YURISTGAMEINIGAMEID101

ISLAM DAN SENI DI INDONESIA

oleh Abdul Hadi W. M. 



Pembahasan terhadap persoalan hubungan antara Islam dan seni, sebenamya bukan hanya persoalan sikap kebanyakan ulama dan fuqaha’ (ahli hukum Islam) yang kaku dan risih terhadap kegiatan seni. Persoalan yang tidak kalah penting justru berkaitan dengan beberapa hal mendasar. Pertama, menyusutnya ingatan kolektif umat Islam terhadap khazanah budaya Islam, khususnya yang berkaitan dengan seni, yang kaya dan pemah berkembang selama beberapa abad, bukan saja di belahan negeri Arab dan Persia, tetapi juga di kepulauan Nusantara; Kedua, merosotnya pemahaman konseptual tentang seni di kalangan luas pemeluk agama Islam, serta ketidakpedulian mereka terhadap arti dan peranan penting seni dalam kehidupan. Khususnya sebagai sarana pendidikan dan pemekaran imajinasi, yang niscaya bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan dan peningkatan kreativitas umat.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang masyhur Kimiya-i Saadah, malah mengatakan bahwa apabila diberdayakan dengan tepat dan sungguh-sungguh, seni dapat menyemarakkan kehidupan keagamaan. Peranan seni yang tidak kalah penting, tetapi belum benar-benar disadari adalah bahwa seni juga bisa dijadikan sumber pemberdayaan ekonomi umat, khususnya seni rupa, desain, kerajinan, arsitektur, dan seni musik. Penyebab utama dari dua hal yang telah disebutkan itu dapat dicari dalam faktor pengajaran dan pendidikan.

Di samping itu, kecilnya minat dan pengetahuan masyarakat terhadap seni juga disebabkan kurangnya kegiatan apresiasi yang dilakukan oleh lembaga dan organisasi sosial keagamaan. Dalam kaitannya dengan pengajaran dan pendidikan, sampai saat ini kita tidak melihat adanya lembaga pendidikan tinggi Islam yang bersedia membuka jurusan seni rupa dan desain. Sekalipun beberapa universitas Islam memiliki jurusan adab dan sastra, mata kuliah seperti kesusastraan Islam, sejarah kebudayaan, dan kesenian Islam jarang sekali diajarkan secara sungguh-sungguh dan cukup mendalam. Para sarjana kita juga jarang yang ber minat untuk mengkaji khazanah intelektual dan sastra Islam Nusantara. Padahal khazanah tersebut sangat melimpah, khususnya yang ditulis dalam bahasa Melayu, Jawa, dan Sunda. Apabila teks klasik itu dikaji secara mendalam, niscaya akan diperoleh perspektif yang luas tentang perkembangan Islam di Indonesia. Kita juga akan mengenal beragam sumber nilai dari kebudayaan Islam yang berkembang di Indonesia dan lebih bisa memahami watak dan ciri perkembangannya di masa kini.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, tidak jarang seni digunakan sebagai media penyebaran agama yang ampuh, khususnya pada masa awal berkembangnya Islam. Hal itu tampak, misalnya dalam aktivitas para wali di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra pada abad ke-16 M dan ke-17 M. Wali-wali seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga berperan besar dalam mengembangkan seni dan kebudayaan Jawa yang bernapaskan Islam. Mereka mampu mentransformasikan bentuk-bentuk seni warisan Hindu menjadi bentuk seni baru bermuatan Islam. Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati sebagai contoh adalah juga perintis penulisan puisi suluk atau tasawuf, yang pengaruhnya besar bagi perkembangan sastra.

