YURISTGAMEINIGAMEID101

TIGA DERAJAT FANA

"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan, tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Ar-Rahman: 2627).

Kefanaan di dalam ayat ini adalah kebinasaan dan ketiadaan. Allah mengabarkan bahwa segala sesuatu di muka bumi ini akan tiada dan mati, sementara Wajah Allah tetap. Hal ini seperti firman-Nya,

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (Al-Anbiya': 35).
Menurut Al-Kalby dan Muqatil, ketika ayat ini turun, maka para malaikat berkata, "Semua penghuni bumi akan binasa". Ketika Allah menurunkan ayat, "Dan tetap kekal Wajah Rabbmu", mereka bertambah yakin tentang adanya kebinasaan itu.

Asy-Sya'by berkata, "Jika engkau membaca ayat, 'Semua yang ada di bumi itu akan binasa', janganlah engkau berhenti hingga engkau melanjutkan, 'Dan, tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan'."

Ini menunjukkan kedalaman ilmu dan pemahamannya tentang Alqur'an. Sebab yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah pengabaran tentang kebinasaan apa pun yang ada di muka bumi dan ketetapan Wajah Allah. Redaksi ayat ini dimaksudkan hanya untuk memuji-Nya sebagai satu-satunya yang baqa' (tetap). Sementara tidak ada pujian yang layak diberikan jika hanya disebutkan kefanaan makhluk. Pujian diberikan kepada ketetapan-Nya setelah kefanaan makhluk-Nya. Hal ini seperti firman-Nya,

"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Wajah Allah." (Al-Qashash: 88).

Sedangkan kefanaan yang diterjemahkan golongan ini berbeda dengan makna di atas. Kefanaan yang mereka isyaratkan lewat ayat ini adalah kepergian hati, pengasingannya dari alam ini dan kebergantungannya kepada Dzat Yang Mahatinggi dan yang memiliki baqa' serta yang tidak dijamah kefanaan. Siapa yang membuat dirinya fana' dalam kecintaan dan ketaatan kepada-Nya serta menghendaki Wajah-Nya, maka kefanaan ini akan menghantarkannya kepada kedudukan baqa'. Ayat ini memberi isyarat bahwa hamba sangat perlu untuk tidak bergantung kepada siapa pun yang fana' dan meninggalkan yang baqa', yaitu Dzat Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Seakan-akan ayat ini mengatakan, "Jika engkau bergantung kepada yang fana', maka kebergantungan ini akan berakhir saat ia fana'. Namun jika engkau bergantung kepada yang baqa' dan tidak fana', maka kebergantunganmu kepadanya tidak akan terputus dan akan terus berlanjut."

Kefanaan yang bisa diterjemahkan di sini adalah puncak dan akhir kebergantungan, yang berarti merupakan pemutusan dari selain Allah dari segala sisi. Karena itu Syaikh berkata, "Kefanaan dalam masalah ini adalah pelenyapan selain Allah secara ilmu, lalu pengingkaran, lalu kebenaran."

Fana' kebalikan dari baqa'. Yang baqa' bisa baqa' dengan sendirinya tanpa membutuhkan orang lain yang membuatnya baqa', tapi baqa'nya merupakan keharusannya. Yang seperti ini adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, sedangkan selain-Nya menjadi baqa' karena baqa'nya Allah, yang dirinya tidak memiliki baqa' yang hakiki.

Ada tiga derajat kefanaan, yaitu:

1. Kefanaan ma'rifat dalam Dzat yang dikenali. Ini merupakan kefanaan ilmu, kefanaan pandangan dalam apa yang dipandang, kefanaan pengingkaran, kefanaan pencarian dalam apa yang didapatkan dan kefanaan sebagai kebenaran.

Kefanaan ma'rifat dalam Dzat yang dikenali artinya orang yang memiliki ma'rifat tidak mengenali tentang perasaannya terhadap apa yang dikenali, sehingga dia tidak mengenali apa yang diperbuat Allah. Karena ma'rifat merupakan perbuatan dan sifat orang yang mengenali itu.

