu berbeda dengan konteks kekinian. Karena masyarakat manusia adalah realitas yang senantiasa berubah dan mencair, oleh karena itu perubahan masa kini harus disikapi dengan pola yang baru pula. Tasawuf yang dipraktekkan masakini harus dengan memperhatikan bahwa masalah kemanusiaan dalam kehidupan sosial merupakan bagian dari keberagamaan para sufi. Tujuan yang dapat dicapai tetap sama yaitu ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan intuitif, kemudian dilebarkan bukan hanya untuk individu melainkan juga untuk dan dalam bentuk kesalehan sosial.

Puncak  pengalaman  intuitif  yang  diburu  oleh  para  sufi  dan  perkumpulan tarekat,  harus  tetap  dalam  kesadaran bahwa  pengalaman fana'  dan baqa'  yang menjadi peluangnya tidak berlangsung selamanya, melainkan temporer. Jika hal ini dipahami sebagai pengalaman yang berlangsung kontinyu, maka akan mematikan fungsi tubuh untuk melakukan kewajiban agama. Lebih dari itu, puncak pengalaman yang  diburu  itu  adalah  ahwal  yang  diperoleh  sufi  bukan  atas  dasar  karyanya melainkan semata-mata anugerah dari Allah SWT. Tahap kesadaran sufi pada fana' dan baqa' tidak selamanya harus berakhir pada penghayatan "diri" Tuhan. Syihab al- Din Suhrawardi al-Maqtul mengemukakan teori yang sangat menarik[5]. Menurut pendapatnya, fana' adalah tahap pengalaman sufi ketika Tuhan menguasai dan meliputinya sehingga kesadaran diri yang terbatas itu lebur dalam keberadaan-Nya. Akan tetapi dalam pengalaman ini sufi masih memiliki kesadaran akan kedudukannya di hadapan Tuhan dan dunia sekitarnya. Pemenuhan kewajiban kepada Tuhan tidak melupakan kewajibannya terhadap dunia.

Pemikiran  Suhrawardi  ini  benar-benar  menyadarkan  akan  potensi  tasawuf untuk memiliki penghayatan yang utuh, keberadaan Tuhan dan menghayati pelaksanaan petunjuknya di dunia termasuk menghayati manusia. Sebagai suatu kesadaran,  pengalaman sufi masih  memiliki  potensi aktif  terhadap  dunia di sekitarnya. Setiap kesadaran manusia sesungguhnya memiliki dua sisi, yaitu aktif dan pasif, sisi aktifnya berkaitan dengan bentuk kegiatannya dalam kehidupan sosial. Bahkan lebih dari itu, tingkat pengalaman tasawuf yang dimiliki akan merupakan kunci kualitas perilakunya sebagai aktualisasi dari sisi aktif tersebut.

Dengan  demikian,  tampilan  empiris  seorang  Neo-Sufis  menuju  kedekatan dengan Allah SWT dapat dilakukan di tengah-tengah kesibukan dunia modern. Ia adalah seorang mukmin, namun sekaligus seorang wiraswasta, birokrat, teknolog, bankir atau bahkan seorang akuntan yang senantiasa menjadikan "tuts" komputer sebagai  "tasbih"  pemujian  asma  Allah.  Atas  dasar  persepsi  bahwa  zahid  tidak berbeda dengan sufi,  maka  ia  dapat  melakukan  riyadah  (latihan  rohani)  dalam konteks  kesibukannya sebagai orang modern. Kelebihan  dari  sosok  praktek  ini adalah masing-masing individu mencapai peningkatan spiritual sehingga memperoleh ketenangan hidup, kedamaian dan kebahagiaan di sisi Allah SWT, tidak perlu stress karena sikap zahidnya akan senantiasa membentuk qalbunya untuk tidak terikat dengan dunia, tidak perlu lupa diri menumpuk kekayaan karena sadar bahwa tujuan utamanya adalah memperoleh pengalaman fana' dan baqa' di sisi-Nya. Ia memang berpeluang untuk memperoleh pengalaman ma'rifat dalam terminologi Imam  al-Ghazali,  akan  tetapi,  persepsinya  bahwa  pola  pengalaman  keberadaan Tuhan yang terkait dengan mengalami pelaksanaan perintah-Nya dalam kehidupan sosial  ini  akan  membangkitkan  semangat  sufinya  untuk  membangun  dunia  di sekitarnya. Sufi jenis ini mungkin sekali seorang jutawan, namun kenyataannya itu tidak menjerat hatinya untuk tetap berupaya mencari kedekatan dengan Allah SWT yang sebenarnya menjadi tujuan dirinya.

Profil pengamal Neo-Sufisme atau yang dikenal dengan sufisme baru tersebut di atas tidak semata-mata berakhir pada kesalehan individual melainkan berupaya untuk membangun kesalehan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Mereka tidak hanya  bermaksud  memburu  surga  bagi  dirinya  sendiri dalam  keterasingan, melainkan justru membangun surga untuk orang banyak dalam kehidupan sosial. Makna yang dapat diperoleh dari pemahaman ini adalah alternatif pengembangan tasawuf untuk menghayati keberadaan Tuhan menuju pada pengamalan perintah- Nya dalam pola tasawuf sosial.


___
Sumber: Otoman, "Pemikiran Neo-Sufisme", Jurnal Tamaddun,  Vol 13 No 2 (2013)

Endnote:
[1] Fazlur Rahman, Islam, hlm. 132-133
[2] Ibid., hlm. 163-164
[3] Ibid., hlm. 54
[4] http://idb2.wikispaces.com/file/view/uf2006.pdf  
[5] Ibid.

ADMIN

BACA JUGA