YURISTGAMEINIGAMEID101

ABDUL QADIR AL-JAILANI (471 H-561 H)

ABDUL QADIR AL-JAILANI (471 H-561 H)

Abdul Qadir al-Jailani seorang sufi besar yang menjadi pendiri sekaligus mursyid pertama tarekat Qadiryah. Sultanul auliyah ini bernama lengkap Syekh Abu Muhammad Muhyiddin Abdul Qadir al Jailani r.a bin Abi Shalih as Sayyid Musa bin Junki Dausit bin as Sayyid Abdullah al Jili Ibnu as Sayyid Yahya az Zahid bin as Sayyid Muhammad bin as Sayyid dawud bin as Sayyid musa bin as Sayyid Abdullah bin as Sayyid Musa al Juni. Secara garis keturunan, Jailani mengarah pada Sayyidina Husain dari garis ibu dan Sayyidina Hasan dari jalur ayah. Kedunya merupakan cucu Nabi Muhammad saw.. 

Terjadi perbedaan pendapat mengenai tempat dan tanggal lahirnya, tetapi pendapat yang paling sahih adalah lahir di Jaelan, sebelah selatan laut Kaspia, Iran, pada Rabu 1 Ramadhan 471 H atau 18 Maret 19 1077 dari pasangan Abu Salih dan Umm Khair Fatima. Pendapat ini disandarkan pada Ibn al-Jauzi, ulama yang hidup sezaman dengan Jailani. 

Tahun 1095 M, saat Jaialni berusia 18 tahun, dia merantau ke Baghdad sebagai pusat peradaban Islam masa itu. Selain memperdalam fikih, dia mulai mengenal kesufian secara serius. 

Jailani sempat mengembara selama 25 tahun menjelajahi gurun untuk melatih diri dalam kerohanian sekaligus uzlah dari krisis moralitas Baghdat waktu itu. Selama pengembaraannya, Jailani menghindari manusia, berpakaian sederhana, makan dan minum dari alam secara langsung seadanya.

Selepas pengembaraan, dia mulia fokus pada mengajar dan mendalami sejumlah disiplin ilmu keislaman, seperti Alquran, hadis, fikih, tasawuf, dan sastra Islam. Guru sufi Jailani antara lain: Abu Muhammad Ja‟far ibn Ahmad al-Siraj, Syaikh Hammad ibn Muslim al-Dibbas, al-Qadi Abu Sa‟d al-Mubaraq ibn Ali al-Muharrami. Sementara itu, di bidang sastra, dia berguru pada Abu Zakariya dan Yahya bin Ali at-Tabrizi.

Jailani punya ribuan murid, antara lain yang masyhur adalah Abdul Ghani bin Abdul Wahin al-Muqaddasi yang menyusun kita Umdatul Ahkam fi kalami Khairil Anam, dan Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qadamah al-Muqaddasi yang menulis kita terkenal al-Mughni.

Jailani baru menikah di usia 51 tahun untuk mengikuti sunah Rasul. Dia memiliki empat istri dan empat puluh anak. Ada empat anaknya yang masyhur, yaitu: Syekh Abdul Wahab, ulama besar yang meneruskan madrasah Jailani, Syekh Isa, hakim dan penyair di Mesir, Syekh Abdul Razaq, ahli hadis tinggal di Bagdhad, dan Syekh Musa, ulama besar di Damaskus. 

Jailani wafat pada malam Sabtu, tanggal 10 Rabiul al-Tsani 561 H atau 13 Februari 1166 M di Baghdat.

Sebagai sufi, ulama besar, dan penyair, Jailani menulis puluhan kitab, tetapi kitab yang paling masyhur antara lain adalah Tafsir al-Jailani, Sirr al-Asrar fi Ma Yahtaj ilayh al-Abrar, Futuh al-Ghaib, Asrar al-Asrar, Al-Fuyudat ar-Rabbaniyyah fi al-Aurad al-Qadiriyyah, Bahjah al-Asrar , dan ad-Diwan.

Kata hikmah Jailani yang paling viral adalah:
“Dunia itu serupa orang buang air besar di tepi jalan. Bila kau menjumpainya, biarkan saja, tetapi tutuplah hidungmu dan palingkan wajahmu agar kau tidak mencium dan melihatnya.”

ADMIN

BACA JUGA