Tidak sedikit sarjana Barat dan Timur yang memaparkan berbagai bukti betapa para sastrawan memainkan peranan penting bagi kebudayaan Islam di kepulauan Melayu Nusantara. Bahkan tidak sedikit di antara para ulama Nusantara dan para ahli tasawufnya sesungguhnya juga budayawan dan sastrawan terkemuka. Syed Muhammad Naguib al-Attas (1970), misalnya membuktikan bahwa bahasa Melayu, yang merupakan asal-usul bahasa nasional Indonesia dan Malaysia sekarang, dapat terangkat menjadi bahasa intelektual dan kebudayaan tinggi dan bertaraf intemasional, berkat kerja keras para sufi, seperti Hamzah Fansuri, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abdul Rauf Singkel. Sebelum mengalami proses pengislaman, bahasa Melayu hanya dipakai lingua franca atau sebagai bahasa perdagangan. Akan tetapi, di tangan para sastrawan sufi Melayu abad ke15 M dan 16 M, bahasa Melayu naik peranannya sebagai bahasa intelektual dan keagamaan paling menonjol di Asia. Berkat penggunaan bahasa Melayu yang luas, dengan teks-teks ilmu agama dan sastranya, Islam dengan cepatnya berkembang di kepulauan Nusantara. Peranan para pedagang dan muballigh tentu saja tidak dapat diabaikan pula.

Braginsky (1993) yakin bahwa kesusastraan Melayu memainkan peranan penting karena telah meletakkan fondasi yang mantap bagi kebudayaan Islam di Indonesia dan Malaysia. Hendaknya diingat bahwa karya mereka yang bernilai sastra tidak hanya mengungkapkan pemikiran tentang kesenian dan estetika, tetapi juga berkaitan dengan ilmu fiqih, syariah, hadis, tafsir al-Quran, usuluddin dan tasawuf, yang dipaparkan melalui ungkapan sastra atau puisi. Memang sejak dulu telah muncul perdebatan sengit tentang peranan dan kedudukan seni di kalangan sesama ulama. Dapat disebut di sini yang paling menonjol adalah perdebatan antara Nuruddin al-Raniri, yang mewakili para fuqaha’, dan murid-murid Syamsudin Pasai dan Hamzah Fansuri pada awal abad ke-17 M di Aceh. Perdebatan tersebut berkaitan dengan masalah pemahaman konseptual tentang seni dan metode penafsiran ungkapan estetik simbolik seni. Pihak yang satu menggunakan argumentasi ilmu fiqih, yang cenderung menafsirkan ungkapan dalam seni secara formal dan harfiah. Pihak yang lain menggunakan argumentasi tasawuf, yang dalam menafsirkan karya seni atau sastra berangkat dari penafsiran hermenneutik (ta ‘wil). Nuruddin alRaniri berpendapat bahwa seorang Muslim tidak sepatutnya membaca cerita zaman Hindu, seperti Ramayana dan Hikayat Pandawa Lima. Cerita tersebut pada masa itu masih disalin oleh penulis-penulis Muslim dan digemari oleh orang-orang Melayu Islam.

Pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsudin Sumatrani berpendapat bahwa tidak ada salahnya orang Islam membaca karya-karya zaman Hindu karena karya-karya tersebut telah disadur dan diberi nafas Islam walaupun tidak secara keseluruhan. Sementara itu, Nuruddin al-Raniri dan para fuqaha’ yang lain memandang pantun dan syair digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang rendah dan mudarat. Akan tetapi, lawannya membuktikan bahwa para sufi seperti Hamzah Fansuri dapat menggunakan pantun dan syair sebagai bentuk pengucapan nilai-nilai kerohanian yang tinggi.

