YURISTGAMEINIGAMEID101

ALLAH TIDAK PERNAH MELIHAT DUNIA SEJAK PENCIPTAANNYA

ALLAH TIDAK PERNAH MELIHAT DUNIA SEJAK PENCIPTAANNYA

Untuk mencapai Allah, orang juga harus meninggalkan pengaruh dunia. Allah sendiri tidak pernah melihat apalagi memperhatikan (harta) dunia sejak penciptaannya, karena ketidaksukaan-Nya. Rasulullah pernah menyatakan:
"Cinta harta dan kedudukan mudah menimbulkan sifat munafik, sebagaimana air mudah menumbuhkan sayur-sayuran."
Imam At-Tsaury menyatakan, "Seandainya seseorang beribadah dengan menjalankan perintah-Nya, tetapi dalam hatinya masih terbetik rasa cinta akan dunia, maka di akhirat kelak akan di umumkan: ‘Inilah fulan yang sewaktu di dunia mencintai sesuatu yang tidak disenangi Allah.' Mendengar pengumuman itu, wajahnya seakan terkelupas, sebab saking malunya"

Cinta dunia di sini, maksudnya adalah menggunakan harta secara berlebihan, melebihi ketentuan syariat.

Abu Hasan Ali ibn Muzayyin pernah menyatakan, "Seandainya kalian 'menyucikan' seseorang sehingga menjadikannya sebagai shiddiq, tetapi dalam hati orang tersebut masih terbersit cinta dunia, maka Allah tidak akan memperdulikannya lagi. Ia tidak punya kedudukan di sisi Tuhan".

Bagaimana kalau harta yang ada tersebut untuk memberi nafkah keluarga dan familinya? "Sama saja", jawab Abu Hasan. Banyaknya ahli tarekat yang rusak, itu karena dalam hatinya ada rasa senang terhadap kemewahan dan kenikmatan dunia. Melimpahnya harta untuk memberi nafkah terhadap keluarga dan famili memang tidak salah. Akan tetapi, hati yang telah kerasukan cinta dunia akan menghalangi, bahkan memutuskan hubungannya dengan Tuhan. 

Abu Hasan as-Syadzili juga menyatakan, seorang murid (orang yang menempuh jalan menuju Tuhan) tidak akan bisa naik derajatnya manakala belum benar-benar mencintai Tuhan. Dan Tuhan tidak akan menerima cintanya selama ia belum bisa meninggalkan pengaruh dunia dan bayangan kenikmatan surga. Cinta Tuhan tergantung seberapa besar seseorang mengosongkan hatinya dari pengaruh dunia, untuk mencintai-Nya.”

Karena itu, untuk menuju kepada-Nya, pertama kali, seseorang harus meninggalkan dan mengosongkan hatinya dari pengaruh dunia. Saat masuk tarekat, saat guru pembimbing memberikan janji, bila dalam hatinya masih bersemayam nafsu-nafsu duniawi, maka ia akan terlempar. Sebab itu, dalam tarekat, pertama kali yang diajarkan dan ditanamkan pada murid adalah sikap zuhud. Sebab, orang yang tidak zuhud, tidak akan bisa membangun sesuatu di akhirat.

Abdul Qadir al-Jilli pernah berkata:
"Siapa yang menghendaki akhirat, ia harus zuhud dunia. Siapa yang menghendaki Allah, ia harus zuhud akhirat. Siapa yang dalam hatinya masih ada cinta dunia, kedudukan, pernikahan, pakaian, makanan dan sebagainya, maka ia bukanlah pencinta akhirat. la mash mengikuti nafsunya.”


_____

-Sumber: Menjadi Kekasih Tuhan, Sayyid Abdul Wahab asy-Sya'rani, terjemahan Ach. Khudori Soleh dari kitab AI-Minah as-Saniyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2002 

ADMIN

BACA JUGA