YURISTGAMEINIGAMEID101

HARAMKAH MUSIK DAN TARIAN SUFI? (1)

HARAMKAH MUSIK DAN TARIAN SUFI?

SUFINESIA.COM |Musik dan tarian sangat dalam mempengaruhi keadaan hati manusia. Ia menyalakan cinta yang tertidur dalam hati—cinta yang bersifat duniawi dan indrawi, maupun cinta yang bersifat  ilahi dan rohani. Namun para teolog bersilang pendapat mengenai musik dan tarian dalam aktivitas keagamaan. Musik dan tarian, bagi mereka -yang mengharamkan-, hanyalah berurusan dengan cinta kepada makhluk, dan tidak dianjurkan dalam syariat. Benarkah?

Musik dan tarian memang tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati, tetapi ia mampu membangunkan emosi yang tertidur. Karena itu, jika yang dibangkitkan adalah cinta kepada Allah -yang sangat dianjurkan syariat-, maka musik dan tarian boleh dipergunakan, bahkan dianjurkan. Sebaliknya, jika yang memenuhi hatinya adalah nafsu duniawi, musik dan tarian hanya akan memperburuk keadaan sehingga keduanya terlarang. Namun hukum keduanya menjadi mubah jika dimaksudkan semata untuk hiburan.

Kenyataan bahwa musik dan tarian menenteramkan hati tidak lantas membuatnya haram, sebagaimana mendengarkan nyanyian burung, desir angin, melihat rumput hijau dan air mengalir. Bahkan kita mendapati sebuah hadis sahih dari Aisyah r.a. mengenai bolehnya musik dan tarian yang dipergunakan semata-mata sebagai hiburan:

Pada suatu hari raya, beberapa orang menari di masjid. Nabi berkata kepadaku: “Apakah kau ingin melihatnya?” Aku jawab, “Ya.” Lantas aku diangkatnya dengan tangannya sendiri yang dirahmati, dan aku menikmati pertunjukan itu sedemikian lama sehingga lebih dari sekali beliau berkata: “Belum cukup?”

Hadis lain dari Aisyah adalah sebai gai berikut: 

Pada suatu hari raya, dua orang gadis datang ke rumahku dan mulai bernyanyi dan menari. Nabi masuk dan berbaring sambil memalingkan mukanya. Tiba-tiba Abu Bakar masuk dan melihat gadis-gadis itu bermain, berseru: “Waduh! Seruling setan di rumah Nabi!” Mendengar perkataannya, Nabi menoleh dan berkata: “Abu Bakar, biarkan mereka, ini hari raya.”

Memang banyak terjadi musik dan tarian membangkitkan nafsu setan dalam diri manusia. Namun, kita juga mendapati musik dan tarian yang justru membangkitkan kebaikan, misalnya:


  • Nyanyian jamaah haji memuji keagungan Allah di Baitullah sehingga banyak orang yang terdorong untuk pergi haji;
  • Musik dan nyanyian yang membangkitkan semangat perang para pejuang untuk memerangi kaum kafir;
  • Musik pilu yang membangkitkan kesedihan orang yang telah berbuat dosa sehingga ia menyadari kesalahannya;
  • Musik yang dimainkan di pesta pernikahan, khitanan, atau untuk menyambut kedatangan seseorang dari perjalanan jauh. 


Semua jenis musik dan tarian seperti itu halal dan dibolehkan. Nabi Daud pun bernyanyi dan memainkan alat musik untuk memuji dan mengagungkan Allah. 

Sementara itu, nyanyian yang termasuk diharamkan adalah nyanyian di pekuburan yang hanya menambah kesedihan setelah peristiwa kematian. Allah berfirman: 
“Jangan bersedih atas apa yang hilang darimu.” 
Lantas bagaimana dengan musik dan tarian yang dipergunakan untuk aktivitas keagamaan khususnya dalam kesufian?

Bersambung: HARAMKAH MUSIK DAN TARIAN SUFI? (2)

ADMIN

BACA JUGA