YURISTGAMEINIGAMEID101

SASTRA, AGAMA, DAN SPIRITUALITAS

oleh Abdul Rozak Zaidan



Sastra, agama , dan spiritualitas bertemu di dalam sunyi sebagai pengisi kehidupan kerohanian. Pembacaan atas sastra dalam keseorangan, penyelenggaraan ritual keagamaan yang bersifat pribadi, dan olah rohani yang sampai pada tataran spiritualitas merupakan aktivitas keseorangan yang menuntut keheningan dalam kesendirian. Pelakonnya (yang melakukan semua itu) adalah manusia yang berada dalam tarikan dua kehendak yang acapkali mewujudkan paradoks. Seorang sastrawan mengambil jarak dari realitas, tenggelam dalam laku spiritual yang memimpikan terwujudnya nilai kemanusiaan yang acapkali dikhianati oleh hasrat akan kekuasaan dan syahwat dan untuk membebaskannya pelakon sastra mencari dalih untuk berjinak-jinak dengan apa yang kita sebut sebagai spiritualitas. Spiritualitas itu sendiri salah satu sisi yang amat penting dalam agama, yang tanpanya agama akan kehilangan dimensi kedalaman yang acapkali dibengkokkan oleh laku kekerasan atas nama agama. Ihwal dimensi kedalaman yang dalam agama pernah diungkapkan secara jelas pernah diungkapkan dalam salah satu esai Paul Tillich yang diterjemahkan Soe Hok Jin dalam Horison, edisi Juli 1966. Dimensi kedalaman yang hilang dalam agama seseorang diakibatkan oleh pendekatan yang formalistik dalam menentukan agama seseorang. 

Agama itu menuntut institusi yang mewujud dalam organisasi dan hal ihwal yang acapkali menjebak kita dalam memandang seseorang. Klasifikasi agama dicantumkan dalam KTP sebagai identitas keseorangan yang pada konteks tertentu dapat melindungi seseorang, tetapi dalam konteks lain dapat menjebaknya dalam laku dan yang menimbulkan huru-hara dalam bentuk konflik antara kelompok berlainan agama. Di sini praktis keberagamaan kehilangan dimensi kedalamannya. Konflik antar pemeluk agama yang berbeda berpangkal pada gesekan-gesekan yang diarahkan dan mungkin dikelola untuk tujuan tertentu yang melenceng dari nilai-nilai keberagamaan itu sendiri. Kita dapat menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur yang dikandung agama. Situasi keberagamaan seperti itu beberapa kali menjadi tema utama karya sastra.

Ketika agama menjadi ekspresi keseorangan nilai-nilai spiritual merasuki sukma sang penyair tak jarang melahirkan teks puisi yang sarat dengan pengalaman religius. Kita menyebutnya sebagai spiritualitas yang mewujud dalam laku ekspresi puitik. Dalam konteks itu agama mewujud sebagai kekuatan spiritual dan kita akan menemukan ungkapan kedekatan dengan sang Pencipta, “engkau begitu dekat seperti kain dengan kapas, api dengan panas, dsb” sebagaimana diungkapkan Abdul Hadi W.M. dalam “Kau begitu dekat”. Atau, dalam kata-kata Chairil Anwar, “biar susah sungguh mengenangmu penuh seluruh’ ketika sang penyair mencapai puncak penghayatan atas keberagamaan dalam tataran spiritualitas.