Bahwa seni memainkan peranan penting dalam penyebaran agama dan pengukuhan kebudayaan bernapas religius; Ismail Hamid dalam bukunya Asas-asas Kesusasteraan Islam (Kuala Lumpur, 1985) menyebut kesaksian seorang ahli sejarah Muslim abad ke-15 M, yaitu Syekh Zainuddin al-Ma’bari. Dalam Tuhfat al-Mujahidin, sebuah buku yang memuat laporan tentang penyebaran agama Islam di India dan Asia Tenggara, dia mengatakan bahwa berhasilnya dakwah Islam di wilayah ini banyak dibantu oleh pembacaan kisah Nabi Muhammad SAW yang dinyanyikan dengan indah. Sampai sekarang pembacaan riwayat Nabi dengan cara dinyanyikan, seperti pada pembacaan Kasidah Burdah, Syaraful Anam, Syair Rampai Maulid tetap dilakukan oleh masyarakat Muslim tradisional. Di Jawa, para wali seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kudus, dalam dakwahnya sering menggunakan gamelan. Berkat kreativitas para wali itu gamelan Jawa, Sunda dan Madura berbeda estetikanya dari gamelan Bali yang meneruskan estetika Hindu. Gamelan Jawa dan Degung Sunda cenderung kontemplatif, karena dalam estetika Islam yang diutamakan ialah penciptaan suasana khusyuk dan tafakur dalam merenungi Yang Satu. Bukti lain terungkap dalam kesaksian seorang musafir Portugis bernama Tome Pires yang mengunjungi Pulau Jawa pada awal abad ke-16 M ketika para wali sedang aktif mengislamkan Pulau Jawa. Dalam bukunya Suma Oriental Tome Pires mengatakan bahwa di antara para wali itu sangat aktif mengajarkan seni kerajinan kepada murid-muridnya dan masyarakat di sekitar tempatnya berdakwah. Ukiran Jepara dan Madura yang sampai sekarang ini sangat terkenal dan berpusat masing-masing di kota Jepara dan Desa Karduluk, Sumenep, merupakan contoh yang tepat tentang kesinambungan kegiatan seni kerajinan yang dirintis para wali sufi di Jawa pada abad ke-16 M. Kedua tempat ini, Jepara dan Sumenep, sejak lama merupakan pusat penyebaran agama Islam yang penting di pulau Jawa. Ukiran-ukiran Pesisir ini didominasi ragam hias tetumbuhan (arabesque) dan pola geometri, yang merupakan kecenderungan umum seni Islam. Batik Pesisir juga dipenuhi ragam hias tetumbuhan, beserta pewarnaannya yang kaya dan simbolik. Pola semacam itu ada hubungannya dengan seni hias yang berkembang di Persia dan Mughal India.

Bukan pula suatu kebetulan apabila bentuk bangunan Masjid Demak seperti yang kita lihat sekarang ini berbeda dari bangunan masjid lain yang ada di Timur Tengah dan Iran, serta mendekati bangunan lokal. Woodward dalam buknya Islam Jawa yang baru-baru ini terbit (1999) membandingkan bentuk bangunan masjid-masjid tradisional Jawa yang mengambil modelnya dari bentuk bangunan Masjid Demak dengan masjid-masjid lama di Kerala, Malabar, India Selatan. Menurut kajian dan penelitian Woodward masyarakat Muslim tradisional Jawa dan faham keagamaannya memang mempunyai hubungan dengan masyarakat Muslim Kerala. Pada mulanya mereka merupakan sekumpulan orang Islam yang datang dari Yaman Selatan. Pada abad ke-13 M, mereka berbondongbondong pindah ke India dan Nusantara disebabkan kekacauan di wilayah kekhalifatan Badghad yang dihancurkan oleh tentara Mongol. Mereka menganut mazhab Syafii dan mermpunyai kecenderungan tasawuf yang kuat. Baik di Kerala maupun di Jawa, komunitas Muslim yang jumlahnya besar di kota-kota pesisir ini menguasai perdagangan palawija dan barang komoditi lain. Mereka mengeramatkan para wali dan menghormati kedudukan ulama atau kiyai. Mereka mermbuat bangunan masjid berdasarkan arsitektur lokal, yaitu meru atau pagoda Hindu yang beratap tumpang tiga sebagai simbol untuk gunung kosmik. Tumpang tujuh dirubah menjadi tumpang empat sebagai lambang tahapan perjalanan kerohanian dalam Tasawuf, yaitu: Syariat, Tarekat, Hakekat dan Makrifat; atau lambang peringkat-peringkat alam dalam Kosmologi Islam, yaitu (dari bawah ke atas): Alam Nasut, Alam Malakut, Alam Jabarut dan Alam Lahut. Sementara itu, alam tertinggi dari kewujudan, yaitu Alam Hahut (Alam Dzat Ketuhanan yang tidak dikenal) tidak dilambangkan sama sekali. Namun, susunan bangunan yang terdiri dari ruang dalam dan ruang luar, halaman dalam dan halaman luar, serta desain interiornya, sama sekali berbeda dengan bangunan suci orang Hindu.

