YURISTGAMEINIGAMEID101

MELIHAT ALLAH: PUNCAK KEBAHAGIAAN MANUSIA

Melihat Allah adalah Puncak Kebahagiaan Manusia - SUFINESIA.COM

Melihat Allah -semua muslim mengakui dan percaya- bahwa melihat Allah adalah puncak kebahagiaan manusia, sebagaimana dikatakan syariat. Tetapi kebanyakan pengakuan mereka hanyalah pengakuan lisan yang tidak disertai keyakinan yang teguh. Fenomena ini tidaklah mengherankan karena bagaimana bisa manusia mendambakan sesuatu yang tak diketahuinya! 

Kenapa melihat Allah adalah kebahagiaan terbesar manusia? 

Semua unsur dalam diri manusia sesungguhnya memiliki fungsi tersendiri yang harus dipenuhi. Masing-masing punya kebaikannya sendiri, mulai dari nafsu jasad yang paling rendah hingga pemahaman intelektual yang tertinggi. Namun, bahkan upaya mental yang paling kecil sekalipun akan memberikan kesenangan yang lebih besar daripada pemuasan hasrat jasad. 

Begitulah, seseorang yang telah larut dalam permainan catur tidak akan ingat makan meski berulang kali dipanggil. Dan, semakin tinggi pengetahuan kita, semakin besar kegembiraan kita. Misalnya, kita merasa lebih senang mengetahui rahasia raja daripada rahasia budak. Karena Allah merupakan objek pengetahuan tertinggi maka pengetahuan tentang-Nya pasti akan memberikan kesenangan yang sangat besar. 

Orang yang mengenal Allah, di dunia ini, pasti merasa telah berada di surga “yang luasnya lebih luas langit dan bumi”, yang buah-buahannya begitu nikmat dan bebas dipetik; dan surga yang tak menjadi sempit sebanyak apa pun penghuninya.

Kendati demikian, nikmat pengetahuan masih jauh lebih kecil daripada nikmat penglihatan. Jelas saja, melihat orang yang kita cintai memberi kenikmatan yang jauh lebih besar ketimbang hanya mengetahui dan melamunkannya. Keterpenjaraan kita dalam jasad yang terbuat dari lempung dan air ini, dan kesibukan kita mengurusi dunia telah menciptakan tirai yang menghalangi kita dari melihat Allah meski hal itu tidak mencegah kita dari memperoleh sebagian pengetahuan tentang-Nya. Karena alasan inilah Allah berfirman kepada Musa di Bukit Sinai: “Engkau tidak akan bisa melihat-Ku.”

Kenapa demikian? Sebagaimana benih manusia akan menjadi manusia dan biji kurma yang ditanam akan tumbuh menjadi pohon kurma, maka pengetahuan tentang Allah yang dicapai di bumi pun kelak akan menjelma menjadi penampakan Allah di akhirat. Orang yang tak pernah mempelajari pengetahuan itu tidak akan bisa melihat-Nya. Kendati demikian, Allah akan menampakkan diri-Nya kepada orang-orang yang mengetahui-Nya dengan kadar penampakan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka.

Allah itu satu, tetapi Dia akan terlihat dalam banyak modus yang berbeda, persis seperti sebuah benda tecermin dalam beragam cara melalui sejumlah cermin; ada yang memantulkan bayangan yang lurus, ada yang bias, ada yang jelas, juga ada yang kabur. Cermin yang kotor dan rusak bisa jadi akan mengubah tampilan benda yang indah menjadi tampak buruk. Begitu pula manusia yang datang ke akhirat dengan hati yang kotor, rusak, dan gelap. Sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan bagi orang lain justru membuatnya sedih dan menderita. Orang yang hatinya telah dikuasai cinta kepada Allah tentu akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakan-Nya dibanding orang yang hatinya tidak didominasi cinta kepada-Nya. 

Keadaan keduanya seperti dua orang yang sama-sama bermata tajam melihat wajah yang cantik. Orang yang mencintai pemilik wajah itu akan lebih berbahagia saat menatapnya ketimbang orang yang tidak mencintainya. Agar mendapat kebahagiaan sempurna, pengetahuan semata tanpa disertai cinta belumlah cukup.***

___

Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007.

ADMIN

BACA JUGA