Agama dalam tataran yang yang provan mungkin lain lagi keadaannya. Pengamalan agama menjadi urusan antar hubungan manusia atau bagian darinya. Agama menjadi sesuatu bagian yang kecil saja dari keberadaan seseorang. Tidak ada keseorangan dalam situasi serupa itu karena agama menjadi salah satu wujud hubungan yang duniawi dengan aspek sosial yang kuat. Agama menjadi perekat dan acapkali dimanfaatkan untuk target politik yang sepenuhnya duniawi. Aspek kerohanian agama terdesak ke belakang dan acapkali agama dimanfaatkan untuk yang non-agamis. Ironisnya di wilayah ini terjadi laku korupsi dalam pengadaan kitab yang diperuntukkan bagi penyelenggaraan ritual keagamaan. Pelaku yang sampai melakukan tindakan tak terpuji itu lupa akan spiritualitas agama dan dengan begitu mengkhianatinya sehingga memberikan aib bagi pemeluk agama yang diatasnamakannya.
“Apa gerangan agamanya?” Pertanyaan itu menggumpal dalam benak kelompok orang yang mengelilingi seorang korban pembunuhan di hari pemilihan umum. Kita membacanya dalam sebuah sajak Goenawan Mohamad “Tentang Seorang yang Terbunuh pada Hari Pemilihan Umum”, sebuah sajak tahun 1970-an terhimpun dalam Interlude: Pada Sebuah Pantai. Dalam konteks sajak itu pertanyaan atau lebih tepat persoalan yang menyangkut agama seseorang akan menjadi penghalang untuk menyelamatkan korban tetapi kalau sama agamanya akan menjadi pendorong upaya penyelamatan. Di sini spiritualitas “bermain” untuk melintasi keberagamaan seseorang. “Apa gerangan agamanya, apa gerangan partainya, sukunya, asal-usulnya dipersoalkan karena itu menjadi Institusi. Dan, ketika institusi mengeras, mengotak-kotakkan manusia, spiritualitas melebur kotak-kotak itu untuk memuliakan nilai-nilai keberagamaan. Dengan cara itu, kemanusian diselamatkan.

Spiritualitas dalam sastra mengangkat segi-segi universal sastra itu yang mempertemukan sastra dengan nilai-nilai universal kemanusiaan. Kita memandang sastra sebagai wahana yang membawa pembacanya pada pemikiran kemanusiaan yang melintasi batas kebangsaan. Humanisme universal yang dicanangkan sebagai semangat ideologi sastra pascakemerdekaan melintas-batas hubungan antarmanusia dengan latar belakang ideologi yang berbeda (tentara Republik dan tentara Belanda yang terluka) tetapi dipersatukan oleh ideologi humanisme universal seperti yang diungkapkan oleh Nasjah Djamin dalam lakon “Sekelumit Nyanyian Sunda”. Dengan mengungkapkan ihwal spiritualitas dalam sastra, kita menerima kesejagatan sastra dalam kehidupan antarbangsa. Bahwa sastra pada akhirnya terkait dengan negara dan kebangsaan tertentu tidak berarti bahwa spiritualitas yang ada dalamnya hilang. Kita menyimpannya dalam pemikiran akan adanya nilai-nilai universal kemanusiaan.

Spiritualitas dalam agama sebagaimana disinggung di atas terkait dengan adanya dimensi kedalaman dalam jiwa orang beragama. Agama itu spesifik tetapi keberagamaan acapkali memperlihatkan universalitas. Semangat keruhanian yang terkandung dalam semua agama mengantarkan semua pemeluk agama “bertemu” dalam semangat keruhanian agama itu dan menjadi wajah spiritualitas agama. Sastra yang “mengawal” agama tertentu untuk mencapai tingkat spiritualitas agama tersebut dapat menampilkan diri sebagai sastra kritis dan sastra protes. Kita dapat menyebut cerpen A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” sebagai cerpen yang sarat dengan protes atas praksis keberagamaan yang tidak menyentuh spiritualitas.

