YURISTGAMEINIGAMEID101

KRITIK AL-GHAZALI BAGI YANG ANTI-SUFI DAN PUISINYA (1)

Kritik al-Ghazali bagi yang Anti-Sufi dan Puisinya (1)

SUFINESIA.COM | Orang yang menolak hakikat ekstase (kegairahan) dan pengalaman spiritual para sufi sebenarnya menunjukkan kesempitan pikiran dan kedangkalan wawasannya. Namun, maafkanlah mereka. Mempercayai sesuatu yang belum pernah dialami sendiri sama sulitnya dengan orang buta untuk memercayai keindahan sebuah taman dengan rumput hijau dan air yang mengalir; Atau seorang anak untuk dapat memahami nikmatnya kekuasaan.

Orang bijak, meski ia sendiri tak pernah mengalami keadaan spiritual seperti itu, tak akan menyangkal hakikatnya. Sebab, kesalahan apalagi yang lebih besar daripada orang yang menyangkal hakikat sesuatu hal hanya karena ia sendiri belum mengalaminya? Alquran mengecam orang-orang seperti ini: “Orang yang tidak mendapatkan petunjuk akan berkata: ‘Ini adalah kemunafikan yang nyata.’” 

Kemudian, ada juga sebagian orang yang menentang puisi-puisi cinta yang dilantunkan para sufi dalam halakah mereka. Ketahuilah, para sufi—yang sangat mencintai Allah—melantunkan puisi tentang perpisahan dengan dunia atau menolak ‘mendua’ dengan selain kekasihnya adalah sebentuk ekspresi totalitas cinta kepada-Nya.

Ungkapan puitis “lorong-lorong gelap” digunakan untuk menjelaskan gelapnya kekafiran; “pancaran wajah” untuk cahaya keimanan dan mabuknya sang sufi dalam kecintaan kepada-Nya. Sebagai contoh, perhatikanlah bait syair berikut:

Kau bisa takar beribu cangkir arak
Namun, hingga kau reguk tandas
tiada kenikmatan kau rasa 

Maksudnya, kenikmatan sejati dalam beragama takkan bisa dirasakan hanya melalui pelaksanaan perintah, tetapi harus disertai ketertarikan dan hasrat hati kepada-Nya. Orang boleh saja banyak berbicara dan menulis tentang cinta, iman, takwa, dan sebagainya, tetapi sebelum ia sendiri memiliki sifat-sifat ini, semuanya itu tak bermanfaat baginya. 

Bersambung ke: KRITIK AL-GHAZALI BAGI YANG ANTI-SUFI DAN PUISINYA (2)

ADMIN

BACA JUGA