YURISTGAMEINIGAMEID101

HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH

HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH - SUFINESIA.COM

Yahya ibn Mu‘adz meriwayatkan bahwa ia mengamati Abu Yazid al-Bustami dalam salatnya sepanjang malam. Usai salat, Abu Yazid al-Bustami berdiri dan berdoa:
“Ya Allah! Sebagian hamba telah meminta dan mendapat kemampuan luar biasa, berjalan di atas air atau terbang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; sebagian lainnya meminta dan mendapatkan limpahan harta, tetapi bukan itu pula yang kuminta.” 
Kemudian Abu Yazid al-Bustami berpaling kepada Yahya dan bertanya:

“Engkaukah itu Yahya?” 
“Ya.” 
“Sejak kapan?” 
“Sudah cukup lama.”
"Maafkan aku tidak menyadari keberadaanmu...."
"Tidak apa-apa..."

Kemudian Yahya meminta pada Abu Yazid al-Bustami agar mengungkapkan beberapa pengalaman rohaniahnya malam itu.

“Sungguh kamu ingin tahu?"
"Tentu..."

"Baiklah, akan aku ungkap apa yang boleh diungkap kepadamu, semoga Allah meridaiku...”

"Amin...."

"Allah Yang Maha Kuasa telah menunjukkan kerajaan-Nya padaku. Ia mengangkatku ke atas Arasy dan Kursi-Nya sampai ke tujuh langit. Kemudian Dia berkata: ‘Mintalah kepada-Ku apa yang kau inginkan.’ Aku menjawab: ‘Ya Allah, tak aku inginkan sesuatu pun selain Engkau!’ Dia berkata: ‘Sungguh, engkaulah hamba-Ku...”

Kisah tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Allah tak bisa memenuhi hati manusia sebelum hatinya disucikan dengan zuhud dari cinta dunia. Keadaan orang yang mencintai Allah di dunia ini adalah seperti pecinta yang akan melihat wajah kekasihya di keremangan senja, sementara pakaiannya dipenuhi lebah dan kalajengking yang terus menyiksanya. Ia akan merasakan kebahagiaan sempurna saat matahari terbit dan terlihat wajah kekasih dengan segenap keindahannya disertai matinya semua binatang berbisa yang selalu mengusiknya.

Seperti itulah keadaan hamba yang mencintai Allah setelah keluar dari keremangan dan terbebas dari bala yang menyiksa di dunia ini. Ia akan melihat-Nya tanpa tirai. Abu Sulaiman berkata, “Orang yang sibuk dengan dirinya di dunia, kelak akan sibuk dengan dirinya; dan orang yang sibuk dengan Allah di dunia, kelak akan sibuk dengan-Nya.”

Itulah sebabnya, Ibrahim ibn Adam dalam doanya berkata:
“Ya Allah, di mataku, surga masih lebih rendah dari seekor serangga jika dibanding cintaku kepada-Mu dan kebahagiaan mengingat-Mu yang telah Kau anugerahkan kepadaku.”


___
Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007. 

ADMIN

BACA JUGA