Jika dia tenggelam dalam kesaksian terhadap (Dzat) yang dikenali, maka ini merupakan kefanaan tentang sifat dan perbuatannya. Kare-na ma'rifat lebih tinggi derajatnya daripada ilmu dan juga lebih khusus, maka kefanaan ma'rifat tentang (Dzat) yang dikenali, merupakan keharusan bagi kefanaan ilmu dalam ma'rifat. Tentang kefanaan pandangan dalam apa yang dipandang, maka pandangan di atas ma'rifat. Jika ada peralihan dari ma'rifat ke pandangan, maka pandangannya akan menjadi fana' dalam apa yang dipandang, sebagaimana ma'rifat-Nya yang menjadi fana' dalam apa yang dikenali.

2. Kefanaan kesaksian pencarian untuk menggugurkan kesaksian itu, kefanaan kesaksian ilmu untuk menggugurkan kesaksian, dan kefanaan kesaksian pandangan untuk menggugurkan kesaksiannya. Derajat ini lebih tinggi daripada derajat pertama, karena lebih jauh dalam kefanaannya, sehingga di dalam hati mereka tidak ada kesibukan untuk mengingat keadaan dan kedudukan diri sendiri, karena sibuk dengan Rabb-nya.

3. Kefanaan dalam kesaksian. Ini adalah kefanaan yang sebenarnya, yang melihat cahaya hakikat dari kejauhan, yang mengarungi lautan kebersamaan dan meniti jalan baqa'.
Menurut Syaikh, ini merupakan kefanaan yang sebenarnya, karena segala apa selain Allah menjadi fana' di dalamnya, dan orangnya mempersaksikan kefanaan yang menjadi fana', sehingga yang menyisa hanya Allah Yang Maha Penguasa dan Menundukkan. 

Namun di dalam Al-Qur'an, As-Sunnah maupun dalam perkataan para sahabat serta tabi'in tidak pernah disebutkan sanjungan ataupun celaan terhadap lafazh fana'. Mereka juga tidak menggunakan lafadz ini dengan makna yang diisyaratkan Syaikh tersebut. Para ahli thariqah yang terdahulu juga tidak menggunakannya atau menganggapnya sebagai suatu kedudukan dan tujuan. Jadi kami tidak mengingkari dan juga tidak menerima lafazh ini secara mutlak. Maka dari itu harus ada rincian dan penjelasan tentang masalah ini.

Hakikat fana' seperti yang diisyaratkan Syaikh adalah ketiadaan sesuatu dalam wujud ilmiah dan rasa. Dalam hal ini harus dibedakan antara makna yang diberikan orang-orang yang istiqamah, yang menyimpang dan para ateis. Para ateis yang mengatakan tentang adanya wahdatul-wujud menganggap bahwa kefanaan merupakan tujuan kefanaan tentang wujud yang sama. Sesuatu yang sama tidak bisa ditetapkan wujudnya sama sekali, tidak pula dalam kesaksian dan pandangan, semua ada dalam kesaksian wahdatul-wujud, sehingga saat itu bisa diketahui wujud kebersamaan semua wujud yang ada, yaitu dalam wujud Allah. Jadi di sana tidak ada dua wujud, tapi semua yang ada adalah satu. Kefanaan menurut mereka adalah keponakan dari sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Tentu saja ini adalah persangkaan semata. 

Orang-orang yang istiqamah dan ahli tauhid mengisyaratkan kefanaan kepada dua perkara, yang satu lebih tinggi daripada yang lainnya, yaitu:

-Kefanaan dalam kesaksian Rububiyah dan Qayumiyah. Di sini ada kesaksian terhadap kesendirian Allah dalam berdiri sendiri, mengatur, mencipta, memberi rezeki, memberi, mencegah, memberi manfaat dan mudharat, dan semua wujud diperlakukan dan bukannya yang melakukan. Dalam semua perbuatan hamba berlaku hukum-hukum Rububiyah, dan dia tidak berkuasa sedikit pun atas dirinya dan juga orang lain.

- Kefanaan dalam kesaksian Ilahiyah. Hakikatnya adalah kefanaan dari kehendak kepada selain Allah, cinta, tawakal, takut dan penyandaran kepada-Nya. Dengan cinta kepada Allah, maka ada kefanaan dari cinta kepada selain-Nya. Hakikat kefanaan ini merupakan pengesaan Allah dalam cinta, harapan, takut, pengagungan dan pemuliaan.



___
Sumber: Madarijus Salikin (Pendakian menuju Allah) karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, (Penerjemah: Kathur Suhardi, Editor: Team Al-Kautsar) Cetakan Kedua: Agustus 1999, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

About Author

Related Post