Agaknya kita juga tidak boleh menutup mata atas kenyataan bahwa seni batik, ukiran perabot, yang pusat industrinya berada di daerah pesisir Pulau Jawa, seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem, Jepara, Tuban, Madura, Probolinggo, baru berkembang pesat setelah masuknya Islam. Kota-kota pesisir ini tumbuh berkat semakin tumbuhnya komunitas Islam yang aktif dalam perdagangan dan menguasai dunia pelayaran. Munculnya Yogya dan Solo sebagai pusat seni batik yang maju hanya mungkin setelah berdirinya kerajaan Mataram. Tradisi batik dibawa ke tempat itu dari Pesisir. Batik berkembang pada zaman Islam karena industri kain India baru berkembang pesat pada abad ke-16 M pada zaman Dinasti Mughal memegang tampuk pemerintahan di India. Penguasaan terhadap perdagangan kain India pada waktu pula berada di tangan pedagang-pedagang Muslim yang menguasai pelayaran ke Timur.

Kalau kita berpaling pada kesusastraan Melayu antara abad ke-16 M dan ke-19 M, dan juga kesusastraan Nusantara lain dalam bahasa-bahasa yang pemakainya beragama Islam seperti Aceh, Mandailing, Minangkabau, Palembang, Banjar, Sunda, Jawa, Madura, Sasak, Bugis, Makassar, Bima, dan Gorontalo akan tampak betapa aktivitas dan produktivitas penulis Muslim sangat dominan dalam wacana keilmuan, agama, dan budaya. Van Ronkel (1905) ketika menyusun daftar naskah berbahasa Melayu dan Nusantara menyebutkan bahwa 95% dari naskah tentang agama, sastra, hukum, adab, dan berbagai disiplin ilmu lain yang terdapat di Museum Jakarta (sekarang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta) berkaitan dengan Islam. Naskah itu ditulis di berbagai tempat seperti Aceh, Palembang, Minangkabau, Banjarmasin, Riau, Pontianak, Gorontalo, Makassar, Bima, Ternate, Lombok, Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Lampung. 

Gambaran yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa Islam sudah lama menumbuhkan sebuah tradisi seni yang adiluhung, terutama dalam sastra, kaligrafi, dan seni dekoratif. Melalui tarekat Sufi yang aktif sejak abad ke-15 M, Islam juga mengembangkan beberapa jenis musik dan tarian, baik yang bersumber dari tradisi Islam Arab-Persia maupun yang bersumber dari tradisi Melayu-Jawa, seperti gamelan dan Saluang Minang, yang mencerminkan pengaruh tilawah pada musik lokal; tari Seudati Aceh, yang tumbuh dari tari-tarian Sufi sebagaimana tari Pantil di Madura, Zikir Rebana di lingkungan masyarakat Melayu; berbagai ragam motif seni hias yang simbolik dan indah pada batik, perahu, perabot rumah tangga, seperti motif bebek pulang, sidomukti, kembang setaman, burung simurgh; begitu juga tembang-tembang suluk dalam bahasa Jawa, Sunda dan Madura; Hikayat Nabinabi (Surat al-Anbiya’), Kitab Tajus Salatin dan Thamratu/ Muhimmah (dua kitab tentang politik dan kenegaraan masing-masing karangan Bukhari al-Jauhari dan Raja Ali Haji), Serat Menak, Hikayat Amir Hamzah, Umar Umaya, Cerita Nabi Yusuf dan Zuleikha, Syair Siti Zubaidah Perang Dengan Cina (di Jawa disebut Menak Cina), Syair-syair Tasawuf, Syair Maulid--untuk menyebut beberapa contoh yang populer sampai ini menunjukkan maraknya kegiatan seni Islam di masa lalu dan pengaruhnya yang langgeng sampai saat ini. 

