YURISTGAMEINIGAMEID101

ORANG-ORANG YANG TIDAK BISA MELIHAT ALLAH

Orang-Orang yang Tidak Bisa Melihat Allah - sufinesia.com
Sungguh telah tersesat jauh orang yang menduga bahwa kebahagiaan di akhirat bisa dinikmati tanpa kecintaan kepada Allah. Sebab, tujuan utama kehidupan manusia adalah sampai kepada Allah kelak di akhirat sebagaimana sampainya seseorang pada sesuatu yang sangat didambakannya. Kebahagiaan akan pertemuan dengan-Nya, setelah melewati pelbagai rintangan yang tak terbilang, sungguh tak terkatakan. Itulah kebahagiaan puncak manusia di akhirat.

Namun, kebahagiaan itu takkan pernah dirasakan oleh orang yang tak pernah mencintai-Nya dan tak merasa senang kepada-Nya di dunia. Jika rasa senang kepada Allah di dunia teramat kecil, tentu di akhirat pun rasa senangnya sangat kecil. Ringkasnya, kebahagiaan kita di masa datang sama persis kadarnya dengan kecintaan kita kepada Allah di masa sekarang.

Nasib yang jauh lebih buruk di akhirat—kita berlindung kepada Allah dari mendapat nasib seperti ini—akan menimpa orang yang semasa di dunia justru mencintai sesuatu yang bertentangan dengan Allah. Baginya, negeri akhirat akan menjadi tempat penderitaan tak berkesudahan. Segala hal yang membuat orang lain bahagia akan membuatnya sedih dan menderita. Keadaannya tak berbeda dengan seorang pemakan bangkai yang pergi ke toko minyak wangi. Ketika mencium aroma yang sangat wangi, ia jatuh pingsan. Orang-orang mengerumuninya dan memercikkan air mawar kepadanya, kemudian menciumkan misik (minyak wangi) ke hidungnya. Namun keadaannya justru semakin parah. Akhirnya, datanglah seseorang, yang juga pemakan bangkai. Ia mendekatkan sampah ke hidung orang itu. Segera ia bangkit sadarkan diri, mendesah puas, “Wah, ini baru wangi!”

Dengan demikian, para budak dunia tidak akan merasakan kenikmatan akhirat. Kebahagiaan ruhaniah di akhirat tidak akan mendekati mereka, bahkan membuat mereka semakin menderita. Hasrat-hasrat kotor mereka di dunia akan dibalas dengan balasan yang kotor pula. Akhirat adalah dunia ruh yang merupakan pengejawantahan dari keindahan Allah. Karenanya, ia tak layak bagi orang yang berpikiran dan berperilaku kotor. Kebahagiaan itu hanya akan diberikan kepada orang yang berusaha menggapainya dan tertarik kepadanya. Mereka mencurahkan energi dalam zuhud, ibadah, dan perenungan sehingga ketertarikan mereka semakin menguat. Itulah arti cinta yang sesungguhnya. Mereka itulah yang disebutkan ayat: “Orang yang telah menyucikan jiwanya akan berbahagia.” Ketertarikan pada kebahagiaan ukhrawi tidak akan dimiliki oleh orang yang selalu bergelimang dosa dan syahwat duniawi. 

Mereka akan menderita di akhirat. Alquran menyatakan, “Dan orang yang mengotori jiwanya akan merugi.” Orang yang dianugerahi wawasan ruhaniah memahami kebenaran ini sebagai kenyataan teralami, bukan sekadar ungkapan tanpa makna. Karena itulah mereka yakin betul bahwa orang yang membawa kebenaran itu benar-benar seorang nabi, sebagaimana orang yang telah belajar kedokteran meyakini kebenaran ucapan seorang dokter. Keyakinan semacam ini tak lagi membutuhkan dukungan mukjizat, seperti mengubah tongkat menjadi ular yang masih mungkin dipengaruhi oleh mukjizati-mukjizat sejenis yang dilakukan para ahli sihir.***

___

Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007.

ADMIN

BACA JUGA