Pengarang mengungkapkan ihwal seorang garin penunggu surau, pemberita warta bahwa waktu salat telah tiba melalui azan yang dikumandangkannya, yang kerjanya hanya melakukan ibadah ritual dan membelakangkan kehidupan duniawi. Kerjanya hanya salat dan berzikir di surau dan tak pernah berhubungan dengan dunia selain dengan kaum perempuan yang meminta ditajamkan pisaunya. Selebihnya hanya salat dan zikir dan membayangkan diri bahwa dengan begitu dia menyiapkan surga di akhirat kelak. Tetapi apa lacur sang garin yang untuk keperluan makannya mengandalkan kiriman keluarganya harus bertemu dengan Ajo Sidi, sang pembual yang terkesan kasar tapi kritis dalam pengamalan agama yang rasional. Dia bercerita kepada khalayak di surau itu dan secara tak langsung sang garin mencermati yang diceritakan Ajo Sidi. Pembual itu bercerita tentang Haji Saleh yang melakukan demo di akhirat karena Tuhan menjebloskannya ke neraka, sedangkan ia telah melakukan salat dengan amat rajin (sebagaimana sang garin). Begitu mendengar dongeng pembual itu, keesokan harinya sang garin ditemukan tewas bunuh diri. Bagaimana salat dan zikir dikalahkan oleh kehendak bunuh diri karena sakit hati. Nilai spiritualitas ibadah tak tercapai oleh sang garin sebagai lambang penjaga nilai-nilai keberagamaan karena menjalankan ibadah yang kurang tepat, laku ibadahnya tidak dibarengi dengan pergulatan merebut kehidupan dunia secara beradab. Beradab artinya bersinggungan dengan dunia kini dan menghaluskannya dengan dan dalam laku spiritualistik. Kehidupan dunia yang dijalaninya hanya mengasah pisau tetangga yang tidak memungkinnya hidup layak. Praksis keberagamaan yang diwujudkan dalam laku hidupnya kehilangan dimensi kedalaman, dimensi spiritual dalam beragama, justeru merobohkan nilai kehidupannya sebagai manusia. 

Dapat dimaknai bahwa "robohnya surau kami" melambangkan robohnya nilai-nilai spiritualitas agama yang menjadi roh agama. Dan, itu diungkapkan secara kritis oleh Navis dengan membaca Islam Indonesia (pada saat itu, bahkan mungkin masih ada hingga saat ini) dalam bingkai rasionalitas dengan roh spiritualitas. Ini sebuah kritik mungkin pedas bahwa memiliki kecenderungan untuk pamer melalui pembangunan rumah ibadah di mana-mana, seolah-olah dengan begitu kita menunjukkan bahwa kita ada secara fisik. Membangun rumah ibadah memang gampang tetapi menyelenggarakan ibadah yang menjadikan rumah ibadah itu penuh umat untuk melakukan ibadah jauh lebih sulit dalam hidup kesehariannya. Robohnya surau itu lengangnya surau dari orang yang memanfaatkannya untuk ibadah sehari-hari, kecuali pada hari Jumat atau hari Idulfitri dan Idul Qurban. 

Jalan spiritualitas dalam beragama adalah jalan sunyi yang hanya dicapai dalam keseorangan bukan ibadah kolektif. Sitor Situmorang menyatakan ihwal ini dalam sajaknya yang elok “Catedral de Chartres” yang mengungkapkan ihwal keresahan seorang manusia yang terjebak ke dalam dua pilihan: hatinya tersibak antara zinah dan setia. Dalam kekalutan hatinya aku lirik menyatakan untuk memilih ibadah keseorangan daripada ibadah bersama kumpulan umat. 

Sastra, agama, dan spiritualitas merupakan jalan masuk untuk memperoleh semangat kebersamaan dalam iman yang berbeda yang kemudian berujung pada spiritualitas dalam agama dan sastra. Sastra yang mencapai spiritualitas adalah sastra yang memberikan pencerahan kepada pembacanya untuk mewujudkan nilai-nilai keberagamaan dalam laku hidup yang selaras, seimbang dalam memenuhi kebutuhan ragawi dan rohani; praksis agama yang mencapai spiritualitas dalam laku ibadahnya menciptakan toleransi. Spiritualitas dapat mengangkat sentimen agama yang acapkali menjadi sumber konflik karena beragama dalam tataran formal memiliki kecenderungan mengkotak-kotakkan pemeluknya. Dalam semangat mengkotak-kotakkan pemeluk agama terkandung potensi yang dapat menyulut konflik antaragama. Untuk itu, spiritualitas sebagai dimensi kedalaman dalam agama dapat mengubah pendekatan formalistik terhadap agama menjadi pendekatan spiritualistik. Spiritualitas itu sendiri memang membuka pintu bagi manusia pemikir untuk bertuhan tanpa agama sebagaimana dikemukakan oleh filsuf Inggris, Bertrand Russel, dalam bukunya dengan judul yang sama.