Sebenarnya cukup banyak karya seni yang dihasilkan para seniman Muslim modern sejak zaman Hamka sampai kini, khususnya dalam sastra, seni rupa, musik, seni suara, dan teater yang. bernapaskan Islam, yang di antaranya mendapatkan pengakuan internasional. Namun, sangat disayangkan bahwa khazanah seni Islam yang sangat kaya ini sudah banyak orang Islam yang tidak mengenalnya lagi. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila sampai sekarang ini masih banyak yang meragukan apakah seni Islam ada dan pernah berkembang di Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang meragukan adanya seni dengan label Islam (dengan beragam pengertian yang mudah dipahami sekalipun). Di antara mereka yang meragukan itu tidak sedikit ialah para sarjana, cendekiawan dan pengamat seni yang beragama Islam, tetapi mereka tidak pernah mempelajari Sejarah Islam atau Sejarah Kebudayaan Islam dengan baik, terlebih-lebih yang berkaitan dengan seni atau sastra dengan latar belakang gagasan dan pemikirannya. Bahkan kita juga dapat mengatakan bahwa dalam banyak aspek berkenaan dengan kebudayaan Islam, pemeluk agama Islam di Indonesia telah banyak kehilangan ingatan kolektif atau kesadaran sejarah. Sebagai akibatnya kita mengalami krisis jati diri dan krisis kepercayaan diri. Konstruksi pengetahuan yang diajarkan di lembaga pendidikan formal dan informal tidak memberi peluang mereka mengenal sejarah pencapaian Islam dalam peradaban dan kebudayaan dengan baik.

Saya ingin memberikan contoh yang menarik. Sebelum dan sesudah terselenggaranya Festival Istiqlal I 1991, yang dinilai sukses besar sebagai festival kebudayaan Islam Indonesia yang akbar; disusul terselenggaranya Festival Istiqlal II 1995 yang melatarbelakangi berdirinya Bayt al-Quran & Museum Istiqlal pada tahun 1997. Sebelum Festival Istiqlal I banyak yang meragukan bahwa festival itu akan berhasil. Pertama, keraguan itu berkenaan dengan khazanah dan ragam seni Islam yang akan dipertunjukkan dan dipamerkan. Kedua, berkenaan dengan dukungan dari masyarakat Muslim. Akan tetapi, keraguan itu terhapus setelah Festival Istiqlal I digelar. Seni Islam ternyata ada dan wujud dengan kokohnya di Indonesia, serta tetap berkembang hingga masa modern ini. Namun, masih saja tetap ada yang meragukan apa seni Islam itu ada dan apakah Islam telah eukup sumbanganya bagi perkembangan seni di Indonesia dan masa kini.

