YURISTGAMEINIGAMEID101

PENGERTIAN CINTA KEPADA ALLAH

Pengertian Cinta kepada Allah - sufinesia.com
Kesempurnaan manusia tercapai jika cinta kepada Allah memenuhi dan menguasai hatinya. Seandainya cinta kepada Allah tidak sepenuhnya menguasai hati, setidaknya ia menjadi perasaan paling dominan, mengatasi kecintaannya kepada selain Dia. Tentu saja, kita sulit mencapai tingkatan cinta kepada Allah. Tak heran jika sebuah mazhab kalam sama sekali menyangkal kenyataan bahwa manusia bisa mencintai suatu wujud yang bukan spesiesnya. Mereka mengartikan cinta kepada Allah hanya sebatas ketaatan kepada-Nya. Orang yang berpendapat seperti itu sesungguhnya tidak mengetahui apa makna agama yang sebenarnya.

Seluruh muslim sepakat bahwa mereka wajib mencintai Allah, sebagaimana firman-Nya tentang sifat kaum beriman: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya,” dan sabda Nabi saw., “Sebelum seseorang mencintai Allah dan Nabi-Nya melebihi cintanya kepada yang lain, imannya tidak benar.” Ketika malaikat maut datang menjemput, Nabi Ibrahim berkata, “Pernahkah kau melihat seorang sahabat mengambil nyawa sahabatnya?” Allah menjawab, “Pernahkah kau melihat seorang kawan yang tidak suka melihat kawannya?” Maka Ibrahim pun berkata, “Wahai Izrail, ambillah nyawaku!” Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi saw. kepada para sahabatnya:


“Ya Allah, berilah aku kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan segala yang membawaku lebih dekat kepada cinta-Mu. Jadikanlah cinta-Mu lebih berharga bagiku daripada air dingin bagi orang yang kehausan.” 

Hasan al-Basri sering berkata, “Orang yang mengenal Allah akan mencintai-Nya dan orang yang mengenal dunia akan membencinya.” 

Cinta bisa didefinisikan sebagai suatu kecenderungan kepada sesuatu yang menyenangkan. Contoh yang paling jelas tampak pada panca indra kita. Masing-masing indra mencintai sesuatu yang membuatnya senang. Mata mencintai pemandangan yang indah, telinga mencintai musik dan suara yang merdu, dan seterusnya. Jenis cinta seperti ini juga dimiliki hewan. Tetapi manusia punya indra keenam, yakni persepsi, yang tertanam dalam hati dan tak dimiliki hewan. Persepsi membuat kita menyadari keindahan dan keunggulan ruhani. Karena itulah seseorang yang hanya mengenal kesenangan indrawi tidak akan bisa memahami maksud Nabi saw. ketika menyatakan bahwa ia mencintai salat melebihi cintanya pada wewangian dan wanita. Sebaliknya, orang yang mata hatinya telah terbuka untuk melihat keindahan dan kesempurnaan Allah pasti akan mengabaikan semua penglihatan luar meski semua itu tampak indah di mata.

Manusia yang hanya mengenal kesenangan indrawi akan mengatakan bahwa keindahan ada pada rupa yang warna-warni, keserasian anggota tubuh, dan seterusnya, namun tak bisa melihat keindahan moral yang dimaksudkan oleh orang-orang ketika mereka membicarakan seseorang yang bertabiat baik. Tetapi menurut orang yang punya pandangan lebih dalam, kita dapat mencintai orang-orang besar yang telah mendahului mereka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar, yang memiliki karakter mulia meski jasad mereka telah bercampur debu. 

Cinta seperti itu tidak melihat bentuk luar, tetapi mencermati sifat-sifat ruhani. Bahkan ketika kita ingin membangkitkan rasa cinta seorang anak kepada orang lain, kita tidak menguraikan keindahan tubuhnya, tetapi keunggulan moralnya. Jika prinsip ini kita terapkan untuk kecintaan kepada Allah, kita akan mendapati bahwa hanya Dia satu-satunya yang pantas dicintai. 

Seseorang yang tidak mencintai Allah berarti tak mengenali-Nya. Karena alasan inilah kita mencintai Muhammad saw., nabi dan kekasih-Nya. Cinta kepada Nabi saw. berarti cinta kepada Allah. Begitu pula, cinta orang yang berilmu dan bartakwa sesungguhnya merupakan cinta kepada Allah. ***

___

Sumber: Kîmiyâ’  al-Sa‘âdah (Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi) karya Imam al-Ghazali, Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi & Fauzi Bahreisy, Jakarta: Penerbit Zaman, 2007.

ADMIN

BACA JUGA