YURISTGAMEINIGAMEID101

ZAINAB TETAPLAH SEBAGAI PEREMPUAN DI DUNIA KETIGA

oleh Nia Kurnia

Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah (selanjutnya ditulis DBLK) karya Hamka merupakan salah satu karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Pada saat itu, Balai Pustaka merupakan penerbit yang berada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda. Balai Pustaka merupakan salah satu penerbit yang memberikan cap bacaan liar pada buku-buku yang diterbitkan di luar Balai Pustaka. Karya-karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dianggap karya sastra kanon atau karya sastra tinggi.
Jika berbicara novel DBLK, tentu saja orang akan berpikir bahwa karya tersebut merupakan karya sastra kanon. Kekanonan karya tersebut tentu ditentukan oleh beberapa hal, di antaranya pemakaian bahasanya yang menggunakan bahasa Melayu tinggi, serta dari segi isinya karya tersebut tentu sesuai dengan kebijakan pemerintah Belanda sehingga karya tersebut lulus sensor.
Karya tersebut lahir pada saat Indonesia masih dijajah oleh pemerintah Belanda. Tentu saja wacana kolonial merupakan wacana dominan yang menguasai karya itu, paling tidak dari segi dunia pendidikan, yaitu tokoh Hamid dan Zainab yang bersekolah di Mulo dan HBS.

Hamid dan Zainab merupakan dua tokoh yang berbeda kelas sosial. Hamid merupakan rakyat pribumi biasa, sedangkan Zainab merupakan wakil rakyat pribumi bangsawan karena ayah Zainab seorang pedagang. Keduanya mendapatkan persamaan dalam pendidikan karena Hamid disekolahkan oleh ayah Zainab, yaitu Haji Ja’far. Setelah lulus Mulo, Hamid meneruskan ke sekolah agama, sedangkan Zainab kembali menjadi perempuan pingitan yang dipersiapkan untuk menjadi seorang istri.

Jika dipandang dari status sosial, tentu saja Zainab memilki status sosial lebih tinggi dibandingkan Hamid walaupun ia seorang perempuan. Zainab tetap merupakan seorang anak majikan bagi Hamid. Zainab adalah tuan bagi Hamid. Akan tetapi, ketika perempuan telah dikembalikan pada budaya patriakal, posisi Hamid menjadi lebih tinggi. Ia memiliki kemungkinan untuk menggantikan posisi Haji Ja’far yang telah meninggal dunia. Hamid dapat menggantikan peran Haji Ja’far sebagai ayah yang memiliki kuasa untuk memberi perintah (the law of the father).

Walau anak seorang majikan, Zainab tetap saja merupakan gambaran perempuan di dunia ketiga. Zainab merupakan perempuan kelas menengah yang pernah mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Akan tetapi, dipandang dari kaca mata poskolonial, akan terungkap adanya hal-hal yang perlu dipertanyakan kembali, misalnya: Mengapa Zainab tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi? Mengapa ia menerima saja ketika harus dipingit? Lalu, mengapa ia tidak mencari Hamid jika memang ia mencintai Hamid?

Sebagai wujud dari pengaruh pendidikan yang telah diterima, Zainab sebagai perempuan dunia ketiga, hanya mampu menolak lamaran saudara dari kemenakan ayahnya. Ia tidak mampu menunjukkan diri sebagai perempuan yang ingin mencapai keinginannya. Ia hanya menunggu cinta yang tidak kunjung datang karena kedua-duanya telah terpasung oleh kepatuhan Hamid sebagai seorang yang patuh pada agama, sedangkan Zainab sebagai perempuan Timur yang segan menyatakan perasaannya kepada laki-laki karena adanya hukum adat bagi perempuan.

Zainab sebagai wakil perempuan di dunia ketiga memang mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai tingkat Mulo. Pendidikan yang dia terima telah sedikit membentuk pola pikir dia dalam masalah perjodohan. Akan tetapi, tetap saja ia tidak dapat melepaskan dirinya sebagai perempuan dunia ketiga yang tidak dapat melepaskan diri dari dunia adat yang telah membeleggunya. Ia tetap harus tercitrakan sebagai perempuan Timur yang lemah, pasrah, dan patuh pada adat sehingga semua itu harus berakhir pada sebuah gambaran bahwa agama dan adat merupakan sebuah jalan yang diambil oleh setiap perempuan Timur dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi.

JIka berkaca lagi pada karya-karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, karya-karya pengarang Balai Pustaka yang ditulis oleh orang Minang akan selalu dikatakan terkait dengan tematema kasih tak sampai karena adanya adat kawin paksa. Ada suatu kecurigaan bahwa pemerintah kolonial sengaja dan menjadikan adat yang ada dalam sebuah kelompok suku tertentu untuk dijadikan alat bagi mereka dalam melanggengkan kekuasaannya. Mereka secara tidak langsung, ingin menyatakan pembenaran terhadap wacana orientalis yang menyatakan bahwa orang Timur itu begitu eksotis, tidak beradab, lebih kuat dalam menggunakan rasa daripada rasio. 

Hal itu ditunjukkan dari sikap Hamid. Sebagai seorang laki-laki, ia begitu pasrah, tidak aktif memperjuangkan keinginannya untuk melamar Zainab. Ia malah melarikan diri dan menyerahkan nasib pada kekuasaan Tuhan dengan cara pergi ke Mekah. Sikap Hamid tersebut dapat dianggap sebagai bentuk kepasrahan diri seorang laki-laki pribumi biasa di dunia ketiga yang taat pada agama. Begitu pula dengan Zainab sebagai perempuan pribumi bangsawan di dunia ketiga yang tetap berada dalam budaya patriarki. Keberadaannya sebagai perempuan di dunia ketiga, tetap harus menjadikan Zainab sebagai subaltern laki-laki. Artinya, perempuan kelas biasa di dunia ketiga akan semakin terpuruk kedudukannya di posisi paling bawah karena akibat perbedaan suku, bangsa, ras, gender, dan jenis kelamin sebagai perempuan.

Jika membaca novel DBLK, seperti tidak ada yang janggal dalam novel tersebut. Jalan yang diambi loleh Hamid dan Zainab dianggap lumrah. Hamid sebagai orang yang kental dengan pendidikan agama harus menyadari keberadaan dan harus memasrahkan hidupnya kepada Tuhan. Hingga akhir hayatnya, Hamid tidak dapat menyampaikan keinginannya untuk menikahi Zainab. Begitu pula Zainab, sebagai perempuan Minang, ia hanya bisa sebatas menolak saja. Ia tetap hanya dapat memasrahkan diri kepada Tuhan hingga mereka berdua mati. Kisah dua remaja itu terasa mengharukan dan telah menjadikan sebuah gambaran keagungan cinta mereka. Kasih mereka tidak sampai hingga ajal menjemput. Mereka meninggal secara beriringan sehingga kesan yang muncul dari cerita itua dalah: bahwa cinta mereka akan bersemi di alam lain karena di dunia cinta mereka memang terhalang. 

Namun, di balik kesan yang ingin ditampilkan, ternyata hal itu semua tidak dapat dilepaskan dari wacana kolonial yang tetap berupaya menciptakan pelanggengan atas kelemahan perempuan Timur atau perempuan di dunia ketiga atas nama adat dan agama.***

ADMIN

BACA JUGA