YURISTGAMEINIGAMEID101

FAKTOR-FAKTOR CINTA KEPADA ALLAH

Faktor-Faktor Cinta kepada Allah - sufinesia.com

Mazhab Zahiriah berpendapat bahwa Allah sama sekali tak dapat dipersepsi manusia. Mereka menolak kemungkinan manusia bisa benar-benar merasakan cinta kepada Allah. Bagi mereka, manusia hanya bisa mencintai makhluk. Cinta yang diyakini sebagian manusia sebagai cinta kepada Allah hanyalah proyeksi dari rasa cintanya kepada makhluk atau sekadar bayang-bayang yang yang tercipta oleh khayalannya. Benarkah demikian?

Kita akan memahami hal cinta kepada Allah lebih jelas jika kita tahu fakor-faktor yang membangkitkan cinta kepada Allah. Apa saja faktornya?

1. Faktor pertama adalah bahwa manusia selalu mencintai dirinya dan kesempurnaan sifatnya. Ini mengantarkannya langsung menuju cinta kepada Allah, karena keberadaan manusia dan sifat-sifatnya tak lain adalah anugerah Allah. Kalau bukan karena kebaikan-Nya, manusia tidak akan pernah muncul dari balik tirai ketiadaan ke dunia kasat mata ini. Pemeliharaan dan pencapaian kesempurnaan manusia juga sepenuhnya bergantung kepada kemurahan Allah. Sungguh aneh, ada orang yang berlindung dari panas matahari di bawah bayangan sebuah pohon tetapi tidak mensyukuri pohon itu—sumber bayangan—yang tanpanya pasti tak akan ada bayangan sama sekali. Kalau bukan karena Allah, manusia tidak akan ada dan tidak akan punya sifat-sifat. Karenanya, setiap orang pasti dan mesti mencintai Allah, kecuali orang-orang yang tidak mengetahui-Nya. Mereka tak bisa mencintai-Nya, karena cinta kepada-Nya memancar langsung dari pengetahuan tentang-Nya. Dan sejak kapankah orang yang bodoh punya pengetahuan?

2. Faktor kedua adalah cinta manusia kepada pendukungnya, dan sesungguhnya yang senantiasa mendukung dan membantu manusia hanyalah Allah. Sebab, kebaikan apa pun yang diterimanya dari sesama manusia pada hakikatnya disebabkan oleh dorongan langsung dari Allah. Motif apa saja yang menggerakkan seseorang memberi kebaikan kepada orang lain, apakah itu keinginan untuk mendapat pahala atau nama baik, sesungguhnya digerakkan oleh Allah.

3. Faktor ketiga adalah perenungan terhadap sifat-sifat Allah, kekuasaan, dan kebijakan-Nya. Kekuasaan dan kebijakan manusia hanyalah cerminan paling lemah dari kebijakan dan kekuasaan-Nya. Cinta seperti ini mirip dengan cinta kita kepada orang-orang besar di masa lampau, seperti Imam Malik dan Imam Syafi‘i meski kita tak pernah berharap mendapat keuntungan dari mereka. Inilah cinta yang tanpa pamrih. Allah berfirman kepada Nabi Daud, “Hamba-Ku yang paling mencintai-Ku adalah yang tidak mencari-Ku karena takut dihukum atau mengharapkan pahala. Ia mencari-Ku hanya untuk membayar utangnya kepada-Ku.” Dalam Alkitab tertulis: “Siapakah yang lebih kafir daripada orang yang menyembah-Ku karena takut neraka atau mengharap surga? Jika tidak Kuciptakan keduanya, tidak pantaskah Aku untuk disembah?”

4. Faktor keempat adalah adanya “kemiripan” antara manusia dan Allah. Inilah makna sabda Nabi saw.: “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya.” Dan dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Hamba-Ku mendekat kepada-Ku sehingga Aku menjadikannya sahabat-Ku. Lantas, Aku menjadi telinganya, matanya, dan lidahnya.” Dan Allah berfirman kepada Musa as.: “Aku sakit tetapi engkau tidak menjengukku!” Musa menjawab, “Ya Allah, Engkau adalah penguasa langit dan bumi, bagaimana mungkin Engkau sakit?” Allah berfirman, “Salah seorang hamba-Ku sakit. Dengan menjenguknya berarti kau telah mengunjungi-Ku.”

Memang tema ini agak riskan diperbincangkan karena berada di luar pemahaman orang awam. Orang yang cerdas sekalipun tersandung ketika membicarakan masalah ini sehingga mereka meyakini adanya inkarnasi dan persatuan dengan Allah. Meski demikian, kemiripan antara manusia dan Allah menjawab keberatan teolog Zahiriah yang berpendapat bahwa manusia tidak bisa mencintai wujud yang bukan dari spesiesnya sendiri. Betapa pun jauh jarak yang memisahkan keduanya, manusia bisa mencintai Allah karena kemiripan yang diisyaratkan dalam sabda Nabi: “Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya.”***

___

Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007.

ADMIN

BACA JUGA