YURISTGAMEINIGAMEID101

KRITIK AL-GHAZALI BAGI YANG ANTI-SUFI DAN PUISINYA (2)

Kritik al-Ghazali bagi yang Anti-Sufi dan Puisinya (2)

SUFINESIA.COM | Jadi, orang yang mencari-cari kesalahan para sufi, karena melihat mereka begitu terpengaruh—bahkan mencapai ekstase—oleh bait-bait puisi seperti itu hanyalah orang yang berpikiran dangkal dan intoleran.

Bahkan seekor unta pun kadang-kadang terpengaruh oleh dendang lagu Arab yang dinyanyikan penunggangnya sehingga ia berlari lebih kencang dan mampu memikul beban berat hingga akhirnya tersungkur kelelahan sebagai batas kemampuannya.

Akan tetapi berhati-hatilah, jangan sampai keliru menerapkan syair yang dilantunkan para sufi kepada Allah. Jika salah, kau layak dikecam. Misalnya, saat mendengar ungkapan puitis mereka seperti: “Kau berubah dari kecenderungan asalmu”, kau tak boleh menerapkannya untuk Allah—yang mustahil berubah. Ungkapan seperti itu hanya cocok untuk dirimu, yang sering kali berubah tekad dan kecenderungan.  Allah bagaikan matahari yang selalu bersinar, tetapi kadang-kadang cahaya-Nya terhalang oleh berbagai hal yang ada antara kita dan Dia.


Di pihak lain, kita bisa bebas menafsirkan bait-bait syair yang kita dengar, karena makna yang diserap seseorang atas suatu syair tak harus sama dengan makna yang dimaksudkan penulisnya.

Diriwayatkan bahwa beberapa sufi mencapai tingkatan ekstase sedemikian rupa sehingga mereka hilang dalam Allah. Itulah yang terjadi pada Syekh Abu Hasan al-Nuri yang tersungkur ekstatik saat mendengar syair tertentu. Ia berlari cepat menerobos ladang tebu yang baru dipanen hingga kakinya berdarah penuh luka dan tak lama setelah itu ajal menjemputnya. Dalam kasus seperti itu, sebagian orang bilang bahwa Tuhan telah benar-benar turun ke dalam manusia. Sungguh pendapat yang keliru! 

Jika kau berpendapat seperti itu, kau tak ubahnya orang yang mengaku telah menyatu dengan cermin saat ia melihat bayangan dirinya di cermin, atau orang yang mengatakan bahwa warna merah atau putih yang dipantulkan cermin adalah sifat asali cermin itu. Ada beragam keadaan ekstatik yang dialami para sufi sesuai dengan emosi yang mendominasi mereka, seperti cinta, takut, nafsu, tobat, dan sebagainya. 

Keadaan spiritual seperti itu sering kali dicapai tidak hanya melalui lantunan ayat-ayat Alquran, tetapi juga melalui lantunan syair-syair romantis. Sebagian orang keberatan terhadap pembacaan syair pada kesempatan-kesempatan seperti itu. Hanya Alquran yang layak dibacakan dalam aktivitas keagamaan. Namun mesti diingat bahwa tidak seluruh ayat Alquran dimaksudkan untuk membangkitkan emosi—misalnya, perintah bahwa seorang laki-laki mesti mewariskan seperenam hartanya untuk ibunya dan seperdua untuk saudarinya, atau perintah bahwa seorang janda mesti menunggu empat bulan sebelum menikah lagi dengan orang lain. Sangat sedikit orang—dan mesti orang yang sangat peka—yang dapat tenggelam ekstatik mendengar lantunan ayat-ayat seperti itu.

Alasan lain yang membenarkan pembacaan syair, selain ayat-ayat Alquran, dalam kesempatan-kesempatan seperti ini adalah bahwa orang-orang telah begitu akrab dengan Alquran, bahkan banyak orang yang hafal sehingga akibat terlalu sering diulang-ulang, pengaruhnya semakin lemah. Untuk membangkitkan emosi, seseorang tak mesti selalu mengutip ayat-ayat Alquran. 

Diriwayatkan bahwa suatu ketika beberapa orang Arab Badui begitu terpesona saat pertama kali mendengar pembacaan Alquran. Melihat keadaan mereka, Abu Bakar berkata, “Dulu kami pun seperti kalian, tetapi kini hati kami telah tumbuh begitu kuat.” Ungkapan itu menunjukkan bahwa pengaruh ayat-ayat Alquran terhadap orang yang telah akrab dengannya tidak sekuat yang dirasakan orang yang baru mendengarnya. 

Itulah kenapa dengan alasan yang sama, Khalifah Umar biasa memerintah jemaah haji agar segera meninggalkan Makkah setelah menunaikan semua ibadah haji. Kenapa?

“Karena aku khawatir, jika kalian terlalu akrab dengan Kota Suci itu, ketakjuban terhadapnya akan sirna dari hati kalian,” ujarnya.

___

Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007.

ADMIN

BACA JUGA