Dalam berbagai karangan beberapa seniman dan budayawan Muslim, seperti AD. Pirous, Hasan Muarif Ambary, Taufiq Ismail, Maehmud Bukhari, Ahmad Noeman, Taufik Abdullah, Yustiono, dan Ibrahim Alfian dengan tegas menyatakan bahwa tidak diragukan lagi seni Islam atau bemafas Islam ada di Indonesia dan telah berkembang sejak abad ke-12 dan l3 M. Dalam tulisannya “Seni Yang Bernapaskan Islam di Indonesia: Kajian Khusus Seni Rupa Masa Kini dalam Perspektif Seniman Muslim” (1997) AD. Pirous, antara lain menulis: ‘’Masuknya Islam di Indonesia menghentikan kegiatan pembuatan candi-candi Hindu atau tempat pemujaan Buddha, dengan demikian menyusut pula kegiatan pembuatan patung atau area-area ... (ini) mendorong perhatian para seniman Muslim Indonesia untuk mengalirkan seni rupanya di bidang kerajinan dan seni dekoratif Seni dekoratif yang berkembang dengan kekayaan bentuk ornamen, sangat terlihat melalui ungkapan seni batik. Seni batik ini ditandai dengan dipakainya ratusan bentuk ornamen yang berasal dari bentuk flora dan fauna di Indonesia, dengan kecenderungan penggunaan warna yang saling berbeda di beberapa daerah (Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon, 
Tasikmalaya dan Lampung).”

Wayang beber, salah satu pertunjukan wayang sebagai media penyebaran agama Islam, adalah karya lukis pada kain yang bersumber pada tradisi pra-Islam. Oleh tangan para seniman Muslim terciptalah karya lukisan dengan gaya dekoratif yang mengandung tema cerita sejarah dan legenda.” i) Tentang seni rupa modem yang bernapaskan Islam, yang melahirkan gerakan Seni Rupa Islam Kontmporer, AD. Pirous, antara lain menyatakan bahwa perkembangan seni rupa bemafaskan Islam itu telah mulai berkembang sejak tahun 1970an. Pada waktu itu juga mulai tampak kebangkitan kembali penulisan sastra bemafas Islam, di antaranya dengan munculnya karya Danarto, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, dan Sutardji Calzoum Bachri yang berkecenderungan sufistik, atau sajak-sajak sosial keagamaan yang dihasilkan oleh Taufiq Ismail dan penyair yang lebih kemudian seperti D. Zawawi Imron, Hamid Jabbar, dan Emha Ainun Nadjib. Dalam tulisannya itu, A. D. Pirous mengatakan sesuatu yang penting kepada kita: “Ketika awal tujuh-puluhan mulai tampilnya seni rupa kontemporer Indonesia yang bernapas Islam, kita sangat terkesan oleh hasrat yang besar dari para seniman untuk mengucapkan isi pesan semata yang Islami, tanpa terlalu banyak mempersoalkan bentuk-bentuk visual ungkapannya atau bahasa rupa yang berangkat dari rumusan estetika Islam. Hal itu bisa dimengerti oleh karena belum ada pendidikan seni rupa dengan wawasan Islam. Kita bertanya apa dan bagaimana kiranya, karya seni yang bernapaskan Islam itu.”

Setelah Festival Istiqlal 1991 dan 1995 seni Islam telah mendapat sosoknya yang semakin jelas dan semakin nyata bahwa ia berkembang, tetapi tampaknya masyarakat cepat lupa sehingga timbul lagi pernyataan yang kadang-kadang naif. Hal itu disebabkan sekali lagi karena kurang tersosialisasikannya hasil karya seniman Muslim. Lembaga dan organisasi sosial keagamaan, pers, perguruan tinggi Islam sudah seyogyanya mengambil langkah strategis untuk memasyarakatkan karya seniman Muslim itu melalui berbagai kegiatan apresiasi, bahkan memasukkannya menjadi bagian dari mata pelajaran sejarah kebudayaan atau sejarah kesenian Islam. Kajian dan penelitian mesti dilakukan, perkembangan seni Islam dan wawasan estetiknya mesti ditulis dalam buku sehingga dapat dijadikan rujukan masyarakat terpelajar Muslim. Namun, sampai saat ini saya belum pernah menyaksikan sebuah lembaga pendidikan Islam atau perguruan tinggi Islam membuka fakultas ilmu kebudayaan dengan tekanan pada kebudayaan Islam dan sejarah Islam. Dengan demikian, diharapkan seni Islam, filsafat Islam, dan kesusastraan Islam dikaji dengan layak dan penuh penghargaan. 


