YURISTGAMEINIGAMEID101

HARAMKAH MUSIK DAN TARIAN SUFI? (2)

HARAMKAH MUSIK DAN TARIAN SUFI? (2)

SUFINESIA,COM | Meski musik dan tarian sufi ini merupakan fenomena baru dalam Islam yang tidak ada contohnya dari para sahabat, mesti kita ingat bahwa yang diharamkan hanyalah segala sesuatu yang secara langsung bertentangan dengan syariat. Artinya, yang tidak bertentangan langsung dengan syariat, boleh dilakukan, contohnya salat Tarawih. Kita sama-sama mengetahui bahwa salat ini dilembagakan pertama kali oleh Khalifah Umar. 

Nabi saw. bersabda, “Hiduplah dengan setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya.” Karena itu, kita boleh mengerjakan hal-hal tertentu untuk menyenangkan seseorang, karena sikap tidak bersahabat akan menyakitkan hati mereka. Memang benar bahwa para sahabat tidak terbiasa berdiri saat Nabi saw. memasuki ruangan karena mereka tak menyukai kebiasaan ini; tetapi di daerah-daerah tertentu yang punya kebiasaan seperti ini, kita mesti mengikuti kebiasaan mereka karena sikap yang tidak bersahabat hanya akan menimbulkan kebencian. Setiap bangsa punya kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Budaya Arab tentu berbeda dengan budaya Persia. 

Bagaimana dengan musik dan tarian sufi?

Para sufi memanfaatkan musik untuk membangkitkan cinta yang lebih besar kepada Allah dalam diri mereka. Berkat bantuan musik mereka sering mendapatkan visi dan gairah rohani. Dalam keadaan seperti ini hati mereka menjadi sebersih perak yang dibakar dalam tungku, dan mencapai suatu tingkat kesucian yang tak akan pernah bisa dicapai melalui laku prihatin. Mereka semakin menyadari keterkaitan mereka dengan dunia rohani sehingga perhatian pada dunia secara bertahap sirna, bahkan kadang-kadang kesadaran indrawi mereka hilang.

Itulah kenapa para calon sufi atau sufi pemula dilarang ikut ambil bagian dalam tarian mistik ini tanpa bantuan gurunya (mursyid). Syekh Abu Qasim al-Jurjani mengatakan kepada muridnya yang minta izin untuk ikut menari sufi:
“Jalani puasa yang ketat selama tiga hari, kemudian suruh orang lain memasak makanan yang menggiurkan. Jika setelah itu kau masih lebih menyukai tarian itu, kau boleh ikut.” 
Bagaimanapun, seorang murid yang hatinya belum sepenuhnya tersucikan dari nafsu duniawi—meski pernah mendapat penglihatan rohani—harus dilarang oleh gurunya untuk ambil bagian dalam tarian mistik semacam ini karena hanya akan mendatangkan mudarat ketimbang maslahat.

Akan tetapi, ada fenomena lain dalam tarian sufi ini yang mungkin -di mata sebagian orang- tampak sebagai perilaku menyimpang, yakni ketika sebagian sufi yang menari histeris melukai diri sendiri dan mengoyak-koyak pakaiannya. Jika perilaku itu murni sebagai hasil dari keadaan ekstase, tak ada alasan untuk menentangnya. Namun jika laku ini muncul dari akting semata atau sok ekstase, ia layak dikecam karena hal itu hanyalah gambaran kemunafikan yang bisa merusak citra kesufian terkait musik dan tarian.

Dengan demikian, musik dan tarian sufi boleh dilakukan dengan visi misi sejati kesufian itu sendiri, bukan akting atau rekayasa semata yang bisa membahayakan diri dan orang lain.

___
Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007.

ADMIN

BACA JUGA