 Lepas dari ihwal yang dinyatakan terakhir, beragama secara lengkap sudah selayaknya sampai pada tataran spiritualitas sebagai puncak keberagamaan seseorang. Bangunan agama dalam jiwa seseorang yang lengkap hendaknya menunjukkan bahwa pencapaian atas tataran tertinggi tidak melepaskan tataran di bawahnya dalam laku keberagamaan itu. Hal ini mengandung arti bahwa tataran tertinggi itu berdasarkan pada pencapaian berstruktur keruhanian yang terus-menerus. Namun, tentu tidak menutup kemungkinan apa yang dikemukakan Bertrand Russel. Maka, dalam pandangan kaum sufi ada yang disebut sebagai kelompok hakikat yang setara dengan spiritualis yang dimaksud di atas. 

Spiritualitas melintasi batas agama dan melindas sekat-sekatnya. Anemarie Schimmel, misalnya, mencapai tataran itu ketika terpesona oleh sajak-sajak Rumi sampai membawanya untuk menjejaki tempat dan makam penyair sufi agung itu. Terjemahannya atas syair-syair sufi agung itu menunjukkan tingkat spiritualitas tinggi untuk bisa masuk ke dalam pergulatan batin sufi agung tersebut. Karya terjemahannya itu dan kisahnya “menemukan” sufi agung itu menunjukkan betapa spiritualitas yang terkandung dalam syair sufi agung seperti bersambut dengan intensitas penghayatan Anemarie Schimmel itu yang sampai pada tataran spiritualitas. Keterpesonaan Vladimir Braginsky akan syair Melayu dan spiritualitas yang terkandung dalamnya menunjukkan ihwal yang sama. Demikian juga beberapa esai Y.B. Mangunwijaya ketika mengupas religiusitas dalam sastra menunjukkan tiadanya sekat dalam spiritualitas agama. Spiritualitas beberapa cerpen Danarto, novel Khotbah di atas Bukit Kuntowijoyo bersambut dengan spiritualitas Mangunwijaya sehingga pembaca ikut tercerahkan oleh pesona spiritualitas yang terkandung dalam sastra kedua pengarang kita itu. Kalau tidak salah ingat, dalam semangat spiritualitas agama Romo Katolik itu “menyesalkan” masuk perubahan agama Faisal dalam Karmila Marga T. karena pendekatan formalistik seseorang atas keberagamaan seseorang tanpa pergulatan batin yang meyakinkan. Navis dalam menggarap cerpen “Datangnya dan Perginya” berbeda dengan Navis dalam menyelesaikan masalah yang sama dalam novel Kemarau dan Mangunwijaya dalam dan dengan kemampuan spiritualitasnya mempertanyakan ihwal perbedaan antara kedua Navis itu sebagai pengarangnya. 

Batas agama untuk keperluan tertentu ditegaskan sebagai identitas partai politik, misalnya, dan untuk keperluan tertentu lainnya diluruhkan, misalnya, dalam konteks pembentukan forum komunikasi antaragama. Ketika berbicara tentang spiritualitas dalam sastra, kita akan menunjukkan bagaimana semangat kerohanian menjelmakan pemikiran yang melintasi batas agama dan sastra. Tanpa dikaitkan dengan dua yang lain, kita akan secara khusus mengungkapkan bagaimana sastra diciptakan dan bagaimana pula dihargai oleh khalayaknya. Dua hal ini bisa saja diungkapkan dalam kaitannya dengan sastra sehingga kita dapat bicara tentang keagamaan atau spiritualitas dalam sastra. Kalau berbicara tentang agama, kita akan menguraikan peta keagamaan orang beragama di Indonesia, misalnya. Kita bisa berbicara tentang sumbangan agama terhadap penulisan sastra yang mengkotak-kotakkan itu, agama sebagai pengalaman religius yang berujung pada spiritualitas yang melintas batas, dan agama sebagai tempat kembalinya nilai-nilai kemanusiaan. 

Sastra, agama, dan spiritualitas mengandaikan sebuah pertemuan, sebuah dialog untuk mencari solusi untuk pemartabatan bangsa ini yang sudah dikerdilkan oleh hasrat kekuasaan dan hasrat syahwat. Hasrat kekuasaan memfasilitasi pemekaran jumlah penganut agama yang menjurus pada penjerumusan manusia agama pada pemenuhan kebutuhan fisik semata. (ARZ)  

__
Sumber: Majalah Pusat, edisi 4/2012, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.

ADMIN

BACA JUGA