Catatan:

i) Nuruddin al-Raniri memperingatkan bahayanya seorang Muslim membaca hikayat-hikayat warisan zaman Hindu seperti Hikayat Seri Rama dan Hikayat Pandawa. Namun para pengarang Melayu berpendapat bahwa membaca hikayat-hikayat di atas tidak berbahaya, karena hikayat-hikayat tersebut bagaimanapun juga mengandung unsur pendidikan. Dalam perkembangan selanjutnya, hikayat-hikayat warisan zaman Hindu itu disadur kembali, diberi nafas Islam. Misalnya norma-norma dan perilaku tokoh-tokohnya didekatkan dengan norma-norma Islam. Masalah lain yang menjadi bahan perdebatan ialah penggunaan syair atau puisi sebagai media ajaran agama. Para ulama melihat syair hanya digunakan untuk penulisan roman (kisah percintaan), sindiran dan olok-olok, serta untuk engekspresikan hal yang tidak pantas dilihat dari sudut pandang agama. Tetapi para sastrawan berpendapat bahwa roman-roman percintaan dan cerita pelipur lara yang lain dapat ditulis dengan menyertakan unsur-unsur dakwah dan pendidikan. Puisi juga tidak selamanya dipakai untuk mengemukakan hal negatif puisi keagamaan dan tasawuf, syair-syair sejarah dan falsafah sangat bermanfaat bagi pembaca. Jadi, tidak selamanya sastra harus dipandang dari kaca mata negatif, begitu pula halnya dengan seni secara keseluruhan. Masalah ketiga yang diperdebatkan ialah penggunaan ungkapan-ungkapan simbolik dan imaginatif dalam puisi yang sering menyesatkan pembaca. Misalnya penggunaan simbol ‘laut’ dan ‘ombak’ dalam syair Sufi untuk membandingkan ketakterhinggaan wujud Tuhan (laut) dan keterbatasan dan kesementaraan wujud makhluq (ombak). Para ulama menafsirkan secara harafiah, seakan-akan penyair menyamakan laut dengan Tuhan dan memuja alam. Perdebatan serupa terjadi pada tahun 1938 ketika Hamka menerbitkan roman-romannya, seperti Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Karena di dalam roman itu terdapat kisah percintaan, para ulama kolot menuduh Hamka sebagai Kiyai Cabul. Hamka dan kawan-kawannya mempertahankan pendiriannya bahwa sastra penting sebagai media ekspresi dan meningkatkan penghayatan keagamaan. Dia berbicara atas nama kaum muda, golongan pembaharu, yang menghendaki pembaharuan. Jika kita jujur sebenamya perbedaan pandangan tentang seni itu timbul karena metodologi, pendekatan, dan cara pandang berbeda tentang seni.

ii) Sebetulnya pada zaman Islam banyak seniman Muslim menciptakan motif-motif baru seni hias, misalnya sebagaimana tampak pada motif seni batik Madura, motif burung pingai (simurgh). Perlu dikemukakan bahwa sebelum orang Islam datang ke Indonesia, mereka telah mengenal berbagai ragam hias Arabesk yang kaya melalui kain, perabot rumah tangga, bagian-bagian kapal yang dihiasi dan lain-lain. Pengkayaan motif yang bersifat lokal juga didorong oleh wawasan bahwa “Ayat-ayat Tuhan terbentang dalam alam dan diri manusia”, jadi tidak terbatas alam yang ada di negeri Arab atau Persia, dan tidak terbatas pada diri manusia orang Arab dan Persia.

iii) Ingatlah Hamzah Fansuri berkata:
Hamzah Fansuri orang ‘uryani 
Seperti Ismail jadi qurbani 
Bukannya ‘Arabi lagi Ajami 
Sentiasa wasil dengan Yang Baqi

__
Sumber: Majalah Pusat, edisi 4/2012, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.


ADMIN

BACA JUGA